
Bu lan berdiri di tengah lapangan dengan pluit di bibirnya.
Para Gins terlihat duduk-duduk di tepi lapangan, sementara Kawanan Kyra berdiri di berjajar di bawah Jaring Net.
Alisa yang memang sejak tadi gelisah menunggu Ginsul seakan tidak sabar, berdiri dari duduknya.
Kyra yang melihatnya senyum-senyum kepada Mitos.
Bu lan melepas pluit dari bibirnya.
"Alisa,apa Ginsul lupa?" Tanya-nya mendendekati Alisa. Terlihat Pluit di perutnya yang di ikat melingkar di leher seperti tidak bergerak oleh langkah pelan-nya.
"Tidak Bu, mungkin sebentar lagi?" Alisa dengan gelisah.
"Sebentar lagi?" Mitos seperti mengikuti ucapan Alisa. Melihat.Kyra.
Kyra senyum mengejek.
"Sudah hampir setengah jam Alisa!" Seru Kyra.
Alisa pun menatap sinis Kyra.
Mitos segera menghalangi tatapan Alisa, menatap tajam dan angkuh
Alisa pun tidak berkedip karenanya.
Suara Pluit panjang Bu Lan yang membuat tatapan keduanya terbuyarkan.
"Aduhhhh! Bu-bu. Buat terkejut Bu." Mitos kemayu.
Alisa yang merasa terkejut juga, menghela nafasnya dalam. Menahan rasa geramnya kepada Mitos.
"Kita mulai saja, atau? Kita pulang saja?" Bu lan melihat satu persatu murid-muridnya.
Kyra dan Kawanan Kyra saling bertatap dengan rasa kemenangan.
Sementara Alisa dan Para Gins bertatapan, saling meminta pendapat.
"Secara tidak langsung Kami-lah pemenangnya Bu!" Mitos berkacak-pinggang.
Kyra dan yang lain senyum-senyum kemenangan.
Alisa langsung melihat Bu Lan.
"Ibu tunggu beberapa menit lagi! Ibu ada kondangan sore ini!" Jelas Bu Lan.
Meniup kembali pliutnya dengan berjalan meninggalkan lapangan.
"Huuuuuuuuu!!" sorak Kawanan kyra kepada Para Gins.
Alisa menatap bersungut-sungut dengan duduk.
Namun hal tersebut membuat Kyra dan Kawanan Kyra bersorak mengejek dengan saling berebutan melemparkan Bola voli.
"Alisa, Apakah Kau sudah menghubungi Gins lagi?"
Alisa menoleh seorang Para Gins yang menarik bahunya.
"Tidak di angkat atau di balas."Alisa dengan suara pelan namun geram.
Para Gins hanya menunjang tubuhnya dengan kedua tangan di belakang, sementara kaki mereka berselonjoran.
Melihat Kawanan Kyra begitu bersemangat melakukan pemanasan sebelum pertandingan.
Alisa menatap lemas. Wajahnya kembali penuh gelisah berundung tegang.
Sementara waktu terus saja terbuang berlalu , tanpa terhenti sejenak bersamanya yang tengah menunggu Ginsul.
Dan wajah-wajah Para Gins pun ikut terkulai lemas miring di bahu masing-masing.
Senyum dan sorak Kawanan Kyra yang bermain Bola Voli yang begitu semarak mewarnai lapangan.
Bu lan yang berdiri bersandar tiang jaring net, sering sekali melihat Jam di tangan-nya.
Bibirnya tiada bosan, melepas dan menjepit lagi pluit di bibirnya.
Terdengar suara sorak Kawanan Kyra ,ketika salah satu diantaranya tidak bisa menerima smash pelan Kyra yang melakukan pemanasan-nya.
Alisa membuang wajahnya saat Kyra dan Mitos melihat tersenyum mengejek.
__ADS_1
Priitttttttttt!!!
Alisa dan Para Gins terkejut lemas.
Kyra dan Kawanan Kyra bersorak penuh kemenangan.
Bu Lan tanpa berkata apa pun berjalan keong meninggalkan lapangan.
Alisa tertunduk dengan memukul angin.
"Tama!"
Alisa lekas melihat Kyra yang berlari menghampiri Tama.
Alisa segera berdiri, namun matanya tidak melihat Ginsul. Hanya senyum Tama kepadanya yang terlihat sebelum akhirnya kepala Kyra menutupi.
Kawanan Kyra pun berhambur mengejar Kyra.
Riuh tawa terdengar memecah tepi lapangan.
Para Gins pun berdiri, lalu berjalan meninggalkan Alisa yang terpaku.
Wajah Alisa seperti menyimpan sebuah kekecewaan saat matanya beralih melihat Jaring Net.
Lalu perlahan berjalan menyusul Para Gins.
"Alisa!"
Alisa melihat Tama yang berusaha berjalan ke arahnya, dengan tangan Kyra menahannya.
Namun terlihat Kyra melepas tangan Tama setelah mengatakan sesuatu yang tidak bisa di dengar olehnya.
"Alisa!" Tama dengan sedikit berlari.
Alisa memalingkan wajahnya saat melihat Kyra yang juga tengah melihatnya.
"Alisa, Ginsul di mana?" Tama dengan melihat sekeliling lapangan.
Alisa menghela nafas berat. Melihat Kyra yang masih berdiri di belakang garis lapangan.
"Aku tidak tahu? sedangkan Kami sejak tadi menunggunya." Alisa menatap kecewa.
Tama menatap heran jaring net.
Alisa berjalan mendekati tiang besi sebagai pengikat jaring net.
"Tapi, bukankah Ginsul selalu datang bersamamu jika bertanding?" Tama dengan berjalan. Mendekati Alisa yang sudah menyandarkan punggung di tiang besi.
"Hari ini tidak Tama," jawab Alisa melihat memegang tali Jaring net.
"Tama!"
Tama menoleh Kyra. Alisa hanya memlaingkan wajahnya.
"Kita pulang bersama!" Seru Kyra lagi.
Tama tersenyum.
"Aku masih ada urusan!" Tama dengan mengedipkan sebelah matanya.
Terlihat Kyra mengangguk.
"Oke! Aku tunggu di depan gerbang!"
"Tidak usah Kyra! Kami akan langsung ke rumah paman Alisa!" Tama menyahuti.
Kyra seperti melebarkan bibirnya.
Terdengar Kawanan Kyra menyoraki.
Tama nyengir kuda, sementara Alisa melihat penuh kekesalan.
Telihat Kyra mengajak Kawanan Kyra pergi.
Tama menghembuskan nafas leganya, melihat langkah kompak yang terus menjauh.
"Apa yang Kau katakan padanya?" Alisa masih menatap tajam Kyra.
Tama tersenyum.
__ADS_1
"Aku bilang, Aku kemari hanya untuk meminta upah tugasku." Jawabnya dengan memengang jaring net di dekat tangan Alisa.
"Kami kalah sebelum bertanding." Alisa seperti sedih.
Tama menatap batas jaring net di atas kepalanya.
Mengingat Ginsul dengan tubuhnya yang tidak setinggi Para Gins yang lain.
Namun melihat loncatan Ginsul yang lincah dan tinggi membuatnya tersenyum juga melihat di balik jaring net.
"Kawanan Kyra selalu gagal jika menerima smash Ginsul," jelas Alisa menyesali yang baru terjadi.
Tama senyum-senyum, melepaskan jemarinya dari jaring net.
"Tapi Ginsul?" Alisa menarik keras jaring net ke bawah. Lalu melepaskannya.
Seperti pegas jaring net yang kembali ketarik ke atas.
Tama menatap wajah Alisa. Sepertinya Alisa memang begitu berambisi untuk mengalahkan Kyra.
Tama segera berlari kecil. Mengambil Bola di bawah tiang besi yang lain.
Alisa memperhatikan, masih menyandarkan punggungnya di tiang besi.
"Alisa! Bisakah kita bermain berdua?" Tama dengan membawa Bola Voli di kedua tanganya.
Alisa mengangguk pelan tiada bersemangat. Berjalan pelan menuju tengah di posisinya.
Tama tersenyum, melihat Alisa di balik jaring net.
Lalu melemperkan Bola dengan kedua tanganya melewati atas jaring net.
Alisa menerimanya dengan kedua tanganya.
Bola pun kembali melewati jaring net kembali ke arah Tama.
Tama mengikuti gaya Alisa, namun seoertinya Bola yang kembali hanya melewati di bawah jaring.
Alisa tertawa kecil.
Tama pun menertawakan dirinya sendiri.
Alisa mengambil Bola, lalu melemparkan ke atas jaring.
Tama menahan tawa bersiap dengan kedua tanganya. Namun bola yang mengenai pergelangan tanganya melambung ke atas kepalanya saja.
Alisa tertawa lebar.
Tama tertawa melihat Alisa menertawakan-nya.
Tama memengang kembali bola yang jatuh di dekat kakinya. Bersiap kembali, kini dengan servisnya.
Bola pun melewati jaring dengan baik.
Alisa menahan tawanya dengan menerimanya pelan, bola melambung kembali melewati jaring. Sengaja Alisa memberi umpan bagus untuk dapat dengan mudah di smash Tama.
"Tama! Smash!"
Tama yang mengerti pun bergerak lincah melompat.
Alisa sesaat tertegun, sepertinya Tama akan membuat pukulan tajam menukik.
Namun Alisa langsung tertawa terduduk. Menunjuk Tama. Bola yang di smash Tama hanya mengenai jaring netnya sendiri, itu pun di bagian paling bawah dan mengenai tubuhnya sendiri.
Tama pun terduduk lemas tertawa.
"Sepertinya Ginsul harus mengajarimu memukul bola," ucap Alisa menahan rasa geli di hatinya.
Tama senyum-senyum.
"Iya sudah! Kita langsung mencari Ginsul!" Tama dengan berdiri.
Alisa mengangguk, berdiri dengan senyumnya.
Tama melemparkan Bola Voli ke jaring net.
Alisa tertawa kecil.
...****************...
__ADS_1