
Laras masih tidak menyangka dengan apa yang telah dia dengar.
"Ras, filmnya di depan kali, bukan di muka aku" ucap Meidinah, karena sedari tadi Laras terus menatap ke Meidinah.
Laras tersadar dari lamunannya, dia tersenyum kepada Meidimnah,"udah yuk Mei kita keluar" ajak Laras.
Meidinah hanya memandang sahabatnya dengan tatapan penuh tanya.
Mereka pun keluar.
Sampainya di mobil Laras menceritakan semua yang telah dia dengar kepada Meidinah. Meidinah tidak percaya bahwa Fariz bisa melakukan hal itu, karena Rian adalah sahabatnya, bagaimana mungkin seorang sahabat sanggup melakukan hal itu.
------------------------------------
Tiba di rumah Meidinah tidak langsung menuju ke kamarnya, dia berhenti di ruang tamu ketika melihat papanya disana, dia segera menghampiri papanya.
"Assalamu'alaikum pa" ucap Meidinah.
"Wa'alaikumsalam putri papa" jawab Wijaya. " oh iya sayang ada yang mau papa omongin sama kamu" lanjut Wijaya.
"Ngomongin apa pa ?" .
"Kan kamu sebentar lagi mau ke Eropa, em,, papa berniat menjodohkan kamu dengan anak teman papa.." Wijaya ragu untuk melanjutkan ucapannya, karena yang dia inginkan hanya lah kebahagiaan putrinya.
"Siapa pa ?, apa Meidinah kenal dengan dia ?" tanya Meidinah.
"Kamu kenal dengannya sayang, bahkan sangat kenal, tapi papa tidak akan memaksa kamu sayang" ucap Wijaya, dia ingat bagaimana hancurnya putri kesayangan nya itu saat Rian memutuskannya, apalagi setelah Wijaya tau siapa perempuan itu, yang bahkan tidak bisa dibandingkan dengan putrinya sedikit pun.
Meidinah hanya tersenyum, dia tau pasti papanya menginginkan yang terbaik untuknya.
Melihat ekspresi putrinya Wijaya melanjutkan ucapannya, "papa mau sebelum kamu ke Eropa kamu sudah menikah sayang, papa ingin ada yang menjaga kamu disana, karena papa pasti tidak bisa terus terusan menjaga kamu disana sayang".
"Iya pa, meidinah ngerti kok, yaudah Meidinah serahkan semuanya ke papa, karena ridho anak ada pada ridho orang tuanya, Meidinah pasti bahagia dengan pilihan papa nanti" ucap Meidinah dengan tersenyum manis.
"Kamu memang mutiara papa sayang" ucap Wijaya sambil mengusap kepala putrinya dan mencium kening Meidinah.
"Ya sudah sekarang kamu mandi dan makan ya sayang" ucap Wijaya.
"Iya pa" Meidinah pun berjalan menuju Kamarnya.
Meidinah duduk di sofa dan dia terus saja melamun sampai lamunannya tersadar ketika handphone nya berdering.
Kring kring kring
ID pemanggil Fariz.
Meidinah menghela nafasnya, dia terlihat sangat kesal apalagi mengingat apa yang telah di katakan Laras. Dengan berat hati dia pun menggeser tombol hijau.
"Assalamualaikum" sapa Meidinah.
__ADS_1
"Waalaikumsalam Mei, jangan lupa nanti slesai isya, aku jemput" ucap Fariz dari ujung telepon.
"Iya Riz".
"Yaudah aku tutup ya, assalamualaikum"
"Waalaikumsalam".
Pikiran Meidinah masih mengingat pembicaraannya dengan Laras, dia benar benar tidak tau apa alasan Fariz melakukan itu. Aku akan meminta penjelasan kepada Fariz, batin Meidinah.
--------------------------------
Meidinah sudah slesai bersiap siap, dia menunggu kedatangan Fariz sambil memberi tau papanya bahwa dia akan pergi.
Sebenarnya Meidinah memiliki kebiasaan untuk izin terlebih dahulu kepada papanya seminggu sebelum dia pergi, tetapi kali ini dia tidak melakukan itu, karena memang Fariz yang mengajaknya secara mendadak di tambah pikirannya yang sudah entah kemana, dia seharian ini benar benar tidak fokus, bahkan tadi diperjalanan kembali kerumah dia hampir menabrak pengendara sepeda motor, untung lah tidak terjadi apa apa.
Meidinah berjalan menuruni tangga, dia tidak melihat papanya di ruang tamu atau pun di ruang tv, dia berjalan menuju kamar papanya tetapi papanya juga tidak ada di kamar, dia memutuskan ke ruang kerja papanya, tapi dia juga tidak menemukan sosok papanya. Dia pun bertanya kepada Bik Sumi.
"Bik, Bik Sumi" panggil Meidinah.
"Iya non" sahut Bik Sumi sambil berjalan kearah Meidinah.
"Bik papa dimana ?, kok di kamar enggak ada, diruang kerja juga enggak ada?" tanya Meidinah.
"Oh Tuan besar di taman belakang non" jawab Bik Sumi.
"Ok. Makasih ya Bik"
"Iya non"
"Papa,,kok melamun ?" tanya Meidinah.
Wijaya pun langsung menoleh ke arah Meidinah dan tersenyum.
"Papa enggak melamun sayang, papa cuma sedang memikirkan bisnis papa" jawab Wijaya berbohong.
Meidinah tau papanya sedang berbohong, tapi dia tidak menanyakannya, karena Meidinah tau apa yang dipikirkan papanya, tapi dia memilih pura pura tidak tau.
"Pa,, temen Meidinah ngajakin pergi, papa ngizinin enggak ?" tanya Meidinah.
"Laki laki ?, siapa namanya sayang ?" tanya Wijaya tanpa menjawab putrinya.
"Iya pa, namanya Fariz, temen kuliah Meidinah" jawab Meidinah.
"Ya sudah, tapi ingat....." Wijaya menggantung kata katanya, yang langsung di lanjutkan Meidinah
"Pulang sebelum jam 11, ya kan Pa ?" ucap Meidinah sambil tersenyum.
"Iya sayang" jawab Wijaya sambil memegang tangan putrinya.
__ADS_1
**
Tin tin tin
Suara klakson mobil terdengar, satpam segera membuka gerbang dan bertanya ada keperluan apa. Slesai bertanya satpam pun mempersilahkan mobil tersebut masuk.
Ting tong ting tong
Terdengar bel berbunyi, Bik Sumi segera membukakan pintu.
"Assalamualaikum" sapa Fariz.
"Waalaikumsalam, cari siapa den ?" tanya Bik Sumi.
"Cari Meidinah nya bi, ada ?"
"Ada den, mari masuk, saya panggil kan dulu non Meidinahnya" Bik Sumi berlalu dan memanggil Meidinah.
"Non ada orang yang nyariin non" ucap Bik Sumi.
"Siapa Bik ?" tanya Meidinah.
"Aduh maaf non, Bibik lupa nanya namanya, orangnya ganteng" ucap Bik Sumi.
Meidinah tertawa mendengar ucapan Bik Sumi. Meidinah tau pasti ktu Fariz. Dia bergegas menemui Fariz yang sudah menunggu di ruang tamu.
"Kamu mau minum dulu atau mau langsung pergi?" tanya Meidinah.
"Enggak usah deh, kita langsung pergi aja, entar keburu malem, papa kamu mana ?" tanya Fariz.
Tidak lama Wijaya memasuki ruang tamu, dia berjalan kearah Meidinah.
Fariz langsung mencium tangan Wijaya, yang dibalas dengan senyuman oleh Wijaya.
"Emm,,, om saya mau bawa Meidinah jalan"_ ucap Fariz dengan suara bergetar. Karena Wijaya memang sosok yang penuh dengan Wibawa, raut wajahnya terkesan tegas.
"Kasian dong anak saya kalau kamu ajak jalan, bisa bisa pingsan dia" ucap Wijaya dengan nada bercanda.
"Maksudnya jalan jalan naik mobil om" jawab Fariz polos.
Wijaya tertawa melihat tingkah Fariz. Sedangkan Fariz masih bingung dengan apa yang dilihatnya, Wijaya Chandra yang tidak lepas dari kesan tegas dan penuh wibawa ternyata bisa bercanda seperti itu.
"Ya sudah kalian pergi lah, dan ingat kembali sebelum pukul 11" jelas Wijaya.
Mereka berdua pun berpamitan kepada Wijaya.
Bersambung
__ADS_1