
Keesokan harinya di kampus Meidinah tidak sengaja berpapasan dengan Rian.
Tiba tiba Rian menarik tangan Meidinah, sontak Meidinah menghempaskan tangan Rian.
Rian terkejut melihat reaksi Meidinah, kemudian dia teringat dengan sikap Meidinah di hari wisuda yang menolak berjabat tangan dengannya.
"Meidinah" panggil Rian.
Meidinah berusaha tidak memperdulikan dan memilih meninggalkan Rian.
"Meidinah tunggu, aku mau bicara Mei, please dengerin aku" ucap Rian.
Meidinah pun mengehentikan langkah nya.
"Mau ngomongin apa ?" tanya Meidinah.
"Ayo kita ke cafe langganan kita"
"Enggak bisa disini aja emangnya ?"tanya Meidinah dengan datar.
"Enggak Mei, aku mau jelasin semuanya ke kamu, jadi kita ke cafe" ajak Rian.
Meidinah menghela nafasnya, dia pun mengangguk, dan mengikuti Rian.
"Naik mobil aku aja" ajak Rian.
"Enggak, kita naik mobil masing masing aja" jawab Meidinah.
Rian pun mengangguk dia mengerti alasannya.
Sesampainya di cafe mereka pun memesan minuman. Mereka duduk di tempat favorit Meidinah, di dekat dinding kaca yang menghadap langsung ke taman di sebrang cafe.
Meidinah terdiam sesaat, memorinya mengingat ingat semua kenangan nya dengan Rian, itu membuat dadanya terasa sesak.
"Mei, aku mau jelasin semuanya ke kamu" ucap Rian, karena merasa tidak ada tanggapan dari Meidinah Rian pun melanjutkan ucapan nya.
"Mei, aku bener bener menyesal atas perbuatan ku ke kamu, aku minta maaf Mei, aku enggak tau kalau ternyata aku dijebak selama ini Mei" ucap Rian dengan lirih. Sementara Meidinah masih diam. "Aku mau kita ulangi lagi dari awal Mei, kita mulai lagi hubungan kita dari awal, aku mau kita seperti dulu lagi Mei" Rian menghela nafasnya.
"Apa kamu bilang ?, kita mulai lagi dari awal ?" Meidinah terlihat menyunggingkan senyum, " kamu pikir hati aku SPBU, dimulai dari nol ?, kamu pikir hati aku taman bermain yang bisa kamu datang dan pergi sesuka mu ?, kamu pikir aku mainan kamu, yang kalau udah bosen kamu buang gitu aja, trus diwaktu kamu udah bosen sama mainan baru , kamu mainin lagi, gitu ?" jawab Meidinah tegas, dia berusaha menahan air matanya agar tidak jatuh.
Rian terdiam, kata kata yang diucapkan Meidinah terasa seperti sebuah sembilu yang mengiris iris hatinya.
"Mei, aku bener bener enggak niat buat ninggalin dan nyakitin kamu Mei, aku juga enggak tau kenapa bisa jadi begini" ucap Rian dengan penuh rasa bersalah.
Meidinah menarik nafas dia berusaha menahan air matanya.
"Kamu pernah mikir enggak, seberat apa hari hari yang aku jalani, disaat kamu ninggalin aku gitu aja, tanpa penjelasan, tanpa aku tau dimana letak salah ku, tanpa kamu tanya ke aku, kamu pergi gitu aja, seolah olah aku enggak pernah ada di hidup mu" air mata Meidinah sudah hampir tidak bisa di bendung nya lagi.
__ADS_1
Rian yang melihat mata Meidinah yang berkaca kaca, semakin merasa bersalah dan menyesal, dia benar benar menyesal, mengapa dia bisa meninggal kan wanita seperti Meidinah hanya demi wanita yang bahkan tidak bisa di bandingkan dengan Meidinah sedikit pun.
"Mei, maaf., maaf udah buat kamu kecewa, tapi aku bener bener enggak ada niat Mei" ucap Rian coba menjelaskan.
"Semua udah terlambat Yan, seharusnya kamu pikirkan apa akibatnya sebelum kamu membawa dia ke dalam hubungan kita" air matanya pun berhasil lolos. Dadanya terasa sesak bila dia mengingat semua itu, apalagi mengingat siapa wanita itu, rasanya seperti ada yang menikam hatinya tanpa ampun.
Air mata Rian jatuh begitu saja, dia benar benar dipenuhi dengan penyesalan.
"Mei., jangan seperti ini, maaf., aku benar benar minta maaf Mei, aku janji enggak akan ngulangin itu lagi, aku janji Mei"
"Kamu inget enggak, udah berapa kali kamu janji enggak bakalan ngulangin itu lagi ?, tapi nyatanya apa Yan, kamu terus terusan mengulanginya, dan kali ini bener bener udah enggak bisa ditolerir Yan".
"Kasih aku kesempatan sekali lagi Mei, aku janji akan memperbaiki semuanya".
Meidinah menyunggingkan senyumnya, "kamu lupa kemarin itu kesempatan terakhir mu ?, KAMU LUPA ?" tanya Meidinah dengan penuh penekanan.
Rian menarik nafas panjang.
Benar memang kemarin adalah kesempatan terakhirnya, dan dia sudah menyia nyiakan nya begitu saja. Dia mengutuki dirinya dalam hati.
Meidinah langsung beranjak pergi meninggalkan cafe. Rian masih diam dan terus menatap kepergian Meidinah.
Tangis Meidinah pun pecah setibanya di mobil, dia benar benar merasa sesak apabila mengingat semua yang telah dilakukan Rian terhadap nya. Apalagi mengingat semua hal yang pernah mereka lalukan bersama, rasanya dadanya mau meledak, hatinya terasa perih. Tangis Meidinah semakin menjadi, air matanya tak berhenti menetes, mengingat bagaimana perjuangan dia untuk melewati semuanya. Apalagi mengingat papa nya yang menangis.
Flashback On
Wijaya benar benar khawatir dengan kondisi putrinya.
Tok tok tok
Wijaya mengetuk pintu kamar putrinya, tidak ada jawaban. Wijaya menghela nafasnya, dia memutuskan untuk membuka pintu kamar putrinya dengan kunci cadangan, karena putrinya sudah seminggu mengurung diri dikamar, makan juga tidak apalagi ke kampus.
Ceklek, suara pintu terbuka, Meidinah tidak mendengarnya, karena dia terus saja melamun menatap ke luar jendela.
Wijaya sangat sedih melihat putrinya seperti itu. Apalagi melihat kondisi putrinya yang benar benar menyedihkan, kamarnya pun turut dipenuhi aura kesedihan.
"Sayang, kenapa kamu tidak makan, seharusnya kamu tidak seperti ini nak" ucap Wijaya.
Meidinah tidak merespon sedikit pun. "apakah kau tau sayang, kebahagiaan seorang ayah adalah melihat putrinya bahagia, begitu sebaliknya, hati ayah mana yang tidak sakit melihat anak perempuannya seperti ini" tanpa sadar air mata Wijaya berlinang.
Tangis Meidinah pecah melihat papanya menangis, dia langsung memeluk papanya dan menangis se jadi jadinya di dekapan papanya.
"Kau tau nak, kata orang seorang ayah adalah cinta pertama putrinya, apa kau tau nak ?, hati papa sangat sakit mengetahui ada laki laki lain yang dicintai putrinya, hati papa tidak terima bahwa anak yang papa besarkan dengan penuh cinta dan kasih sayang, jatuh cinta pada laki laki lain, itu semua sudah cukup membuat hati papa tidak terima". Wijaya menarik nafas panjang," apalagi sekarang sayang, tidak ada seorang ayah yang sanggup melihat anak perempuannya hancur karena seorang laki laki. Punya hak apa dia terhadap putri papa, kenapa dia tega seperti ini kepada mu, siapa dia yang bisa menghancurkan hati mu seperti ini. Kamu sayang papa kan nak ?, berhenti lah menangisi nya sayang, papa sangat sakit melihat mu menangisi laki laki seperti ini, papa yang membesarkan dan merawat mu nak, papa menjadikan mu seperti seorang putri raja, merawat mu sampai menjadi wanita cantik seperti ini, bukan untuk di sakiti nak". Wijaya menghentikan ucapannya, karena dadanya terasa sangat sesak. Hatinya hancur melihat putrinya kehilangan arah seperti ini.
Meidinah memikirkan kata kata papanya, papa benar, tidak seharusnya aku seperti ini, aku tidak boleh membuat papa sedih, aku tidak boleh terus terusan seperti ini, siapa dia harus ku tangisi seperti ini, gumamnya dalam hati.
"Maafkan Meidinah pa, seharusnya Mei tidak menangisi dia, maaf kan Meidinah telah menyakiti hati papa, Mei janji tidak akan seperti ini lagi pa" ucap Meidinah di sela tangisnya.
__ADS_1
"Berjanjilah lah sayang jangan pernah menangisi laki laki lain kecuali papa dan suami mu kelak"
"Iya pa Meidinah janji"
Wijaya tersenyum, dia mencium kening putrinya," makan lah sayang, jangan menyiksa dirimu seperti ini, kau harus menunjukkan pada dia dan juga dunia bahwa kau baik baik saja tanpa dia"
Meidinah mengangguk. Wijaya pun mengajak putrinya untuk makan.
Mulai saat itu Meidinah berjanji pada diri nya sendiri bahwa dia tidak akan pernah menangis untuk laki laki lain, kecuali papa dan suaminya kelak.
Flashback Off
Meidinah masih menangis di dalam mobilnya, sampai seorang tukang parkir menghampiri nya, dia langsung menghentikan tangisnya.
Tok tok tok
Suara kaca mobil Meidinah diketok
Meidinah segera menurunkan kaca mobilnya.
"Neng enggak apa apa kan ?" tanya tukang parkir.
"Enggak pak, saya enggak apa apa" jawab Meidinah.
Tukang parkir itu hanya memandang Meidinah tidak percaya.
"Eneng mah geulis geulis kok cerik, engke hilang geulisna" ucap tukang parkir.
Meidinah pun tertawa mendengar kata kata yang di ucapkan tukang parkit tersebut.
Meidinah pun menyodorkan uang seratus ribu kepada tukang parkir.
"Gede amat ini duit neng, kagak ada kembalianmya ini mah"
"Yaudah buat bapak aja kembaliannya" Meidinah tersenyum dan berlalu mengendarai mobilnya.
Tukang parkir itu masih tidak percaya dengan uang yang dipegangnya.
"Eleh eleh si eneng, engges geulis pisan, baik" ucap tukang parkir, ketika Meidinah sudah pergi meninggalkan cafe.
Bersambung
The women are not a garment you wear, and undress however you like. They are honoured and have their rights. – Umar bin Khattab
__ADS_1