
Ginsul yang duduk di belakang lemari pulsanya dan tengah asik mencatat di buku kecilnya, harus menyudahi kegiatanya. Suara klakson keong mengagetkanya.
Pak Amin senyum kepadanya dengan turun dari Motor.
Siul-siul mendekatinya.
"Ayyyy! Sendiri saja Kau Gins?"
Ginsul senyum paksa mendengarnya.
Tanpa di suruh atau di persilahkan Pak Amin langsung duduk di kursi depan Ginsul.
Ginsul nyengir, hal itu membuat Pak Amin melepas kupluk di kepalanya.
Ginsul tertawa kecil dan menjadi tawa yang lebar saat kepulan debu terlihat berterbangan dari kupluk yang di kebatkan Pak Amin di pahanya.
Ginsul menutupi kedua lubang hidungnya, menjepit.dengan jari telunjuk dan ibu jari.
"Ayyyyy!" Pak Amin dengan mengenakan kembali kupluknya.
"Ada apa Pak Amin?" Ginsul setelah merasa aman dengan bau yang menyengat. Gigi Ginsulnya pun terlihat.
Pak Amin senyum genit.
"Pulsaku habis Gins."
Kumis Pak Amin mengembang Aduhai, menyiksa saat orang melihatnya.
Ginsul tertawa geli.
"Lancar dong! Tugasnya?" Tanpa melihat Pak Amin, dengan kembali mencatat.
"Ayyyy! Tugas kecil Gins!"
Ginsul tersenyum mendengar tawa Pak Amin yang terkesan angkuh, seangkuh kumisnya yang merajalela di bibirnya.
Sedangkan Tama mengatakan padanya tugasnya lumayan banyak.
Ginsul menguatkan hatinya melihat wajah Pak Amin.
Pak Amin senyum genit.
"Berapa Pak?"
Ginsul dengan melihat Handphone-nya untuk mengirim pulsa sekaligus menghindari tatapan Pak Amin dan juga bulu kumisnya yang lebih tajam dari tatapan matanya.
Pak Amin menyulut kreteknya.
Ginsul melebarkan bibirnya tanda tidak suka.
Kepulan asap langsung menyelimuti lebat rimba di bibir Pak Amin, seakan menikmati dengan meniup asap ke udara.
Ginsul mengibas-ngibaskan tanganya di wajahnya.
Pak Amin senyum genit lagi.
"Berapa Pak Amin?" Ginsul seperti ingin menyudahi senyum Pak Amin kepadanya.
Hatinya berbisik ramai agar Pak Amin cepat hengkang dari hadapnya. Serasa tidak betah dalam rimba yang seram.
Pak Amin tidak bersuara, hanya tangan-nya yang begerak merogoh saku belakang celana.
__ADS_1
Ginsul terbatuk pelan, Pak Amin sengaja memamerkan lembaran uang yang menyesaki dompetnya.
"Ribuan semua Pak?" Ginsul melihat uang kertas ribuan yang di keluarkan Pak Amin.
"Ayyyyy!" Pak Amin dengan mulut menjepit kreteknya.
"Yang pentingkan, uang Gins!" Pak Amin meletakkan Uang di atas lemari kaca.
Ginsul manggut geli.
"Nomornya Pak?" Bersiap mencatat.
"Jadi selama ini, nomorku tidak pernah Kau simpan Gins?" Pak Amin melotot.
Ginsul nyengir kembali.
Pak Amin mengisap kesal kreteknya.
Ginsul kembali menutupi hidungnya.
Pak Amin seperti mengeja memberikan nomor kartu selulernya.
Ginsul mencatat dengan rasa malas.
"Bukan lima belas Pak?"
"Ayyyyihhhh! Mana ada nomor kartu hingga lima belas Gins?" Wajah Pak Amin berona kesal seperti Kesambit Rambutan!.
Ginsul tertawa kecil, lalu mengulangi nomor yang baru di berikan.
Pak Amin manggut-manggut setiap angka yang di sebutkan Ginsul.
Ginsul dengan cepat mengetik di keyboard di Handphone, Pak Amin melepas kupluknya dengan mengibas-ngibaskan di wajah.
Pak Amin memperhatikan. kupluknya bagai kipas manual di depan wajah.
"Ayyyyy! Lama sekali Gins? SepertiTama saja jika tengah berbicara dengan Kyra." oceh Pak Amin.
Ginsul hanya tersenyum, namun hatinya tiba-tiba teringat Tama.
"Tama ..."
"Dari semalam bersama Kyra, Aku kerumahnya saja Ia belum pulang!"Potong Pak Amin cepat.
Wajah Ginsul berubah pias dan hampir terlepas Handphone di tangan mendengar penjelasan Pak Amin.
Hatinya seperti ada yang menggelitik dengan sebuah duri, terasa gelisah menjalar cepat bagai Akar-akar rambutan di luar tanah.
"Tama," bisik hatinya melihat Handphone-Nya.
"Ayyy, Gins! sudah terkirim belum?"
Ginsul tergagap. Lalu tersenyum memeriksa kembali di dalam Handphone.
"Pak Amin dan Tama bermalam di mana Pak?"
Ginsul seperti ingin menenangkan hatinya.
Pak Amin menghirup kembali kreteknya dengan rasa nikmat, terlihat dari gerak rimba hitamnya seperti ikut tersedot ke dalam mulut, jika saja tidak terhalang bibirnya.
Ginsul terbatuk kesal, saat kepulan asap keluar mulut dan hidung Pak Amin seperti cerobong asap.
__ADS_1
"Di rumah Pamannya Kyra." Pak Amin melihat Handphone-nya.
Ginsul tertawa geli di dalam hatinya, Kumis Pak Amin bagai puluhan kawat antena di dekat Handphone.
"Aku lelah Gins, jadi Aku tertidur. Sedang Tama bersama Kyra hingga pagi bersama," jelas Pak Amin melihat Ginsul.
Seperti Buah Durian yang rontok di hati, terasa sakit mendengar penjelasan Pak Amin. Ginsul tersenyum lebar menutupi suasana di dalam dadanya.
"Berdua-an Pak?" Ginsul menahan gelora hatinya.
"Ayyyy! Bahkan sampai saat ini pun, keduanya belum juga pulang!" Pak Amin terlihat marah.
Ginsul mengelus-elus dadanya dengan menggerak-gerakan kedua kakinya, seperti seorang drumer sebuah grup musik.
"Tama!!" Jerit hatinya seiring hentakkan di kakinya.
"Pak Amin sudah ke rumah Tama?" Ginsul seperti ingin menyakinkan hatinya, bahwa Tama tidaklah seburuk yang tengah Ia pikirkan.
Pak Amin berdiri, kesal melihat ke arah Rumah Tama yang terlihat hanya atap gentingnya saja karena terhalang beberapa Rumah.
"Sudah dua kali Aku kerumahnya Gins!" Pak Amin menggerutu.
Mata Ginsul hampir terpejam menahan rasa lirih mendengar penjelasan Pak Amin. Benar-benar bagai tersambit rambutan mentah dan begetah, perih terasa.
"Pak Amin sudah terkirim Pak!" Ginsul dengan berdiri melihat layar Handphone-nya.
Pak Amin langsung mengecek pula Handphone di tanganya.
Senyum rekah namun horor menghiasi atas bibirnya yang juga kelam. Melihat Ginsul dengan genit.
"Sudah Gins!" Pak Amin dengan duduk kembali.
Wajah Ginsul berona kesal, bercampur ingin membuang Handphone-nya. Bukan hanya karena Chat WA-nya yang belum di balas Tama, tapi Pak Amin yang kembali duduk lagi.
"Pak Amin kok, tidak cepat pulang Pak! Aku kepingin menangis Pak!" seru hatinya melihat wajah Pak Amin dan senyum genitnya. Untungnya rimba lebat Pak Amin masih dapat sedikit menutupinya.
"Mengapa Kau terlihat gelisah Gins?"
Ginsul tersentak di hatinya, dengan langsung tersenyum.
"Tidak Pak Amin, Ginsul tadi memrebus air minum," Dustanya.
"Ohhhh! Iya sudah Aku melihat Tama lagi!" Pak Amin dengan berdiri lagi.
"Iya Pak!" Girang Ginsul yang memang berharap.
Ginsul memperhatikan dengan gelisah Pak Amin yang menaiki Motor keluaran lawas yang lahir terlebih dahulu sebelum Ia lahir.
"Gins! Bukankah Kau mengunakan Air galon untuk minum?" Pak Amin di atas Motornya.
Ginsul terpana sesaat.
"Enghh! Buat di taruh di termos Pak! Kalau ada tamu!" Dustanya kembali. Jelas-jelas setiap harinya Ibunya yang selalu memasak dan merebus air, sedangkan Ia hanya memasukan ke.dalam termos bila sudah mendidih matang. Itu pun jika Ia sempat karena keburu berangkat sekolah.
Suara Motor menyegarkan hatinya akan rasa kikuk menjawab tanya Pak Amin.
"Ayyyy!" Seru Pak Amin. Senyum genitnya muncul kembali dengan sebelum menarik tuas gasnya.
Ginsul membalas dengan senyum kaku. Dan Langsung berhambur ke dalam Rumah menuju kamarnya.
Sedari tadi Ia menahan tangis.
__ADS_1
...****************...