Aku Bukan Tarzan

Aku Bukan Tarzan
17. Kasbon Rindu


__ADS_3

Ginsul kembali membuka lebar daun jendela kamarnya yang beberapa detik lalu baru saja di tutup, dan entah sudah beberpa kali Ia melakukan hal yang sama.


Perasaanya begitu gelisah melihat ke luar jendela, rintik hujan belum lagi reda. Sedang jam di dinding terus saja berputar seperti tidak mengenal cuaca.


Dengan perasaan gelisah Ia pun kembali menutup jedela kamar, mendecak pelan dengan duduk kembali di kasur busa empuknya.


Mata tetap tertuju pada jendela.


Kembali berdiri, membuka kembali daun jendela, hati seperti berharap.


Namun hujan tetap terlihat jatuh membasahi perkarangan samping Rumah.


Menoleh cepat di dinding kamar.


Wajahnya kian berona gelisah.


Sebuah penyesalan segera terbesit di hatinya, mengapa Ia harus menyuruh Alisa dan Para Gins untuk pergi lebih dahulu? Sedang tadi hujan belum turun.


Pesan Wa dari Alisa, hampir tiap detik pula Ia baca. Semua tengah menunggunya untuk pertandingan melawan Kawanan Kyra.


Dering di Handphone-nya kembali berdering.


Dengan cepat Ia pun meraihnya.


"Iya, Alisa?" Bibirnya berucap pucat. Telinganya seperti bergerak mendengar suara Alisa.


"Apa tidak bisa di tunda? Barang sebentar Alisa?" Dengan wajah gelisah. Bibinya masih tetap terbuka mendengar jawaban Alisa.


"Mungkin sebentar lagi hujan akan berhenti Alisa," ucapnya seperti ingin di mengerti Alisa.


Bibirnya semakin terbuka lebar mendengar tanggapan Alisa.


"Iya, sudah." Dengan mengamati layar Handphone, Alisa telah mengakhiri panggilan di Wa-nya.


Lesu rasa di tubuhnya, melihat ke luar jendela.


Hujan kembali deras, sedangkan pertandingan Bola Voli telah di mulai tanpanya.


Dengan kesal menghempaskan tubuhnya ke atas kasur mebenamkan wajahnya.


Anganya pun membayangkan yang ada di lapangan Voli, Para Gins tentu kewalahan menghadapi Kawanan Kyra.


Dengan cepat membalikan tubuhnya, terlentang. Memeluk keras gulingnya.


Perasaan-nya benar-benar tertutup gelisah.


Jendela kamar yang masih terbuka, mendadak tertutup dengan keras.


Ginsul cepat terbangun, wajahnya memerah menahan rasa terkejut. Dengan tergesa mendekati jendela.


Angin deras terasa di tangan dan wajahnya, dengan cepat menutup rapat jendela.


Seragam olahraga yang Ia pakai seperti basah, bukan karena keringat tapi rasa di hatinya.


Kakinya terasa malas untuk berjalan kembali ke atas kasur, namun rasa kesal akan hujan yang tidak kunjung reda atau setidaknya rintik kecil yang jatuh membuatnya kembali ingin rebahan di atasnya.


Namun sebuah ketukan pelan terdengar dari jendela.


Balik badan grak! Bagai mendengar aba-aba dalam baris-berbaris, badanya langsung menghadap jendela kembali.


Dengan rasa sedikit terkejut bercampur penasaran, karena memang tiada yang pernah melakukannya sebelumnya, membuatnya membuka jendela kembali.


Wajah dan rasa gelisahnya langsung berubah derastis, melihat wajah seperti wanita senyum lebar memegangi ujung daun jendela yang baru Ia buka.


"Tama," ucapnya tidak menyangka.


Tama membuka lebar daun jendela. Rambutnya yang panjang terlihat basah, sedang handuk mandi tersampir di lehernya.


"Apa yang Kau lakukan di sini?" Senyum Ginsul melihat Tama yang kebasahan.


"Jangan bilang Kau rindu padaku Tam?" Ginsul seperti malu sendiri.


Tama tertawa kecil hampir tidak terdengar.

__ADS_1


Mengelap-elap Rambutnya yang tertimpa Air hujan.


"Aku memang rindu padamu," ucapnya pelan melihat ke kanan dan kirinya.


"Ahhh, Tama. Aku juga," Ginsul hampir menarik handuk di leher Tama.


Keduanya tersenyum bertatapan.


Ginsul seperti lupa akan gelisah yang baru di deritanya,. Kehadiran seorang kekasih di saat genting membuatnya bersorak senang, seperti baru saja melakukan pukulan smash dan tanpa bisa di blok lawan.


Senyum dan wajah Tama pun layaknya Matahari yang mengusir hujan, hangat dalam kasih di hati.


Mendadak sirna semua sesal yang tadi sempat tumbuh di benaknya.


Mendadak yang terbesit di hati, alangkah senangnya jika hujan tidak reda-reda. Hati pun kian berharap bahwa Matahari akan nampak di kala hari sore.


Gigi Ginsulnya semakin terlihat, saat jemari Tama mulai mendekati wajahnya.


Debar hatinya pun semakin bergelombang, turun naik tanpa bisa di cegah.


"Gins, apakah warungmu tidak buka?"


Ginsul hampir membuka lebar bibirnya,debar yang baru saja akan terasa memuncak di pipi, langsung reda kembali.


"Pulsaku habis," ucap Tama tersenyum. Tangannya memegang erat kusen jedela di dekat wajah Ginsul.


Ginsul menghembuskan nafasnya pelan.


Tama tertawa lagi.


"Kali ini, cash!"


Ginsul melebarkan bibirnya.


"Bener Gins." Tama menyentuh hangat dagu Ginsul.


Ginsul tersenyum malu.


"Yang tadi bukan alat pembayaran," ucapnya manja.


Ginsul membuka bibirnya, tersenyum lebar seperti ingin memperlihatkan Gigi Ginsulnya.


Tama mencubit gemas pipinya.


"Ahhh, Tama! Lagi," keluh manjanya.


"Sudah ah, pak Amin pasti tengah menungguku," jelas Tama bersungguh-sungguh.


"Tapi bener, cash?" Ginsul membuka telapak tangannya.


Tama berdecak pelan. Memberikan selembar uang kertas yang dilipat begitu kecil.


Ginsul melihat terpana. Menatap ulang lipatan uang di telapak tanganya.


"Terlalu Kau Tam?" Ginsul seperti menggerutu.


Tama cengar-cengir, mengusap-usap Rambut dengan handuk di lehernya.


"Buat sms-an dulu," ucapnya malu juga.


"Tama, mungkin sebaiknya Aku saja yang mengirim sms ke pada pak Amin?" Ginsul mulai cemberut.


Tama semakin cengar-cengir. Ucapan Ginsul bagai tamparan yang halus.


"Gajinya belum cair," ucapnya setengah tertawa.


"Seperti pegawai pemerintah saja, belum cair." Tanggap Ginsul manyun.


Tama tertawa geli.


"Nanti, Aku kirimkan." Ginsul lagi.


Tama senyum-senyum.

__ADS_1


Ginsul langsung melihat tubuhnya, tatap Tama kepadanya yang membuatnya.


"Apa Kau akan bermain voli?"


Ginsul seperti ingat kembali akan rasa gelisah dan kesalnya.


Mengangguk pelan penuh kelesuan.


Tama tersenyum melihatnya.


"Hujan sering menundaku dalam mengunduh," ucapnya memegang jemari Ginsul di dekat tangannya yang masih memegang kusen jendela.


"Aku merasa sama dengan apa yang Kau rasakan saat ini ... " Tama tersenyum manis.


"Tapi, pasti ada hal yang membuat kita merasa bersyukur atas hujan yang turun, yang tadinya bagai menghalangi kita," Tama semakin manis tersenyum.


Ginsul manggut-manggut tersenyum seperti ingin membenarkan ucapan Tama. Sepertinya memang tadi Ia baru merasakannya.


"Iya, sudah. Aku pulang." Tama meremas erat jemari Ginsul.


"Tapi, Tama." Ginsul merasa berat.


"Gins, Aku harus bersiap tugas jika hujan reda," Tama mengusap halus pipi Ginsul.


"Uangnya tidak Kau ambil kembali kan?"


Tama langsung melepas jemari Ginsul.


Ginsul senyum-senyum.


Tama menarik nafasnya.Dengan cepat dan gemas mencium pipi Ginsul.


Ginsul tersentak pelan. Gigi Ginsul kembali terlihat diantara tanganya yang memegangi pipi.


"Awas terjatuh uangnya!" Tama dengan bergegas menjauhi jendela.


Ginsul menyeringai, langsung melihat lipatan kecil di sela jarinya yang Ia jepit.


"Tama!"


Tama cepat menoleh.


"Malam ini, Aku tunggu." Riang Ginsul.


"Aku dinas malam Gins! Unduhanku padat, tapi Aku akan menemuimu saat malamku senggang!"


Tama menatap halus wajah Ginsul seperti meminta maaf.


Ginsul tertunduk kecewa. Sedang hatinya berharap malam nanti Ia bisa bersama Tama ke pasar malam yang baru akan di buka di lapangan sepak bola.


Matanya kembali melihat Tama yang telah berlari kecil menembus hujan. Tama menoleh lagi kepadanya.


Sebuah kecupan terlempar dari tangan Tama ke arahnya, Ia pun langsung memasang pipinya dengan tersenyum.


Tama terlihat tertawa.


Hatinya terasa bahagia melihat wajah Tama, meski rindu akan jalan bersama harus rela di kasbonnya.


Hembus nafas senangnya ikut berlari menembus hujan.


Suara dering membuat senyumya tertuju pada Handphone di atas kasur.


Dengan tersenyum lebar Ia pun meraihnya.


Suara Alisa terdengar di telinganya.


"Apa kalah?" Ginsul dengan tertawa. Berjalan kembali di dekat jendela. Matanya melihat hilangnya Tama.


"Siapa yang gembira, kalian kalah? Aku hanya ..." Ginsul dengan berhati-hati menutup jendela.


"Hanya ... Nanti saja Aku ceritakan," ucapnya mengakhiri panggilan Alisa.


Menghempaskan tubuhnya ke kasur, sedang senyum riangnya mengukir angkasa kamarnya.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2