Aku Dan Masa Kelam Ku

Aku Dan Masa Kelam Ku
Rey dan Rian


__ADS_3

"Yan kok malah bengong, kenapa ?" tanya Laras.


"Enggak Ras, aku cuma enggak nyangka aja Meidinah sama Rey mau menikah".


"Kenapa , justru aku seneng, karena Meidinah bakalan nikah sama orang yang bener bener mencintai dia"


Mencintai ?, gumam Rian dalam hati.


"Rey udah lama banget menyimpan rasa ke Mei, bisa dibilang si Rey itu ya mencintai dalam diam" jawab Laras yang seolah mengerti apa yang di pikirkan Rian.


"Maksud kamu Rey emang udah lama nyimpen rasa ke Mei ?".


"Yah, sejak sejak pandangan pertama kalau kata dia, udah deh lagian kamu ngapain juga ngurusin mereka, hubungan kamu sama Mei itu udah slesai, jadi jangan ganggu ganggu dia deh, biarin dia bahagia".


"Bukan gitu Ras, aku masih belum nyangka aja secepat ini Mei bakalan nikah".


"Kenapa enggak nyangka ?, semua bisa aja kan kalau Allah udah berkehendak, aku aja enggak nyangka kamu bakalan khianati dia, tapi nyatanya kamu khianati dia".


Jleb..


Rian seperti tertampar mendengar ucapan Laras.


"Aku bener-bener menyesal Ras, aku enggak ada niat buat khianati Meidinah, awalnya aku cuma iseng Ras" ucap Rian penuh penyesalan.


"Semua juga udah terjadi Yan, lagian kamu jadi cowok enggak ada harga dirinya banget sih, murahan banget jadi cowok, sama yang begituan aja mau" Laras menatap Rian dengan sinis.


Rian tau seperti apa Laras, dia tipe orang yang kalau bicara enggak ada saringan nya.


"Aku tau aku salah Ras, aku juga udah menyadari kesalahan ku".


"Ya bagus lah, inget Yan entar kalau kamu udah ketemu seseorang seperti Mei lagi, yang tulus sama kamu, jangan kamu sia sia in Yan, karena kesempatan datengnya cuma sekali, enggak berkali kali".


Rian menarik nafas panjang, memang dia benar benar bodoh, enggak pernah memikirkan akibat dari perbuatannya.


"Ya sudah Ras, aku pamit deh, makasih udah jawab pertanyaan ku" Rian pun pergi meninggalkan ruangan Pak Rasyid.


***


Rumah Meidinah sudah mulai ramai, keluarganya seperti om dan juga tante tantenya sudah mulai datang, EO yang di pesan oleh Wijaya juga sudah mulai mendekor rumah, karena memang pernikahan Meidinah akan di adakan di kediaman Wijaya, itu semua tentu permintaan Meidinah, lagi pula rumah Wijaya cukup besar kalau hanya menampung lama ribu tamu undangan, bagaimana tidak, halaman rumah Wijaya saja memiliki luas delapan hektar, dan juga rumah berlantai dua yang sangat besar. Awalnya Wijaya menolak karena dia tidak ingin kediaman pribadinya diusik, tapi apa boleh buat dia tidak bisa jika melihat anak semata wayang nya memohon.


Padahal jika mau, Meidinah bisa menunjuk di hotel mana dia akan melangsungkan resepsi pernikahan nya. Wijaya sempat berpikir bahwa orang lain akan mengeluarkan uang ratusan juta bahkan miliaran untuk menyewa hotelnya, tetapi putrinya malah memilih mengadakan di rumah, Wijaya benar benar tak habis pikir dengan putrinya itu.


Meidinah tampak sangat bahagia, karena rumahnya di penuhi dengan gelak tawa dari sepupu dan ponakan nya, karena selama ini dia selalu kesepian, hanya anak Bik Sumi yang berumur 7 tahun yang kadang kadang berkunjung untuk bertemu dengan Bik sumi, atau sekedar bermain di halaman rumahnya. Wijaya termasuk orang yang sangat baik dan dermawan, dia tidak pernah melarang anak anak yang ingin bermain di halaman rumahnya, dia dengan senang hati membiarkan anak anak bermain disana, Wijaya bahkan menyediakan fasilitas bermain yang sangat banyak, sehingga membuat anak anak betah bermain disana, bahkan Wijaya sengaja membeli dan memesan langsung dari jepang sebuah miniatur istana bermain untuk anak anak. Suasana rumah sangat berbeda dari biasanya, rumah begitu ramai dan penuh dengan canda tawa. Tetapi diantara keramaian ini Meidinah tetap merasa kosong, karena tidak adanya sosok ibu disamping nya, Meidinah bahkan tidak tau seperti apa sosok ibunya, Meidinah hanya mengenal ibunya melalui fotonya, bisa bayang kan seperti apa kesedihan Meidinah saat ini, di hari bahagia nya nanti tidak akan ada sosok ibu yang menggenggam tangannya.


"Sayang, kenapa kamu melamun ?" tanya tante Melati, dia adalah adik mamanya Meidinah, mama Meidinah merupakan anak ke dua dari tiga bersaudara, dia memiliki satu kakak laki laki bernama Anggoro, dan satu adik perempuan bernama Melati.


Melati sangat menyayangi Meidinah, bahkan dulu Melati meminta kepada Wijaya agar dia yang merawat dan membesarkan Meidinah, tetapi Wijaya menolak, dengan mengatakan dia adalah anugrah terindah yang ditinggal kan oleh kakak mu untuk ku. Melati memiliki anak perempuan yang berselisih 3 tahun dengan Meidinah tetapi saat ini dia sedang kuliah di luar negeri, sehingga dia tidak bisa menghadiri pernikahan Meidinah.


***


Rian berniat kerumah Meidinah untuk menanyakan masalah pernikahan nya dengan Rey, jujur dia belum bisa menerima bahwa wanita yang begitu dicintai nya menikah dengan laki laki lain. Tetapi Rian mengurungkan niatnya karena teringat dengan ucapan Wijaya.


Flashback On


Sekretaris Wijaya sudah mendapatkan semua informasi mengenai Rian dan keluarganya, yang ternyata Buana Grup menanam saham sebesar 20% di perusahaan mereka.


"Bagas atur jadwal pertemuan saya dengan Rian !" perintah Wijaya.


"Saya sudah mengaturnya tuan, anda akan bertemu dengan nya sore ini" jawab Bagas.

__ADS_1


**


Rian sudah menunggu kedatangan Wijaya di cafe tempat mereka janjian, jantung Rian tidak karuan, perasaannya mendadak tidak enak, seperti merasa akan terjadi hal buruk padanya.


"Maaf membuat mu lama menunggu".


Rian mencari asal suara itu, yang ternyata adalah Wijaya.


"Enggak kok om".


"Saya tidak akan berbasa basi, kau tau kan apa kesalahan mu ?" tanya Wijaya dengan ekspresi datar.


Rian menelan ludah nya, ini pertama kalinya dia bertemu dengan Wijaya, dia sering mendengar tentang Wijaya, yang mempunyai sifat tegas dan juga sangat berwibawa. Ternyata bertemu langsung dengannya lebih menakutkan.


"Apa ini mengenai Meidinah om?" tanya Rian dengan suara pelan.


"Tentu saja, tidak ada yang lebih berharga dibanding kan dia, tentu saja saya tidak akan buang buang waktu untuk bertemu dengan mu kalau bukan karena putri ku" jelas Wijaya dengan penuh penekanan disetiap kata.


Rian hanya tertunduk, dia benar benar tidak bida berkata apa apa.


"Jangan pernah temui Meidinah, jangan pernah menghubungi dia, dan jangan pernah mengganggu nya, atau kau akan tau sendiri apa akibatnya" ancam Wijaya.


Rian membatu, dia seperti kesulitan bernafas, ternyata benar yang di katakan orang orang mengenai Wijaya, dia orang yang baik tetapi bisa menjadi tidak berbelas kasih bila ada yang mengusik nya.


"I-iiya om, maaf udah menghancurkan hati anak om" ucap Rian dengan tertunduk lesu.


Wijaya pergi meninggalkan cafe, meninggalkan Rian yang diam dan membisu.


Flashback Off


Seharunya aku tidak menggali kuburan ku sendiri, batin Rian.


Rian mencari Rey di perusahaan nya.


Sesampainya di gerbang dia ditanyai oleh satpam.


"Maaf pak, anda ada keperluan apa ?" tanya satpam itu.


"Saya mau bertemu dengan pak Rey".


"Apakah sudah ada janji sebelumnya ?".


"Katakan saja pada pak Rey, temannya yang bernama Rian ingin bertemu".


"Baiklah, sebentar akan saya sampaikan" satpam itu menelpon pada sekretaris Rey.


Tok tok tok


"Permisi pak, diluar ada pak Rian yang ingin bertemu dengan bapak" ucap sekretaris Rey.


"Persilahkan dia masuk" perintah Rey.


"Baik pak, kalau begitu saya permisi"


Sekretaris Rey menelpon satpam untuk mempersilahkan Rian masuk.


Rian pun memikirkan mobilnya dan bergegas menuju ruangan Rey. Rian memang sudah beberapa kali datang ke perusahaan Rey, seharusnya anggota keamanan sudah tau bahwa Rian adalah teman Rey, tapi seperti nya pria itu adalah satpam baru disini.


**

__ADS_1


"Pak Rian mari saya antar" ucap sekretaris Rey.


Rian mengangguk dan berjalan mengikuti wanita itu.


"Silahkan pak" sekretaris itu mempersilahkan Rian masuk sambil membukakan pintu.


"Apa kabar mu Yan, silahkan duduk" ucap Rey.


"Alhamdulillah kabar baik, kamu sendiri apa kabar ?".


"Alhamdulillah baik, ada keperluan apa kamu kesini ?, apakah ada masalah dengan proyek kerjasama kita ?" tanya Rey.


"Tidak ada hubungannya dengan pekerjaan Rey, jangan berbicara formal seperti ini" ucap Rian sambil tersenyum.


Rey mengangguk dan juga tersenyum.


"Kapan ?,,,, kau akan menikah dengan Meidinah ?" tanya Rian.


Rey menghela nafas dan tersenyum.


"In Syaa Allah empat hari lagi" jawab Rey masih dengan tersenyum.


Rian berusaha menegarkan hatinya, biar bagaimana pun Rian dan Rey adalah teman.


"Selamat atas pernikahan kalian " ucap Rian.


"Ayo lah, kami akan menikah empat hari lagi, tapi kau memberi selamat sekarang ?" Rey terkekeh, dia berusaha membuat suasana tidak canggung.


"Aku tidak yakin apakah aku diundang atau tidak" ucap Rian dengan tertawa.


Mereka berdua pun tertawa.


"Pasti aku akan mengundang mu Yan, itu sudah pasti".


"Terima kasih Rey".


"Emm,,, Rey tolong jaga Meidinah dengan baik, jangan pernah melakukan kesalahan bodoh sepeti ku" ucap Rian lirih.


Rey tersenyum sambil menepuk nepuk bahu Rian, "pasti Yan, pasti aku akan menjaga nya dengan baik, kau jangan khawatir"


Rian tersenyum, "cintai lah dia sepenuhnya Rey".


"Itu sudah pasti Yan, walaupun aku yakin di hati Mei masih ada diri mu, tapi aku akan sabar dan terus mencintainya Yan, sampai nanti dia kembali mencintai ku, aku juga tidak akan memaksa kehendak ku terhadapnya".


Rey menghela nafas, "karena hatinya pasti masih terluka, maka aku akan membiarkan luka itu sembuh terlebih dahulu, aku takut kalau aku memaksakan kehendak ku, itu malah akan memperparah luka di hati Meidinah".


Rian tersenyum dan menepuk bahu Rey, "good luck brother, jangan melo dong".


Rey pun tertawa, mereka pun melanjutkan obrolan mereka, sesekali terdengar gelak tawa antara keduanya.


Rian pun melupakan tujuan awalnya yang hanya akan bertanya tentang pernikahan.


 


Bersambung


Level tertinggi dari mencintai adalah mengikhlaskan, mengikhlaskan orang yang kau cintai bahagia, walaupun bukan dengan dirimu. \- Pena Bulu


 

__ADS_1


__ADS_2