
Laras telah pulang kerumah nya.
Meidinah termenung si balkon kamarnya, dia terus memikirkan apa yang Laras katakan.
Flashback On
"Ye kamu mah, dulu aja di cium Rian enggak geli"
Flashback Off
Betapa bodohnya dia waktu dulu, mau di perbudak oleh hawa nafsunya sendiri, Meidinah terus hanyut dalam pikiran nya.
Dia terus memikirkan tentang Rey, apakah Rey akan menerima dirinya setelah dia menceritakan masa kelamnya, apakah Rey akan menerima nya karena pernah berciuman dengan laki laki yang bukan mahromnya, apakah dia akan menerima wanita yang pernah di sentuh oleh laki laki lain, apakah dia mau menerima ku setelah mengetahui semua itu.
Andai waktu bisa diputar, aku pasti tidak akan pernah mau mengenal yang namanya pacaran. Dan andaikan waktu bisa putar maka aku akan memilih untuk tidak pernah jatuh hati pada Rian.
***
Ikhlas mungkin itu adalah hal yang harus aku lakukan, ikhlas atas segala sesuatu yang pernah terjadi dalam hidup ku, karena semua bagian dari rencana Allah. Tak pernah ku sangka aku akan berjodoh dengan Rey, cinta pertama ku, andai saja semua ku jaga hanya untuk nya, mungkin tidak akan ada penyesalan seperti saat ini, tidak akan ada rasa bersalah seperti ini, harus kah aku jujur pada Rey tentang semuanya ?, atau ku simpan rapat rapat, tapi bukan kah sebuah hubungan harus didasari pada kejujuran, walaupun fakta kejujuran sangat amat menyakitkan tapi itu akan indah, benar kan ?, kejujuran itu seperti obat, pahit tetapi menyembuhkan penyakit, kejujuran itu pahit tetapi hasilnya akan selalu indah.
***
Tak terasa pernikahan ku dengan Rey hanya tinggal menghitung hari. Begitu cepat semua berlalu, memang begitu bukan ?, waktu tidak pernah menunggu kita.
-----------------------------
Rey baru kembali dari luar negeri . Setelah hari perjodohannya dengan Meidinah, dia mendapat tugas dari papanya untuk menyelesaikan masalah di kantor cabang mereka yang ada di Amerika. Selama hampir tiga minggu di sana, Rey tidak pernah menghubungi Meidinah, karena terlalu sibuk dan juga belum percaya sepenuhnya bahwa dia akan menikah dengan Meidinah. Dia memutuskan untuk mengajak Meidinah bertemu.
Ting
Satu pesan masuk di handphone Meidinah.
Meidinah membaca isi pesan tersebut yang ternyata dari Rey.
📩 Rey
Assalamualaikum Mei, apa kamu ada waktu hari ini ?.
Meidinah tersenyum dan membalas pesan dari Rey
📩 Me
Walaikumsalam Rey, aku ada waktu hari ini, mau ngapain emangnya ?
Rey tersenyum
📩 Rey
Pengen ketemu kamu 🥺🥺
Meidinah terkekeh melihat emot yang dikirim Rey.
📩 Me
Boleh boleh ðŸ¤
Rey pun kegiranga
n
📩Rey
Yaudah sampai ketemu nanti di cafe biasa. Assalamualaikum
📩 Me
Ok, wa'alaikumussalam
Rey bergegas mandi dan segera pergi menuju cafe, tapi langkahnya berhenti ketika seorang wanita paruh baya memanggilnya.
__ADS_1
"Rey, kamu mau kemana sayang ?, baru sampai kok udah mau pergi lagi ?" tanya Ratih mamanya Rey.
"Rey mau ketemu temen ma" jawab Rey sambil tersenyum dan menunjukkan ekspresi bahagia.
"Mau ketemu temen atau mau ketemu calon temen hidup" ledek Ratih.
Rey jadi salah tingkah mendengar ucapan mamanya. Ratih yang melihat tingkah putranya pun terkekeh.
"Em,,,, Rey mau ketemu Meidinah ma" jawab Rey dengan malu malu. Wajahnya sudah seperti kepiting rebus.
"Kamu tuh harus sabar, bentar lagi juga kamu bakalan ketemu sama dia tiap hari, ditemenin tidur malah" goda Ratih pada Rey.
Wajah Rey semakin memerah, Ratih tertawa melihat nya.
"Mama bisa aja deh, Rey malu nih".
"Yaudah sayang, pergi lah dan sampaikan salam mama sama Meidinah ya".
"Iya mah, Rey berangkat ya ma" Rey mencium tangan mamanya dan bergegas pergi, dia sudah tidak sabar ingin melihat wajah Meidinah. Dia begitu merindukan sosok wanita itu.
***
Meidinah sudah menunggu Rey di cafe, tentu saja ditempat duduk favorit nya, percaya atau tidak tapi tempat itu selalu kosong, karena hanya Meidinah yang akan menempatinya, itu bukan permintaan Meidinah, karena tentu saja gadis itu tidak akan meminta hal hal seperti itu, walaupun cafe itu milik papanya, itu adalah inisiatif dari menejer cafe tersebut, yang memerintahkan karyawannya untuk mengosongkan tempat itu, jadi kalau tiba tiba Meidinah datang, tempat duduk itu bisa ditempati oleh nya.
Meidinah menatap ke sebrang cafe, pandangannya tertuju pada anak kecil yang sedang bermain di taman yang berada di sebrang cafe, dia terhanyut melihat tingkah menggemaskan anak berusia lima tahun itu, dia tersenyum manis melihatnya, Rey yang sedari tadi memperhatikan pun ikut tersenyum. Sudah sekitar lima belas menit Rey memperhatikan Meidinah, karena terlalu asik memperhatikan anak kecil itu, Meidinah tidak menyadari kedatangan Rey, dan Rey juga tidak mengganggu Meidinah, dia membiarkan Meidinah terus memperhatikan anak itu. Rey terus berdiri memperhatikan Meidinah, sampai pelayan cafe menegurnya, untuk mempersilahkan duduk.
"Maaf tuan, silahkan duduk" ucap pelayan wanita itu dengan senyum yang mengembang.
Meidinah yang mendengar itu pun langsung memalingkan pandangan nya, dan dia terkejut ternyata itu Rey.
Rey tersenyum pada Meidinah yang dibalas senyum juga oleh Meidinah.
"Kamu udah lama berdiri situ ?".
"Cukup lama untuk melihat pemandangan yang luar biasa" Rey tersenyum mengucapkan nya.
"Kamu kenapa belum pesan minum ?" tanya Rey.
"Nunggu kamu" kemudia Meidinah tersenyum.
"Yaudah kita pesan sekarang" Rey memanggil pelayan dan memesan minuman, "kamu mau makan apa ?" tanya Rey.
"Nanti aja deh makan nya".
"Baiklah".
Suasana menjadi canggung, ini pertama kalinya Meidinah bertemu dengan Rey yang menyandang status calon suami nya.
"Em,,, maaf kemarin kemarin aku enggak ada ngubungi kamu"ucap Rey.
Meidinah tersenyum, "enggak apa apa Rey"
"Kemarin aku sibuk ngurusin masalah di kantor cabang yang berada di Amerika, dan baru kembali pagi ini" jelas Rey.
"Iya Rey, aku ngerti" ucap Meidinah yang diiringi dengan senyum manis nya.
Pelayan datang mengantarkan pesanan mereka.
"Silahkan dinikmati" ucap pelayan itu.
"Terima kasih" balas Meidinah.
Seketika suana kembali hening dan canggung, mereka tidak pernah berada di posisi seperti saat ini, padahal mereka biasa bertemu berdua, tetapi itu sebelum mereka dijodohkan, berbeda dengan saat ini.
"Gimana dengan berkas berkas S2 kamu ?" tanya Rey untuk memecah keheningan.
"Sudah rampung semua, tinggal menunggu keberangkatan aja" jawab Meidinah.
"Em,,, apa tidak ada yang ingin kamu tanyakan padaku ?" tanya Rey, karena sedari tadi dia melihat wajah Meidinah seperti ada yang ingin dia tanyakan.
__ADS_1
"Em,,, apa nanti setelah kita menikah aku masih boleh sering sering mengunjungi papa ?" tanya Meidinah ragu ragu.
Rey tersenyum, "tentu saja tidak..." Rey sengaja menggantung ucapannya, dia melihat wajah Meidinah yang menunjukkan raut kecewa, Rey tersenyum, " kalau kau pergi sendiri" lanjut Rey.
Meidinah masih berusaha mencerna ucapan Rey, tak lama dia tersenyum manis,"terima kasih".
Rey tersenyum, "karena setelah kita menikah kemana pun kau akan pergi, aku akan selalu menemanimu, kau tidak boleh pergi sendiri".
Meidinah tersenyum, "lalu bagaimana dengan pekerjaan mu ?".
"Aku kan seorang Presdir, sekaligus pemilik perusahaan, jadi aku bisa bebas untuk cuti, karena istri itu lebih utama" ucap Rey sambil tertawa.
Meidinah tersenyum malu mendengarnya.
Obrolan mereka pun mulai berlanjut, Meidinah mengatakan semua rencananya ketika tinggal di Eropa nanti, begitu juga dengan Rey, kecanggungan diantara mereka sudah mulai hilang. Sesekali mereka juga tertawa lepas.
Dan lagi lagi tanpa disadari ada sepasang mata yang memperhatikan mereka.
Rian, ya itu Rian yang sedari tadi disana, sebenarnya dia ingin beranjak pergi tetapi ketika melihat Meidinah disana dia mengurungkan niatnya, dia ingin mendatangi Meidinah, dan menyapanya, tetapi langkahnya terhenti ketika Rey masuk ke dalam cafe dan menuju ke tempat Meidinah duduk. Rian pun kembali duduk di mejanya, dan terus berada disana sampai Meidinah dan Rey pergi. Kepalanya dipenuhi dengan berbagai pertanyaan.
Menikah ?., istri ?., apa maksud semua ini, begitu lah kira kira isi kepala Rian saat ini.
Dia bergegas pergi dari cafe, dia berniat ingin bertemu dengan Laras, karena hanya Laras yang bisa menjawab semua pertanyaan di kepalanya saat ini.
Rian mencoba menghubungi Laras, tetapi nomornya sedang tidak aktif, dia pun memutuskan untuk ke kampus, siapa tau Laras masih di kampus, pikir nya.
Sesampainya di kampus Rian langsung mencari Laras di ruangan Pak Rasyid salah satu dosen di kampus mereka dan sekaligus ayahnya Laras, dan benar saja dia menemukan Laras disana.
Rian mengetuk pintu dan masuk ke dalam ruangan.
"Loh Rian kamu ada perlu apa datang kesini ?" tanya Laras.
"Ada yang mau aku tanya sama kamu, bisa enggak kita cari tempat lain?" tanya Rian.
"Udah disini aja, lagian Ayah ku lagi ada kelas, jadi kita bisa ngobrol disini aja" ucap Laras.
Rey pun menurut dan duduk di sofa.
"Mau tanya apa ?" ucap Laras.
"Apa hubungan Meidinah dengan Rey ?" tanya Rian dengan tatapan menyelidik.
"Kan kamu tau sendiri, kami kan sahabatan udah lama", Laras tidak mungkin mengatakan pada Rian bahwa mereka akan menikah, bukan takut Meidinah akan marah, hanya saja rasanya tidak pantas kalau dia yang mengatakan.
"Aku tau itu Ras, maksud aku kenapa mereka sering bertemu berdua ?"
"Biasa kali Yan ketemu berdua, si Mei juga sering kali ketemu Fariz berdua" jawab Laras dengan santai.
"Bukan gitu Ras, maksud aku,,, em aku tadi denger mereka membahas masalah menikah, dan Rey juga bilang istri".
Laras diam, ternyata Rian sudah tau, ya sudah dia akan mengatakan yang sebenarnya saja.
"Iya mereka mau menikah" ucap Laras.
Rian menatap dengan tatapan bingung.
"Mei sama Rey mau menikah Yan, minggu depan", jelas Laras .
Rian masih tidak percaya dengan apa yang di katakan Laras. Minggu depan ?, kenapa begitu cepat ada apa sebenarnya, aku harus menanyakannya pada Meidinah, gumam Rian dalam hati,
Bersambung
Kamu mesti meyakinkan hati bahwa apa yang Allah telah tetapkan adalah yang paling sesuai dan paling bermanfaat untuk kamu. \- Imam Al\-Ghazali
__ADS_1