
Tiba dirumah Meidinah langsung berlari ke kamar, dia mengunci kamarnya.
Hatinya begitu sakit, bagaimana tidak, suami yang dicintainya di gandeng oleh wanita lain.
"Sayang ... Mas minta maaf." ucap Rey
Tidak ada jawaban.
"Sayang ... buka pintunya, Mas mau bicara."
Masih tidak ada jawaban.
"Mas minta maaf sayang, mas benar-benar tidak tau kalau Cassandra akan melakukan hal itu." lirih Rey.
Ceklek
Meidinah membuka pintu kamar.
Rey segera masuk dan memeluk Meidinah.
"Maaf ... maafin Mas sayang, Mas tidak pernah berpikir bahwa dia akan melakukan hal ini, Mas benar-benar hanya menganggap dia teman, tidak lebih." lirih Rey.
Meidinah pun memeluk Rey dengan erat.
"Iya Mas, Mei percaya sama Mas."
Rey pun tersenyum, "jangan nangis lagi ya sayang, Mas benar-benar merasa bersalah udah buat kamu nangis."
"Iya Mas."
"Ya sudah, sekarang kamu bersih-bersih terus istirahat ya." ucap Rey.
"Iya Mas."
Rey pun melepaskan pelukannya dan mencium kening Meidinah.
"Mas mau nemenin Papa ngobrol."
Meidinah mengangguk. Rey pun pergi meninggalkan Meidinah.
***
Di ruang tamu, terlihat Wijaya dan Cahyo sedang mengobrol.
"Apa yang akan kita lakukan sekarang Wijaya?." tanya Cahyo.
"Entahlah, hatiku sakit melihat putriku seperti itu." jawab Wijaya.
Rey pun duduk dan bergabung dengan Papa dan juga mertuanya.
"Sepertinya kita harus mengambil tindakan Pa." ucap Rey kepada mertuanya.
"Tentu nak, Herz terlalu mencintai putrinya, sampai dia tidak memikirkan apa yang akan di hadapinya." ucap Wijaya.
"Dia terlalu gegabah dan ambisius." sambung Cahyo.
"Tapi Pa, Meidinah pasti tidak akan mengizinkannya." ucap Rey.
Wijaya menarik napasnya dengan kasar, "seperti itulah putriku, dia tidak akan pernah bisa menyakiti orang lain."
"Dia sangat baik, seperti ibunya." timpal Cahyo.
Mereka bertiga pun terdiam. Larut dalam pikirannya masing-masing.
Sementara di rumah Cassandra.
"Kamu lihat, apa yang telah kamu lakukan?." ucap Herz dengan nada suara yang tinggi.
"Dedy juga salah, kenapa papa tidak menyelidikinya lebih dahulu." jawab Cassandra.
"Apa kamu pikir Dedy tau, bahwa Rey sudah menikah?." Herz menarik napas panjang. "Ditambah lagi ternyata istrinya adalah putri Wijaya Chandra."
Cassandra hanya diam, karena memang itu kesalahan nya. Dia mengira bahwa Meidinah hanya gadis biasa.
"Kamu tau Cassie, karena ulah mu ini kita bisa kehilangan semua aset kekayaan kita."
Cassandra terkejut mendengar ucapan Dedy nya. "Apa maksud Dedy?."
"Kamu tau, menghadapi perusahaan Gantama saja kita tidak bisa, apalagi perusahaan Chandra." lirih Herz.
"Maafkan aku Dedy, aku salah, seharusnya sejak awal aku tidak mengganggu hubungan mereka." Cassandra pun menangisi kebodohannya.
"Sudahlah, besok Dedy akan meminta maaf pada mereka." Herz pun meninggalkan putrinya.
***
__ADS_1
"Rey, sebaiknya kamu istirahat nak, kasihan Meidinah." ucap Wijaya.
"Iya nak, sebaiknya kamu temani dia, kita akan membahas masalah ini besok." ucap Cahyo.
"Iya Pa. Kalau gitu Rey istirahat sekarang." ucap Rey.
"Iya nak."
Rey pun meninggalkan Papa dan mertuanya.
Teing tring tring
Handphone Wijaya berdering.
"Herz." ucap Wijaya.
"Angkatlah, sepertinya memang harus ada yang kita bicarakan dengannya."
"Selamat malam Mr. Herz."
"........."
"Baiklah, kita akan bertemu besok."
"....…..."
"Tidak masalah Mr. Herz."
"........."
"Sampai jumpa besok."
Sambungan telepon pun terputus.
"Dia ingin bertemu dengan kita besok." ucap Wijaya.
Cahyo mengangguk, "bagaimanapun dia hanya korban dari ambisi putrinya."
"Sebaiknya kita istirahat." ucap Cahyo.
Wijaya mengangguk, mereka pun menuju kamar masing-masing.
****
Dia memasak masakan kesukaan Papa dan mertuanya. Tentu saja masakan kesukaan Rey juga.
Makanan sudah tersaji di meja makan, ketika Rey turun, dan disusul dengan Wijaya dan Cahyo.
"Kamu yang memasak semua ini sayang?." tanya Wijaya.
Meidinah tersenyum.
"Papa tidak pernah tau kamu pandai memasak, kapan kamu mempelajarinya sayang?."
"Meidinah sering memasak bareng Bi Sumi Pa, dia juga yang mengajari Meidinah."
Wijaya tersenyum
"Bagaimana bisa kau tidak tau putrimu pandai memasak Wijaya?" Cahyo pun tertawa.
"Kau tau sendiri, aku selalu sibuk di luar." jawab Wijaya.
"Papa memang tidak tau kalau Mei bisa memasak Pi, karena Papa jarang di rumah jadi Mei mencari kesibukan dengan membantu Bi Sumi memasak." ucap Meidinah.
"Kau berhasil mendidik putrimu dengan baik Wijaya." ucap Cahyo.
"Dan sekarang dia juga sudah menjadi putrimu." sambung Wijaya.
Mereka pun tertawa.
"Sebaiknya Papa cicipi masakan istri Rey." ucap Rey.
Mereka pun mulai untuk makan.
"Enak ... mirip dengan masakan Almarhumah ibunya." ucap Wijaya. Tak terasa ada air mata yang lolos di wajah Wijaya.
"Sudahlah Wijaya, istrimu sudah tenang disana, jangan membuat putriku sedih." ucap Cahyo menenangkan Wijaya.
"Dia putriku Cahyo." ucap Wijaya.
Cahyo pun tertawa, "iya, dia putri kita, sudah jangan bersedih lagi, ayo kita habiskan semua makanan ini"
Wijaya pun tertawa, mereka pun melanjutkan makannya.
"Kamu hari ini ngampus jam berapa sayang?." tanya Rey.
__ADS_1
"Jam delapan Mas." jawab Meidinah.
"Mas antar ya sayang."
Meidinah mengangguk.
"Rey, nanti Papa dan Papi Wijaya akan bertemu dengan Mr. Herz." ucap Cahyo.
Rey sedikit terkejut dengan ucapan Papa nya.
"Dia menghubungi Papi dan meminta ingin bertemu dengan kita." ucap Wijaya.
"Rey juga?." tanya Rey.
"Iya nak, dia juga meminta mu untuk datang." ucap Wijaya.
"Tapi Rey akan menyusul, karena hari ini ada meeting dengan investor."
"Kita akan bertemu di Cafe X, datanglah jika urusan mu sudah slesai nak." ucap Wijaya.
"Iya Pi."
***
"Nanti Mas jemput ya sayang." ucap Rey.
"Iya Mas." Meidinah pun mencium tangan Rey.
"Hati-hati ya sayang." ucap Rey sembari mengecup kening Meidinah.
"Assalamualaikum Mas."
"Wa'alaikumussalam sayang."
Rey pun melakukan mobilnya meninggalkan kampus Meidinah.
Meidinah berjalan menuju ke ruang kelasnya. Dia tidak memperhatikan semua mata yang melihat kearahnya.
Mereka berbisik-bisik tentang Meidinah.
"Hey." sapa Karin dan Zaky.
Oh iya Karin adalah teman sekelas Meidinah, sama seperti Zaky, dia berasal dari Brunei.
Meidinah tersenyum, "ada apa dengan mereka semua?." tanya Meidinah.
"Bukan kah kamu yang membuat mereka jadi seperti itu?." goda Karin.
"Ada apa dengan ku ?."
"Kau pandai sekali berakting Nyonya Gantama." Karin dan Zaky pun tertawa.
Meidinah akhirnya mengerti dengan keanehan teman-teman di kampusnya.
"Ya sudah, sebentar lagi kelas akan di mulai, ayo!" ajak Zaky.
Mereka pun memasuki kelas. Sama seperti sebelumnya, teman sekelas Meidinah juga menatap nya dengan aneh, dan mereka mulai berbisik-bisik.
"Selamat pagi semua" ucap Prof. Ronald.
"Pagi prof." jawab mereka serentak.
"Hei, aku terkejut dengan kehadiran putri tuan Chandra di kelas ini." ucapnya begitu dia melihat Meidinah.
Meidinah hanya menunduk malu, dia benar-benar tidak menyukai identitasnya diketahui oleh orang-orang.
"Bagaimana saya harus memanggil mu ?, Ms. Chandra atau Ms. Gantama?" tanya Profesor itu.
Meidinah hanya diam.
"Panggil saja Ms. Gantama Prof." celetuk Karin yang langsung membuat heboh ruangan kelas.
Meidinah semakin menunduk, dia benar-benar malu dibuat oleh temannya itu.
"Baiklah, kalau begitu kita semua akan memanggilnya Ms. Gantama."
Ruangan kelas pun riuh, terutama para gadis, mimpi mereka untuk bersanding dengan Rey telah sirna.
Meidinah tidak tau, bahwa berita mengenai dirinya, menjadi headline di koran-koran bahkan juga di internet. Berita mengenai dirinya yang merupakan istri Reyandra Gantama dan juga putri dari Wijaya Chandra menjadi hot news. Tidak hanya di kalangan pemuda dan pemudi tapi juga di semua kalangan.
Tentu saja karena dilihat dari latar belakang nya, berita tentang Meidinah pasti akan menjadi hot news sampai berbulan-bulan.
Banyak para gadis yang iri dengan Meidinah karena menjadi istri Rey, banyak pula yang memuji bahwa mereka pasangan yang serasi.
Berbeda dengan Meidinah yang di sanjung-sanjung, Cassandra malah mendapat banyak cibiran dari para netizen, dia di cap sebagai pelakor yang tidak tau diri. Karena berani membandingkan dirinya dengan Meidinah. Mereka semua mencibir kebodohan Cassandra, bagaimana bisa wanita itu tidak tau diri dengan posisi nya.
__ADS_1