
Tiba dirumah Meidinah bertemu dengan papanya, dia langsung memeluk papanya dan menangis sejadi jadinya.
"Udah sayang, kenapa kamu menangisi laki laki pengecut seperti dia nak" ucap Wijaya.
"Mei mei sayang Rian Pa, Mei mei enggak sanggup seperti ini" ucap Meidinah disela tangis nya.
"Dia aja enggak sayang kamu, kenapa kamu masih menangisi dia sayang, kamu bisa hidup tanpa dia, papa saja bisa hidup tanpa mama kamu, padahal begitu besar sayang dan cinta papa ke mama kamu, tapi ternyata Allah lebih sayang mama dari pada papa sayang mama" ucap Wijaya dengan lirih.
Meidinah tersentak mendengar ucapan papa nya, dia berpikir papa benar kenapa aku seperti ini, kenapa aku menangisi dia yang tidak menghargai semua pengorbanan ku, aku masih punya papa, aku juga masih punya sahabat yang selalu ada untuk ku, ini semua terjadi atas kehendak Allah, pasti Allah akan menggantikan dengan yang lebih baik lagi.
"Kamu jangan bersedih lagi, papa tidak ikhlas melihat anak semata wayang papa menangisi laki laki pengecut seperti Rian, lihat saja apa yang bisa papa lakukan terhadap keluarganya" jelas Wijaya dengan nada kesal.
Meidinah tersentak, dia tidak akan membiarkan papanya melakukan hal seperti itu, karena dia tau orang seperti apa papanya itu, dia tidak mau papanya buang buang waktu untuk mengurusi laki laki seperti Rian.
"Jangan pa, biar kan saja Allah yang akan membalas semua nya, jangan kotori tangan papa untuk laki laki seperti Rian, Mei mei enggak mau papa jadi arogan karena dia" pinta Meidinah penuh harap.
Wijaya menarik nafas panjang, dia tau putrinya tidak akan bisa menyakiti orang lain hanya karena egonya.
Lihatlah putri kita sayang, dia memiliki sifat seperti mu, mudah memaafkan orang lain, gumam Wijaya dalam hati. Tanpa sadar air matanya berlinang mengenang istrinya.
Meidinah adalah anugrah terindah yang ditinggalkan istrinya, dia begitu rapuh sepeninggalan istri nya, istri yang begitu dicintai nya, pergi meninggalkannya, tapi semua terobati karena Meidinah, dia adalah cahaya di hidup Wijaya. Apa pun akan dia lakukan demi putrinya.
-----------------------------------
Sampai di kamar Meidinah langsung mandi dan bergegas shalat, bukan shalat wajib, tapi shalat sunah taubat, Meidinah menangisi semua dosa yang pernah dia perbuat semasa berpacaran dengan Rian, dia menangis se jadi jadinya, memohon ampun kepada Allah atas semua dosa dan kesalahannya, dia sadar sewaktu dia pacaran dengan Rian begitu banyak dosa yang telah dia lakukan. Air matanya tidak berhenti mengalir mengingat semua dosa itu.
"Hamba seorang muslimah, hamba menutupi seluruh bagian tubuh hamba, tapi dosa juga tetap hamba perbuat, ampuni hambamu ini Ya Rabb, hamba telah lalai menjalankan semua perintah mu, hamba merasa hina dengan diri hamba, bahkan hamba hampir kehilangan kesucian hamba, begitu bodohnya diri ini Ya Allah, hamba membiarkan hawa nafsu menguasai diri hamba, ampuni semua dosa hamba Ya Allah, maaf kan lah hambamu ini yang mencintai dia melebihi hamba mencintai Mu Ya Rabb, ampuni lah hamba" lirih Meidinah penuh dengan derai air mata.
Mulai hari ini Meidinah memantapkan diri untuk berhijrah, bukan hanya penampilan, tetapi juga sikap dan perbuatannya, semua pakaian yang selama ini dia gunakan disumbangkannya kepada orang yang lebih membutuhkan, sebenarnya pakaiannya selama ini cukup sopan, dia selalu menggunakan pakaian yang longgar, dan hijabnya juga selalu dipanjangkan sampai menutupi dadanya, tapi mulai sekarang dia akan mengenakan gamis dan juga khimar.
__ADS_1
-------------------------------------
Tiba lah di hari wisuda, Meidinah sangat cantik dengan kebaya berwarna skin dan rok batik cokelat, senada dengan pakaian papanya, dia di make up begitu cantik sampai tidak ada yang mengenali nya, Meidinah memang pada dasarnya cantik, tanpa riasan juga dia akan tetap cantik, apalagi ditambah dengan riasan.
Meidinah berjalan menggandeng tangan papanya, semua hadirin terkejut melihat Wijaya Chandra, mereka bertanya tanya, siapa putri Wijaya Chandra mengapa tidak ada yang tau siapa putrinya, tentu saja tidak dengan Laras, dia hanya tersenyum menyaksikan keributan itu, 'kita lihat akan seperti apa reaksi Rian' batin Laras.
Acara wisudapun berlangsung, para hadirin tentu saja menanti siapa anak dari Wijaya Chandra. Tiba lah giliran nama Meidinah yang disebut oleh MC, dapat dilihat bahwa wajah MC itu juga terkejut dengan apa yang dia baca, penerus Buana Grup Hotel, batin nya.
"Meidinah Mayangsari Chandra, anak dari bapak Wijaya Chandra, lulus dengan predikat wisudawati terbaik Fakultas MIPA.
Semua hadirin tercengang, ternyata penerus Buana Grup Hotel adalah seorang wanita yang begitu cantik, tentu saja yang paling terkejut adalah Rian, dia tidak menyangka ternyata Meidinah anak dari Wijaya Chandra, benar benar diluar dugaan, dia menyesal telah memutuskan meidinah.
Berbeda dengan Rian yang terkejut, Rey justru tersenyum mendengar nya, "tidak salah kalau aku jatuh cinta padanya, gadis yang luar biasa, begitu sederhana dan bersahaja padahal dia memiliki segalanya" gumam Rey.
Acara wisuda slesai para wisudawan dan wisudawati bersalam salaman memberi ucapan selamat, tidak terkecuali Rian dan Meidinah.
Rian mengulurkan tangannya kepada Meidinah, yang disambut dengan tangkupan tangan di depan dada oleh Meidinah, Rian yang melihat hal itu terkejut, ternyata dia sudah berubah, batin nya.
"Kamu juga selamat ya" Meidinah tersenyum dengan sangat manis.
Rian merasa sesak melihat senyum manis itu., dulu senyum itu selalu ada untukku, batin Rian.
Setelah nya suasana menjadi hening dan canggung.
Tiba tiba
"Meidinah ayok kita foto bareng" panggil Laras.
"Aku kesana ya" ucap Meidinah, yang hanya dijawab anggukan oleh Rian.
__ADS_1
Laras, Meidinah dan juga Rey tak ketinggalan teman teman yang lain, mereka mengambil posisi masing masing.
"Satu, dua, tiga, cheese" seru sang fotografer.
Rey bingung kenapa Rian dan Meidinah tidak foto bareng, gumamnya dalam hati.
Laras yang menyadari tingkah Rey langsung menarik Rey.
" Meidinah lagi jomblo kali Rey, mereka udah lama putus, makanya gih pepet terus" bisik Laras.
Rey terkejut mendengar ucapan Laras.
"Tapi inget dia enggak mau pacaran jadi kalau kamu emang serius mending halalin aja langsung gih" bisik Laras menggoda Rey.
Rey tersenyum sumringah mendengar itu.
"Buruan, entar keburu Meidinah ke Eropa" lanjut Laras.
"Ngapain dia ke Eropa ?"
"Dia mau ambil S2 di Australi, sekalian dia juga mau belajar mimpin bisnis papanya"
Laras tau sebenarnya Rey mencintai Meidinah sejak lama, Laras kagum Rey mampu menyembunyikan perasaannya begitu lama, karena sejak SMA Rey sudah menyimpan rasa pada sahabatnya itu, ya Laras, Rey dan Meidinah adalah teman sejak SMA, tidak heran kalau mereka begitu akrab.
Laras juga tau alasan Rey tidak pernah mengungkapkan perasaannya karena Rey tidak ingin persahabatan nya hancur, dia lebih memilih menyimpan rasanya rapat rapat.
Karena bagi Rey mencintai tidak harus memiliki, melihat orang yang kita cintai bahagia walaupun dengan orang lain, itu adalah cinta yang sebenarnya. Kata si Rey ya bukan kata Author hehehehe...
__ADS_1
Bersambung