Aku Bukan Tarzan

Aku Bukan Tarzan
35. Notifikasi.


__ADS_3

Tama menatap satu persatu wajah-wajah dengan berambut pirang yang hampir mengelilinginya.


Sementara Kyra memegangi stang Motornya.


"Aku tidak bisa Kyraaa!" Ulangnya lagi. Setelah tadi sempat mengatakan kepada Kyra.


Kawanan Kyra kembali menyorakinya.


"Aku sedang tugas," ucapnya lagi.


Kyra melengos.


"Tugas! Kok, berpakaian rapih?"


Tama melihat Mitos yang juga memegang stang Motornya yang lain. Dan langsung menoleh cepat setelah salah seorang Kawanan Kyra naik di belakangnya.


"Benar!" Suara di belakangnya menimpali ucapan Mitos.


Tama menghela nafasnya melihat Kyra.


"Apakah mereka selalu membelamu?" Tanyanya.


"Kawanan Kyra!!!"


Tama hampir berdiri dari Jok mendengar nyaring suara di belakangnya dengan berdiri di Step motor.


"Mangsa habissss !yyyyyy!!!"


Tama menutupi kedua telinganya. Pekik Yel Kawanan Kyra bagai guntur terdengar.


Kyra terlihat senyum dengan rasa bangga.


"Mereka teramat loyal padaku Tama." Kyra melihat satu-persatu Kawanan Kyra.


Mitos mengangguk sinis.


Tama menghembuskan nafasnya, tersenyum kepada Kyra.


"Lantas?" tanyanya pelan.


"Iya! Seperti yang telah Aku ucapkan padamu. Aku ingin Kau mengantarku pulang!" Kyra dengan memberi isyarat ke pada Kawanan Kyra yang duduk di belakang Tama untuk turun.


"Kalau tidak? mereka semua akan memangsamu! Habissss!" Kyra lagi dengan mengancam.


Tama tertawa geli.


"Jangan tertawa Tama! Apa Kau pikir Aku tidak bisa sepertimu?" Mitos menggulung lengan baju seragamnya dan menekuk lengannya.


Tama semakin tertawa geli. Tiada otot yang terlihat dari tangan Mitos.


"Aku percaya padamu," ucapnya melihat Rambut pirang Mitos.


"Bagus dong! Kalau begitu!" Mitos menurunkan tanganya.


"Tapi kebetulan sekali Aku ada tugas!" Tama kepada semua Kawanan Kyra dan Kyra.


"Mengatarkan Kyra juga tugas!"


Tama melihat Kawanan Kyra di dekat Kyra.


"Kalian kan, membawa kendaraan?" Tama menunjuk dengan tatapan ke arah Motor-Motor yang seperti berserakkan di tengah jalan.


"Notifikasi! Kau Tama!" Mitos seperti tidak sabar. Merangkul leher Tama, seperti akan menjatuhkan dari Motor.


Kyra melotot kepada Mitos.


Mitos segera melepaskan tangan dari leher Tama.


"Bagaimana Tama? Tangan Mitos? Apakah selembut siswi di dalam kelas? Atau lebih kuat dari tangamu saat bergelayutan di dedahanan?" Kyra memegang tangan Tama.


Tama geleng-geleng kepala melihat Mitos.


Wajahnya dan sikap Mitos boleh kemayu, tapi tenaganya yang Ia rasakan, ternyata tenaga seorang siswa teladan dalam olah raga angkat besi. Mungkin juga akibat seringnya memukul Bola voli, Tama tersenyum.


Mitos melengos jauh.


"Sekali lagi, Aku tidak bisa." Tama kepada Kyra.


Tangan Kyra yang memegang tanganya pun langsung memegang dagunya.


"Apa perlu Aku paksa?" Kyra mendekatkan wajahnya.

__ADS_1


Kawanan Kyra bersorak-sorak memegangi Tama.


Tama segera menghindari wajah Kyra.


Mitos kembali merangkul kepalanya dengan kuat, membuatnya tidak lagi mampu bergerak.


"Kyra!!!"


Tama dan semua yang ada melihat berbarengan.


Terlihat Ginsul dan Para Gins berhambur mendekati.


"Apa yang akan kalian lakukan pada Tama?" Alisa yang berlari paling depan.


"Bukan urusan kalian!" Salah satu Kawanan Kyra menghadang.


Alisa langsung menarik tanganya untuk menyingkir. Disusul Ginsul yang langsung menarik tangan Mitos.


Para Gins pun segera menghadapi Kyra dan Kawanan Kyra yang lain.


"Kalian sedang apa?"


Kembali semuanya melihat asal suara.


Bu Warna mengendari Motornya mendekati.


Semua yang ada berhambur kembali ke tempat masing-masing.


Ginsul dan Para Gins seperti merapatkan barisan di depan Tama. Sedang Kyra dan Kawanan Kyra di belakang Tama.


Semua menundukkan wajah.


Tama mengangguk pelan saat Bu Warna menatapnya.


"Ada apa ini?" Bu Warna dengan turun dari Motor.


Semua yang ada hanya saling bertatapan.


"Tama?" Bu Warna lagi.


"Tidak ada apa-apa Bu," ucap Tama. Tersenyum melihat di depan dan di belakangnya.


"I-iya Bu." Ginsul pun maju selangkah.


Tama tersenyum menudukkan wajah, Bu Warna mendekatinya.


"Apa kalian ingin Ibu percaya dengan yang kalian katakan?" Bu Warna menatap Ginsul dan Kyra.


"Masalahnya Bu, Tama terlihat berbeda dari hari-hari biasanya." Alisa dengan berjalan di dekat Ginsul.


Mitos pun berjalan mendekati Kyra.


Bu Warna memperhatikan Tama.


"Cantik sekali Kau Tama." Bu Warna melihat wajah Tama.


Tama seperti tersipu kembali menundukan wajah.


Ginsul senyum-senyum menatap Tama, tentu dengab gerak sikut Alisa pada lengan-nya.


"Benar Bu, hari begitu berbeda. Jadi, Kami mengerumuninya." Sambung Mitos senyum kemayu ke pada Tama.


Bu Warna tetap menatap curiga.


"Hari ini memang berbeda dari hari sebelumnya." Bu Warna berjalan mendekati Motornya.


"Kalian semua di hukum!" Bu Warna setelah naik ke motornya.


Semua yang ada kecuali Tama langsung berkeluh kesah.


"Bu, tulisan semboyan di depan sekolah sedang di cat ulang Bu." Salah seorang Para Gins.


"Lantas! Apa yang kalian ingat, selama ini?" Bu Warna dengan marah.


Semunya pun kembali bertatapan kecuali Tama yang menatap speedometer Motormya.


"Kyra! Dan teman-temanmu, di belakang sekolah. Sekarang!" Bu Warna seperti berseru.


Kyra terbengong.


"Tapi - Bu? Kami kan, sudah pulang sekolah- Bu?" Mitos dengan takut.

__ADS_1


"Iya! Tapi sekarang kembali masuk!"


Tanpa bertanya atau pun mengeluh Kyra dan Kawanan Kyra berhambur menaiki Motor masing-masing. Gas pelan menuju ke dalam Sekolah.


"Ginsul!"


"I-ya, Bu?" Ginsul dengan cemas.


"Kau bersama teman-temanmu di depan sekolah!"


Ginsul menatap lemas Alisa.


"Iya Bu!" Sahut keduanya berbarengan. Langsung berjalan di iringi Para Gins yang mengikuti dari belakang.


Bu Warna menghidupkan Motor.


Tama kembali tersenyum melihatnya.


"Tama, jika Kau akan pulang? Pulanglah," Bu Warna. Berhenti sejenak di sampingnya.


Ia pun mengangguk ramah.


Bu Warna segera menjalankan pelan Motornya kembali.


Tama memperhatikan hingga Bu Warna benar-benar menjauh.


Menghembuskan nafasnya. Menatap Pagar besi sekolah.


Menghidupkan Motornya. Menarik tuas gas pelan. Gerbang sekolah masih berjarak beberapa meter lagi dari tempatnya terhenti. Ia memang akan menjemput Ginsul.


Tama langsung menginjak Pedal rem.dengan keras.


"Gins," ucapnya. Tersenyum tidak menyangka Ginsul berdiri di balik pagar., menatapnya.


Ginsul tersenyum membalasnya.


"Akan kemana Kau Tama? Mengapa Kau secantik ini ...," ucap Ginsul. Terlihat Gigi ginsulnya.


Tama tertawa kecil turun dari Motor, bergegas menghampiri. Memegang jemari Ginsul di atas pagar.


"Hari ini, hari buruh sedunia lagi. Jadi Aku libur, dan akan menjemputmu pulang," ucapnya riang.


Ginsul tertawa cerah


Tama menyentuh pipi Ginsul di dekat gigi ginsulnya. Ginsul tertunduk malu.


"Tapi?" Ginsul menoleh. Alisa dan Para gins belum terlihat membawa peralatan bersih-bersih.


Tama yang mengerti segera menggengam jemari Ginsul.


Ginsul menatapnya dengan pipi berona Rambutan masak.


"Aku akan menunggumu di belakang sekolah," ucapnya pelan. Tersenyum sayang ke pada Ginsul.


Ginsul mengangguk cinta.


Tama segera melepas tangan Ginsul. Alisa dan Para Gins telah terlihat berjalan keluar dari dalam sekolah. menbawa peralatan bersih -bersih.


Menghidupkan Motornya lagi.


"Tama."


Tama tersenyum menatap Ginsul.


"I love you," ucap Ginsul pelan.


Tama tertawa kecil, mengedipkan sebelah matanya dan menjalankan Motor-nya pelan.


Ginsul tersenyum memperhatikan.


"Gins!"


Segera Balik badan grak! Melihat Alisa.


"Awas tersangkut pagar!"


"Ginsulmu!"


Ginsul segera berlari kesal ke arah Alisa yang menertawakannya bersama Para Gins.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2