
Ginsul berlari kecil setelah turun dari Motornya.
"Nenek! Kakek!" serunya gembira. Langsung memeluk kedua orang yang berdiri di beranda Rumah karena melihat kedatangan-nya.
"Ginsul, Ginsul." Hampir berbarengan keduanya di peluk Ginsul.
"Kakek tidak melihat Ayah dan Ibumu? Atau adikmu?"
Ginsul tersenyum lebar melepas peluknya dari Kakek dan Neneknya, menatap keduanya.
"Apa Kau dari pulang sekolah?"
Ginsul mengangguk cepat kepada Neneknya.
Kakek dan Nenek Ginsul berpandangan heran.
"Ginsul rindu dengan Kakek dan Nenek!" Ginsul dengan duduk di kursi beranda.
"Seperti tidak biasanya Gins?" Kakek Ginsul.
"Memang Ginsul tidak boleh berkunjung?" Ginsul seperti merajuk.
"Bukan begitu Ginsul! Kau jarang berkunjung sendiri ke rumah Nenek?"
"Sekali-sekali sendiri Nek." Ginsul memeluk Tasnya dipangkuan.
Kakek dan Nenek Ginsul terlihat menghela nafasnya.
"Oh, iya Kek! Buah-buah di belakang dan samping Rumah sudah ada yang matang?" Ginsul dengan berdiri. Melihat sekeliling Rumah.
Kakek dan Nenek Ginsul kembali harus berpandangan.
"Buah apa? yang Kau maksud?"
Ginsul nyengir lebar.
"Buah apa saja Kek!" Ginsul dengan berlari ke samping Rumah.
Kakek dan Nenek Ginsul kembali berpandangan. Keduanya pun masuk ke dalam rumah dengan rasa heran.
Ginsul tersenyum lebar mengamati setiap Pohon yang tumbuh.
Matanya mengulik tajam di pohon pisang yang masih berjantung dan langsung melihat pohon pepaya yang berbuah banyak, namun masih berwarna sama dengan daunnya.
Mata kembali menyisir satu-persatu pohon yang ada.
"Rambutan!" Pekik hatinya. Melihat pohon Rambutan yang rimbun.
Namun wajahnya termangu menatap.
Hanya rimbun hijau yang banyak terlihat, sedang ranting-rantingnya tiada berisi gerombol Rambutan yang telah masak, hanya ada satu atau dua buah di setiap ranting, itu pun seperti sisa unduhan.
Bibir Ginsul bergerak kesamping.
Dengan langkah pelan melihat ke setiap pohon.
Matanya hampir berbinar, sedikit berlari mendekati Pohon mangga.
Sinar matanya bagai menembus ke angkasa melihat dari bawah Pohon.
"Ginsul! Mangga itu belum berbuah!"
Ginsul melihat Nenek di depan pintu dapur.
Kakeknya pun berjalan mendekati, di ikuti Neneknya.
Dengan bibir melebar sedikit ke samping,Ginsul kembali melihat - lihat setiap Pohon yang tumbuh di area belakangnya.
"Kau mencari buah apa Ginsul?" Kakeknya dengan mengikuti tatapan Ginsul.
"Pokoknya yang sudah masak Kek! Buah apa saja!" Ginsul seperti putus asa melihat dedaunan pohon.
"Tidak biasanya Kau mencari buah Ginsul?"
Ginsul menatap lemas Neneknya.
"Tidak Apa-apa Nek," jawabnya manja.
"Buah Rambutan di sana ... Kakekmu yang mengunduh, untuk di jual ke pasar!"
__ADS_1
"Aahhhh! Kenapa Kakek tidak memberitahu Ginsul!" Ginsul kecewa.
Tentu hal itu membuat Kakek dan Neneknya harus kembali berpandangan.
Seingat mereka cucunya Ginsul tidak pernah mencari buah jika bertandang.
"Kakek dan Nenek tidaklah tahu Ginsul! Jika kini Kau tengah mencari buah?"
Ginsul cemberut, seperti marah pada Kakeknya.
"Lagi pula, Apa Kau tidak melihat rambutan yang di kirim oleh Kakekmu, di warungmu?"
Ginsul melihat Neneknya.
Ia memang tahu Rambutan yang di jual di warung dan telah habis, dari Kakeknya.. Dan memang jarang warungnya menjual buah-buahan jika bukan karena titipan kakeknya. Tapi kini Ia merasa butuh buah yang masak di atas pohon.
"Lihat dan tahu Nek,' ucapnya lesu.
Kakek dan Nenek Ginsul sama-sama menatap Ginsul.
"Apa Kau sekarang berjualan buah-buahan Ginsul?"
Ginsul melihat lesu Kakeknya. Menggeleng tanpa semangat.
"Lantas?"
Ginsul terdiam menjawab Neneknya.
"Iya sudahlah, lebih baik Kita ke dalam atau di beranda saja Ginsul." Kakek Ginsul melihat terik di tanah sekitar Pohon Mangga.
Ginsul senyum kaku, mengikuti tarikan tangan Neneknya berjalan. Matanya kembi menyisir setiap Pohon yang tumbuh, seperti masih mencari apa yang Ia inginkan.
Namun hingga masuk kedalam Rumah pun, matanya hanya mendapati dedaunan yang bergerombol hijau.
"Nah! Ini buah rambutan, Kau tidak perlu repot-repot ke dalam kebun." Nenek Ginsul dengan menyodorkan sepering besar Rambutan.
"Benar Ginsul!" Kakek Ginsul menimpali dari belakangnya.
Ginsul tertegun, meski merah masak Rambutan di atas meja makan menggugah air liurnya untuk sedikit tertelan, namun bukan memakannya yang Ia inginkan.
Ginsul langsung melewati meja makan Bablas! ke dalam ruang tengah dan tembus ke beranda depan dan terhenti, terduduk dengan wajah muram.
Nenek Ginsul memperhatikan tanpa bisa berkata lagi, melihat dengan heran suaminya, akan sikap aneh cucunya.
Sementara Ginsul seperti bergelayut lemas di akar-akar tumbang pepohonan yang tidak berbuah.
"Ginsul, Apa Kau sudah makan?"
Nenek Ginsul mendekati.
Ginsul menggeleng tiada bersemangat.
"Ginsul! Ginsul! Sebenarnya Kau kenapa? Datang dengan menanyakan pohon yang tengah berbuah?"
Kakek Ginsul kembali ikut berkumpul.
"Ginsul hanya ingin manjat pohon Nek! Kek!"
Ginsul cemberut.
Sontak kedua pasangan Suami- Istri itu pun menertawakan.
"Sejak kapan Kau suka memanjat Ginsul?"
Nenek Ginsul di sela tawanya.
Ginsul hanya terdiam, tertunduk memainkan jemarinya di pangkuan.
"Cucu Kita ingin jadi tarzan Nek!"
Kakek Ginsul menimpali Istrinya.
Ginsul cemberut manja.
"Bukan Ginsul yang akan memanjat Nek." Ginsul dengan merajuk.
Sontak Nenek dan Kakek Ginsul terhenti tertawa, dengan bersamaan pula duduk di kursi bambu.
Ginsul hanya menundukkan pandangan, seperti gemas terhadap jarinya sendiri. Hanya saja jemarinya tidak memegang karet gelang yang bisa di bentuk di jemarinya seperti jaman sekolah dasar Kakek dan neneknya.
__ADS_1
"Teman Ginsul yang akan memanjatnya," jelas Ginsul tetap cemberut.
"Alisa!"
Ginsul menggerak-kan kedua pundaknya bergantian dengan kesal.
"Bukan Nek!"
Nenek Ginsul terbengong kecil melihat Suaminya.
"Lelaki Ginsul?" Kakek Ginsul penasaran.
Ginsul mengangguk, dengan tatapan ke arah jemarinya, menutupi semu rambutan masak di kedua pipi.
"Kasihan Nek, Kek. Tama memanjatnya terlalu jauh, hingga malam barulah pulang," ucap Ginsul melihat dua pasang mata yang tengah menatapnya tidak mengerti.
" Lantas?" Nenek Ginsul seperti masih kurang paham akan penjelasan cucunya.
"Di kebun Kakek dan Nenek kan, banyak pohon buah-buahan ...."
"Supaya Tama temanmu memanjat di sini?" Kakek Ginsul semakin mengerti.
Kakek dan Nenek Ginsul kembali menertawakan.
Ginsul cemberut bercampur rasa malu di hatinya.
"Ginsul! Ginsul! Jika temanmu ingin mengunduh dedaunan hijau, iya silahkan saja!"
Kakek Ginsul seperti tidak habis pikir akan keinganan cucunya.
Ginsul langsung berdiri.
Nenek Ginsul pun berdiri mendekatinya.
"Kek, cucu Kita marah," ucapnya memegang kedua pundak Ginsul.
Kakek Ginsul langsung terdiam tertawa. Namun kerut di kening dan pipinya bagai masih menyimpan geli dari hatinya.
"Sepertinya Kakek tidak bisa membantumu Ginsul." Senyum Kakek Ginsul dengan berdiri dan beranjak ke dalam Rumah.
Ginsul cemberut sedih. Neneknya pun mengusap - usap punggungnya dengan senyum sayang.
"Sebaiknya Kau makan saja dahulu," ucapnya seperti iba dengan cucunya.
"Tapi Nek ..."
"Nenek tahu Kau belum makan, Nenek siapkan dahulu Iya!" Senyum Nenek Ginsul dengan mengusap kepala Ginsul.
Ginsul mengganguk pelan, dengan wajah sedih.
Nenek Ginsul menghela nafas, lalu meninggalkan Ginsul.
Ginsul terpaku melihat ke arah Motornya terparkir di halaman Rumah yang masih bertanah.
Tatapan beralih ke samping Rumah. Dengan pelan Ia pun berjalan, rasa penasaran akan Buah dalam benaknya membuat kakinya turut bergerak.
Satu-persatu pepohon Buah kembali Ia tamati, menyisir setiap ranting dan dahan apabila ada yang sempat terlewati tadi.
Namun hingga hampir mendekati perkarangan belakang Buah di benaknya tiada satu pun yang terlintas lezat untuk di pandang.
Ginsul menghela nafas dalam.
Mata tertuju pada ranting pohon kering yang sudah mati. Mendekatinya, menyentuh batangnya yang berukuran betisnya.
"Aku tidak tahu, Apakah buahmu Manis," ucapnya begitu lirih.
"Tapi..." Ginsul kembali melihat ranting-ranting tanpa daun di atasnya.
"Tolong! Berbuah dong!"
"Ginsul!"
Wajah Ginsul berubah tegang yang tadi sempat memelas.
"Apa Kau memanggil seseorang?"
Dengan rasa malu Ginsul berlari mendekati Neneknya.
"Tidak Nek, Ginsul hanya lapar," ucapnya dengan masuk kedalam dapur.
__ADS_1
Nenek Ginsul terpana. Menatap tanya pohon Nangka Belanda yang telah mati, dan seperti tidak menemukan jawaban, segera masuk menyusul Ginsul.
...****************...