
Tama memperhatikan dahan batang rambutan yang telah di potong ranting-rantingnya, sementara dahan lain di atasnya masih beranting dan berbuah lebat.
Melihat sejenak kedua telapak tanganya. Lalu kembali melihat dahan di atas kepalanya yang tidak bisa Ia pegang tanpa meloncat.
Lalu berjalan mundur, dengan tatapan tetap di dahan. Seperti memastikan jika Ia bisa memegangnya saat melompat.
Berhenti sejenak, mengambil nafas. Lalu dengan cepat Ia berlari.
"Hup!" memegang sebuah batang berukuran lebih besar dari pergelangan tanganya dengan sekali lompatan.
"Hup!"
Tubuhnya langsung mengayun ringan ke atas dengan kedua kaki merapat lurus dan kepala di bawah dengan tangan tetap memegang batang pohon.
Lalu memutar tubuhnya dan tangan sebelum kakinya menyentuh dahan di atasnya, layaknya orang yang melakukan Senam Artistik Horizontal bar.
Kakinya menekuk di batang yang ada di atas batang yang ia pegang, dan langsung mengangkat kepala.dan tubuhnya ke atas.
"Hup!"
Dengan memegang batang pokok seperti memeluk dengan kedua tangan tentunya dengan posisi tubuh yang miring namun sudah duduk di atas dahan.
Lalu segera memegangnya dengan satu tangan untuk meluruskan posisi tubuhnya dengan tangan yang lain memegang dahan yang tengah Ia duduki.
Menghembuskan nafasnya pelan. Menatap kesekeliling di bawahnya.
Tiada siapapun yang terlihat. Pemilik kebun pun baru saja pergi setelah mengantarkan minuman dan makanan di dekat Pohon yang Ia panjat.
Sedang Pak Amin pun belum terlihat rimbun kumisnya. Sempat mengatakan akan menyusul nya setelah ada Callingan mendadak.
Namun biasanya selain panggilan untuk tugas di tempat yang lain. Panggilan dari Warung makan yang belum di bayarnya yang lebih sering mengusik telinganya.
Karena kebiasaan Pak Amin, setelah tugas selesai dan mendapat upah, baru akan di lunasinya. Itu pun jika pemilik Warung meng-Callingnya. Jika tidak, berlarut-larut hingga pekan berganti.
Tama memperhatikan rambutan di ranting-ranting kecil.
Rasa ingin juga Ia memakannya, setelah beberapa hari tidak memanjat.
Segera mengambil galah bambu yang tersandar di batang Pohon yang sudah di sediakan Pak Amin untuk mengambil Rambutan yang sulit di jangkaunya.
Mengarahkan ke gerombol Rambutan di depanya.
Ujung galah bambu yang sengaja di belah dan di ganjal kayu membuatnya mudah mematahkan ranting Pohon.
Dengan berhati agar tidak terlepas dari galah, Ia pun menarik perlahan.
Meski hanya beberpa buah Rambutan yang sengaja Ia petik, sepertinya cukup untuk sekedar menikmati manisnya.
Tama menyadarkan kembali galahnya.
Lalu mengupas kulit rambutan dengan cara Ia gigit, tentunya setelah melihat jika saja ada semut yang acap kali Ia temui.
Rasa manis pun terasa di tenggorokan-nya. Dengan tatap mata melihat Pohon Rambutan di dalam kebun.
Beberapa ekor burung gereja terlihat terbang dan seperti hilang di dedauan rambutan tidak jauh darinya berada.
Tama hampir melepasakan tanganya dari batang pohon ,beruntung biji Rambutan baru saja terbuang dari mulutnya.
Se-ekor cecak melewati jemarinya.
Kaget memang, karena rasa tengah menikmati semilir angin yang menerpa tubuhnya dengan mengunyah Rambutan.
Kembali menggigit Rambutan yang Ia pegang di sela jari yang memegang dahan.
__ADS_1
Dengan mulut pula Ia membuang kulit Rambutan, lalu memasukan biji yang masih terbungkus daging yang berwarna putih susu ke mulutnya.
Namun tidak langsung mengunyah, mengecapnya seperti premen.
Suara Klakson keong di kejauhan membuatnya segera berdiri melihat.
"Lagi ramah!" Decak di hati. Sepertinya Pak Amin tengah menyapa seseorang dengan Klaskon kebanggaan-nya.
Tama segera menghabiskan isi di dalam mulutnya.
Suara Ngebcot! Pak Amin akan lebih nyaring dari pada knalpot Motornya jika melihatnya belum lagi memulai mengunduh.
Dengan sigap Ia pun meraih galah dan membawanya dengan lebih naik ke cabang batang yang lebih tinggi.
Tubuh kecilnya seperti Wanita setidaknya menjadi keuntungan baginya di setiap dahan-dahan yang kecil.
Tama segera menurunkan pelan rambutan di ujung galahnya, saat kumis Pak Amin terlihat Angker mendekati.
Terlihat suntuk saat melihatnya.
"Ayyyyy!"
Suara Pak Amin seperti tengah menggerutu melihat Rambutan tergantung menghadangnya.
Tama tersenyum kecil melihat rona kelam di wajah Pak Amin. Tebak di hatinya Pak Amin baru saja membayar kasbon-nya di warung makan.
Rona wajah Pak Amin semakin tidak enak terlihat, saat mengambil Rambutan di ujung galah.
"Jangan Kau unduh dulu!" Teriaknya bagai gorila yang tengah membuka mulutnya.
Tama semakin tersenyum menaikkan galah kembali. Benar terka hatinya, Sultan Amin tengah gundah.
Tama menyandarkan punggungnya di batang pohon, bediri di dahan. Memegang galah melihat ke bawah.
"Belum siang Pak! sudah akan membeli nasi bungkus!" Tama mengulurkan galahnya ke bawah.
Pak Amin seperti teller yang tengah menghadapi mesin penghitung uang, tetap fokus takut salah hitung. Meski air liur sebagai mesin hitungnya.
Tama cengar-cengir sendiri.Pastinya Pak Amin akan memaki-makinya setelah selesai berhitung.
Tama melihat merahnya Rambutan di sekelilinganya. Berharap sisa uang di dompet Pak Amin masih mencukupinya sepekan ke depan untuk menyumpal kumisnya dengan asap kreteknya.
"Tama! Lekaslah mengunduh!"
Tama langsung memejamkan matanya, seperti terbebas dari suara amarah di bawahnya. Pastinya dompet Pak Amin masih aman seperti harapnya barusan.
"Ayyyyy!"
Tama mengurungkan menaikan lagi galah yang di pegangnya. Suara kesal Pak Amin yang membuatnya.
"Ada apa Pak?" Tanyanya melihat Pak Amin yang tengah memegangi setiap saku baju dan celananya.
"Kretek-ku habis Tama!"
Tama menghembuskan nafasnya.
"Tunggu saja sebentar!"
Tama melebarkan bibirnya ke samping, melihat Pak Amin dengan tergesa menghidupkan kembali Motornya. Dan langsung tancap gas layaknya Race di sirkut balap.
Tama tersenyum geli melihat lambat laju motor meski suara knalpot begitu nyaring terdengar.
Suara ranting dan dedauna kering terinjak kaki terdengar.
__ADS_1
Tama segera membungkukkan tubuhnya, dahan dan dedauan rambutan menghalangi pandanganya untuk melihat asal suara.
Galah di tanganya seperti tombak yang siap Ia lontarkan ke bawah. Dengan mata awas mengawasi.
Tama merenggangkan jemarinya di galah bambu.
Senyum cantik yang baru muncul membuatnya kembali meluruskan tubuhnya.
"Ginsul," lirih hatinya.
Ginsul semakin senyum lebar hingga Gigi Ginsulnya terlihat.
Tama terkesima. Bibirnya pelan kembali mengurai senyum.
"Gins! Bagaimana Kau sampai ke sini?" Tama seperti tidak habis pikir. Sedangkan kebun Rambutan yang Ia saat ini berada cukup jauh dari rumahnya dan rumah Ginsul.
"Apa Kau tidak sekolah?" Tama lagi.
"Aku libur!"
Tama segera meletakkan galah dengan cara di letakkan menumpang dari dahan ke dahan yang lain di dekatnya. Seperti besi Horizontal Bar.
Dengan ringan Ia pun turun ke bawah, dan langsung duduk di dahan yang tadi Ia menekuk Kakinya.
Tetap menghimpit dengan belakang siku kakinya dan menjatuhkan tubuhmya ke bawah. Setelah tanganya memegang dahan Ia pun melepaskan himpitan kakinya dengan jatuh berayun.
"Hup!"
Tubuhnya dengan cepat mendarat di depan Ginsul.
Ginsul yang melihat hampir berteriak takut, namun bibirnya terbuka.
"Tar-zan," gagunya tiba-tiba.
Tama senyum-senyum, Ginsul memperhatikan wajah hingga ke tubuhnya.
"Gins, Aku Tama!" Tama seperti ingin membuyarkan apa yang ada di wajah Ginsul.
"Maksudku bagaimana Kau ...?"
Ginsul dengan menunjuk di mana tadi Tama berayun turun.
"Kau yang bagaimana? Bisa sampai di sini?" Tama kembali membuyarkan tatapan mata Ginsul akan dahan tanpa buah dan daunya.
"A-ku libur sekolah!" Ginsul seperti tidak menyangkan akan pertanyaan Tama.
"Libur sendiri?" Tama lagi.
"Bukannnn! Tama! Libur nasional!" Ginsul seperti kembali kesadaraan.
"Hari kemerdekaan kan, masih lama Gins?"
Ginsul langsung memalingkan wajahnya.
"Hari ini, hari buruh sedunia!" Ginsul dengan hampir bersungut kesal.
"Apa? Harusnya Aku pun libur dong, Gins!" Tama seperti lupa.
"Iya, terserah!" Ginsul dengan berjalan mendekati minuman dan makanan di atas tikar.
"Aku hanya di suruh Alisa memberikan kreteknya Pak Amin," ucapnya lagi dengan meletakkan sebungkus kretek di atas piring makanan yang berisi kue-kue basah yang di tutupi daun pisang.
Tama tidak berkedip memperhatikan hingga Ginsul berlalu pergi kembali dengan senyum kecil saat menatapnya sesaat.
__ADS_1
...****************...