
Pak Amin berjalan mundar-mandir dengan kepulan asap di bibirnya.
Tama hanya melihat kupluk sakti Pak Amin yang tersampir di stang Motornnya di bawah Pohon Mangga.
Hanya terdiam setiap kali Pak Amin berucap marah. Hingga membuat Kupluk saktinya seperti melayang hilang dari kepalanya.
Hari Ini Ia memutuskan untuk tidak bertugas dahulu karena memang tanganya masih terasa sakit.
"Tama! Tama!"
Tama senyum kecil dengan melihat rimba hitam Pak Amin yang terasa lebih angker dari biasanya. Apa mungkin karena beberapa hari tidak melihatnya? Tama memalingkan wajahnya dari tatap selidik Pak Amin.
"Bisa busuk di atas ranting rambutannya Tama!" Oceh Pak Amin lagi.
"Tanganku masih sakit Pak Amin." Tama dengan mengangkat pergelangan tangan kirinya.
"Alasan saja Kau Tama!" Pak Amin membuang puntung kretekanya.
"Sungguh Pak." Tama meringis menurunkan lagi tanganya.
"Lantas siapa yang akan mengunduh?"
Tama melepaskan nafasnya seperti menggerutu.
"Aku sudah tidak semuda dahulu Tama, bobot tubuhku akan terasa berat di ranting pohon!"
Tama senyum kecil, melihat bagian perut Pak Amin yang gendut seperti tengah mengandung.
"Mungkin Aku sudah sembuh Pak," ucapnya merasa iba juga namun juga geli. Membayangkan Jika Pak Amin memanjat, akan lebih cepat gerak lari semut Rangrang yang menggigitnya dari pada gerak tubuhnya yang memetik Buah.
Tama senyum tertunduk melihat Pak Amin gelisah melihat Motornya. Dan sesekali melihat Jam di atas pintu dapur.
"Tapi benar besok Kau tugas Tama?"
Tama mengangguk pelan.
Pak Amin terlihat menghela nafas kecewa.
"Baiklah Tama, telah hampir jam makan siang. Aku akan kembali besok."
"Iya, Pak Amin," ucap Tama meyakinkan langkah lunglai Pak Amin.
"Ingat tama!"
"Iya Pak! Iya!" Tama dengan berdiri dari sopa. Hampir tertawa geli saat tangan Pak Amin memukul-mukulkan kupluknya di stang Motor. Seperti biasa debu-debu pun terlihat berterbangan. Lalu memakainya di atas kepala hingga ke seluruh wajah mirip ninja pohon yang akan beraksi.
Suara klakson keong bagai speker audio orgen tunggal terdengar di telinga. Tama tersenyum lebar mengamati gerak tubuh Pak Amin di atas Motor yang di Gas spontan, Ngacir tidak! ngeden iya! Tama menggaruk rambut panjangnya.
Dengan nafas lega Ia pun kembali duduk di sofa.
Suara pintu dapur terdengar di buka dari luar, bersamaan suara si puham.
Sepertinya Neneknya sudah kembali dari warung ginsul.
"Pak Amin sudah pulang Nek," ucapnya merasakan kehadiran Neneknya di tengah pintu.
"Nenek membeli kopinya terlalu lama," ucapnya lagi mengusap-usap kepala Si Puham.
Namun harum yang tercium di hidungnya membuatnya menoleh ke atas.
Hampir melompat Si puham dari pangkuanya bersamaan gerak kaget tubuhnya melihat Alisa.
"Alisa?" Tama kini dengan berdiri.
Si puham mengeong dengan berlari ke dapur.
"Nenekmu masih bersama Ginsul di warung."
Tama senyum senang melihat senyum di bibir Alisa.
"Tama-Tama." Alisa bersandar di pintu dengan bersedakep.
__ADS_1
Tama nyengir kecil.
"Ginsul menunggumu di sekolah tadi."
Tama menatap kaku ke arah Pohon Mangga, dan bagai lilin yang leleh terduduk kembali.
Senyum Alisa terukir di atasnya.
"Tanganku masih sakit Alisa," jelasnya tanpa menoleh Alisa.
"Tapi hati Ginsul lebih sakit."
Tama hampir tertunduk mendengar suara di atas kepalanya.
"Kami kalah lagi."
Tama kini benar-benar tertunduk.
"Memang, bukan karena Kau tidak datang." Alisa seperti menghembuskan nafasnya.
Tama melihat akar-akar yang keluar dari dalam tanah.
"Hanya saja Ginsul yang tidak konsentrasi."
Tama termenung mendengarnya.
"Mengapa Kau masuk dari dapur?" Tama menyandarkan punggungnya, mengalihkan pembicaraan.
"Nenekmu berkata sedang ada Pak Amin."
Tama tersenyum kecil.
"Oh iya, Ginsul memberikan sesuatu padamu."
Tama menoleh pelan di atas bahunya. Mengambil chiki dari tangan Alisa.
Tama mengamati bungkusan yang tertutup menggelembung, lalu menggoyangkan perlahan.
Tama tertawa kecil.
"Kaget?" Tama menoleh Alisa.
"Kaget Tama!" Alisa seperti kesal.
Tama tertawa cekikan dengan menggoyang-goyangkan Ciki yang sudah terbuka.
Alisa benar-benar menarik Rambutnya.
"Jangan tertawa Ciki kik-kan!" Alisa seperti mengerti dengan maksud tawa Tama.
Tama menghentikan tawa mainan-nya. Mengambil isi dalam bungkus, memakan ciki berwarna kuning berbentuk spiral.
"Aku pikir Kau menyayangi Ginsul?"
"Aku memang sayang padanya." Tama dengan mengunyah.
"Lantas? Kenapa Kau tidak datang?" Alisa memperhatikan tangan Tama yang terus memakan chiki setiap isi dalam mulutnya tertelan habis.
Tama mengunyah dengan amat perlahan.
"Aku tetap sayang padanya, meski Ginsul memutuskanku," ucapnya.
"Oh! Gitu? Kau sudah persiapkan dengan siapa selanjutnya Kau berpacaran."
Tama tersenyum kaku menanggapi Alisa.
"Ketidak datanganku bukan sebuah alasan agar Ginsul memutuskanku, jika itu yang Kau maksud Alisa?" Tama kembali mengunyah.
"Lantas?" Alisa kembali bertanya.
"Ciki kik-kik-kik-kik!" Tama tiba-tiba dengan suara seperti tengah menstater kendaran yang tidak bisa hidup, dengan menggerak-gerakkan bungkus ciki.
__ADS_1
Alisa langsung melihat bungkus chiki di tangan Tama yang telah kosong.
"Habis Alisa?" Tama dengan menoleh Alisa.
Alisa senyum meski terlihat di paksakan.
"Akanku ambilkan lagi jika Kau suka!"
Namun Tama dengan cepat memegang tangan Alisa yang akan pergi.
"Tidak usah Alisa, Ginsul yang suka chiki," ucapnya melepas tangan Alisa karena Alisa mengurungkan kakinya untuk berjalan.
Alisa menghembuskan nafasnya.
"Ginsul pun suka padamu, seperti Ia menyukai ciki." Alisa memegang pundak Tama.
"Apa yang Kau suka Tama? Selain memanjat?" Alisa lagi.
Tama termenung. Tanganya memegang tangan Alisa yang ada di pundaknya.
"Aku suka Ginsul," ucapnya melihat Alisa.
Alisa tersenyum lebar.
Tama pun tersenyum lebar.
Suara mengeong keras terdengar, bersamaan suara pintu dapur yang tertutup keras.
Tama yang terkejut segera berdiri melihat. Namun hanya Si puham yang berlari ke arahnya. Sementara Alisa senyum-senyum saja.
"Apa itu, Nenekku Alisa?" Tama dengan melihat ke arah dapur.
"Tidak ada siapa-siapa?" Alisa mengerutkan keningnya.
"Tapi, sepertinya ada seseorang yang berlari?" Tama berusaha mengingat akan apa yang terlintas di sudut matanya.
"Selain memanjat dan Ginsul, Apakah Kau suka berhalusinasi Tama?" Alisa menatap curiga.
"Alisa, Kau ada-ada saja!" Tama kembali duduk dengan menggendong Si Puham.
Alisa melangkah di hadapannya.
Tama mengelus-elus kepala Si Puham.
Suara mengeong namun lirih terdengar.
Tama melihat Alisa yang tengah memperhatikannya.
"Apa Kau memperlakukan Ginsul seperti itu?" Alisa tersenyum lebar..
Tama tersipu.
"Aku belum sempat melakukanya," ucapnya melihat Si Puham.
Alisa tertawa kecil, lalu duduk di bertumpu tumit di depan Tama, lalu mengusap kepala Si Puham seperti yang baru di lakukan tama.
Suara Si Puham kembali terdengar.
"Ternyata Ia suka padamu," ucap Tama tertawa kecil pada Alisa.
"Aku tahu apa yang kucingmu katakan?"
Tama mengerutkan keningnya.
Alisa mengangguk tersenyum. Masih mengusap-usap kepala Si Puham.
"Ciki kik-kik-kik-kik!"
Tama tertawa lebar melihat lucunya mulut Alisa yang bersuara.
...****************...
__ADS_1