
Kyra menarik kaos tanpa lengan Tama dengan keras hingga membuatnya hampir terjatuh sebelum memanjat pokok batang Pohon Rambutan.
"Mengapa Kau menolak terus setiap Aku menyuruhmu bertugas?"
Tama melepaskan tangan Kyra dari Kaosnya.
"Kyra, Aku kan, tugasku belum selesai!" Tama dengan memegang kedua pundak Kyra yang marah.
"Kau selalu beralasan!" Kyra menatap tajam.
Tama melebarkan bibirnya.
"Apa Kau tidak melihatnya?" Tama menyandarkan punggungnya di Batang Pohon.
Kyra melengos kesal.
"Kyraaa?" Tama melihat dengan iba.
"Pak Amin pasti menyuruhku pula Kyra," ucapnya lagi.
Kyra mendegus kesal.
Suara orang bersiul terdengar.
Tama melayangkan tatapanya ke arah dimana Kyra tengah melihat.
Siulan Sultan Amin bagai mengusik gendang telinga.
"Ayyyy! Tama! Aku jarang sekali melihatmu bersiul!"
Tama menoleh kesal Pak Amin.
Pak Amin kembali bersiul seperti orang yang tengah banyak uang di semua sakunya. Dengan menyandarkan tubuh belakangnya di jok Motor.
Lalu melihat Kyra yang juga telah melihatnya lagi.
"Kyra! Tama merasa malu bersiul di depan umum! Ia lebih suka bersiul dengan bersembunyi!"
Mata Kyra semakin menatap tidak suka.
Tama menghembuskan nafas melihat Pak Amin. Terlihat bibir Pak Amin seperti tengah mencium dengan mengeluarkan suara.
"Pak Amin! Apa tidak bisa berhenti bersiul?" Tanya-nya kesal mendengar.
"Ayyyyy!" Pak Amin terlihat tidak terima.
Kyra bergerak pelan mendekati Pak Amin.
"Pak, Apakah Pak Amin sering melihat Tama bersiul?"
Pak Amin langsung tertawa kecil kepada Kyra.
Tama yang mendengar segera memanjat.
"Tama!" Kyra berseru kepadanya.
Tama langsung duduk di cabang Pohon.
"Tama! Tama!" Pak Amin seperti menertawakan-nya.
Dengan senyum di Rimba hitamnya, Pak Amin menuntun Kyra mendekati Pohon Rambutan.
Tama menghembuskan nafasnya melihat tingkah Pak Amin di bawahnya.
Pak Amin bersiul lagi.
Kyra menatap tajam Tama.
"Siulan Tama hampir sama dengan siulan Ginsul!" Pak Amin memamerkan kedua bibirnya kepada Kyra.
Kyra membuang wajah tidak suka.
Pak Amin tertawa kepada Tama.
__ADS_1
Tama segera melayangkan tatapan ke arah Rambutan di atasnya. Berharap satu gerombolnya jatuh menimpa Pak Amin.
"Ayyyyy! Tama! Siulan ku lebih keras dari pada siulan kalian!" Pak Amin dengan berkacak pinggang.
Kyra mendengus melihat Tama.
"Pak Amin! Setelah tugas di kebun ini selesai! Pak Amin tugas menguduh di rumahku!" Kyra dengan rasa marah berjalan meninggalkan Pak Amin.
Pak Amin tertawa senang. Membuka kupluk saktinya.
"Laksanankan Kyra!" Serunya kemudian.
Tama meraih Galah Bambu di dekatnya. Memegangnya erat seperti siap memetik kepala gundul dengan sedikit rambut di belakangnya, Apabila menoleh.
Tama segera mengayunkan galahnya dengan rasa hatinya, melihat wajah yang baru melihatnya dengan tawa.
"Ayyyy! Tama! Kita dapat tugas lagi!" Pak Amin girang.
Tama menghela nafasnya, memanjat lebih ke atas lagi. Siulan Pak Amin membuatnya ingin menjahui asal suara.
"Tama! Aku ingin sekali melihat siulanmu! yang Kau tunjukkan pada Ginsul!"
Tama memutar kesal galah yang di pengangnya.Segerombol Rambutan tersangkut di ujung galah.
"Ay! Tama! Aku rasa siul-siul Ginsul padamu yang membuatmu begitu bersemangat mengunduh hari ini!"
Tama menutup kedua telinganya dengan rasa kesalnya, menurunkan pelan galah ke arah Pak Amin.
"Aku belum lagi bersiap tugas!"
Tama benar-benar ingin mengayunkan Galah Bambunya ke arah langkah angkuh Pak Amin, yang dengan santai meninggalkan Rambutan yang telah Ia turunkan.
Siulan kembali terdengar.
Tama berdecak pelan, menyandarkan kesalnya dengan duduk di atas dahan yang di injaknya.
"Tama!"
"Ayyyyy! Tama!"
"Iya Pak Amin!" Sahutnya berseru kesal.
"Sepertinya Kyra suka padamu Tama!"
Tama menarik ke atas Galah rambutan.
"Tidak Pak! Kyra suka pada Pak Amin!" Sahutnya dengan memetik sebuah Rambutan.
"Ayyyy!"
"Kyra pernah menceritakan tentang Pak Amin padaku!" Tama segera memakan Buah Rambutan. Melihat Pak Amin yang mengusap-usap rimba hitamnya.
Ia pun tersenyum dengan mengunyah.
"Ayyy, Tama!"
"Maksudku, Kyra mengatakan tentang kumis Pak Amin! Terlalu aduhai! Pak!" Tama tersenyum lebar dengan biji rambutan masih terselip di pipinya.
"Ayyyy! Tama! Kumisku Biasa-biasa saja Tama!"
Pak Amin melihat Kumis di kaca bulat spion Motornya.
Tama melemparnya dengan Kulit Rambutan.
Pak Amin tersentak, menoleh kesal.
"Tidak Pak! Kyra berkata Kumis PakAmin exstraordinary!" Tama terbahak.
Cepat berdiri, saat Pak Amin melemperkan kembali Kulit Rambutan kepadanya.
"Apalagi tengah bersiul Pak!" Tama hampir menjatuhkan Galah karena tertawa.
"Membuat tubuh panas- dingin pak! Seperti sengatan lebah?" Tama memeluk Batang pohon menahan tawanya.
__ADS_1
"Ayyyy! Tama! Apa Kau tengah mengejekku?"
Pak Amin berjalan mendekati Pohon.
Tama bergegas memanjat lebih tinggi.
"Iya Pak!" Serunya melihat ke bawah.
"Ayyyy!!" Pak Amin dengan marah.
"Habis! Pak Amin mengada-ada! Aku tidak pernah bersiul selama ini!" Tama dengan menurunkan galah.
"Ayyyy!" Pak Amin memegang Pokok Batang Pohon.
"Pak Amin jangan memanjat! Kesalahan Pak Amin lebih berat dari tubuh Pak Amin!" Tama mengarahkan Galah di dekat wajah Pak Amin.
Dengan kesal Pak Amin mengambil Rambutan di ujung Galah.
"Pipi Ginsul yang Kau sentuh! Apakah itu bukan siulan?" Pak Amin mendongak kembali.
Tama nyengir geli.
"Apa Pak Amin pernah mendengar sebuah ungkapan! Bahwa cinta itu buta?" Tama menaikan galah kembali.
"Ayyyyy! Lalu apa Kau terpejam saat itu?" Pak Amin seperti kesetanan, menghentakkan kuat kakinya ke tanah.
"Benar Pak! Kerena jika Aku melihat Pak Amin! Aku pasti tidak akan melakukannya!"
"Love is blind, pak!" Tama dengan kembali mengarahkan Galah ke gerombolnya Rambutan.
Pak Amin mencinbir kesal, menjatuhkan Rambutan dari tangan-nya. Membuka kupluknya dan memukulkannya ke Pokok batang pohon.
"Ayyyy! Tama! Lalu apakah Aku harus menggalah tubuh belakangmu? Agar Kau melihat dengan melotot!" Pak Amin melangkah mudur mendongak ke atas.
Tama dengan cepat menurunkan Galah.
Pak Amin pun segera menyambutnya.
"Perasaan Kita yang buta Pak Amin, tertutup dengan sesuatu ... yang tidak mungkin Aku utarakan pada Pak Amin," ucap Tama. Tersenyum menaikan Galah kembali.
"Ayyyy! Apa Kau tengah mengajariku?" Pak Amin memetik satu Rambutan dari tangan-nya.
"Iya tidak lah, Pak Amin!"
"Pak Amin kan, lebih suka memakan garam dari pada Aku!" Tama nyengir.
"Apa yang Kau katakanTama?" Pak Amin bersiap mengupas Kulit rambutan dengan mulutnya.
"Apa Kau tengah mengejekku? Jika Aku lebih berusia tua dari padamu?" Dumel Pak Amin lagi.
Tama menghela nafasnya, menatap warna manis yang bergerombol.
"Terserah Pak Amin saja! tambahkan gula saja jika merasa ke asinan!" Dengan kembali mengarahkan Galahnya ke ujung Ranting.
"Ayyyyy! Tama!"
Tama lekas menolek ke bawah.
"Aku tahu seperti ini Kau siul-siul Ginsul!" Pak Amin seperti ingin mengejek degan menggigit Kulit Rambutan.
Tama melebarkan bibirnya, dengan akan melihat ujung Galahnya yang terkait ranting berisi Rambutan.
Namun matanya lekas melihat Pak Amin yang berseru keras dengan membuang Kulit rambutan dari mulut dan membuang Rambutan di tangan-nya. Berjingkrak meludah-ludah ke tanah.
Tama tertawa keras.
Pak Amin mengusap-usap mulut dengan kupluknya.
"Pak Amin! Pak Amin! Love is blind Pak! Semut saja siul kepada Pak Amin!" Tama menyandarkan tubuhnya di Batang pohon.
Tangan-nya terasa kaku untuk memutar Galah, karena tidak bisa menahan Tawa.
...****************...
__ADS_1