Aku Dan Masa Kelam Ku

Aku Dan Masa Kelam Ku
18. Penyesalan Rian


__ADS_3

Berbeda dengan Meidinah yang sudah meninggalkan cafe, Rian masih diam tanpa kata. Rian tidak menyangka bahwa semuanya bisa sampai seperti ini, padahal awalnya dia hanya ingin main main dengan Rasya, dan tidak sedikit pun berkeinginan untuk meninggalkan Meidinah, tapi entah mengapa semua jadj seperti ini. Ingatannya pun kembali mengingat pengakuan Fariz dan Rasya.


Flashback On


Wajah Rian merah padam karena menahan amarahnya, dia benar benar tidak menyangka bahwa Fariz sampai hati melakukan hal itu kepadanya. Sesamapainya di rumah Rasya, Rian mengetuk pintu rumah Rasya dengan penuh emosi.


Tok tok tok tok tok


Art Rasya langsung segera membukakan pintu.


"Eh den Rian, ma..." belum slesai art itu bicara Rian langsung masuk ke dalam rumah, dia mencari dimana keberadaan Rasya, dia menyapu setiap sudut rumah dengan matanya, dan dia mendengar suara orang yang sedang bersenda gurau di ruang tamu.


Rian melangkah dengan cepat ke arah ruang tamu. Art itu hanya menggeleng kan kepala.


"Oh ternyata kalian seakrab ini ?" ucap Rian dengan penuh intimidasi.


Fariz dan Rasya gelagapan tak menentu, mengapa Rian bisa ada disini, mereka saling melempar pandangan kaget, seperti pacar yang kepergok selingkuh, seperti itu lah saat ini keadaan mereka.


"Kenapa diam ?, bukan kah tadi kalian bersenda gurau ?" tanya Rian dengan kesal.


Wajah Rian memerah, menahan emosinya.


Fariz dan Rasya semakin bingung, apa yang harus mereka katakan pada Rian.


"Santai bro, kenapa sih ?, aku sama Rasya enggak ada apa apa, beneran, kita cuma berteman" ucap Fariz gelagapan.


Fariz mengira amarah Rian disebabkan karena dia terlalu dekat dengan Rasya.


Rian menyinggungkan senyumnya," enggak usah basa basi Riz, aku kecewa sama kamu".


Fariz bingung harus mengatakan apa pada Rian, dia melihat ke arah Rasya, berusaha meminta bantuan.


"Yan, ini semua enggak seperti yang kamu lihat, aku bisa jelasin semuanya" ucap Rasya.


Rian tertawa, bahkan tawa nya memecah keheningan, suara nya memenuhi seisi rumah.

__ADS_1


Fariz dan Rasya heran mereka saling melempar pandangan, kenapa dia tertawa, kira kira seperti itu lah maksud mereka.


"Kalian sungguh luar biasa, woww drama yang kalian mainkan benar benar luar biasa" ucap Rian sambil menyinggung kan senyumnya.


Fariz dan Rasya semakin bingung tidak karuan mendengar ucapan Rian.


"Apa maksud kamu Yan ?" tanya Rasya.


"Seharusnya aku yang bertanya, apa maksud kalian mempermainkan perasaan ku ?" ucap Rian dengan penuh penekanan disetiap kata.


Duarrrrrrrrrr Fariz dan Rasya seperti tersambar petir di siang bolong.


"A aa aapa maksud kamu yan" tanya Rasya gelagapan.


"Ceh, kamu masih bertanya maksud ?, bukan kah kamu sendiri tau apa maksud mu mendekati aku ?" tanya Rian.


Rasya diam membeku mendengar ucapan Rian.


Fariz dan Rasya saling melempar pandangan, apa Rian sudah tau yang sebenarnya, kira kira seperti itu makna tatapan mereka.


"Sorry Yan, aku bener bener minta maaf sama kamu, aku terlalu egois" ucap Fariz penuh dengan penyesalan.


"Aku cukup kecewa sama kamu Riz, kamu temen aku, tapi kamu sanggup menghancurkan aku cuma karena ego mu, aku enggak nyangka, ternyata persahabatan kita tuh enggak ada harganya di mata kamu"


Fariz tertunduk malu, Rian benar dengan Fariz berbuat seperti ini, itu sama saja dia tidak menghargai persahabatan nya dengan Rian.


"Sorry Yan, ini memang salah ku, aku enggak berpikir tentang persahabatan kita, hati ku benar benar ditutupi rasa iri dan dengki pada mu".


Rian memijit mijit kening nya, kepala nya terasa sakit, karena sejak tadi dia terus menahan amarahnya.


"Yan, maafin aku, aku dibutakan oleh cinta, Fariz cuma ngebantu aku buat dapetin kamu, maaf Yan" ucap Rasya dia menangis sesenggukan.


"Maaf kamu bener bener udah enggak berlaku Sya, semua udah hancur, hubungan aku dengan Mei juga udah enggak bisa diperbaiki" Rian menghela nafas, "bodohnya aku, kenapa waktu itu aku nurutin semua kata kata kamu, kamu tau kan Sya, aku sangat Mencintai Meidinah"


Tangis Rasya semakin menjadi, mendengar ucapan Rian yang mengatakan bahwa dia sangat mencintai Meidinah. Sementara Fariz hanya diam tanpa kata, apa yang bisa dia katakan, toh semua memang salah nya.

__ADS_1


Rian menarik nafas kasar, "aku juga tidak bisa menyalahkan kalian sepenuhnya, karena aku juga salah, tidak seharusnya aku mudah goyah hanya karena wanita yang baru ku kenal"


"Sorry Yan, aku juga menyesal udah buat hubungan kamu sama Meidinah hancur, egoku bener bener udah buat aku lupa daratan Yan, aku enggak mikirin akibat dari perbuatan ku" ucap Fariz, air matanya menetes, mengingat setelah ini persahabatan nya dengan Rian pasti benar benar hancur.


"Maaf kalian udah enggak guna, hubungan ku dengan Mei udah enggak ada harapan" Rian tersenyum, senyum yang penuh dengan luka, luka karena dikhianati sahabat nya dan luka karena kekasih yang begitu dicintai sudah tidak bisa dimiliki nya.


"Kamu hebat ya Riz, rencana kamu benar benar diluar dugaan ku, aku bener bener enggak nyangka kalian bisa mempersiapkan semuanya dengan begitu sempurna. Bahkan pertemuan ku dengan Rasya juga bagian dari permainan kalian, ceh,, luar biasa, hidup ku benar benar dipermainkan oleh sahabat ku sendiri, sahabat yang sudah kuanggap saudara ternyata menikam ku tanpa ampun" air mata Rian jatuh membasahi pipinya saat dia mengatakan semua itu.


"Ceh lucunya lagi, kau sengaja mengajak ku bertemu dengan gebetan mu, ternyata maksudmu sebenernya adalah mempertemukan ku dengan Rasya. Kamu bahkan bertanya siapa perempuan yang bersama ku di bandara, padahal kamu tau itu Rasya. Bukan kah begitu Riz ?, hidup ku benar benar kau permainkan Riz".


Fariz diam membeku, dia tidak tau harus mengatakan apa, karena memang semua kesalahan nya, dia yang begitu bodoh menuruti egonya. Dia mengutuki dirinya didalam hati.


"Sorry Yan, Sorry" ucap Fariz lirih, dia bahkan bersimpu di kaki Rian untuk meminta maaf, dia benar benar tidak bisa membayangkan bahwa persahabatan nya dengan Rian akan hancur setelah ini.


"Aku enggak pantes kamu sembah Riz, aku bukan Tuhan, kalau kamu mau minta ampun, dan benar benar ingin meminta maaf, minta lah pada Allah Riz".


Rian pun pergi meninggalkan rumah Rasya tanpa mempedulikan Rasya yang dari tadi menangis sesenggukan.


Flashback Off


Rian mengeraskan rahangnya mengingat semua itu, dia pun beranjak meninggalkan cafe, dan hendak membayar pesanan mereka tadi yang ternyata sudah di bayar oleh Meidinah, atau lebih tepat nya pesanan itu gratis, karena cafe itu adalah milik Wijaya. Tentu saja semua pegawai cafe tahu bahwa Meidinah adalah anak Wijaya Chandra.


Rian pun pergi meninggalkan cafe, pikiran nya tidak fokus, dia benar benar menyesali tindakannya dan semua perbuatannya, tapi semua sudah terjadi, akibat nila setitik rusak susu sebelanga, begitu lah saat ini yang terjadi pada Rian.


***


Maaf ya gaes kalau banyak typo


 


Bersambung


Tidak ada rasa bersalah yang dapat mengubah masa lalu dan Tidak ada kekhawatiran yang dapat mengubah masa depan. – Umar bin Khattab


 

__ADS_1


__ADS_2