
Tama seperti bergegas turun dari Pohon Rambutan, gerak tubuhnya terlihat ringan bergelayut di dahan mulutnya menggigit ranting kecil dengan beberapa buah Rambutan yang berwarna merah.
Masih cukup jauh kakinya dengan tanah, namun Ia pun langsung meloncat.
Ginsul hampir saja berseru menyaksikanya, namun Bibirnya langsung merekah dengan gigi ginsul yang terlihat.
"Thank you," ucapnya senang. Mengamati Buah Rambutan yang baru di berikan Tama.
"Rasanya manis sekali." Senyum Tama.
"Oh,iya?" Ginsul dengan mata berbinar.
"Coba saja." Tama dengan mengambil sebuah dari tangan Ginsul.
Lalu megupas kulitnya.
Ginsul membuka mulutnya dengan semu di wajahnya.
Tama tersenyum lebar, jari-nya sengaja di gigit Ginsul.
Ginsul tertawa tertahan dengan menguyah pelan Buah Rambutan. Mengganguk manis, semanis rasa di lidahnya.
"Bagaimana Kau tahu Aku di sini?" Tama dengan duduk di rerumputan.
Ginsul mengikutinya, tanganya membuang jauh biji dari dalam mulutnya.
"Pucuk hijau rambutan merah! Tadi Aku tidak sengaja bertemu pak Amin!"
Tama tersenyum geli.
"Pucuk hijau rambutan merah! Aku pun baru ingin menghubungimu." Tama menatap riang wajah Ginsul.
Ginsul tersenyum lebar. Tanganya bergerak pelan mengusap keringat di pipi Tama.
Senyum Tama berubah, tanganya pun bergerak menyentuh lembut pipi Ginsul.
Ginsul menundukan tatapnya, pipinya benar-benar berona.
"Maaf, hanya rambutan yang bisaku berikan padamu, bukan setangkai bunga," ucap Tama hampir bergetar. Mengelus pipi Ginsul dengan punggung jemarinya.
Ginsul tertunduk semakin merona, senyum sembunyi di debarnya hati.
Tangan Tama perlahan menyentuh dagu Ginsul.
Ginsul menatap hangat. Tangan yang tadi menyentuh pipi Tama, kian jatuh di pundaknya.
Bibirnya bergerak haru, tersenyum penuh debar hati.
Tangan Tama kembali mengusap pipinya.
"Terasa lebih manis, dari sekuntum bunga yang indah," ucapnya memejamkan mata.
Getar indah dan lirih bagai memenuhi sanubarinya, cinta bagai tengah bertahta di alam hangatnya.
Tama tersenyum. Pipi Ginsul terasa halus dan hangat Ia sentuh. Rambut tomboynya yang lebat bagai dedauan rimbun yang meneduhkan mata saat melihatnya. Senyum dengan Gigi Ginsulnya terasa manis menusuk relung hati, bagai Buah-buah segar yang sering Ia petik baru dari tangakinya.
Tama mendekatkan wajahnya.
Ginsul yang baru membuka matanya, harus kembali menutupnya dengan pipi semakin berona menahan debar di hatinya.
Sinar Matahari yang tengah melubangi sela-sela dedaunan dan ranting di atas mereka, ada yang menembus wajah keduanya. Laksana sinar cinta yang tercipta saat ciuman pertama terukir mesra.
__ADS_1
Ginsul membuka matanya dengan tersenyum malu, pipi bagai bercat merah muda.
Tama pun tersenyum malu, bibirnya memang bergetar saat mencium pipi Ginsul. Baru kali pertama Ia mencium seorang wanita, hanya mencium Buah-buah masak saja yang sering Ia lakukan.
Tama semakin menunduk malu, Ginsul akan menyuapinya dengan Rambutan.
Meski masih berdebar di dada dan bibirnya Ia pun membuak mulutnya, tersenyum dengan menguyah ke pada Ginsul.
Ginsul tertawa kecil, mengecup pelan kening Tama.
"Tama, Aku sayang padamu," ucapnya.
"Aku juga Gins," sahut Tama menatap wajah Ginsul, meski biji rambutan masih lagi di dalam mulutnya.
Ginsul merebahkan kepalanya di bahu Tama dengan tersenyum senang, menatap batang-batang Pohon Rambutan yang berbuah di depannya.
Semua terlihat manis di dalam hati. Hatinya kini terasa ada yang memiliki, ada yang tengah melumuri dengan warna merah rambutan, semerah hati yang tengah berbunga cinta.
"Manis sekali."
Tama melirik wajah Ginsul di bahunya.
"Yang mana Gins?" Tama dengan melihat Buah-buah Rambutan yang bergelantungan.
"Semuanya Tama," bisik Ginsul.
Tama tertawa kecil, menyentuh pipi di pundaknya dengan jemarinya.
Ginsul mengangkat wajahnya, membawa jemari Tama luruh di senyumya, lalu mendekatkan wajahnya.
Tiada kata yang dapat terucap, saat merasakan cinta di hati, seakan tengah menggoyahkan batang-batang kokoh yang ada di sekitar, menggugurkan semanis-manis Buah yang tengah masak di ranting-ranting kecil.
Bunga terindah bukanlah yang tumbuh di Taman-taman dan kebun, tapi yang ada di dalam dada.
Tama dan Ginsul membuka mata masing-masing.
Suara Motor Pak Amin terdengar mendekati.
Keduanya mengusap mulut masing-masing dengan berdiri tergesa.
Tama langsung memanjat Pohon Rambutan yang tadi akan Ia unduh.
Ginsul yang sempat panik, senyum-senyum melihat Tama telah berada di cabang batang di atasnya.
Tama tertawa kecil, menunjuk ke arah suara Motor Pak Amin.
Ginsul menoleh ke belakangnya dengan tetap senyum-senyum.
"Tama, hati-hati." Saat kembali melihat Tama yang akan memanjat lebih ke atas.
Tama mengacungkan Ibu jarinya dengan tertawa kecil.
Ginsul tersenyum senang. Menatap tiap gerak Tama bergelayutan di dahan Rambutan. Hatinya terasa berbunga dengan yang baru saja Ia dan Tama lakukan dan belum pernah Ia lakukan.
Kesan pertama. Ginsul menutupi rasa hatinya tersenyum di rerumputan di sekitarnya.
Andai Alisa tahu? Suara di benaknya. Membayangkan reaksi Sahabatnya.
"Ginsul!"
Ginsul langsung mengulum senyumnya.
__ADS_1
"Belum pulang Kau rupanya!"
Ginsul tersenyum kembali, saat Pak Amin telah sampai di dekatnya tentu dengan suara knalpotnya yang tidak terlalu cempreng seperti yang kemarin ,namun ngebacot! Karena telah di ganti knalpot racing meski seken.
"Hanya meminta sedikit Pak." Kilahnya menunjukan Buah rambutan di dekat kakinya.
"Aiiiiiyyy! Tama! Berikan Ginsul lagi!" Pekik keras Pak Amin melihat ke atas Pohon.
"Beres Pak Amin!" Seru Tama langsung.
Ginsul tertawa geli.
Tama dengan gesit memetik segerombol Rambutan. Lalu mejatuhkannya di dekat Pak Amin..
Pak Amin membungkuk mengambilnya.
Kesempatan itu pun tidak di sia-siakan Tama dan Ginsul untuk saling bertatapan dan tersenyum penuh cinta di hati.
"Nah, Ginsul pulanglah dahulu, akan Pak Amin bawakan lagi petang nanti." Senyum rekah Pak Amin
"Terimakasih Pak Amin," ucap Ginsul menatapi merahnya Rambutan yang baru di berikan Pak Amin.
"Semoga Pak Amin sering dinas terus." Ginsul lagi.
"Aminnnnn!"
Pak Amin sontak melihat ke atasnya.
"Dengar saja Aku Tama!!" Serunya keras.
Tama tertawa.
"Iya sudah, Ginsul pulang ya, Pak Amin."
Pak Amin senyum lebar, meski rimbun di rimba bibirnya bagai menutupinya.
"Tama! Aku pulang!" Ginsul berjalan dengan ceria.
Tama mengangguk tersenyum.
"Pak Amin, semoga lancar terus unduhanya!" Ginsul dengan membalikan badannya, berjalan mundur.
"Aminnnnn!!"
Lagi-lagi Pak Amin melihat Tama.
"Apa Kau menghinaku Tama! Dengan tanpa sopan memanggil namaku!" Wajah Pak Amin berona kurang suka.
"Tidak Pak! Tapi tidak mungkin Tama mengucapkan, Pak Aminnnn! Saat seorang tengah mendoakan!" Tama menahan tawanya.
Rimba di bibir Pak Amin bagai berdiri kaku Semuanya, Menatap kesal Tama.
Tama menutupi tawanya dengan memetik kembali Buah di dekatnya dan melihat Ginsul yang berjalan sambil tertawa pula.
Merahnya Rambutan, terasa merah di pipi Ginsul. Manisnya Rambutan bagai Manis di pipi...
"Ayyyyyyy! Tama! Apa yang Kau lihat? cepat lah! Masih banyak pohon yang harus kita unduh!"
Tama langsung memasukan Rambutan ke dalam karung, menutupi rasa malu hatinya akan kesan yang baru Ia rasakan bersama Ginsul.
...****************...
__ADS_1