
"Tama!Tama!"
Tama menghentikan laju motornya, menengok cepat ke arah suara yang memanggilnya.
Nampak Kyra tergesa berlari mendekati di sertai beberapa temanya.
Tama tertawa kecil saat Kyra telah berada dekat, tentunya dengan nafas tersengal.
Wajah Kyra nampak memerah, Rambut pirangnya bergelombang bagai riak lautan yang halus.
"Kyra, lari-lari kok, di tengah terik? Nanti hitam lho?" Tama dengan senyum manis.
"Mengapa Kau tidak datang? Aku menunggumu."Wajah Kyra semakin memerah di putih mulus pipinya, menahan kekecewaannya.
"Ohhhh...."
"Ohhhhh?" Kyra melongo kecil, menatap tidak percaya wajah Tama.
"Maaf Kyra...."
"Maaf!"
Kawanan Kyra yang berjumlah Tujuh orang sontak berbarengan, membela Kyra tentunya.
Tama meringis menatap satu-persatu wajah-wajah yang mengelilinginya dengan warna Rambut seperti kyra. Tama semakin geli di hati melihat seorang cowok memakai bando dengan warna rambut pirang pula,tersenyum sinis kepadanya.
"Kau tahu adikku menangis terus meminta bolanya!" Kyra seperti meminta pertanggungan jawab Tama.
"Aku ada tugas memanjat Kyra,"jelas Tama pelan.
"Tapi Kan, Aku minta tolong Tama?"
"That's true!"
Kembali kawanan Kyra berseru.
Tama menggaruk pelan Rambut yang di kucirnya. Menatap kembali wajah-wajah seperti kawanan Heyna yang tengah mengitari mangsanya.
Tama senyum-senyum.
"Lain kali Aku akan menolongmu, tapi kemarin Aku tidak bisa kyra," jelas Tama lagi.
"Lain kali? Telat!" Seru seorang di samping Kyra.
Tama meringis.
Wajah di samping Kyra pun melengos kesal.
"Apa susahnya sih! Memanjat pohon klengkeng yang kerdil? Tidak perlu di panjat juga bisa!" Celetuk seoarang.
Tama semakin meringis.
Dan tentu hal itu membuat kawanan Kyra semakin gencar melengos.
"Jika kalian tahu seperti itu ... Lalu mengapa kalian tidak membantu Kyra?"
Semua yang seketika saling berpandangan.
"Kami kan, cewek! Dimana sikap feminim kami jika Kami memanjat pohon?"
Tama langsung melihat, tapi bukan ke arah asal suara barusan. Namun kepada cowok yang memakai Bando.
Yang di lihat pun sinis melengos.
Tama tertawa sendiri.
"Bukannya di antara kalian ada yang macho?" Tama ke pada semuanya.
"Dia lagi bermutasi, lagi proses!" Kyra tiba-tiba menyahuti.
Tama tertawa lebar.
"Pokoknya Tama, sore nanti Aku tunggu!"
__ADS_1
Kyra dengan menarik kaos kerah kaos Tama mendekat di wajahnya.
Tama menarik wajahnya ke belakang.
Kyra pun melepaskan tarikannya.
"Semuanya Kita pulang!" Seru Kyra ke pada kawanan Kyra.
Semuanya pun bergegas mengikuti Kyra.
Tama membenarkan kerah kaosnya, menatap dengan menarik nafas pelan ke arah langkah-langkah kawanan Kyra.
"Tama!"
Sontak Tama menoleh.
Di balik pohon Rambutan di sisi jalan, wajah Ginsul terlihat.
Tama tersenyum meski heran. Dengan cepat mendekatinya.
Ternyata Ginsul tengah memata-matainya.
"Gins?" Tama menatap heran.
"Ada apa Kau dengan Kyra?" Ginsul dengan wajah tidak suka.
"Tidak apa-apa." Tama melihat kawanan Kyra yang telah masuk ke dalam sekolah.
"Tama sore Aku minta di jemput." Ginsul seperti manja.
Tama menghela nafasnya.
"Biasanya Kau pulang sendiri?"
"Pokoknya Aku minta di jemput!" Rajuk Ginsul.
"Aku ada tugas Gins," jelas Tama memegang kedua pundak Ginsul.
Ginsul menatap wajahnya.
"Bukan, Pak Amin."Tama melepaskan pundak Ginsul.
"Ke mana? Keterusan suez?" Ginsul dengan melihat ke jalan.
"Beneran Gins," Tama meyakinkan.
"Bagimana jika besok pagi Aku mengantarkanmu." Senyum Tama manis.
Ginsul menatap, menimbang sebuah rasa di dalam dadanya.
Tama menoel pipi Ginsul pelan.
Ginsul mengangguk tersenyum. Rona di pipinya menunjukan rasa senang dalam hatinya, hanya tertutupi tawa merengutnya.
"Tama, mereka dan teman-temanku belum mengetahui jika Kita telah berpacaran," ucap Ginsul menatap wajah Tama.
Tama tersenyum melihat ke arah kawanan Kyra hilang di balik pintu gerbang.
"Apa Kau malu Gins, berpacaran dengan seorang sepertiku? Seorang pemanjat buah."
" Bukan begitu Tama," Ginsul memegang tangan Tama.
"Aku ... Aku." Ginsul seperti berpikir, menundukan wajah. Seharusnya memang Ia katakan kepada Kyra, setidak itu membuatnya tidak menggangu Tama.
"Iya sudah Gins, tak perlu mereka tahu," ucap Tama melihat keragu-raguan di wajah Ginsul.
"Gins, pak Amin tengah menungguku, biasa tugas." Tama nyengir.
Ginsul tertawa lebar.
"Buah apa yang tengah Kau panjat?" riang Ginsul menatap malu Tama.
"Mengkudu!" Tama pun tertawa geli.
__ADS_1
"Apa?" Ginsul tertawa tidak menyangka.
"Yang penting ada yang di panjat," tutur Tama mengela nafasnya, melihat jalan aspal yang akan Ia lewati.
Ginsul tersenyum.
"Memang kudu begitu." Pelannya. Memegang jemari Tama, seperti ingin merasakan sesuatu.
"Kudu pahit maksudmu?" tanya Tama melihat senyum Ginsul.
"Mengkudu sedari dahulu memang pahit Tama." Ginsul meremas jemari Tama.
Tama nyengir kecil.
"Mengkudu atau memang kudu pahit?" tanya Tama menggerakan jemarinya.
"Atau kudu Kau saja yang manis?" Tama lagi.
Ginsul tersipu.
"Gins, pak Amin geram jika Aku berlama-lama."
"Oke, sore nanti jemput Aku." Ceria Ginsul melepas jemari Tama.
"Soalnya Aku dan Kyra akan bermain bola voli hingga sore," jelas Ginsul dengan tersenyum lebar.
Tama menggaruk pelan belakang kepalanya.
Ginsul melebarkan bibirnya, lalu cemberut.
"Gins, jika Aku tugasnya hingga sore?"
Ginsul makin cemberut.
"Oke! keterusan suez!" Kesalnya kemudian.
"Bukan begitu Gins, Kyra pun meminta tolong padaku sore nanti, namun Aku pun tidak bisa berjanji padanya,"jelas Tama berganti memegang jemari Ginsul.
Wajah Ginsul kian cemberut mendengar nama yang baru saja Tama katakan.
"Tidak apa jika Kau menyanggupinya," ucap Ginsul dengan berjalan pergi.
Tama menyusulnya.
"Aku tidak marah." Ginsul tanpa menepis tangan Tama yang memegang tanganya.
"Kau marah Gins!" Tama mengikuti gerak kaki Ginsul berjalan di sampingnya.
"Apa Kau ingin masuk ke sekolah?" Ginsul menghentikan langkahnya.
Tama menatap gerbang Sekolah. Lalu menatap Ginsul.
"Aku tidak marah Tama," ucap Ginsul pelan.
"Jika Aku sempat, Aku akan menjemput mu ," ucap Tama mencium pipi Ginsul cepat.
Tama nyengir sambil bergegas berlari menuju Motornya.
Ginsul terdiam tidak mengira Tama akan menciumnya, tangan-nya pun memegang pipi yang baru di cium. Melihat Tama dengan senyum malunya, bercampur rasa senang, bagai Rembulan di tengah telaga tenang saat malam.
Lambai sukanya pun terangkat saat Tama tersenyum sebelum pergi mengendarai Motornya.
Warna di hatinya kian terasa indah bercampur manisnya rasa yang baru saja Ia rasakan. Sesaat bibirnya tersenyum lebar dengan gigi gingsulnya yang terlihat.
"Tama! I love you!" seru di hatinya melihat Tama semakin menjauh.
"Ginsul!!"
Ginsul tercekat, sontak balik badan.
"Mengkudu pahit," gumamnya melihat Kyra memanggilnya.
Dengan senyum terpaksa Ia pun bergegas menuju Gerbang sekolah. Kyra pasti akan membicarakan tentang pertandingan Bola Voli yang akan mereka laksanakan seusai pelajaran Sekolah, sepertinya Kyra masih penasaran dengan kekalahan yang sering di alami jika bertanding dengan-nya. Dan tentunya Para Gins, tidak akan membiarkan Kawanan Kyra meneguk kemenangan,mereka akan terus menelan kekalahan.
__ADS_1
Ginsul senyum-senyum berlari kecil.
...****************...