Aku Bukan Tarzan

Aku Bukan Tarzan
12. Ke-Terusan Suez


__ADS_3

Pagi tidak lagi pagi, matahari hampir jauh meninggalkan kokok garang Ayam jantan. Sedang Tama masih larut dalam mimpinya, suara ketukan Nek Imah pun telah luput dari pendengaran. Suara Puham yang mengeong di telinganya bagai nyamuk yang telah biasa Ia tidak perdulikan.


Hari menjelang pagi yang membuatnya terhipnotis lelah di ujung bantal gulingnya.


"Tama, Tama."


Nek Imah dengan menggoyang-goyang kan tubuh Tama. Telah hampir beberapa kali Dirinya mengetuk kamar, ternyata kamar Tama tidak dikunci.


Tama molet, matanya tetap terpejam.


"Tama bangun Tama."


Tama membuka matanya pelan, rasa kantuk yang membuat mata terasa terjepit membuatnya kembali memejamkan mata.


"Tama!"


Nek Imah dengan lebih kuat.


"Hmmmmmh!"


Tama kembali molet.


Suara si puham pun ikut seperti ikut membagunkan-nya.


"Kata pak Amin belum ada tugas Nek!"


Tama dengan suara malas bangun.


"Tama!Tama!"


Kesal Nek Imah dengan meninggalkan Tama.


si puham mengikuti Nek Imah dengan suara mengeongnya.


Deras angin di balik jendela yang masih tertutup jelas terdengar bersama lampu listrik dengan kabel panjang yang menggantungnya, dan baru saja di matikan Nek Imah.


Suara dengkur kecil Tama kembali terdengar, bagai alunan musik di dalam kamar. Rambutnya yang panjang tidak terkuncit menutupi hampir keseluruhan bantal tidur.


Seprai yang sebagian tidak lagi menutupi kasur, berubah menjadi selimut di kakinya.


Mendung ternyata mulai menutupi matahari pagi, membawa deras angin masuk hingga ke dalam kamar membuat mata kian terbelai malasnya menatap hari.


Handphone di atas meja kursi kayu berbusa tergeletak dengan kabel tercolok di dinding. Rupanya sedari pagi hingga hampir pagi lagi membuatnya kehabisan daya.


Tama seperti tersentak, duduk dengan mata terbuka lebar membuat mental rasa kantuk hingga jauh ke luar Rumah.


Dengan sigap melihat Handphone yang masih mengisi daya.


Matanya semakin terbuka lebar.


Segera akan membuka mata namun...


"Awwwwwww!!


Mulutnya mengerang kesakitan, rupanya rasa kantuk masih lagi menghinggapi mata hingga tidak melihat ujung kursi tanpa busa.


Tama memegangi dengkulnya dengan meringis sakit, mengusap-usap, mengurut-urut. Dan dengan tertatih kembali lagi ke atas kasur, melihat lemas daun jendela yang belum di buka.


Bukan WA dari Pak Amin yang tadi akan Ia lihat, tapi dari Ginsul.


Ginsul pasti marah padanya di karenakan semalam Ia tidak datang ke Rumahnya. Karena acara manjat-memanjatnya memang berlanjut hingga dini hari. Dan yang membuatnya tidak habis pikir, tidak biasanya Pak Amin menerima tawaran manjat saat malam, apalagi sampai menjelang subuh. Dan beralasan selagi ada tugas banyak.


Tama merebahkan lagi tubuhnya dengan mata terpejam,tugas bersama Pak Amin komplit Ia laksanakan, tapi tugas perdananya bersama Ginsul yang gagal Ia tuntaskan.


Tama menggaruk kepalanya, seperti orang tengah berkeramas. Amuk Ginsul membekas di pikiran-nya.


Niat hati tadi ingin membuka jendela, namun terbentur Kursi menyadarkan-nya. Ginsul sudah lagi berangkat ke sekolah.

__ADS_1


Suara mengeong mendekati.


Tama membuka matanya sebelah, si puham telah meloncat langsung mendekati wajahnya.


Tama mengelus kepalanya.


"Tama!"


Tama melihat Neneknya di tengah pintu kamar.


"Tama, tadi pak Amin mencarimu!"


Nek Imah tanpa mendekati Tama.


"Pak Amin berkata, sehabis makan siang ada tugas lagi!"


Tama terbengong.


Jelas sekali saat pulang Pak Amin berkata tidak ada tugas karena baru di lembur.


Tama menghempaskan tubuhnya keras. Pak Amin selalu terburu-buru memberi tahu dan memberi tugas.


"Iya Nek!"


Tama dengan malasnya. Berbaring terlentang memejamkan mata, sementara si puham kian asik mengelus pipinya dengan kepala.


Nek Imah segera membuka jendela. Hawa dingin langsung menyerbu masuk ke dalam kamar.


Tama membuka matanya, namun untuk menarik selimut menutupi tubuhnya.


Nek Imah menggeleng pelan, melangkah ke luar kamar meninggalkan si puham yang mengeong manja.


Suara dering dari nada getar Handphone terdengat nyaring, Tama memang sengaja membesarkan volumenya hingga full mentok di garis layarnya.


Maksud di hati agar mendengar chat yang masuk, terlebih dari pacar pertamanya: Ginsul I love you.


"Kyra?" Heran-nya dalam hati.


Membuka Chat Wa-nya, sebuah pesan terbuka.


Tama tolong Aku dong, sore nanti ke rumah. Bola adikku tersangkut di atas pohon klengkeng, Please Tam....


Tama segera menutup kembali WA-nya, lalu menguncit rambutnya dengan tanganya. Melihat wajahnya di cermin berukuran sedang yang tergantung di dinding, mengusap ujung matanya yang terdapat kotoran.


Terdengar kembali nada dering dan getar di Handphone, Tama menoleh, nampak ragu untuk melihatnya. "Pasti dari kyra lagi." sangkanya dalam hati.


Rasa heran-nya seperti menyeruak memenuhi seisi kamar menjadi sumpek. Kembali dengan malas Ia pun melihat Chat yang masuk.


Tama mengapa kau berbohong padaku, setiap Aku menunggumu pasti kau tidak datang? Sebenarnya Kau suka tidak padaku?


Mata Tama hampir tidak berkedip karena debar di hatinya.


Pesan Ginsul terbaca marah.


Perlahan mengetik balasan, dengan pelan pula berjalan ke luar kamar dan duduk di kursi tamu.


Chat WA langsung terbalas.


Jika itu alasan mu, oke Aku maafkan.


Tama langsung tersenyum senang.


Tapi jangan keterusan suez.


Tama semakin tersenyum dengan mengetik kembali.


Keterusan suez yang di maksud Ginsul adalah terus-menerus mengingkari janji dengan berbagai alasan.Mengingat terusan suez sangat jauh bisa di umpamakan dengan alasan yang tidak benar alias berdusta, kalimat yang sering Ginsul CS atau Para Gins ucapkan jika ada yang berdusta.

__ADS_1


Balasan Chat kembali di balas.


Oke Aku percaya, sore nanti jemput Aku di sekolah.


Mata Tama terbeliak kecil.


Sore Nanti Ia akan ke Rumah Kyra, sedang Ginsul memintanya untuk di jemput.


Tama mengulang kembali membaca balasan Chat Ginsul dan Kyra.


Sepertinya Ia belum membalas Chat Kyra.


Pucuk hijau Rambutan merah! Chat dari kyra kembali masuk sebelum Ia mengetik.


Bagaimana Tama? Aku benar-benar butuh bantuan mu, soalnya hanya ada Aku dan adikku di rumah.


Tama berdiri gelisah, berjalan pelan ke luar Rumah sedang hatinya menimbang-nimbang yang akan di lakukan.


"Tama!"


Panggilan Nek Imah terdengar bersahut meongan si puham.


"Iya Nek! Ada apa?"


Tama segera masuk kembali, langsung menuju dapur.


"Ada apa Nek?" Tama melihat Nek Imah tengah memberi makan si puham dengan ikan teri goreng.


"Nenek hampir lupa," ucap Nek Imah mencuci tangan-nya.


"Kenapa Nek?"


Tama membuka tudung saji, perutnya tiba-tiba terasa lapar.


"Sebelum ke sekolah Ginsul tadi ke Rumah, Ia menayakkan mu, semalam...." Nek Imah meletakkan sepiring sambal teri ke atas meja.


Tama menutup kembali tudung saji, meski rasa hatinya ingin mecicipi sedikit sambal teri yang baru di masukkan Nek Imah.


"Bener Nek!" Wajah Tama senang.


Nek Imah memperhatikan wajah cucu satu-satunya.


"Tama?"


Tama langsung berpura -pura membuka tudung saji yang baru di tutupnya, menyembunyikan rasa hatinya.


"Apa Kau sudah gratis berbelanja di warung Ginsul?"


Tama langsung menutup kembali tudung saji, niat hatinya kembali Mental! Ke luar Rumah.


Bisa-bisanya Nenek bilang seperti itu? Pasti Nenek telah mengetahui hubungannya dengan Ginsul.


Dengan wajah seperti tidak suka Ia pun meninggalkan Neneknya ke luar dapur.


"Hanya cinta Nek yang gratis!"


Seru Tama, dengan kembali lagi dan langsung ke kamar mandi yang berada di dapur.


Nek Imah senyum-senyum, lalu tertawa sendiri melihat cucunya tengah menahan rasa malu akan jatuh cinta.


Dan sepertinya baru kali pertama Dia melihat Tama dekat dengan teman wanita, dan sepertinya Dia pun menyukai seorang Ginsul.


Nek Imah menghela nafas senangnya denga melihat pintu kamar mandi yang tertutup.


Perlahan menggelengkan kepalanya pelan.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2