Aku Dan Masa Kelam Ku

Aku Dan Masa Kelam Ku
12. Terungkap


__ADS_3

Meidinah masih terdiam setelah mendengar penjelasan sahabatnya itu.


"Hey,, kok bengong sih ?, jadi gimana kamu sama Rey ?" tanya Laras.


Meidinah tersadar dari lamunannya.


"Aku masih bingung, aku enggak yakin sama perasaan ku, apa masih ada rasa itu untuk Rey ?" terdengar Meidinah menghela nafasnya.


"Maksudnya kamu juga pernah nyimpan rasa sama Rey ?, Ya Rabb,, Mei kok aku enggak tau sih, kapan ? " tanya Laras dengan nada terkejut.


"Dulu sebelum aku kenal Rian" jawab Meidinah.


Laras terkejut, dia tidak menyangka bahwa sahabatnya itu juga pernah menyimpan rasa kepada Rey, dia heran kenapa Meidinah tidak mengatakan kepada nya.


"Kok kamu enggak pernah bilang sih Mei ?"


"Aku enggak mau ada orang yang tau tentang perasaan ku itu, biar aku dan Allah saja yang tau Ras, tapi semua berubah ketika aku bertemu Rian, entah itu mungkin awalnya aku hanya menjadikan dia pelampiasan perasaan ku atau memang aku menyukai Rian dengan cara ku, tapi jujur waktu Rey ngungkapin perasaannya ke aku, aku ngerasa seneng tapi entah apa sebabnya, aku juga ngerasa seolah olah memang itu yang ku tunggu" jelas Meidinah dengan lirih.


Laras tersenyum mendengarnya, "itu tandanya kamu masih mencintai dia, mungkin rasa cinta itu tertutupi oleh Rian, tapi rasa itu tidak benar benar hilang Mei, dan satu lagi Rey sudah lama mengetahui latar belakang keluarga mu, dia juga tau kamu putri dari Wijaya Chandra" ucap Laras.


Meidinah merapatkan kedua alisnya, "kok dia bisa tau Ras, aku kan enggak pernah bilang ke dia"


"Rey bilang ke aku, dia tau dari papa kamu, karena papa Rey dan papa mu itu sahabat sejak SMA, dan juga rekan bisnis" jawab Laras ,"jadi Rey bilang apa lagi " lanjut Laras bertanya.


"dia nyuruh aku memikirkan nya, trus ngasih kabar ke dia kalau aku udah dapet jawabannya, dan kalau aku menjawab iya, dia bakalan dateng sama orang tuanya kerumah aku" jawab Meidinah.


Laras tersenyum," bagus dong Mei, tandanya dia serius, yaudah pikirin aja mateng mateng, jangan sampai nanti nyesel loh" ucap Laras.


"iya Ras, aku bakalan pikirin mateng mateng, gimana pun sekarang, Rey cinta pertama ku Ras" ucap Meidinah lirih.


Laras tersenyum.


Setelah dari cafe mereka langsung menuju mall, biasalah yang namanya wanita kalau lagi galau obatnya pasti shoping, hehehe...


**


"Hey" sapa Fariz kepada Meidinah dan Laras.


"Ngapain kamu disini ?" tanya Laras dengan nada galak.


"Santai aja kali Ras, emang ni mall punya bapak kamu apa ?" sahut Fariz tak mau kalah.


"Emang punya bapak ku, kamu mau apa hah ?" jawab Laras.


Fariz terkekeh mendengar ucapan Laras.


"Punya papanya Meidinah kali Ras" ucap Fariz sambil tertawa.


Meidinah hanya tersenyum melihat mereka berdua.


"Kan papa nya Meidinah papa aku juga" jawab Laras dengan sedikit sombong.


"Lah emang mau Meidinah punya saudara kayak kamu" Fariz terkekeh.


"Udah ih, kok kalian pada ribut sih, kayak anak kecil aja" sela Meidinah.


Laras melempar pandangan sinis kapada Fariz. Yang di tatap hanya menahan senyum geli, melihat tingkah Laras.


"Oh iya Mei, kamu ada waktu enggak nanti malam" tanya Fariz yang malah di jawab oleh Laras, "mau ngapain emang nya kamu nanya nanya ?" sahut Laras sinis.

__ADS_1


"Aku tanya ke Meidinah kali Ras, bukan kamu" jawab Fariz.


"Udah udah, kalian ini kalau udah ketemu kayak tom and jerry tau enggak sih" ucap Meidinah, "ada Riz, kamu mau ada urusan apa emangnya sama aku" lanjut Meidinah.


"Aku mau ngajakin kamu jalan, kamu mau enggak ?" tanya Fariz penuh harap.


"Emm,,, yaudah slesai isya ya, kamu tau kan rumah aku ?" ucap Meidinah.


"Ya tau lah, siapa juga yang enggak tau rumah nya Wijaya Chandra, se indonesia tau kali Mei" jawab Fariz.


Meidinah hanya tersenyum.


"Yaudah kami pergi dulu, bye" ucap Laras ketus.


"Ya elah Ras, galak amat, awas entar naksir sama aku" jawab Fariz sambil terkekeh.


Laras membulatkan matanya, menatap sinis ke arah Fariz.


**


Slesai belanja mereka menuju ke parkiran, tetapi langkah Laras terhenti ketika dia melihat seorang wanita.


"Kok berhenti Ras, mau ngapain lagi ?" tanya Meidinah.


"Ssssstttt,, lihat wanita itu, itu wanita yang waktu itu aku liat bareng Rian" ucap Laras sambil menunjuk ke arah wanita itu duduk.


"Raaasya,,," Meidinah menutup mulutnya tak percaya bahwa ternyata Rasya adalah alasan Rian memutuskannya.


"Rasya Mei, maksud kamu Rasya temen magang kita ?" tanya Laras heran.


Meidinah mengangguk, dia benar benar tidak menyangka bahwa Rasya bisa melakukan hal itu, padahal Rasya tau kalau Rian dan Meidinah sudah lama menjalin hubungan.


"Huss kamu enggak boleh bully orang seperti itu, kita belum tentu lebih baik dari dia Ras, jadi jangan menilai orang seperti itu, enggak baik, jatuhnya kita jadi sombong seolah olah kita lebih baik dari dia" ucap Meidinah.


Laras tersenyum malu, " iya Mei, maaf aku kelewatan, habisnya aku kesel. Kamu enggak apa apa kan Mei ?" tanya Laras.


"Aku enggak apa apa Ras, lagian itu udah berlalu, enggak harus kita bahas lagi, ya walaupun rasanya nyesek banget pas tau ternyata yang merusak hubungan aku itu orang yang aku kenal, orang yang udah aku anggap kayak kakak sendiri" ucap Meidinah lirih, "yaudah yuk kita balik" ajak Meidinah.


"Tungu tungu Mei, itu Fariz kan ?" tanya Laras sambil menunjuk ke meja Rasya.


"Iya itu Fariz, mereka kenal ?" tanya Meidinah.


"Lah mana aku tau Mei, kan Fariz deketnya sama kamu"


"Jadi ceritanya cemburu nih si Fariz deket sama aku" goda Meidinah pada sahabatnya.


Wajah Laras memerah, "ihhh apaan sih Mei, enggak lucu ya becanda nya" ucap Laras yang salah tingkah, " tapi beneran kok mereka bisa kenal, keliatan deket banget malah, kok aku curiga ya Mei" lanjut Laras.


"Enggak boleh su'udzon Laras, enggak baik"_ ucap Meidinah sambil menarik hidung Laras.


"Uhh sakit tau Mei, jahat amat, bukan su'udzon sayang, tapi praduga" ucap Laras sambil nyengir.


Meidinah hanya menggeleng gelengkan kepalanya.


"Eh mereka pergi tuh" ucap Laras.


"Trus kita mau ngikuti mereka gitu ?, jangan ngacok deh Ras, enggak boleh jadi penguntit" jawab Meidinah.


"Bukan penguntit, cuma sekedar pengen tau, udah diem aja, ayok" ucap Laras sambil menarik tangan sahabatnya mengikuti Fariz dan Rasya.

__ADS_1


Mereka saling melempar pandangan satu sama lain, saat melihat Rasya dan Fariz menuju bioskop.


"Udah ayok Ras, mau ngapain sih, biarin aja mereka mau ngapain kan bukan urusan kita, enggak baik juga kita kepo sama mereka" ucap Meidinah .


"Emang kamu enggak penasaran sama mereka Mei, kan Rasya itu gebetan si Rian, malah udah jadian juga mereka, trus kenapa si Rasya malah pergi sama Fariz, kenapa juga harus nonton, kalau emang mereka enggak deket kan, enggak mungkin nonton bareng" ucap Laras penuh dengan rasa curiga.


Meidinah berpikir, benar juga ya, kenapa mereka deket, dan kenapa sampai nonton bareng, gumam Meidinah dalam hati.


"Yaudah dari pada Kepo, kita ikutan nonton, kita pilih kursi dibelakang mereka" ajak Laras sambil menarik tangan sahabatnya memesan tiket nonton.


Benar saja Laras memilih kursi di belakang mereka, Meidinah benar benar heran dengan sahabatnya.


**


Di dalam bioskop Laras tidak fokus pada filmnya, dia hanya fokus pada Rasya dan Fariz yang duduk di depan mereka. Rasya dan Fariz tidak tau kalau Meidinah dan Laras juga menonton diruangan yang sama dengan mereka, karena Laras dan Meidinah sengaja masuk ke dalam bioskop saat lampu bioskop sudah mati, karena film akan di mulai.


Laras memperhatikan mereka yang terlihat dekat dan sangat akrab. Laras mendengar mereka berbicara, karena film sudah mulai, dia tidak dapat begitu jelas mendengar pembicaraan mereka, sehingga Laras berusaha mendekatkan telinganya ke arah mereka.


"Thanks ya Sya, kamu udah bantuin aku buat ngerusak hubungan Meidinah dan Rian" ucap Fariz.


Laras sontak terkejut, dia menutup mulutnya tidak percaya.


"Santai aja kali Riz, kan kita saling menguntungkan, aku dapet Rian kamu dapet Meidinah" ucap Rasya.


"Kamu kali yang udah dapet si Rian, aku mah belum dapet si Meidinah" ucap Fariz.


"Ya seenggaknya sekarang kamu bebas buat ngedeketin si Meidinah"


"Iya, tapi tetep aja perjuangan ku masih panjang, enggak kayak kamu"


Rasya tertawa mendengar nya, "Aku enggak nyangka aja kalau si Rian bisa ninggalin Meidinah karena aku" lanjutnya.


"Jelas karena kamu lebih kaya dari Rian, tapis sayang nya Meidinah jauh lebih kaya dibandingkan kamu" ucap Fariz.


Rasya terkejut mendengarnya, apa tidak salah yang di katakan Fariz, batinnya.


"Jangan bercanda dong Riz" ucap Laras sambil tertawa.


"Siapa juga yang bercanda Sya, kamu tau enggak Meidinah itu penerus tunggal Buana Grup Hotel" jelas Fariz.


Rasya terkejut, " maksud kamu dia anak Wijaya Chandra ?" tanya Rasya tak percaya.


"Yupsss bener banget, Meidinah Mayangsari Chandra, nama lengkap nya" jelas Fariz.


"Trus kenapa Rian mau ninggalin dia kalau ternyata dia jauh lebih tajir dari aku ?".


"Karena Rian enggak tau siapa Meidinah, semua orang tau tentang siapa Meidinah itu dihari Wisuda, disitu kita semua baru tau tentang dia yang sebenernya, bahkan ada beberapa dosen juga yang kaget ternyata Meidinah anaknya Wijaya Chandra" ucap Fariz menjelaskan.


"Jadi maksud kamu si Rian juga enggak tau ?".


"Bener banget, dia sama sekali enggak tau tentang itu, dan dia bener bener terkejut plus nyesel waktu itu" ucap Fariz.


Rasya merasa cemas, dia berpikir bisa saja Rian kembali lagi kepada Meidinah.


Sementara Laras yang dari tadi mendengarkan, benar benar tidak percaya, dia tidak menyangka Fariz ternyata dalang dj balik hancurnya hubungan Meidinah.


 


Bersambung

__ADS_1


 


__ADS_2