
Di kamar Meidinah
**
"Apa maksud om Wijaya tadi bilang suami kamu ?" tanya Laras.
"Aku akan menikah bulan depan".
Laras terkejut mendengar nya.
"Seriusan Mei ?, nikah ?, cepat amat sih perasaan baru juga putus 5 bulan yang lalu kok udah mau nikah aja sih ?".
"Serius Ras, aku di jodohin sama anak temennya papa".
"Lah terus si Rey gimana ?, kasian amat tuh anak".
"Kenapa kasian ?, kan dia calon suami aku "
Laras semakin terkejut, mulutnya menganga mendengar ucapan Meidinah.
"What ??????, hahahahaha emang jodoh enggak kemana ya, kan udah aku bilang kalian jodoh".
"Seneng banget kamu ya, aku yang mau nikah kamu yang bahagia".
"Gimana enggak seneng, sahabat aku bakalan nikah, sama laki laki yang udah mencintai dia berthun tahun, udah bisa di pastiin kamu akan bahagia Mei".
"Aamiin"
"Oh iya, kamu mau cerita apa ?"
Meidinah menarik nafas panjang, "tadi aku ketemu Rian".
"Trus ???"
"Dia minta aku untuk nerima dia lagi, kan memulai semuanya dari awal".
"Trus kamu mau ?".
"Ya enggak lah, sekalipun aku belum dijodohin sama papa, aku juga enggak bakalan mau".
"Good,, anak pintar, enak aja minta mulai dari awal, di sangka SPBU kali, jadi cowok kok plin plan".
"Walaupun sebenernya masih ada dia disini Ras" Meidinah menyentuh dada sebelah kirinya.
"Itu wajar Mei, karena emang semua salah dia, bisa dibilang ini ya kamu kan enggak ada niat buat ninggalin dia, enggak ada niat untuk ngelupain, jadi wajar kalau rasa itu masih ada Mei, karena kamu teramat mencintai dia".
"Aku takut merasa bersalah sama Rey, aku enggak mau jadiin dia plester luka ku Ras".
"Kamu harus yakin, kamu bisa memulai sesuatu yang baru dengan Rey, udah mulai sekarang jangan mikirin laki laki manapun, inget udah mau nikah" ucap Laras.
__ADS_1
"Iya kamu bener. Kamu udah shalat ?".
"Lagi libur nih" jawab Laras sambil nyengir.
"Yaudah ayok kita ke mall, aku butuh hiburan nih".
"Gimana sebelum belanja kita nonton dulu, ada film seru nih".
"Yaudah boleh, film apa emang ?".
"Film danur 2, ratingnya sih bagus, cuma enggak tau juga, makanya ayo kita nonton".
"Yaudah ayo gerak, naik mobil kamu aja ya, aku males ngeluarin mobil".
"Ya elah bu, sekali sekali tuh Lamborghini dipake kenapa, ajak nih temen kamu naik mobil begitu, sedih amat ya punya temen jahat" ucap Laras menggoda Meidinah dengan nada suara yang dj buat buat.
Meidinah tertawa, "yaudah deh ayo".
"Nah gitu dong, kan biar pernah" Laras pun tertawa.
"Nyenengin temen kan pahala, ya hitung hitung sebelum aku ke Eropa enggak ada salahnya juga".
Laras memeluk Meidinah, "makasih best aku, mmuahh" Laras mencium pipi Meidinah.
"Apaan sih Ras, geli tau".
Meidinah terdiam, ekspresi wajah nya berubah.
Laras mengutuki dirinya dalam hati, Laras bodoh kenapa juga nyinggung masalah itu, dasar bodoh.
"Maaf, aku enggak maksud buat nyinggung itu, maafin aku ya Mei".
Meidinah tersenyum, dia tidak marah pada Laras karena mengatakan hal itu, hanya saja dia marah pada diri dia sendiri, ucapan Laras seperti tamparan keras bagi Meidinah. Mengapa begitu murah nya dulu dia mau di cium ataupun di peluk oleh Rian, Meidinah menarik nafas panjang. Sudah lah, yang terpenting aku sudah bertaubat dan memohon ampun pada Allah, gumamnya dalam hati.
"Yaudah ayo, entar keburu sore". Ajak Meidinah.
Mereka pun berpamitan kepada Wijaya.
**
Sesaat setelah memasuki mall, Meidinah dan Laras bertemu dengan Rasya, Meidinah berusaha sebisa mungkin untuk bersikap biasa saja di depan Rasya, tapi tidak dengan Laras, karena Laras adalah tipe orang yang suka ceplas ceplos, dia tidak peduli dengan perasaan orang lain, jika memang orang itu salah, maka Laras tidak akan pernah berusaha menutupi kesalahannya dengan pura pura tidak tau, itu sebabnya Laras dan Meidinah bisa berteman begitu lama, karena mereka selalu saling mengingatkan, Laras yang bersikap arogan ketika marah akan membela Meidinah habis habisan jika gadis itu disakiti, begitu juga dengan Meidinah, sikap keibuannya akan selalu membuat Laras menurut dengan apa yang dikatakan oleh Meidinah, karena Laras tau sahabatnya pasti akan selalu mengingatkan dia dalam hal kebaikan.
***
"Haii,, kalian apa kabar" tanya Rasya.
"Alhamdulillah sehat, kakak apa kabar" giliran Meidinah yang bertanya.
"Alhamdulillah baik".
__ADS_1
Berbeda dengan Meidinah yang bersikap biasa saja, Laras justru menunjukkan sikap tidak sukanya dengan Rasya.
Mau sampai kapan kau berpura pura dasar wanita ular, gumam Laras.
"Kenapa Ras?" tanya Rasya.
"Enggak apa apa kok, yaudah ya kak kami duluan" ucap Laras ketus.
"Oh iya, aku juga udah mau pulang" celoteh Rasya yang sama sekali tidak ditanggapi oleh Laras.
Laras langsung menarik tangan Meidinah untuk pergi. Meidinah melempar senyum kepada Rasya.
"Apa sih Ras, enggak boleh kayak gitu, enggak baik" ucap Meidinah.
"Kamu tuh yang enggak boleh begitu, baik boleh Mei, bodoh jangan dong" celetuk Laras yang kesal melihat sahabat nya bersikap biasa saja pada Rasya.
"Siapa yang bodoh sih ?, kamu jangan ngacok deh Ras, trus maksud kamu itu aku harus gimana ?, aku harus balik gitu ngejahatin dia ?, kalau aku begitu, terus apa bedanya aku sama dia ?, kalau aku kayak gitu juga ke dia ngapain aku marah sama dia, enggak ada bedanya dong".
Laras berpikir sejenak, dia memikirkan ucapan Meidinah, benar apa yang di katakan sahabatnya, karena menyimpan dendam justru akan menyakiti diri sendiri.
***
Sampai di gedung bioskop.
Laras langsung memesan tiket sedangkan Meidinah membeli cemilan.
Film akan di mulai setengah jam lagi, tapi mereka memilih untuk masuk ke dalam bioskop, dan menunggu film di mulai.
Tidak lama kemudian, mulai ramai orang yang masuk ke dalam bioskop.
Film pun di mulai.
***
Slesai menonton film mereka pun melanjutkan untuk berbelanja, seperti biasa Meidinah akan langsung melihat dan memilih di butik langganannya, Laras pun mulai mengikuti selera berpakaian Meidinah, dia juga sudah mulai membeli baju baju gamis lengkap dengan hijabnya.
Pegawai butik tersebut sangat menyukai kedatangan Meidinah dan Laras, karena bisa dikatakan mereka adalah pelanggan paling baik yang pernah ada, begitu menurut para pegawai butik tersebut. Tak heran jika Meidinah yang datang mereka semua akan berebut untuk melayaninya.
Mbak Amei adalah panggilan mereka pada Meidinah, awalnya Meidinah menolak dipanggil seperti itu, namun mereka semua mengatakan alasannya karena Meidinah sangat cantik dan juga lemah lembut, mereka mengatakan bahwa Meidinah mirip dengan artis korea.
Slesai memilah dan memilih Meidinah pun menuju kasir untuk membayar total belanjaan nya, tidak lupa juga milik Laras, itu lah kebiasaan Meidinah, dia akan selalu membayar tagihan milik Laras, walaupun Laras sering menolak, Laras merasa tidak enak kalau terus terusan seperti itu, tapi Meidinah tetap kekeh dia yang akan membayarnya, toh Wijaya juga tidak keberatan, lagi pula bukankah mentraktir teman itu berpahala. Begitu lah pemikiran Meidinah, dia juga tidak akan pernah mengeluh berapa pun total tagihannya, toh uang bulanan dari papa nya tidak pernah habis terpakai. Wijaya memberi kartu kredit tanpa limit pada Meidinah, walaupun begitu tagihan kartu kredit Meidinah bisa dikatakan di bawah rata rata tagihan untuk anak konglomerat seperti Meidinah.
Wijaya bahkan tak habis pikir bagaimana sebenarnya pemikiran putrinya itu. Di saat teman teman Wijaya mengeluh tentang anak mereka yang membuat bengkak tagihan kartu kredit, Wijaya hanya diam, apa yang akan dia katakan, mereka mungkin tidak akan percaya bahwa tagihan kartu kredit Meidinah benar benar tidak masuk akal untuk golongan kelas atas.
Bersambung
__ADS_1