
Hari ini Meidinah akan memulai kuliahnya. Dia sejak subuh sudah berkutik di dapur untuk menyiapkan sarapan, dia tidak mau terlambat dihari pertama kuliahnya.
"Sayang" sapa Rey yang baru saja memasuki dapur. Meidinah menoleh dan tersenyum kearah Rey.
"Kamu enggak capek kalau setiap hari begini terus sayang ?" tanya Rey.
"In Syaa Allah enggak mas" jawab Meidinah dengan tersenyum.
Rey mengangguk.
"Yaudah ayo sarapan mas" ajak Meidinah.
"Iya sayang".
"Kamu perginya bareng mas kan sayang ?" tanya Rey.
"Mei naik taksi aja deh mas, nanti mas telat ke kantornya, kan kita beda arah".
"Kok kamu gitu sih sayang ?".
"Mei enggak mau ngerepotin mas".
"Justru dengan kamu begini malah buat khawatir".
Meidinah diam sesaat, "tapi Mei bener-bener enggak mau ngerepotin masnya".
"Mas enggak terima penolakan" jawab Rey dengan tegas.
Meidinah pun mengangguk.
"Kamu enggak suka ya mas anter ?" tanya Rey.
"Bukan gitu mas, siapa sih yang enggak seneng dianter sama suaminya, cuma Mei enggak mau ngerepotin mas" jawab Meidinah.
"Kamu itu istri mas, intinya kamu kemana-mana harus sama mas, mas enggak terima penolakan dengan alasan apapun" ucap Rey.
Meidinah pun menurut apa kata Rey.
***
Suasana didalam mobil begitu sunyi, baik Rey ataupun Meidinah, tidak ada yang berbicara lagi setelah perdebatan di meja makan tadi.
Rey menghentikan mobilnya ketika sudah sampai didepan gerbang kampus Meidinah.
Meidinah pun mencium tangan Rey, "Assalamualaikum mas".
"Waalaikumsalam salam sayang" Rey pun mencium kening Meidinah, "maafin mas ya kalau tadi mas ngebentak kamu" ucap Rey.
Meidinah tersenyum, "iya mas".
Rey pun mencium bibir Meidinah berulang kali, "istri mas jangan macem-macem ya" ucap Rey dengan nada bercanda.
"Iya mas, masnya hati-hati ya".
Meidinah pun turun dari mobil, tetapi gerakannya terhenti ketika Rey menarik tangan Meidinah, "kamu enggak mau nyium mas ?" Rey menggoda Meidinah.
Meidinah tersenyum, dan mencium pipi Rey sekilas, dia pun langsung keluar dari mobil, dia tidak mau Rey melihat wajahnya yang merona karena malu.
Rey tersenyum mendapat ciuman itu, dia memegangi pipinya, sangat manis, gumamnya. Rey pun langsung melajukan mobilnya menuju kantornya.
Meidinah sedang duduk dibawah sebuah pohon depan kampusnya, dia meraih ponselnya dan mengirim pesan pada Rey.
📩 Me
Assalamualaikum mas, jangan lupa shalat dan makan siang.
📩 Imam ku
Waalaikumsalam sayang, iya sayang, kamu juga ya.
__ADS_1
📩 Me
Iya maskuuuu
Rey tersenyum melihat balasan dari Meidinah.
📩 Imam ku
Kalau udah slesai jam kuliahnya, kabarin mas ya sayang, biar mas jemput
Meidinah sebenarnya tidak ingin merepotkan Rey, tapi dia tidak mau berdebat hanya karena masalah sepele.
📩 Me
Iya sayang ðŸ¤
Meidinah pun menuju ke ruangannya, karena dia masih ada jam kuliah setelah istirahat.
***
Dikantor Rey senyum-senyum sendiri. Rey semakin gemes melihat balasan Meidinah, sayang ??, gumamnya.
Tok tok tok
Terdengar suara ketukan pintu.
"Permisi tuan" ucap Alex.
"Ya, ada apa ?" tanya Rey.
"Diluar ada tuan Herz, dia ingin menemui anda tuan".
Ada keperluan apa dia kesini ?, gumam Rey "per silahkan dia masuk".
"Baik tuan, saya permisi".
Tidak lama setelah Alex pergi, laki-laki parubaya itu pun masuk ke ruangan Rey.
"Apa kabar tuan Herz" sapa Rey.
"Kabar baik tuan Gantama".
Rey pun mempersilakannya duduk di sofa.
"Lama tidak bertemu tuan Gantama" ucap Laki-laki parubaya itu.
"Ya tuan Herz, apakah ada yang ingin anda bicarakan sampai anda datang kesini" tanya Rey dengan tersenyum.
"Apakah kau keberatan taun Gantama jika aku mengunjungi kantormu ?" tanya tuan Herz.
"Tentu saja tidak tuan Herz, pasti ada sesuatu yang sangat penting yang membuat orang sibuk seperti anda sampai datang kesini" jawab Rey dengan tertawa.
"Anda benar tuan Gantama, saya ingin mengundang anda di acara grand opening hotel milik keluarga kami" ucap Herz.
Rey tersenyum, "seharusnya anda tidak perlu repot-repot datang kesini tuan Herz, anda bisa mengundang saya melalui telpon" ucap Rey.
"Bukankah lebih baik dengan mengundang langsung tuan Gantama".
"Saya merasa tersanjung tuan Herz, saya pasti akan datang, kapan akan diadakan acara grand opening tersebut ?".
"Besok lusa, saya akan mengirim alamatnya pada anda nanti, kalau begitu saya permisi tuan Gantama".
"Mengapa anda terburu-buru tuan Herz, bukan kah lebih baik kita makan siang terlebih dahulu".
"Terimakasih tuan Gantama, saya ada janji lagi setelah ini"
Rey mengangguk, tuan Herz pun beranjak dan menyalami Rey.
Setelah kepergian tuan Herz, Rey pun beranjak pergi meninggalkan kantor, dia akan menjemput Meidinah.
__ADS_1
Dikampus Meidinah baru saja keluar dari kelasnya.
"Hei" sapa seseorang kepada Meidinah.
Meidinah pun menanggapi dengan senyuman.
"Boleh kah saya tau siapa nama anda ?" tanya seseorang itu.
Meidinah tersenyum, "saya Meidinah Mayangsari" jawab Meidinah.
"Saya Zaky Malik" laki-laki itu pun tersenyum, "senang berkenalan dengan anda, saya dari Malaysia" lanjutnya.
Meidinah pun tersenyum, "saya dari Indonesia".
"Woww, it's amazing, kamu benar-benar dari Indonesia ternyata".
Meidinah menatap heran kepada laki-laki didepan nya itu.
"Saya sudah mengira bahwa kamu dari Asia, dsn ternyata itu Indonesia" ucap laki-laki itu dengan tersenyum.
Meidinah pun tersenyum.
Obrolan mereka pun berlanjut, sampai Rey tiba didepan kampus Meidinah.
Dia memutuskan untuk masuk kedalam kampus untuk menemui Meidinah.
Langkah Rey terhenti ketika melihat Meidinah duduk dan bercengkrama dengan seorang laki-laki. Rey mengepalkan tangannya dan menghela nafasnya, dia pun kembali ke mobil dengan sangat kesal.
Sementara kampus itu sudah di buat heboh dengan kedatangan Rey.
Meidinah dan Zaky pun heran mengapa orang-orang berkumpul seperti itu.
Meidinah pun tidak sengaja mendengar ada seorang wanita yang menyebut-nyebut nama Rey.
Rey ? gumam Meidinah.
Dia pun langsung mencari-cari sosok yang disebut-sebutkan. Dan benar saja dia melihat Rey menyender di depan mobilnya.
Meidinahpun langsung mencari handphone nya untuk menghubungi Rey.
Rey pun melihat Meidinah yang berdiri tidak jauh darinya.
Rey pun mendatangi Meidinah dan langsung menarik Meidinah pergi dari kerumunan orang-orang itu.
Meidinah hanya menurut dan ikut kemana Rey membawanya.
Mobil Rey pun sudah pergi meninggalkan kampus Meidinah.
Sementara Zaky menatap heran kearah dua orang yang sudah pergi itu.
"Mungkin kah Meidinah adiknya ?" gumam Zaky. Dia pun pergi meninggalkan kampus.
**
Di dalam mobil dan hanya diam tanpa mengatakan apapun pada Meidinah. Meidinah pun merasa aneh melihat tingkah suaminya.
"Mas kenapa ?, Mei ada buat salah ya ?" tanya Meidinah.
Rey diam dan tidak menjawab pertanyaan Meidinah, terdengar sesekali dia menghela nafasnya.
Meidinah semakin heran, dia terus memikirkan apakah dia telah berbuat kesalahan sehingga suaminya jadi seperti ini.
Dia pun ikut diam karena suaminya tidak menjawab pertanyaan nya.
Rey berusaha menahan emosinya yang sudah hampir meledak.
****
Bersambung
__ADS_1
I have never regretted my silence. As for my speech, I have regretted it over and over again. – Umar bin Khattab