Aku Bukan Tarzan

Aku Bukan Tarzan
36.Pohon Gorila.


__ADS_3

Tama bergelayut di atas dahan melihat batang lapuk yang patah terinjak kakinya. Beruntung tanganya memegang cabang dahan di depanya sebelum tubuhnya terhempas jatuh.


Segera memegang pokok batang yang yang melebihi ukuran tubuhnya.


Memperhatikan karung-karung yang tadi menutupi batang yang telah patah.


"Mengapa Ia tidak memeriksanya terlebih dahulu tadi?" pikirnya hampir tidak percaya dengan apa yang akan menimpanya seandainya Ia tidak berpegangan pada cabang dahan.


Memperhatikan kembali batang, dahan dan setiap cabangnya Pohon yang tengah Ia panjat.


Warna-warna merah dari Rambutan terlihat tidak begitu banyak di ranting-rantingnya.


Sebelum memanjat Ia pun sempat menatap aneh dan bertanya sendiri di dalam hati. Mengapa Pak Amin menerima tugas dengan pohon yang berbuah sangat sedikit?.


Tama mengusap keningnya, keringat mulai dingin mengalir pelan. Melihat kembali di bawah Pohon, di mana dahan lapuk dan karung tergeletak.


Hela nafasnya pun seperti mematahkan pikiran negatif yang muncul melihat apa yang ada di bawahnya.


Sedang hari akan beranjak malam. Pak Amin yang tengah mencari kreteknya belum juga terlihat kembali dengan Galah yang akan di bawanya. Biasanya Pak Amin akan mencari galah bambu jika ada, jika tidak batang-batang pohon yang ada di sekitar kebun.


Tama memperhatikan kembali Buah Rambutan di setiap ranting pohon.


Hatinya bedecak, akan sulit baginya untuk memetik tanpa galah atau memotong dahan pohon yang ada Buahnya. Terlau jauh dengan dahan kecil yang tidak mungkin untuk kuat Ia pijak. Terlalu beresiko untuk melakukannya, belum lagi lapuk dari pohon juga terlihat di dahan-dahan, menandakan usia pohon yang telah tua.


Tama menyandarkan punggungnya di batang pohon, kini Ia hanya bisa menunggu Pak Amin datang.


Suara angin sedikit kencang seperti menerpa keras tubuhnya.Namun matanya tidak melihat dedaunan di atasnya bergerak-gerak semestinya jika tertiup angin.


Terasa bulu halus tubuhnya berdiri. Tama memejamkan matanya, mengusir rasa takut yang tiba-tiba merasuki hatinya.


Tama melihat cepat ke bawah. Karung putih bergerak terkena angin. Bibirnya pun terbuka kecil melihat Karung yang lain tetap tergelatak seperti tidak sedikit pun terkena angin.


Tama mengamati dahan lapuk di dekat karung.


Dengan gesit Ia membalik tubuhnya kesamping hampir memutari batang pohon dengan kedua tangan memeluk erat.


Langsung melihat ke bawah, di mana sesuatu yang jatuh dari atas kepalanya dan hampir mengenainya.


Sebuah ranting berisi Rambutan?


Tama lekas melihat ke atas puncak pohon. Namun tiada satupun yang begerak, baik tupai atau pun kelelawar pemakan buah, yang biasa menjatuhkan Buah.


Tama kembali melihat ke bawah dengan heran.


Ranting dan rambutan yang jatuh terlihat seperti bekas terpotong dengan alat seperti parang atau sejenisnya.


Kembali memejamkan matanya, mengusir degup di dadanya yang mulai tidak teratur.


Mengatur nafasnya oelan.


Warna hijau dedaunan di sekelilinganya hampir berubah warna menjadi hitam, sore hari akan segera terbenam.


Tama memasang telinganya baik-baik, menangkap semua gerak yang ada di dekanya memanjat.


Tubuhnya terasa berkeringat bagai tengah memanjat di saat siang hari. Sedang udara terasa sejuk sejak Ia datang tadi.


Tama dengan cekatan dan lincah segera turun.


"hup!" Melompat dari Batang pohon dengan tubuh langsung berguling sekali di rerumputan setelah kakinya terlibih dahulu menapak, dan langsung berdiri relax. Berjalan dengan membalikan badan melihat Pohon yang baru saja Ia panjat.


Memperhatikannya sejenak.


Pohon Rambutan yang tengah Ia panjat sepertinya telah beberapa hari di unduh.


Buah Rambutan yang ada sekarang hanya sisa-sisanya saja.


Dengan cepat membalikkan tubuhnya kembali. Suara langkah terdengar mendekatinya.

__ADS_1


"Nak!"


Meski sedikit terkejut dan berdebar di dalam hati Ia pun tersenyum lebar melihat seorang kakek, namun terlihat segar di tubuhnya.


"Sebaiknya ke rumah dahulu, sudah hampir malam."


"Kakek?" Tama seperti pernah melihatnya.


Tatapan Kakek tertuju pada dahan yang patah di bawah pohon.


Tama nyengir kecil.


"Ayo Nak, ke rumah Kakek." Dengan segera berjalan.


Tama tertegun sejenak. Namun kepala Kakek yang menolehnya membuatnya mengikutinya.


Tama mengamati batang pohon yang telah mati namun masih berdiri di depan Kakek yang berjalan didepan-nya.


Seperti Pohon Nangka Belanda, terka di hatinya ketika melewatinya.


Terus mengikuti Kakek tanpa bersuara sedikit pun di mulutnya.


Tama berdiri di depan serambi yang cukup luas.


"Duduk dahulu Nak."


Tama langsung mengangguk tersenyum. segera duduk di kursi yang terbuat dari Bambu Apus.


"Oh iya! Apakah namamu Tama?"


"Iya Kek." Tama seperti tidak menyangka. Sedang Ia merasa belum mengenal Kakek yang masih berdiri di dekat kursi di hadapan-nya.


"Kakek ambilkan minum untukmu."


Tama mengangguk tersenyum. Memperhatikan tubuh Kakek yang masuk kedalam Rumahnya.


Kembali mengamati ruangan serambi yang berpagar Bambu Apus.


Tama kembali tersenyum melihat Kakek keluar dari dalam Rumah.


"Terimakasih Kek," ucapnya melihat minuman dan Kue yang baru di letakkan di atas meja.


"Minumlah." Kakek dengan duduk.


"Iya, Kek. Nanti saja," ucapnya lagi tersenyum.


"Apa tadi Kau terjatuh?"


"Tidak Kek."


Terlihat Kakek di hadapannya menghela nafas lega.


"Kakek lupa memberitahukan pada Pak Amin tadi."


Tama terdiam mengamati wajah Kakek yang seperti menyesali perbuatan-nya.


"Karung itu, sengaja Kakek balutkan untuk menandakan dahan yang lapuk. Hanya saja Kakek belum sempat untuk menebangnya."


Tama senyum kecil mendengar penjelasan Kakek di hadapnya.


"Baru saja kemaren Kakek memetik sisa dari rambutan yang Kakek unduh sendiri, menggunakan galah arit."


Tama tertegun.


Pantas! Ranting dengan Rambutan yang hampir menimpa kepalanya terlihat bekas di potong dengan benda tajam. Ternyata Ranting tersebut telah tersangkut di ranting dan tidak jatuh setelah terkena galah arit Kakek.


Dan Angin yang membuatnya terjatuh.

__ADS_1


Tama menghela nafasnya pelan.


Segera menoleh ke belakangnya.


"Kakek!"


Ginsul berseru dengan masih mengendari Motor membonceng seorang Nenek.


Tama segera menatap Kakek yang telah berdiri.


"Kakek!"


Tama tertunduk. Ternyata Kakek di depan-nya adalah Kakek Ginsul. Pantaslah Ia merasa pernah melihatnya.


"Tama!" Ginsul setelah memeluk Kakeknya.


"Gins." Tama tersenyum tidak menyangka.


"Ginsul, Nenek tidak ingan Kau membonceng Nenek lagi."


Kakek Ginsul menatap heran Ginsul.


Nenek Ginsul memperhatikan Tama.


Tama langsung berdiri menyalami tangan Nenek Ginsul.


"Ini Temanmu yang bernama Tama, Ginsul?"


Tama dan Ginsul mengangguk bersamaan.


Nenek Ginsul manggut-manggut memperhatikan Tama.


"Duduk saja dahulu bersama Kakek." Nenek Ginsul dengan tersenyum.


Tama senyum mengangguk, dengan duduk kembali.


"Kek, cucumu tidak menyadari jika yang di boncengnya seorang Nenek-nenek!"


Ginsul nyengir lebar melihat Neneknya yang mengambek masuk kedalam Rumah. Menatap Kakeknya dengan senyum manja.


Kakek Ginsul menggaruk keningnya pelan.


Ginsul tertawa kecil menyusul masuk ke dalam Rumah.


Tama senyum tertunduk, melihat Ginsul mengedipkan sebelah matanya di pintu Rumah.


"Ginsul, Ginsul!"


Tama melihat Kakek Ginsul yang seperti menggerutu kepadanya.


Kakek Ginsul tersenyum menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Orang-orang di sekitar sini, sangat takut melewati pohon tersebut."


Tama kembali tertegun.


Kakek Ginsul mengangguk kepadanya.


"Selama Kakek tinggal dan merawat kebun, belum sekali pun Kakek melihat gorila. Seperti yang banyak orang ucapkan, setiap melihat pohon rambutan itu ...." Kakek Ginsul melihat ke arah Pohon Rambutan di samping yang tehalang dinding Rumahnya.


Tama pun mengikuti arah tatapan Kakek Ginsul.


Jika sekilas Ia melihat tadi, Pohon Rambutan tersebut memanglah mirip se-ekor Gorila besar yang tengah membuka mulutnya berkepala hampir lancip, tendunya tengah marah. Memukul-mukul dadanya.


Tama tersenyum menatap Kakek Ginsul. Tepatnya di belakangnya.


Senyum Ginsul dan Gigi Ginsulnya terlihat bersamaan langkah mendekat.

__ADS_1


Tama menundukkan wajahnya. Terasa senang mengalir sejuk menerpa hatinya.


...****************...


__ADS_2