Aku Bukan Tarzan

Aku Bukan Tarzan
24. Tebak-tebak Kumis Pak Amin


__ADS_3

Tama mengusap keringat yang membasahi kening dan wajahnya. Setengah hari sudah Ia mengunduh Buah Rambutan. Semut- semut Rangrang yang banyak bejatuhan di atas rerumputan, membuatnya mengibas-ngibaskan celana panjangnya.


Membuka kaos lengan panjangnya karena rasa gerah dan keringat. Membawanya menyampirkanya di stang Motor.


Menggerak-gerakan kaos tanpa lenganya agar angin segar meredakan keringatnya.


Hari terasa amat terik tidak seperti biasanya, Matahari benar-benar bagai menumpahkan semua panasnya di kebun Rambutan.


Tama membuka Tas pahanya, meraih Handphone yang sunyi tanpa dering atau pun hanya sekedar bergetar karena pesan yang masuk.


Terasa lesu tubuhnya saat berangkat bersama Pak Amin, seperti tidak bersemangat untuk memanjat.


Bahkan merah Rambutan pun terlhat berasa Buah mengkudu, getir dan hampa.


Hanya senyum dan wajah Ginsul yang membayanginya setiap gerak tubuhnya memanjat.


Masalahnya Ginsul seperti tidak terima dengan sedikit penjelasaanya atas tuduhan yang menimpanya.


Tama memasukan lagi Handphone, melihat tumpukan-tumpukan Rambutan yang sudah Pak Amin ikat untuk di angkut dengan Mobil pemilik Kebun.


Sedang Pak Amin sendiri tengah mencari Nasi untuk makan siang.


Tama melepaskan kuncitan di rambutnya yang juga basah oleh keringat.


Pagi tadi Ia sempat melihat Ginsul bersama Adik perempuanya berangkat sekolah, yang membuatnya urung menemuinya di persimpangan jalan.


Ginsul terlihat cantik tadi.Tama mengingat lagi Ginsul dari balik jedela rumah tetangganya. Karena memang jalan yang biasa di lalui tidak melewati Rumahnya.


Karena Rumahnya di belakang Rumah Ginsul, dan tidak terlalu jauh.


Tama mengusap kembali keringat di wajah, hatinya merasa ingin sekali bertemu Ginsul. Melihat tawanya lagi, melihat senyum dengan gigi ginsulnya lagi, dan semua yang membuatnya merasakan gembira saat di dekatnya.


Tapi kini Ginsul tengah marah padanya?


Tama menguncit kembali Rambutnya, memakai kaos lagi, dan duduk di Motor.


Mengamati sekelilingnya.


Suara Motor yang lebih dari satu pun terdengar mendekati.


Tama segera berdiri.


Menelan ludahnya pelan melihat pirangnya rambut terlihat semakin mendekati.


"Tama!"


Terlihat Kyra berdiri di bonceng Mitos melambaikan tangan.


Tama mengusap Rambut atasnya ke belakang. Kyra dan Kawanan Kyra bertandang lagi, dan Ia pun sudah merasakanya sejak Pak Amin memberitukan bahwa Rambutan yang di unduh masih juga milik famili Kyra seperti kemarin.


Dengan senyum Ia pun menyambut Kyra yang langsung memegang lenganya.


"Aku bawakan minuman untukmu!" Kyra melihat Mitos.


Mitos memberikan kantong palstik dari sebuah mini market, di gantungan barang motornya kepada Kyra.


Sedang Kawanan Kyra yang lain langsung Main sikat! Rambutan yang telah tersusun. Dengan tawa dan celoteh.


"Kau, terlalu repot Kyra?" Tama melihat isi dalam kantung plastik.


Mitos senyum-senyum kemayu, nimbrung bersama teman-temanya yang bermanis-manis ria mengunyah Rambutan.


"Bila perlu, sekalian sama galon-galonnya Tama." Canda Kyra berdiri mepet bersandar motor.


Tama merasa kikuk. Sementara lenganya masih juga di pengang Kyra.


"Kyra," ucap Tama. Kawanan Kyra melihatnya.


"Cuek saja!" Kyra dengan bergelayut tangan di pundak.

__ADS_1


Tama semakin merasa risih, sedang suara motor Pak Amin juga begelayut medekati.


Kyra senyum riang, melihat asal suara yang segera akan muncul.


Tama menggantungkan katung plastik di Motornya, dan menarik tangan Kyra dari pundaknya.


"Malu dengan Pak Amin," bisiknya.


Kyra tertawa kecil.


Dengan manja duduk di jok motor.


"Ayyyyyihhhh! Ada Kyra rupanya!" Seru Pak Amin sebelum motor yang di kendarai berhenti.


"Kapan Kau sampai Kyra?" Pak Amin dengan menenteng Plastik tanpa merek berisi Nasi bungkus.


"Baru Pak Amin!" seru Kyra gembira.


"Pak Amin! Kitanya mana?" Mitos masih menguyah rambutan.


"Iya nih! Kami juga lapar Pak Amin!" Timpal Kawanan Kyra diantara tiga yang bertubuh tinggi.


"Ayyyy! Rambutan satu ikat bisa membuat kalian kenyang!" Pak Amin melihat kulit rambutan yang berserakan.


Kawanan Kyra bersorak menggerutu.


"Pak Amin makan saja dahulu Pak." Tama mengambil sebungkus nasi yang di berikan oleh Pak Amin.


"Ayyyy!" Kumis Pak Amin terangkat seiring bibirnya.


"Iya Pak Amin, kita lagi ada bisnis!" Geli Kyra melihat rimbun kumis Pak Amin yang mengembang membuat pipi terasa gatal.


Pak Amin melepas kupluknya.


Tama hampir mencium Kyra karena memalingkan wajah.


Untungnya Kyra tidak merasakan apa yang tengah Ia pikirkan. Tapi mungkin Kyra merasakan bau menyengat di ujung hidungnya.


Tama tertunduk haru, membayangkan perasaan Kyra yang akan muntah.


"Tama, Kau kentut?"


"Pucuk hijau rambutan merah!" Tama dengan menginjak kakinya sendiri, menahan gelak di bibirnya.


Dan mujur kembali, seperti mengaku Pak Amin memakai kembali kupluk saktinya. Dengan bergegas mencari tempat untuk makan tanpa permisi ramah padanya dan Kyra.


"Tama?"


"Itu bau musang Kyra," ucap Tama menahan tawanya.


"Musang berkumis maksudmu?"


Kali Ini Tama langsung tertawa menjauhi Kyra dari Motor.


"Tama Kau menertawakanku!" Kyra melompat Motor.


Tama masih tertawa melihat Kawanan Kyra, yang tengah berebut memetik Buah Rambutan dari Pohon yang tidak tinggi di dekat Rumah Famili Kyra.


"Tidaklah Kyra." Tama kini senyum-senyum.


Tama langsung memegang tangan Kyra yang menyentuh pipi di dekat telinganya.


Kyra senyum manis, mesra mengusap keringat yang mengalir.


Tama tersenyum kikuk.


"Wajahku penuh debu Kyra," ucapnya sedikit menarik wajahnya kebelakang. Menghidari jemari Kyra.


"Ayyyyy!"

__ADS_1


Dengan terkejut Tama dan Kyra melihat Pak Amin.


Sepertinya Pak Amin baru saja mencuci wajah dan tanganya di sumur.


Berdiri di sudut Rumah dengan Nasi bungkus yang masih di jinjingnya.


"Mata Tama kelilipan semut Pak!" Dusta Kyra melihat tatap curiga Pak Amin.


"Ayyyyh! Semut rangrang terlalu besar untuk mengelilipinya Kyra!" Pak Amin mengoceh.


"Tapi Ini anakan semut Pak!" Kyra lagi, lalu meniup-niup mata Tama.


Tama terpejam geli.


"Ayyyy! Tama makanlah!" Pak Amin dengan beranjak ke depan Rumah.


"Iya Pak! Sebentar lagi!" Tama masih memejamkan matanya, Kyra masih meniup-niup matanya.


Kyra yang sudah tidak lagi melihat garis tebal hitam melintang mirip rambu jalan di saat akan melalui tanjakan dan turunan, menghentikan tiupan di bibirnya.


"Kumis Pak Amin kalau dari jauh kok, bisa menyerupai apa saja iya, Tama?" Kyra memegang jemari Tama.


Tama menghembuskan nafasnya seperti enggan untuk membahasnya, sudah menjadi pemandangan yang sering Ia nikmati dalam setiap pemanjatan dan pengunduhan.


Dengan amat perlahan Ia pun melepaskan jemari Kyra, dan mendekati Motornya. Bersandar di jok.


Kyra senyum ceria mengekori, duduk di tempatnya semula.


"Memangnya apa yang barusan Kau lihat Kyra?" Tama melihat di mana tadi Pak Amin berseru.


" Mirip rambu jalan gitu!." Kyra di dekat telinga Tama.


Tama menggerakan bahunya. Terasa geli di telinganya.


"Apa Kau ingin menebak, apa yang akan kita liha saat Pak Amin muncul setelah makan?"


Tama melihat Kyra namun dengan menarik wajah kesamping, agar tidak terlalu dekat dengan wajahnya.


"Ehmmm!" Kyra berpikir, dengan kedua sudut mata ke atas. Tidak terlalu lama mengangguk-angguk senang, seperti telah menemukan sebuah jawaban yang ampuh. Lalu bertepuk tangan sekali.


"Burung walet terbang, kalau tidak ... akar kelapa!" serunya girang.


Tama terpana, lalu manggut-manggut membayangkan.


"Bisa jadi," ucapnya kemudian.


"Bagaimana denganmu?" Kyra menepuk pundaknya.


"Aku pikir dulu." Tama cepat.


Kyra mendorong pelan pundaknya.


Tama tertawa kecil.


"Biasanya, sehabis makan kan, kenyang tuh! Dan biasanya jika di lihat dari sini ... Pasti sekilas mirip, kalajengking!" Tama dengan yakin.


Kyra tertawa lebar.


Tama senyum geli.


"Kita lihat saja nanti Kyra, pasti Pak Amin mengangkat kumisnya sebelah karena tengah mencukil gigi." Tama tersenyum lebar.


Kyra membelai rambut pirangnya di atas kedua telinganya menyudahi tawanya.


"Oke! Kita tunggu saja nanti," ucapnya melihat di mana Pak Amin akan muncul.


Begitu pun Tama.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2