
Alisa mempercepat laju Motornya, sementara Ginsul menunjuk-nunjuk ke depan atasnya. Tepatnya di deduanan Pohon Rambutan yang terlihat semakin dekat.
Keduanya tertawa riang melewati jalan jalan tanah dan rerumputan.
"Harap di Maklumi Gins! jalan tol kebun!" Seru Alisa dengan memegang kuat stang Motor.
Ginsul tertawa, memegang kedua pundak Alisa.
"Lebih seru dari komedi putar!" sahutnya di sela tubuhnya yang terguncang.
"Hanya untungnya tidak hujan!" Alisa lagi.
"Bisa berlumuran lumpur seragam kita!" Ginsul menimpali.
Melihat ke belakang bawahnya.
"Apalagi under tail motormu tidak ada!" Ginsul menepuk pundak Alisa.
"Bisa kecipratan air jika hujan!" Ginsul lagi.
"Adik lelakiku Gins! Biar racing look katanya!"
Alisa dan Ginsul kembali tertawa.
"Mengapa Aku tidak tahu? jika selama ini adik Ibumu memiliki kebun Rambutan?" Ginsul dengan melihat pohon rambutan yang bergerak-gerak di bagian atasnya.
"Gins, jika bukan karenamu! Aku malas untuk belasukan di kebun! jauh lagi!" Tanggap Alisa menoleh Ginsul, namun cepat kembali melihat jalan di depan-nya.
"Kau temanku yang paling baik!" Girang Ginsul memeluk Alisa.
Alisa pun tertawa menggerakan tubuhnya geli.
Ginsul nyengir melihat sisi kanan dan kirinya.
"Sedari kemarin Aku tidak melihat rumah di sekitar sini ... Alisa?" Ginsul kembali memegang pundak Alisa.
"Bukan sedari kemarin Gins! Sedari Aku kecil juga belum melihatnya!" Alisa seperti menjelaskan.
"Jika pondok kecil untuk istirahat ada Gins," jelasnya lagi.
Ginsul nyengir lebar dan mengangguk melihat orang di dekat pohon tengah membersihkan pondok kecil.
"Mana panas lagi!" Alisa menggerutu akan keringatnya yang menetes dari keningnya.
"Termasuk alasanku untuk tidak ke kebun Gins!" Alisa dengan melihat kedua tanganya yang turut berkeringat.
Ginsul yang juga merasakan terik yang membuat keringat. Mengambil tisu di dalam tasnya.
Segera mengusap kening Alisa.
"Temanku Ginsul!" Seru Alisa melihat tisu yang di buang Ginsul.
Ginsul senyum mengusap keningnya sendiri. Sementara tangan satunya tetap memegang pundak Alisa.
Matanya kembali melihat Pohon Rambutan yang kini tertutup batang dan rimbunnya pepohonan.
"Alisa, apakah Tama hari ini akan menyelesaikan tugasnya?" Ginsul di telinga Alisa.
Alisa tersenyum.
"Biasanya pamanku akan mengunduh rambutan dengan banyak pekerja, Namun kali ini atas permintaanku hanya Pak Amin dan tama yang mengunduh." Alisa menoleh Ginsul.
Ginsul senyum menyentuh pipi Alisa dengan jermarinya.
Alisa tertawa dengan wajah melihat kedepan karena dorongan pelan di pipinya.
"Agar hatimu puas Gins!"
"Agar Tama bisa memberikanmu sekarung chiki Gins!" Alisa menahan tawa.
Ginsul mencubit gemas kedua pipi Alisa.
Alisa menjerit manja.
"Lagi pula, Aku tidak ingin kalah lagi dari Kyra di pertandingan berikutnya," ucap Alisa setelah Ginsul melepaskan jemarinya.
Ginsul memeluk pinggang Alisa.
"Aku tidak memikirkan Tama, tubuhku memang kurang sehat Alisa!" Ginsul kesal.
Alisa melebarkan bibirnya ke samping.
__ADS_1
"Tapi setelah bertemu Tama kemarin, gigi Ginsulmu sering terlihat juga di kelas!"
Ginsul dengan cepat mendekap kening Alisa.
Alisa menjerit terkejut,seperti kelimpungan. Laju Motor pun terasa oleng hampir tidak terkendali.
Ginsul segera melepas dekapan-nya, tubuhnya pun terasa oleng mengikuti gerak Motor.
"Gins!" jerit Alisa lagi.
Ginsul langsung memegang pundak Alisa kembali.
"Apa Kau ingin kita terjatuh?" Alisa setengah cemberut.
"Iya, maaf!" Ginsul memegang pundak Alisa.
Ginsul kembali melihat sebuah pondok kecil di tengah kebun.
Keduanya terdiam sesaat, melihat ke arah depan.
"Berarti Kita besok ...?"
"Kita akan kemari lagi Gins!" Sahut Alisa cepat.
Wajah Ginsul merona, tersenyum.
Memeluk erat tubuh Alisa dengan pipi di pundak Alisa.
Alisa tertawa, terasa geli tubuhnya.
Udara panas yang menyengat keduanya bagai hilang akan canda-tawa keduanya.
Ginsul mengangkat kepalanya, melihat jalan di depanya yang tetap bertanah. Rasa di hatinya untuk cepat sampai ke tujuannya.
"Jadi ingin cepat bertemu Tama!" suara di hati terukir di bibirnya.
"Gins?" Alisa melihat wajah Ginsul dari Spion Motor.
Alisa kembali tertawa.
"Sabar Gins! Sabar!" Seru-nya.
"Apa maksudmu?" Ginsul dengan wajah beralih di samping wajah Alisa yang Lain.
"Rasa di hati, rinduuuuu! Di rerumputan!"
Ginsul menarik kesal pipi Alisa lagi.
"Apa maksudmu?" Ginsul dengan wajah merona buah rambutan.
"Rerumputan di bawah pohon rambutan Gins, maksudku! Sebuah kesan di bibirmu yang pertama!"
"Apa?" Ginsul tercengang.
Alisa menghentikan laju Motor dengan wajah geli.
Ginsul langsung turun.
" Bukankah itu, yang pertama kali membuatmu telat masuk kelas? Karena semalaman membayangkan kembali hal yang tidak Kau duga sebelumnya?" Alisa tersenyum melihat Ginsul yang berdiri di dekat tangan-nya yang masih memegang stang.
Wajah Ginsul benar-benar payah.
Payah untuk bisa menyembunyikan rasa hatinya, dan rasa malunya kepada Alisa.
"Ingat Gins! Aku pun memiliki Wagon!"
"Alisaaaaaa!" Ginsul cemberut malu.
Alisa tertawa dengan memeluk kepala Ginsul.
"Rindu hatimu kini, akan segera terobati kok," ucapnya pelan.
Ginsul senyum-senyum.
Alisa mengangkat kepala Ginsul.
"Tapi jangan di pondok pamanku." Alisa setengah berbisik.
Ginsul langsung menarik Bando Alisa dan naik ke motor.
Alisa menahan tawanya, Ginsul memakaikan Bandonya lagi.
__ADS_1
"Cepatlah Alisa!" Ginsul dengan menutupi kepalanya dengan Tas.
"Cieeee! Apa kabar pujaan hatiku di atas pohon?" Alisa memegang kunci kontak.
Ginsul mendorong punggung Alisa dengan telunjuknya.
Alisa tertawa dengan menggerakkan tubuhnya melilhat Ginsul.
"Alisaaaa!" Ginsul cemberut.
"Oke-deh! Kita berangkat!" Alisa dengan memutar kunci kontak dan langsung melaju pelan saat mesin Motor menyala.
Ginsul memakai kembali Tasnya di belakang punggungnya. Memegang pundak Alisa, dengan tatapan ke depan jalan.
Bibirnya terkatup akan ucapan Alisa, ingatan-nya tertuju pada Tama yang tengah memanjat pohon.
Namun ingatan-nya cepat memudar, dan tubuhnya mengenai punggung Alisa yang secara tiba-tiba mengerem laju Motor.
"Gins?" Alisa menoleh.
Ginsul yang terkejut pun, menatap kesal Alisa.
"Sepertinya Tama."
Ginsul cepat melihat ke arah depan, mengikuti tatap mata Alisa yang bagai sinar laser menyoroti Motor yang bergerak mendekat.
Jalan di balik semak yang berbelok di depan yang membuat Mereka tadi tidak melihat Tama.
"Pucuk hijau rambutan merah!" Girang Ginsul dalam hatinya. Baru saja ingatan-nya tertuju pada Tama.
"Loh! Kalian akan kemana?" Tama sebelum sampai di depan Ginsul dan Alisa.
"Iya, menemuimu!" Alisa cepat.
Ginsul mendorong punggung Alisa kembali.
Alisa terkejut tertawa.
Tama mengehentikan Motornya sisi depan Alisa.Melihat Ginsul.
Ginsul menutupi wajahnya dengan kepala Alisa.
Tama tersenyum.
"Kau sendiri, Tama?" Alisa memperhatikan Tama.
"Pak Amin menyuruhku membeli nasi." Jelas Tama.
Ginsul semakin menyembunyikan wajahnya di samping kepala Alisa.
"Apa? Tama belum makan." Decak di hatinya.
Namun matanya yang akan melihat Tama, kembali harus melihat rambut Alisa. Perutnya pun tiba-tiba terasa lapar.
"Kebetulan dong! Kita juga belum makan siang!"
"Pucuk hijau rambutan merah!" Ginsul memejamkan matanya. Sepertinya Alisa mendengar suara lapar di perutnya.
"Kita titip iya, Tama." Alisa kemudian.
Tama mengangguk tertawa kecil. Ginsul seperti tidak ingin Ia lihat.
"Tunggu saja, Aku akan membawakan untuk kalian." Tama dengan menghidupkan Motornya.
"Gins, Kau makan dengan lauk apa?"
Ginsul terkejut, Alisa bertanya dengan kepala menoleh kesamping, membuatnya melihat Tama.
Tama senyum manis.
"Terserah Kau saja." Ginsul menatap kesal Alisa.
"Oh! Tama, Ginsul makan dengan hati ayang saja!"
Ginsul langsung menarik rambut Alisa.
"Oh! Iya! Hati ayam maksudku!" Alisa tertawa menahan sakit di kepala.
Tama tertawa kembali dengan menarik tuas gas Motornya.
"Kalian tunggu saja!" Tama dengan senyum kepada Ginsul.
__ADS_1
Alisa masih tertawa berusaha melepaskan tangan Ginsul di Rambutnya.
...****************...