Aku Bukan Tarzan

Aku Bukan Tarzan
27. Jemputan.


__ADS_3

Tama meluruskan tangan yang masih terasa nyeri saat di bawa duduk bertumpu tumit olehnya.


Rambutnya yang masih basah sehabis mandi di biarkan terurai di pundak dan bahu hingga lenganya tersapu sinar Matahari pagi.


Tersenyum senang melihat Si Puham yang tengah makan di atas piring kaleng berisi kepala dan tulang-belulang ikan yang baru saja Ia makan untuk sarapan pagi.


Suara mengeong Si Puham terdengar, saat jemarinya mengusap kepalanya.


"Tama!"


Tama lekas berdiri terkejut.


"G-ins!" Sedikit terbata Ia berucap melihat Ginsul yang menggetkanya.


"Tidak salah, Aku melihatmu di pagi ini?"


Tama langsung nyengir kuda.


Sebenarnya Ia pun merasa heran dengan dirinya sendiri, Selalu terbangun siang bila akan bertugas. Namun terbagun begitu pagi jika tubuhnya sakit.


"Bukanya Aku yang salah melihatmu? Terlalu pagi jika Kau mengajakku jalan." Tama dengan senyum melihat seragam Sekolah yang di kenakan Ginsul.


Wajah Ginsul yang awal kemunculanya tadi bagai Peri hutan yang cantik bersinar, kini berubah bagai Raja Rimba Afrika yang tengah menyeringai. Tajam.dan lancip gigi ginsulnya.


Dengan sorot mata kesal Ia pun Balik badan grak!.


Setengah berlari Tama menarik tangannya.


"Gins, Aku tidak selingkuh!" Tama menatap cantik wajah Ginsul.


"Tapi Kau berduaan dengan Kyra!" Balas Ginsul cemberut.


"Ada pak Amin, dan Kawanan Kyra juga," jelas Tama.


"Bisa saja kalian tinggal untuk berduaan!"


Tama langsung menghela nafasnya.


"Gins, masa Iya! Aku harus membonceng semua teman Kyra?" Tama melepaskan tangan Ginsul.


Ginsul terdiam dengan memalingkan wajah.


Tama menatap lekat pipi Ginsul yang halus berpoles bedak yang tipis.


Hatinya terasa ada yang menggelitik dengan rasa yang indah.


"Mesra dong! Kyra memelukmu!" Ginsul dengan Wajah berona Rambutan masak.


Tama tersenyum manis.


Ginsul kembali melengos.


"Jika membayangkan, itu .. Adalah dirimu Gins."


"Ke terusan suez!" Ginsul dengan cepat menanggapi.


Tama merapatkan kedua bibirnya. Menatap lekat Mata Ginsul.


Ginsul kembali memalingkan wajahnya kali ini dengan pelan.


"Aku hanya sayang padamu Gins," ucap Tama memegang jemari Ginsul.


Ginsul melirik tangan Tama.


Tama langsung melepaskan jemari Ginsul.


"Apa Kau mencari Nenekku?" Tama melihat ke dalam Rumahnya. Sepertinya memang Ginsul bukan berniat menemuinya.


Lalu tersenyum melihat Ginsul.

__ADS_1


"Baru selesai memasak," ucapnya lagi. Seperti memberitahu bahwa yang sedang Ginsul cari berada di dalam.


"Tidak, Aku hanya mencari jalan pulang." Pelan Ginsul. Meski tatapanya terarah ke dalam Rumah.


Tama nyengir kecil. Sempat-sempatnya Ginsul bercanda di sela wajah marahnya.


Melihat bibir merah Ginsul yang merekah bak Buah Rambutan.


Tama segera beringsut, memberikan jalan kepada Ginsul.


Namun Ginsul seperti enggan berjalan, hanya menatap.


"Aku juga tengah memberi makan si puham." Tama melihat Si Puham. Namun Si Puham sudah tidak terlihat lagi. Hanya ada piring kaleng yang telah kosong.


Tama hampir menggaruk kepalanya heran.


"Sepertinya si puham tengah minum di dapur." Tama nyegir kecil kembali.


Ginsul tidak bergeming dengan masih mengamatinya.


Tama seperti salah tingkah di perhatikan Ginsul, belum lagi harum di tubuhnya seperti tengah membiusnya untuk terus berlama-lama di dekatnya. Namun kini Ginsul tengah marah padanya. Membuat serba salah untuk menatap sayang padanya.


Hanya desah di hati untuk menahan debar rasa di dadanya.


"Tama."


Kedua mata Tama langsung berbinar , suara pelan Ginsul memanggilnya seperti irama merdu di telinga.


"Apakah tanganmu masih sakit?" Ginsul melihat Tangan kiri Tama.


Tama senyum kecil, melihat tangan-nya sendiri.


"Sudah lebih baik dari rasa hati," jawabnya melihat Ginsul.


Ginsul melebarkan bibirnya ke samping dan juga tatapanya.


"Jika memang Kau tidak selingkuh, buktikan besok padaku." Ginsul melihat Tama lagi.


"Besok Aku ada pertandingan bersama Kyra, di sekolah." Ginsul lagi.


Tama masih terdiam menatap.


"Apa Kau bersedia menjemputku?"


Tama hampir ternganga mendengarnya.


"Tapi Gins?"


"Sudah Aku duga! Kau selingkuh!" Ginsul dengan sorot mata yang kembali tajam.


"Tapi Ginss!"


"Tapi Kau takut bertemu Kyra!" Tanggap Ginsul lagi.


"Bukan itu Gins!"


"Bukan kah itu benar?" Ginsul dengan bersedakep.


Tama menghembuskan nafasnya pelan, menatap indah wajah Ginsul di balik rona marahnya. Menatap rasa yang tengah tersembunyi di kelopak matanya.


"Jadi itu benar?" Ginsul lagi, seperti tidak merasa mendengar sebuah jawaban dari bibir Tama.


Tama menggeleng pasti.


Kembali berpikir keras untuk menimbang lagi akan keputusannya untuk membuktikan bahwa Ia tidaklah selingkuh.


Karena Ia pun besok harus tugas bersama Pak Amin yang uring-uringan memaksanya karena unduhan yang belum selesai seluruhnya, akibat Ia terjatuh.


Namun sebenarnya apa yang Ginsul inginkan akan menjadi kesempatan emas baginya, untuk kembali bersama Ginsul.

__ADS_1


Karena memang Ia tidak pernah berhubungan dengan Kyra.


"Akan Aku usahakan Gins," ucapnya kemudian.


Seperti tidak puas dengan apa yang di katakan Tama. Ginsul beridiri siap, seperti tengah berada dalam lapangan upacara. Namun dengan mimik wajah yang marah.


"Oke! Aku hargai usahamu Tama!" Ginsul dengan beranjak pergi.


Tama terpana hampir membuka bibirnya. Ginsul berjalan ke dalam Rumahnya.


"Mungkin kah, Ginsul benar lupa jalan pulang?" Bibir Tama benar-benar terbuka heran. Namun hanya di hati yang bebicara.


Namun langsung kembali mengatup dan berubah senyum di saat Ginsul keluar tergesa-gesa dari dalam Rumahnya.


"Mengapa Kau diam saja! Saat Aku masuk tadi?" Ginsul dengan nada marah.


Tama tertawa kecil.


"Aku pikir Kau tengah menjemput sesuatu di dalam!"


Wajah Ginsul merona kesal bercampur rasa malu akan tiada sadar langkah kakinya.


Wajahnya pun cemberut hebat melihat tawa Tama.


"Gins, Jalan keluarnya ada di sana," ucap Tama menunjuk jalan yang menuju Rumah Ginsul.


"Aku tahu!" Ketus Ginsul seperti lupa dengan arahnya kakinya barusan.


Tama menyeringai geli. Ginsul tetap terlihat cantik saat marah, meski gigi Ginsulnya seperti taring yang merobek hatinya.


"Tama, Apa benar Kau akan datang?" Ginsul dengan tetap berdiri di tempatnya.


Tama tersenyum manis.


"Akan Aku usahakan iya, Gins," jawabnya lagi.


"Oke! Aku hargai usahamu!" Ginsul membalas dengan ucapan yang sama.


Tama memperhatikan langkah Ginsul yang menjauhinya.


"Gins!" panggilnya tiba-tiba.


Ginsul langsung Balik badan Grak!.


Tama berlari kecil mendekati.


"Oke! Tidak apa, jika Kau tidak datang!" Ginsul dengan wajah kecewa.


Tama menghela nafasnya. Menatap sayang wajah Ginsul.


"Aku hanya ingin bilang. Jika besok Aku tidak datang ...." Tama menundukan tatapanya.


Ginsul menatapnya lekat.


Tama kembali menatap Ginsul, tanganya pun urung memegang tangan ginsul melihat rona wajah Ginsul.


"Aku hanya sayang padamu Gins," ucapnya dengan bibir sedikit bergetar.


Ginsul seperti tidak berkedip menatap Tama. Bahkan senyum di bibir manisnya ikut larut memandang dengan terkatup.


"Aku harus cepat ke warung! Ada yang mengambil barang!" Ketusnya tiba-tiba dan langsung berjalan tergesa.


Tama menghela nafasnya lalu tersenyum dengan menundukkan wajah.


Suara Si Puham terdengar.


Tama segera menoleh dan mengendong Si Puham yang berlari ke arahnya. Dan membawanya ke dalam Rumah.


"Kemana saja Kau puham?" Tama dengan mengelus kepala Si Puham dengan tanganya yang sakit.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2