
Waktu keberangkatan mereka pun tiba, Rey dan Medinah sungkem kepada kedua orang tua Rey, karena seminggu setelah resepsi mereka menginap di rumah orang tua Rey, kemudian mereka semua menuju rumah Wijaya.
Dirumah Wijaya.
Pria paru baya itu memandangi foto putri dan juga istrinya, sekarang putri kita juga akan meninggalkan ku sayang, dia sudah menikah dengan laki laki yang sangat mencintainya, tanpa terasa air mata Wijaya pun jatuh membasahi pipinya. Begitu berat rasa hatinya untuk melepaskan putri semata wayang nya itu, dia pasti akan merasa kesepian.
Meidinah sudah masuk ke dalam rumah, dia mencari keberadaan papanya tapi tidak menemukannya, hanya satu ruangan lagi yang belum dia periksa, ruangan pribadi papa nya, Meidinah yakin papanya pasti ada disana.
Tok tok tok...
Meidinah mengetuk pintu ruangan itu, tapi tidak ada jawaban, Meidinah pun langsung membukanya dan ternyata tidak dikunci, berarti papanya memang ada di dalam. Meidinah melihat papanya sedang melamun dan memegangi sebuah album foto.
Meidinah melihat bahwa papanya sedang menangis, Meidinah mendekati papanya "papa kenapa ?", Wijaya terkejut dia langsung menghapus air matanya, " sejak kapan kamu disini sayang ?".
"Sejak tadi pa, papa kenapa ?", papa menangis ?".
Wijaya berusaha untuk tersenyum, "tidak apa apa sayang, papa baik baik aja, mana suami dan mertua mu sayang ?".
"Mereka di ruang tamu pa".
"Ya sudah, ayo kita temui mereka".
Mereka pun menuju ke ruang tamu, Cahyo melihat aura kesedihan di wajah Wijaya, Cahyo mengerti apa yang di rasakan Wijaya, karena bagaimana pun dia sendiri lah yang merawat dan membesarkan Meidinah.
"Pa.. Rey minta maaf sama papa ya, karena Rey akan membawa Meidinah bersama Rey" ucap Rey pada Wijaya.
Wijaya tersenyum, dia berusaha tegar di hadapan mereka semua, "tidak perlu minta maaf nak, bukan kah memang begitu ?, ketika sudah menikah maka anak perempuan akan meninggalkan orang tuanya dan ikut dengan suaminya, papa minta sama kamu jaga dan cintai Meidinah seperti papa mencintai dan menjaga nya selama ini, jangan pernah lukai hatinya, karena papa tidak akan pernah tinggal diam jika kamu sampai melukai nya".
"Tanpa papa minta pun Rey akan menjaga Meidinah bahkan dengan nyawa Rey pa, kalau Rey menyakiti Meidinah sama saja Rey menyakiti mama Rey sendiri".
Air mata Wijaya jatuh begitu saja, Meidinah juga tak kuasa menahan tangisnya, dia langsung memeluk papanya dan menangis.
Wijaya terus menciumi kepala putrinya, sungguh dia tidak sanggup bila berpisah dengan putrinya, "sayang..berbaktilah kepada suami mu ya nak, baktimu sudah berpindah kepada suami mu nak, carilah ridho suamimu, jadi lah istri yang sholehah yang mampu menjaga marwah suami nya".
"Iya pa, Mei akan berbakti kepada suami Mei".
Wijaya terus saja menangis memeluk putrinya, rasanya enggan dia melepaskan putrinya.
"Sudah lah Wijaya, putrimu bukan meninggalkan mu, dia hanya pergi sementara lagi pula mereka pasti akan sering mengunjungi kita, atau kita bisa mengunjungi mereka kapan saja kita mau, bukan kah begitu ?" ucap Cahyo sambil menepuk nepuk bahu Wijaya, dia berusaha menghibur Wijaya.
__ADS_1
Apa yang dikatakan Cahyo benar, mereka bisa kapan saja mengunjungi Rey dan Meidinah.
Wijaya pun melepaskan pelukannya, dia mencium kening putrinya, "sudah sayang, nanti kalian ketinggalan pesawat, ayo kita berangkat".
Meidinah tersenyum dan menghapus air matanya.
Mereka pun menuju bandara.
****
Rey dan Meidinah telah tiba di jerman setelah melakukan perjalanan berjam jam. Setibanya di jerman Rey dan Meidinah memilih untuk menginap di salah satu hotel milik Wijaya, karena dari bandara menuju Rothenburg Ob Der Tauber itu menempuh jarak yang cukup jauh.
Rey memang sengaja membeli rumah di kota itu walaupun dengan nominal yang fantastis, tapi menurutnya itu tidak masalah karena keindahan yang disuguhkan oleh kota itu benar benar membuat siapa pun akan takjub.
***
Di dalam kamar hotel president suit khusus yang biasa ditempati Meidinah bila ia berkunjung ke Jerman, atau ketika dia ikut papanya perjalanan bisnis, kamar itu hanya akan ditempati oleh Meidinah, makanya mereka tidak perlu membooking kamar terlebih dahulu, tampak beberapa brang milik Meidinah yang memang sengaja ditinggalkannya.
Rey langsung mandi untuk membersihkan tubuhnya yang terasa lengket, sementara Meidinah membereskan barang barang mereka.
Rey keluar dari kamar mandi hanya mengenakan handuk yang melilit di pinggang nya, dada bidang nya dapat terlihat jelas.
Rey gemas melihat tingkah Meidinah, dia pun memiliki ide untuk menggoda istrinya, dia berjalan mendekat kearah Meidinah, sementara Meidinah yang merasa bahwa Rey mendekat kearahnya dia memundurkan langkah nya perlahan dengan terus menutup wajahnya. Rey terus mendekati Meidinah sampai wanita itu tidak bisa mundur lagi karena tubuhnya sudah menyentuh lemari dibelakang nya, jantung Meidinah serasa mau copot, dia juga jadi salah tingkah, Rey semakin gemas dibuatnya.
"Sayang, apa kamu mau terus di depan lemari dan membiarkan mas tanpa pakaian seperti ini ?" ucap Rey dengan senyum jahatnya.
"Emm,,,, maaf mas" Meidinah langsung berlari pergi dengan perasaan entah seperti apa, dia bergegas untuk mandi.
Meidinah mandi dengan perasaan yang entah seperti apa, sampai dia lupa bahwa ternyata dia tidak membawa pakaiannya ke dalam kamar mandi.
"Meidinah kenapa kamu teledor banget sih" gerutu Meidinah di dalam kamar mandi.
Dia membuka pintu kamar mandi dengan perlahan, dia mencari keberadaan suaminya, dan dia tidak menemukannya, mungkin dia sedang keluar, batin Meidinah.
Dia pun berjalan keluar dari kamar mandi dengan menggunakan jubah mandi selutut dan handuk yang melilit di kepalanya.
Dia berjalan menuju lemari dan memilih pakaian yang akan dia kenakan, tanpa sadar Rey memperhatikannya dari sofa, Rey tidak pernah melihat istrinya dalam keadaan seperti itu, jangan kan seperti itu, seperti apa rupa Meidinah tanpa hijab pun dia tidak pernah tau, karena Meidinah selalu mengenakan hijabnya kapan pun dan dimana pun. Rey menelan salivanya biar bagaimana pun dia laki laki normal, apalagi wanita yang dilihatnya ini adalah istrinya, dia berusaha mengendalikan dirinya, sudah sangat lama Rey menahan syahwatnya. Sebelum Meidinah sempat mengenakan pakaiannya, Rey pun berdehem, dia sengaja karena dia tidak mau kehilangan kendali atas dirinya.
Meidinah terkejut dan langsung membalikkan badannya, dia terkejut melihat Rey yang ternyata duduk di sofa dan sedang menatap kearahnya.
__ADS_1
Meidinah sangat gugup dia terdiam membisu, berat rasanya kedua kakinya untuk melangkah. Sementara Rey masih terpana melihat wajah cantik Meidinah tanpa hijab, benar benar cantik gumam Rey.
Meidinah masih diam membisu, pandangannya kosong, tubuhnya terasa lemas, betapa malunya dia saat ini.
Rey mendekati Meidinah dan memunguti pakaiannya yang jatuh, karena tadi Meidinah sangat terkejut sampai sampai ia menjatuhkan pakaiannya di lantai. Rey memberikan pakaiannya kepada Meidinah. Tapi Meidinah masih bengong.
"Sayang,,, apa kamu mau terus seperti ini, atau kamu memang sengaja menggoda ku ?", tanya Rey dengan tersenyum jahil.
Meidinah pun segera mengambil pakaiannya dari tangan Rey dan berlari kekamar mandi tanpa mengatakan sepatah katapun.
Rey tersenyum melihat tingkah Meidinah.
Kenapa dia harus malu, aku kan suaminya gumam Rey.
Sementara Meidinah kembali melamun di dalam kamar mandi, dia memarahi dirinya sendiri kenapa begitu bodoh dan ceroboh.
"Ya Rabb,,, ada apa dengan hari ini" gumam Meidinah.
Dia pun berpikir sejenak, bukan kah aku seorang istri yang mempunyai kewajiban untuk melayani suami ku, dia menghela nafasnya, ku serah kan pada mu Ya Rabb, jika mas Rey memintanya, In Syaa Allah aku akan siap. Dia pun keluar dari kamar mandi dengan wajah yang begitu malu, dia bahkan tidak sanggup untuk melihat wajah Rey.
Meidinah langsung merebahkan tubuhnya diranjang, karena tadi setibanya di bandara bertepatan dengan azan isya, mereka pun melaksanakan shalat isya di bandara.
Meidinah berusaha memejam kan matanya, tapi tidak bisa, kepala nya dipenuhi dengan apa yang terjadi hari ini.
Rey berjalan mendekati ranjang, dia mengira bahwa Meidinah sudah tertidur, dia pun merebahkan tubuhnya di samping Meidinah. Dia menarik Meidinah ke dalam pelukan nya, Meidinah terkejut, tapi dia tetap pura pura tertidur, Rey mencium kening Meidinah.
"Mas akan menunggu sampai kamu benar benar siap menyerahkan dirimu pada mas" gumam Rey.
Meidinah mendengar ucapan Rey, air matanya jatuh tanpa permisi terlebih dahulu.
Sudah sangat lama dia menahan nya, berdosa kah hambamu ini Ya Rabb, batin Meidinah.
Dia pun bertekat bahwa dia harus menyerahkan dirinya sepenuhnya kepada suaminya, dia tidak mau menjadi istri yang durhaka.
***
Bersambung
Jihad (Perjuangan)seorang wanita ialah memberikan pertemanan yang menyenangkan kepada suaminya. - Sayyidina Ali bin Abi Thalib
__ADS_1