
"Tama! Ayyyyyyy!"
Tama segera memasukan Handphone ke dalam Tas selempangnya. Teriakan Pak Amin di bawah membuat ketikan dalam WA nya pun terhenti.
"Siapa yang tengah Kau chat?"
Tama melihat ke bawah. Pertanyaan yang sering layangkan Pak Amin jika Ia tengah memeriksa Handphone-nya.
"Hanya melihat tanggal Pak!"
Serunya berdusta.
Sedang baru saja Ia akan membalas chat dari Ginsul.
"Ayyyy! Cepatlah! Kita masih ada satu tugas lagi!"
Teriak Pak Amin dengan memukul-mukul kupluknya di pahanya, tentunya dengan debu tipis yang keluar.
Tama tersenyum geli, sudah sering Ia mengatakan kepada Pak Amin untuk mencuci Kupluknya setiap habis memanjat, namun jawaban-nya bikin telinga menolaknya."ayyyyy! Tama,kupluk-ku telah banyak melindungiku dari panasnya matahari!"
Jawab Pak Amin jika Ia berkata saat melihat debu di Kupluknya.
Terkadang Ia pun selalu berpikir, bahwa Kupluk Pak Amin bisa menjadi penangkal hujan juga, buktinya setiap kali Kupluk Pak Amin basah baru saja di cuci, mendung tiba-tiba datang di sertai hujan kemudian yang membuat tugas manjat-memanjatnya harus di tunda sampai jenuh menunggu reda.
Terkadang pula Ia pun membiarkan Pak Amin untuk tidak mencuci kupluknya saat melihat kepulan debu berterbangan seperti tidak betah menempel, di antara bau keringatnya. "Dari pada hujan," ucap hati melihat debu yang terbawa angin terik.
"Tama! Apa lagi yang Kau tunggu?"
Pak Amin seperti tidak sabar.
Tama segera memetik Rambutan di dekatnya, beruntung baginya. Kendala yang sering Ia temui saat memanjat tidak Ia temukan. Semut yang sering mengigitnya tanpa ampun seakan tengah piknik semuanya.
Tama segera mematahkan tangkai buah yang bergerombol. Ia harus cepat memetik semua buah yang masih tergantung, mengingat masih ada lagi tugas yang harus di kerjakan.
Wajah Pak Amin di bawahnya pun kian tertutup asap kretek, belum lagi asap sampah dedaunan kering yang sengaja di bakar pemilik Pohon tidak jauh dari mereka berada.
Tama mengusap keringat di keningnya. Suara nada dering di Handphone-nya samar terdengar. Namu Ia membiarkan, melihat wajah Pak Amin yang bersolek getah Buah Rambutan kian kaku terburu-buru.
Tama segera menurunkan karung yang telah penuh dengan Rambutan menggunakan Tali tambang sebesar jari tanganya ke bawah.
"Ayyyy! Cepatlah!"
Seru Pak Amin, bersiap menangkap dengan kedua tanganya.
Tama mengendurkan Tambang saat Pak Amin telah menangkap sekarung Rambutan yang Ia turunkan.
Mengulurnya pelan, mengikuti gerakan Pak Amin.
Dengan cekatan Tama segara mengikat kembali karung kosong dengan ujung Tambang yang masih Ia pegang. Sepertinya hanya tinggal sekarung saja, perkiraan hatinya melihat gerombol sisa Rambutan di ranting-ranting Pohon.
Pak Amin pun segera melepaskan ikatan di karung yang telah berisi banyak Rambutan, kemudian menjahitnya kembali dengan Tali Rapiah.
Tama melihat pelan Rambutan di tangan, merah warnanya dan terlihat segar. Tiba-tiba Ia teringat Ginsul.
Tama tersenyum sendiri, Ginsul sangat cantik ketika Ia melihatnya sebelum berangkat ke sekolah, singgah sebentar ke rumah dengan senyum riang dan....
"Tama! Ayyyyyyhhhh!"
Tama tergagap, memasukan cepat Rambutan ke dalam karung.
"Semut Pak!" Serunya melihat Pak Amin ke bawah.
"Ayyyyyy! Sejak kapan Kau takut pada semut!"
Tanggap Pak Amin menunjuk buah yang belum di petik
"Beres Pak!"
__ADS_1
"Ayyyyyyh!"
Tama memyembunyikan senyum geli, dengan memetik Rambutan. Apa yang Ginsul katakan padanya seakan mengiang bagai suara tawon di telinga, tentang suara Raja Rimba Buah.
"Ayyyyyyy! Tama!"
Tama kembali tergagap, selalu dan selalu Pak Amin seperti tiada kunjung bosan untuk menggagetkan-nya.
"Iya Pak! Ada apa?"
Tama tanpa melihat ke bawah, memasukan Rambutan yang baru Ia angankan.
"Kretek ku habis! Cepatlah Kau memetik! Aku akan ke warung sebentar!"
Teriak Pak Amin seperti mendumel.
"Beres Pak!"
Tama melihat ke bawah. Terlihat olehnya Pak Amin bergegas menuju Motornya.
Tama langsung mengambil kembali Handphone di Tas pahanya, setelah yakin Pak Amin telah berlalu membawa Motornya.
Membuka kembali Chat di WA-nya.
Tama apa Kau tengah berada di atas pohon? Aku tengah di kantin. Aku kok merasa cemas.
Tama tersenyum, segera mengetik.
Namun sepertinya Chat yang telah di kirim olehnya belum terbaca oleh Ginsul, karena tengah tidak aktif.
Tama memasukkan kembali Handohone, sepertinya Ginsul telah berada dalam kelasnya.
Kembali Ia pun memetik Rambutan yang sedikit lagi akan selesai di unduh.
Sinar Matahari seperti melubangi setiap sela di dedaunan rambutan menembus ke tanah yang ada di bawah Pohon.
Tama menarik rambutnya ke belakang, rasa risih akan keringat yang membasahi membuatnya ingin menguncitnya, namun kuncit rambut yang biasa Ia gunakan tertinggal karena Pak Amin keburu datang saat Ia tengah bertegur sapa dengan Ginsul, Say hai Cinta! begitu lah, namanya juga baru jadian! Jadi wajar bila ada yang ketinggalan, karena takut di ketahui Pak Amin juga tentunya.
Tama segera mempercepat memetik dan memasukan Rambutan kedalam karung, sebelum Pak Amin tiba. Meski pikirannya tertuju pada suara dering di saku Tas, menanti balasan chatnya.
Pucuk hijau Rambutan merah, suara yang Ia tunggu terdengar.
Tama segera mengambil kembali Handphone, langsung membukanya.
Tama hati-hati, Aku takut kau jatuh. Tama kok Aku ingat padamu terus ya?
Tama tersenyum dengan kembali mengetik balasan.
Dan langsung di balas Ginsul.
Tapi Aku tidak bisa berhenti memikirkan mu, dan sekarang Aku tengah menggigit sedotan es...
Tama segera mengetik kembali.
Chat pun langsung terbalas lagi.
Untuk mengurangi....
Tama memgusap Rambutnya yang tertiup angin di telinganya.
Lalu dengan penasaran Ia pun mengetik lagi.
Chat balasan lagi.
Rasa rindu padamu tentunya, karena I'm yours.
Tama segera menutup Handphone, suara Motor Pak Amin terdengar mendekat.
__ADS_1
Tama segera menurunkan karung yang telah berisi seperti tadi.
"Ayyyyyy! Tumben sekali Kau cepat Tama!"
Pak Amin dari atas motornya.
Tama nyengir.
"Jam berapakah sekarang Tama?"
Pucuk hijau Rambutan merah, Pertanyaan Pak Amin membuat Tama segera dan senang hati membuka kembali Handphone.
"Tama!"
"Iya-Pak! Sebentar, tengah ku lihat!"
Tama melihat Jam di Chat WA-nya.
Senyumnya mengembang merah, mengalahkan berkarung-karung Rambutan di bawah Pohon.
Chat dari Ginsul tentunya yang membuatnya.
Tama, nanti malam Aku tunggu di Rumah.
Isi Chat yang terbaca dengan emoji kecupan hati yang juga menyertainya.
"Ayyyyyhhhhh! Tama! Apakah jam di handphone berubah jadi wanita? Hingga membuatmu senyum gila!"
Seru Pak Amin tidak sabar.
"Bukan Pak! Jamnya tertutup embun dari keringat!"
Tanggap Tama, menutup chat WA-nya dengan wajah penuh berseri.
"Ayyyyyyyy!"
Pak Amin melepas kupluk di kepalanya, pertanda aum geram-nya telah mecapai di rimbun rimba hitamya.
"Lewat jam sepuluh Pak!"
Tama dengan memasukan Handphone.
Dengan sigap dan cepat turun bergelayut dari dahan ke dahan.
Pak Amin memukul-mukul kan kembali kupluk ke pahanya, lalu memakainya lagi. Membuka kasar bungkus kretek yang baru di beli olehnya, mengambilnya sebatang langsung menyulutnya dengan korek api gas yang banyak di jual warung-warung terjauh sekalipun.
Kepulan asap putih terlihat memenuhi mulut dan hidungnya.
Tama tersenyum, tapi bukan karena bibir hitam dan rentetan kumis hitam Pak Amin yang berasap, namun wajah Ginsul yang telah bersemayam di rimba hati.
Dan Malam nanti adalah malam pertama Ia akan jalan bersama Ginsul.
"Ayyyyyy! Apa Kau kerasukan penunggu pohon ini Tama?"
Pak Amin melihat Tama senyum-senyum sambil menjahit karung.
Tama semakin tersenyum melihat Pak Amin.
"Tidak Pak, Aku hanya ingin cepat mengunduh lagi, agar cepat beres. Agar tidak kemalaman," ucapnya penuh semangat.
"Ayyyyhhhh!"
Pak Amin heran.
Tama tidak perduli dengan perubahan di wajah penuh asap Pak Amin. Hatinya kini tengah penuh buah yang malam nanti akan segera Ia unduh.
Tama melepaskan nafas senangya. Sepertinya tugas memanjatnya akan sampai larut kembali.
__ADS_1
...****************...