
Senyum sumringah Pak Amin tiada lepas terukir di lebat dan hitam kumisnya, disamping oceh serta tawanya seperti tiada putus dari orang di belakangnya dengan pelan mengendari sepeda Motornya.
Setiap bersimpangan dengan pengendara Motor Pak Amin selalu menyapa sopan dengan membunyikan klakson keong di Motornya yang baru di belinya, seperti ingin memamerkan suara nyaringnya.
Tama hanya senyum dan terkadang menyeringai geli setiap Kyra yang di bonceng Pak Amin menolehnya cemberut. Kemarin Ia sempat memboncengnya tapi kini Ia hanya membonceng tumpukan karung dan parang dan tali tambang milik Pak Amin.
Siang ini Pak Amin begitu terlihat gembira, sopan meski terkesan di paksakan. Karena memang biasanya Dia lebih angkuh dari pengendara Motor lainya.
Tama menarik tuas gas melaju di samping Pak Amin yang santai mengendari Motor, tidak seperti biasanya yang tancap gas meski jalan berlubang layaknya pembalap propesional saja. Hal itulah yang membuatnya ingin bertanya.
"Pak, apa tidak bisa kita lebih cepat?" Tanyanya di antara suara mesin dan knalpot Motor.
Bukanya menarik tuas gasnya, Pak Amin justru menghentikan laju Motornya.
Tentunya dengan tawa gembiranya.
Tama menatap Kyra yang masih cemberut.
"Iya nih, Pak Amin! Kulitku hampir terbakar!" Kyra di telinga Pak Amin. Cepat menarik kepalanya ke belakang, Pak Amin menolehnya.
Rimba di bibir Pak Amin mengembang.
"Santai saja Kyra, Tama."
Tama maupun Kyra mengelus dada masing-masing dengan tatapan heran.
Biasanya Pak Amin tiada mengenal kata santai dalam tugasnya, tapi kini sepertinya Dia sengaja melakukannya.
Kemarin cepat sekali mereka sampai, Tapi kini telah hampir satu jam mereka berkendara di panasnya Matahari siang bolong, belum lagi mencapai tujuannya.
Keringat dan rasa gerah di tubuh bagai tidak di rasa oleh Pak Amin. Hanya senyum dari rimba hitamnya yang lebat saja yang terasa menusuk mata dan menyengat kulit.
"Pak Amin, Aku di bonceng Tama saja."
Kyra seperti tidak sanggup menahan kesal dan juga pegal di tubuhnya.
"Ayyyiii, Kyra jangan. Kami selalu begantian dalam tugas." Pak Amin melihat Kyra turun dari Motor.
"Bukan begitu Tama?"
Tama melihat wajah Kyra yang kepanasan, lalu mengangguk kaku pada Pak Amin.
Jelas-jelas tadi Pak Amin uring-uringan saat Ia meminta dengan sangat jika Ia saja yang menjadi Spesial weapons menggantikanya, tapi setelah menjelaskan bahwa Kyra yang di boncengnya. Rimba di bibirnya bagai rimbun berbulu teduh.
"Tapi, kalau jalannya seperti ini, kapan sampainya Pak?" Tama seperti ingin menggerutu.
"Ayyy! Tama! Lambat yang penting selamat!"
Tama benar-benar menggerutu dalam hatinya. Bisa-bisanya ada kalimat yang bagai pantangan di ucapkan Pak Amin jika tengah bertugas, yang ada dan selalu terucap," Tama! Cepatlah! Lambat sekali kau?"
__ADS_1
Tama mengusap keringat di lehernya menatap iba Kyra mendengar bijak di hitam rimba Pak Amin.
Kyra pun mengibas-ngibaskan kedua telapak tangan-nya ke wajah, panas terik bagai melunturkan bedaknya. Namun membuat rambut pirangnya semakin pirang.
"Kyra sebentar lagi sampai." Manis Pak Amin agar Kyra kembali duduk.
Kyra dan Tama sama-sama membuang wajah di pepohonan rapat pinggir jalan.
Tama langsung melihat ke arah ranting-ranting kecil di atasnya, suara kicau burung atau tokek lebih terasa menyejukan hati dari pada mendegar Rayuan Maut Pak Amin.
Bisa-bisanya Pak Amin berkata seperti itu, sedang tanjakan curam yang hampir membuat roda Motornya selip belum lagi di lewati, "Masih jauh! ke mesir!" kesalnya dalam hati.
Pak Amin menyulut kreteknya, kepulan asap di kumisnya mulai mengepul laksana rimba yang tengah terbakar. Hirup nikmatnya terasa dalam hingga keluar dari kedua lubang hidungnya yang mepet dengan kumisnya.
Kyra melebarkan bibirnya penuh kejengkelan.
"Pak Amin! Apa tidak bisa knalpot motor saja yang keluar asap? nafasku pengap Pak!"
Kyra benar-benar meluapkan rasa jengkelnya yang sedari tadi di bonceng Pak Amin, merokok dengan mengendari Motor.
Tama ikut melebarkan bibirnya melihat pekatnya asap yang keluar di mulut dan hidung Pak Amin.
"Membuatku semakin jernih berpikir Kyra," jawab Pak Amin dengan menatap genit Kyra.
Kyra mencibir penuh kekesalan.
Pak Amin tertawa senang.
"Tama, Aku di boncengmu saja." Wajah Kyra memelas.
"Ayyyiyy! Bagaimana kalau Kau jatuh Kyra?" Pak Amin melihat tumpukan karung, parang dan tali tambang yang di ikat tali dari ban dalam di jok Motor Tama.
"Pak Amin bisa membawanya!" Kyra melihat jok Motor Pak Amin.
"Tidak bisa Kyra, hari ini Tama yang harus membawa perlatannya." Sangkal Pak Amin tegas. mengisap kembali kretek yang di jepit di kedua jarinya.
"Iya, Kyra. tanggung." Tama menimpali Pak Amin.
"Apa?" Kyra terlihat tidak suka dengan ucapan Tama.
"Aku pulang saja!" Kyra dengan berjalan.
Pak Amin langsung turun dari Motornya.
Tama meminum airnya yang di gantungkan di bawah stang motor.
"Kyra!" Susul Pak Amin memegang tangan Kyra.
Kyra berontak marah.
__ADS_1
Tama kembali memperhatikan keduanya. Terik di atas kepalanya kian menyengat tubuh, dan lebih baik jika kembali meneruskan perjalanan, pikirnya merasakan keringat di sekujur tubuhnya.
Dan entah apa yang di bisikkan Pak Amin, Kyra berjalan kembali mendekati motor meski wajahnya masih berona marah.
Tama nyengir kecil saat Kyra menatapnya cemberut. Bagai Buah Rambutan manis senyum rimba Pak Amin kepadanya dengan santai naik ke motor, menghidupkan mesin dan menoleh Kyra.
Wajah Kyra berlumur rasa terpaksa dan keringat naik di belakang Pak Amin.
Tama nyengir lebar.
Kyra melengos.
Suara klakson keong sengaja di bunyikan Pak Amin.
Tama tertawa, nyaring yang terdengar membuat lari se-ekor kadal tanah. Terbirit masuk kedalam semak.
Tama menghidupkan Motornya dengan Tawa di bibirnya, menyusul dari belakang Pak Amin dan Kyra yang melaju pelan.
Tawa dan canda Kyra kemarin yang di bocengnya tiada terdengar sejak berangkat bersama Pak Amin. Murung bagai Rambutan yang layu, yang lama di dalam karung dan paling bawah karung.
Tawa menahan tawanya, dengan berganti tersenyum. Kyra menoleh ke padanya.
Sepertinya Rayuan Maut Pak Amin berhasil meluluhkan hati Kyra, meski wajahnya berona penuh penyesalan.
Tama segera menarik tuas gasnya lagi, tangan Pak Amin memberi tanda padanya.
"Ada Apa Pak Amin?" tanya melaju di samping Pak Amin.
"Sebaiknya Kau duluan saja Tama!"
Tama langsung melihat Kyra.
Kyra langsung mengkerutkan wajahnya, seperti menahan tangis.
"Kita sama-sama saja Pak Amin." Tama seperti mengerti pias wajah Kyra.
"Ayyyyy!"
"Iya! Kyra takut nanti Pak Amin..."
"Ayyyyy!" Pak Amin memotong ucapan Kyra.
"Tama Kau tetap di belakangku!" Kyra berharap.
Tama mengangguk, melambatkan laju Motornya.Rimba hitam Pak Amin mulai terlihat seram dan penuh mitos menolehnya dengan ancaman.
Tama senyum kecil.
...****************...
__ADS_1