
Acara resepsi pun slesai, Meidinah dan Rey pun pamit untuk ke kamar karena Meidinah merasa sangat lelah, dia bahkan belum makan seharian.
Mama dan papa Rey langsung pulang begitu acara resepsi slesai.
Di kamar Meidinah dan Rey saling diam, ini benar benar situasi yang sangat canggung.
"Kamu duluan mandi ya" ucap Rey.
"Mas duluan ya, Mei mau nyari Laras dulu" jawab Meidinah.
"Yaudah kalau gitu" Rey berjalan masuk kedalam kamar mandi.
Meidinah pun segera menyiapkan pakaian untuk Rey, tadi mamanya Rey sudah menyusun pakaian Rey di dalam lemari Meidinah. Meidinah memilih piala berwarna biru dongker, dia rasa itu cocok, setelah slesai menyiapkan pakaian Rey, dia pun langsung turun dan mencari keberadaan Laras, tapi dia tidak menemukannya, apa mungkin dia sudah pulang , gumam Meidinah.
Wijaya menghampiri putrinya "kamu sedang apa sayang ?" tanya Wijaya.
"Mei lagi nyariin Laras pa, papa liat Laras enggak ?".
"Papa enggak liat sayang, mungkin dia sudah pulang".
"Enggak mungkin pa, tadi Laras janji mau nginep disini".
"Ya sudah coba kamu telepon aja dia".
Meidinah tersenyum, "Oh iya pa Mei lupa", mengapa dia tidak kepikiran untuk menelponnya, jadi dia kam tidak perlu capek mondar mandir mencari sahabat nya.
"Ya sudah sayang, jangan lama lama disini kasihan Rey sendirian" Wijaya mencium kening putrinya dan kemudian berlalu pergi.
Meidinah mengangguk, dia mencari dimana handphone nya, karena sejak resepsi dimulai dia tidak memegang handphone nya.
"Ya Rabb, di kamar handphone nya" Meidinah pun segera menuju kamarnya.
Dia membuka pintu kamar dengan hati hati, dia melihat suasana kamar yang sepi, dia pun bernafas lega, ternyata Rey belum slesai mandi, dia segera menuju ke meja riasnya, tempat terakhir dia memainkan handphone nya.
Ceklek...
Suara pintu kamar mandi terbuka, Meidinah pun terkejut, dia langsung membalikkan badannya.
"Astaghfirullah" ucap Meidinah seraya memalingkan wajahnya, dia tidak sengaja melihat Rey yang keluar dari kamar mandi hanya mengenakan handuk yang melilit di pinggangnya, Rey pun terdiam dia juga sama terkejut nya dengan Meidinah.
Meidinah segera keluar dari kamar, "maaf Mas".
Rey tersenyum melihat tingkah istrinya.
Belum sempat Meidinah menlpon Laras, tiba tiba saja Laras sudah muncul di depan Meidinah.
"Mei,, pengantin baru ngapain disini" ledek Laras.
"Kamu kemana aja sih, aku cariin dari tadi juga".
Laras tersenyum, "ngapain nyariin aku, kan udah ada temen tidurnya".
Wajah Meidinah memerah karena malu.
"Apaan sih Ras, kamu bantuin aku bukain nih gaun ya".
"Kenapa enggak minta bantuin Rey aja ?" tanya Laras.
"Aku malu Ras".
"Aku enggak mau ah, kamu minta bantuin Rey aja, bye" Laras tertawa dia pun berlari meninggalkan Meidinah.
"Laras ih" teriak Meidinah.
Tapi sahabatnya itu tidak menggubrisnya.
Meidinah pun tidak punya pilihan lain, selain berusaha membuka gaunnya sendiri.
Dia berjalan dengan lesu menuju kamarnya. Di kamar Rey sedang duduk di sofa sambil memainkan ponselnya.
Rey menatap kearah Meidinah yang masuk dengan wajah lesu. Dia heran mengapa istrinya seperti itu.
Meidinah pun mengambil pakaian di lemari, dia berjalan menuju kamar mandi.
"Sayang kamu kenapa ?" tanya Rey pada Meidinah.
__ADS_1
Meidinah menghentikan langkahnya, sayang ?, rasanya jantungnya benar benar akan pindah dari tempatnya.
"Sayang" panggil Rey lagi, karena Meidinah tidak menjawab pertanyaan nya.
"Enggak kok mas, aku cuma kecapekan aja" jawab Meidinah seraya berjalan ke kamar mandi.
Di dalam kamar mandi Meidinah masih sibuk melepaskan gaun pengantinnya, dia benar-benar kesal dengan Laras, kenapa sahabat nya itu tidak mau membantunya.
Meidinah kesusahan meraih kancing gaun kebayanya yang begitu banyak, tangannya tidak bisa meraih semua kancing kancing itu, dia pun merasa benar-benar frustasi.
Sudah setengah jam Meidinah didalam kamar mandi, Rey pun merasa curiga mengapa sampai selama itu Meidinah di dalam sana.
Rey pun mengetuk pintu kamar mandi.
Tok tok tok
"Sayang kamu enggak kenapa kenapa kan ?" tanya Rey dari balik pintu.
"Iya mas aku enggak kenapa kenapa kok" jawab Meidinah.
Tapi Rey ragu, dia pun mencoba memutar knop pintu kamar mandi yang ternyata tidak dikunci. Rey pun segera masuk dia melihat meidinah berdiri didepan kaca sambil berusaha membuka kancing bajunya, dia pun tidak menyadari kalau Rey sudah berada didalam kamar mandi.
Rey tersenyum, dia segera menghampiri Meidinah dan membantu membuka kan kancing kancing nya.
Meidinah terkejut, "astaghfirullah mas, kok kamu bisa masuk ?" tanya Meidinah gelagapan.
"Bisa lah, pintunya kan enggak kamu kunci" jawab Rey masih sambil membukakan kancing baju Meidinah.
Meidinah lupa, dia memang tidak pernah mengunci pintu kamar mandinya, mengapa dia begitu teledor.
Rey sudah slesai membantu Meidinah membuka kancing bajunya, dia terkesimak melihat bahu Meidinah yang tampak putih dan mulus, dia menelan salivanya.
"Sudah slesai" ucap Rey kemudian dia berjalan keluar dari kamar mandi.
Meidinah masih diam, dia memikirkan pasti Rey sudah melihat bahunya tanpa sehelai kain pun.
Meidinah langsung mengunci pintu kamar mandi dan segera mandi.
Diluar kamar Rey tampak sibuk dengan ponselnya, tapi pikirannya tidak fokus dia terus memikirkan Meidinah, kenapa dia tidak mau meminta bantuan pada nya.
"Mas udah shalat isya ?" tanya Meidinah.
"Belum, mas nunggu kamu" jawab Rey.
"Yaudah ayo"
"Mas mau ambil wudhu terlebih dahulu" Rey pun berjalan ke kamar mandi untuk mengambil wudhu.
Meidinah menyiapkan segala keperluan shalat.
Rey sudah slesai mengambil wudhu.
Mereka pun mengerjakan shalat isya berjamaah, setelah slesai shalat Mei mencium tangan Rey, yang disambut hangat oleh nya, dan dibalas Rey dengan mencium kening Meidinah.
Setelah merapikan perlengkapan shalat, Meidinah duduk di depan meja rias untuk memakai krim malam, sedangkan Rey duduk di ranjang dan sibuk dengan ponselnya.
Meidinah melamun di depan cermin, dia memikirkan apakah harus dia melaksanakan kewajibannya sebagai seorang istri malam ini , karena dia benar benar belum siap, tapi jika Rey meminta maka dia akan tetap melaksanakan nya, karena itu kewajiban seorang istri.
Rey melihat Meidinah yang melamun dia pun beranjak dari tempat duduknya dan mendatangi Meidinah.
"Sayang, ayo tidur kamu pasti lelah kan seharian ini" ucap Rey.
Meidinah tersadar dari lamunan nya, dia pun mengangguk.
Rey berjalan keranjang dan merebahkan tubuhnya, disusul dengan Meidinah.
Pikiran Meidinah benar benar tidak tenang, dia tidak bisa memejamkan matanya, Rey menyadari bahwa Meidinah tidak bisa tidur.
Dia menarik tubuh Meidinah ke dalam pelukannya, tentu saja Meidinah terkejut.
"Mas" ucap Meidinah.
"Sssstttt, tidur lah" ucap Rey, Meidinah hanya mengangguk dan mencoba untuk tidur.
Tapi tetap tidak bisa, dia terus memikirkan kewajibannya sebagai seorang istri, walaupun dia belum siap tapi itu kewajibannya. Rey tau apa yang ada dipikiran Meidinah.
__ADS_1
"Sayang, mas tidak akan memaksa jika kamu belum siap" ucap Rey sambil mencium kepala Meidinah.
"Maaf mas" ucap Meidinah.
Rey tersenyum, dia mengerti dengan perasaan Meidinah, "kamu enggak perlu minta maaf, sudah ayo tidur".
Meidinah merasa lega dengan ucapan Rey, dia benar benar mengerti dengan perasaan nya.
Dia pun tertidur di pelukan Rey sampai pagi.
****
Bik sumi sedang menyiapkan sarapan yang di bantu oleh Melati, tante nya Meidinah.
Keluarga dari pihak ibunya akan kembali hari ini, kalau dari pihak ayahnya mereka sudah kembali ke Amerika subuh tadi.
Meidinah dan Rey turun dan menuju meja makan.
Meidinah melihat Laras yang sedang menata piring di meja, dan menghampirinya.
"Eh manten baru udah bangun" goda Laras pada Meidinah.
Meidinah tersenyum.
Mereka pun sarapan.
****
Rumah pun kembali sunyi, Meidinah tidak ikut mengantar om dan tantenya ke bandara, karena dia masih merasa lelah, hanya Rey dan Wijaya yang mengantar.
Dikamar Meidinah sibuk memperhatikan seisi kamar, banyak sekali kado kado berserakan, dia bingung harus memulai dari mana untuk membukanya.
Dia pun sibuk memilah dan memilih, dia teringat dengan kado Laras, dia segera menuju lemari dan mengambilnya, dia membuka kado itu dengan begitu excited.
"Larassssssss......" teriak Meidinah.
Dia benar benar kesal melihat kado dari teman nya itu, bagaimana tidak kesal, Laras memberi nya banyak sekali lingerie, walaupun tidak bisa di katakan lingerie karena masih tetap sopan, tapi menurut Meidinah itu tetap terlihat sangat begitu seksi. Meidinah mengomel sendiri, 'awas kamu ya Ras' gumam Meidinah.
Tiba tiba Rey masuk kedalam kamar, dia melihat Meidinah duduk di ranjang dengan wajah kesal.
Rey pun mendatangi Meidinah, dia melihat begitu banyak pakaian sejenis lingerie diatas ranjang, Rey berusaha menahan senyumnya.
Rey duduk di sebelah Meidinah, Meidinah terkejut melihat Rey, dia langsung memunguti kado dari Laras dan menyimpannya, Meidinah sangat malu, wajahnya memerah. Rey tersenyum melihat nya, dia jadi semakin gemas melihat tingkah istrinya itu.
"Mas kapan pulang ?, kok Mei enggak denger suara mobil mas" tanya Meidinah dengan gugup.
"Sudah dari tadi, kamu kenapa kesal ?" tanya Rey.
Meidinah menghela nafasnya, dia benar benar malu, pasti Rey sudah melihatnya pikirnya. Bisa bisa Rey salah paham dengan nya.
Rey tersenyum, "pasti karena kado dari Laras kan ?" tanya Rey.
Meidinah mengangguk malu.
Rey tertawa melihat ekspresi Meidinah.
"Kok mas malah ketawak sih, enggak lucu tau" ucap Meidinah.
"Emang enggak lucu sayang, tapi coba lihat ekspresi kamu ini loh yang lucu, udah kayak kepiting rebus" ucap Rey sambil tertawa.
Meidinah manyun, dan beranjak dari duduknya, Rey langsung menarik tangan Meidinah, dan memeluk nya.
Meidinah berusaha melepaskan pelukan Rey, "biarkan seperti ini sebentar saja sayang" ucap Rey, Meidinah diam, tetapi dia tidak membalas pelukan Rey, karena dia masih kesal dengan Rey yang menertawakan nya.
Rey mengangkat dagu Meidinah, mata mereka pun beradu, Meidinah begitu terhipnotis melihat mata Rey, lelaki itu memiliki iris mata berwarna cokelat terang, Meidinah baru menyadarinya sekarang padahal mereka sudah lama berteman.
Rey mulai mendekatkan wajahnya, Meidinah hanya diam, dia masih terus memperhatikan mata Rey. Kemudian dia tersentak ketika Rey menciumnya, Meidinah membulatkan matanya, dia benar benar terkejut. Rey melanjutkan ciumannya karena tidak mendapat penolakan dari Meidinah, istrinya hanya diam, dia tidak tau harus bagaimana.
Rey memperdalam ciumannya, sampai Rey merasakan wajahnya basah karena sesuatu. Meidinah menangis, Rey menghentikan ciumannya, dia benar benar merasa bersalah, dia berpikir bahwa dia telah memaksa Meidinah, padahal kenyataannya Meidinah bukan menangis karena hal itu.
"Maaf sayang kalau mas memaksa mu" ucap Rey dengan penuh rasa bersalah
***
Bersambung
__ADS_1