
Rey menoleh kearah wanita yang memanggil nya.
"Cass" sahut Rey, "Kamu sedang apa disini ?" tanya Rey.
"Justru seharusnya aku yang bertanya padamu sedang apa kau dilingkungan rumah ku?" jawab Cassandra dengan senyum.
"Oh benarkah ?, aku sedang berjalan-jalan, udara pagi dan sore hari disini sangat sejuk".
"Mengapa kau bisa sampai kesini ?".
"Aku membeli rumah didaerah ini".
"Rumah ?" tanya Cassandra dengan heran.
"Iya, bukan kah aku sudah mengatakannya bahwa mungkin kami akan menetap disini" jelas Rey.
"Oh my God, sorry i'm forget" ucap Cassandra sambil menepuk jidat nya.
"It's okay Cass".
Perbincangan mereka pun berlanjut, sesekali terlihat senyum dan juga tawa diwajah mereka.
Rey melirik arlojinya, sudah hampir maghrib, dia harus segera kembali kerumah.
"Ok..seperti nya aku haru segera pulang" ucap Rey.
"Ya kau benar, kita sudah terlalu lama mengobrol" ucap Cassandra dengan tertawa.
"Baiklah, sampai jumpa lagi".
"Yeah", Cassandra tersenyum menatap kepergian Rey, ternyata dia tinggal dekat dengan ku, gumamnya.
***
Meidinah masih diam dibalkon rumah mereka, pandangannya terus menyusuri bagian kota yang begitu indah sejauh mata memandang.
Rey masuk ke delam rumah, dia tidak mendapati istrinya, dia pun mencarinya ke depur, juga tidak ada, mungkin dia di kamar, cuma Rey. Dia pun bergegas menuju kamar, dan benar saja Meidinah disana, dia berdiri dipinggir balkon menikmati semilir angin di senja hari.
"Sayang, udah mau maghrib, kenapa masih disitu ?" ucap Rey.
Meidinah menoleh sekilas kearah Rey, "kamu juga udah mau maghrib baru balik" jawabnya dengan datar.
Rey menautkan kedua alisnya, ada apa ini, kenapa situasinya semakin rumit, batin Rey.
Rey menarik nafas panjang, dia berjalan kearah Meidinah, Rey memeluk istrinya dari belakang, Meidinah hanya diam, dia tidak menolak ataupun merespon.
Rey menyusuri setiap sudut kota yang dapat dilihatnya dari balkon rumahnya, semua terlihat sangat jelas dari sini, batin Rey.
Dia pun mengikuti arah istrinya memandang, ternyata Meidinah sedari tadi melihat kearah Rey dan Cassandra mengobrol tadi, bahkan semua sangat terlihat jelas dari atas sini.
Rey menciumi pipi istrinya tak henti henti, membuat Meidinah sedikit kesal.
"Apa sih mas ?" ucap Meidinah dengan kesal.
"Kamu jelek banget kalau lagi ngambek" goda Rey pada istrinya.
"Jelas lah, kan cantikan dia" ketus Meidinah.
Rey mengerutkan keningnya mendengar ucapan Meidinah, tidak lama dia pun tersenyum.
"Kamu lagi cemburu ya ?, manis banget sih istri mas kalau lagi cemburu" goda Rey.
Meidinah menatap Rey sekilas kemudian mengalihkan pandangannya.
"Mas jadi gemes loh lihat kamu cemburu gini, pengen mas gigit" ucap Rey dengan terkekeh.
Meidinah menatap Rey dengan tajam.
"Dia Cassandra, temen mas waktu mas kuliah ngambil gelar doktor".
Rey merupakan salah satu dari anak anak yang diberi keistimewaan oleh Tuhan, dia mmsudah menyelesaikan pendidikan nya sampai ke bangku sekolah menengah atas pada usia 15 tahun dan dia mendapatkan gelar doktor pada usia 20 tahun, dia menyandang gelar doktor termuda di salah satu universitas di jerman. Dia kembali ke Indonesia untuk mengambil manajemen bisnis di kampus yang sama dengan Meidinah. Dia melakukan itu hanya untuk bisa bertemu dengan gadis itu.
"Cantik ya dia" ucap Meidinah.
"Siapa ?" tanya Rey bingung.
"Wanita itu" Meidinah menunjuk kearah Cassandra yang sedang duduk membelakangi merek.
Rey semakin melebarkan senyumnya, ide jahil pun muncul di kepalanya, "dia memang sangat cantik" ucap Rey sambil menahan senyumnya.
Meidinah mendengus kesal, sepertinya dia benar-benar dibakar oleh api cemburu.
__ADS_1
Rey terkekeh "cantikan kamu loh sayang, enggak akan ada yang bisa melebihi kecantikan kamu di mata mas" ucap Rey sambil mengecup kening istrinya.
Meidinah terlihat menahan senyumnya.
"Jadi ini yang buat kamu ngediemin mas dari tadi ?" tanya Rey.
"Hmm" jawab Meidinah.
"Sayang, enggak akan pernah ada yang bisa gantikan kamu di hati mas, jadi jangan pernah berpikir macam-macam" ucap Rey sambil mengelus kepala istrinya.
Meidinah mengangguk.
"Kamu tau enggak ?, rasanya mas bener-bener mau mati tau enggak sih kalau kamu diemin mas kayak gini"
"Mas enggak boleh ngomong gitu, memangnya mas pengen mati ?".
"Kamu itu hidup dan matinya mas, mas bener-bener enggak bisa kalau kamu tiba-tiba diemin mas kayak tadi" ucap Rey.
"Hmm" jawab Meidinah.
"Kamu harus janji sama mas, apapun kesalahan mas kamu enggak boleh diemin mas kayak tadi, kamu harus bilang ke mas apa salah mas, jadi mas bisa introspeksi diri sayang".
"Iya mas, Mei janji"
Rey tersenyum dan memeluk istrinya.
***
Meidinah sudah sibuk memasak sejak subuh, karena hari ini Rey mulai masuk kantor.
Slesai menata makanan di meja, Meidinah pun kembali ke kamar untuk menyiapkan segala keperluan suaminya.
Meidinah memilihkan setelan jas berwarna biru dongker, entah lah dia begitu suka melihat suaminya memakai warna dongker.
Rey keluar dari kamar mandi, dia melihat istrinya sedang membereskan tempat tidur.
"Sayang, apa kita perlu pembantu rumah tangga ?" tanya Rey.
"Enggak perlu mas, Mei bisa mengerjakan semua sendiri" jawab Meidinah.
"Tapi kan kamu juga akan kuliah sayang, mas enggak mau kalau kamu kelelahan".
Rey mendengus, "yaudah kalau gitu, tapi nanti kalau kamu kelelahan, mas akan cari asisten rumah tangga tanpa persetujuan kamu".
"Iya mas, sejak kapan suami Mei jadi bawel begini ya" ucap Meidinah dengan senyum manisnya.
Rey pun sudah slesai mengenakan pakaiannya, Meidinah menghampirinya untuk memakaikan dasi.
"Mas nunduk dikit dong, Mei enggak sampe" ucap Meidinah.
Rey dibuat gemas dengan istrinya itu, dia pun langsung mengangkat Meidinah duduk diatas meja rias, "sekarang sampe kan sayang ?" tanya Rey.
Meidinah tersenyum malu, dia masih saja malu malu, batin Rey.
"Sudah slesai, ayo sarapan mas" ajak Meidinah.
Rey pun menggendong Meidinah sampai ke meja makan.
"Mas tururnin dong Mei bisa jalan sendiri" protes Meidinah.
Rey hanya tersenyum dan terus menggendong Meidinah sampai ke meja makan.
Slesai sarapan, Rey berpamitan pada istrinya.
"Sayang, mas berangkat ke kantor ya, kamu baik baik dirumah, kalau ada apa-apa telpon mas" ucap Rey.
"Iya mas" Meidinah pun mencium tangan Rey, dan Rey tak lupa menciumi semua bagian wajah Meidinah.
Meidinah tersenyum malu dengan perlakuan suaminya.
"Mas pergi ya, Assalamualaikum sayang".
"Waalaikumsalam mas, hati hati".
Meidinah pun masuk kembali kedalam rumah. Dia mulai membereskan meja makan, dan juga mencuci piring. Setelah semua slesai dia pun menuju kamar.
Meidinah pun merapikan meja kerja Rey, dia melihat handphone Rey yang tertinggal.
"Handphone mas Rey ketinggalan, gimana aku mau nelpon dia coba" gumam Meidinah.
Dia pun berniat mengantarkan handphone Rey ke kantor nya, sekalian membawakan makan siang untuk Rey.
__ADS_1
"Tapi dimana alamat nya ya" cuman Meidinah lagi, dia pun berpikir "oh iya kartu nama mas Rey" dia pun langsung mencari kartu nama Rey dan dia menemukannya di laci meja kerja Rey. "Masakin apa ya buat mas Rey" cuman Meidinah, "diluar udaranya sejuk, apa aku masakin sup, masa sup lagi sih !, emm....masakin udang saus padang enak kali ya, iya deh masakin itu aja, sama semur daging enak kali ya" dia pun langsung menyiapkan semua bahan bahan yang akan dia masak, dia mengambil udang dari kulkas dan membersihkan nya, dia terlebih dahulu memasak semur daging, karena memasak daging pasti memakan waktu yang lama.
Sambil menunggu semur dagingnya matang, Meidinah pun mulai menyiapkan bumbu untuk memasak udang saus padang.
Dia mencari daun bawang didalam kulkas tapi tidak menemukannya, pasti aku lupa beli, gumam Meidinah.
Setelah lebih dari 2 jam Meidinah menyibukkan diri di dapur, akhirnya dia slesai juga memasak, dia pun langsung mandi dan bersiap-siap.
Dia memilih mengenakan stelan baju gamis berwarna merah maroon dengan perpaduan coksu, bermotif bunga bunga pada bagian yang berwarna coksu, dan tidak bermotif pada warna maroon, membuat dia tampak begitu anggun dan cantik.
Dia pun menyiapkan masakan yang akan dia bawa ke kantor Rey, tidak lupa dia memasukkan handphone nya dan juga handphone Rey ke dalam tas.
Dia mengunci semua pintu dan bergegas mencari taxi, tidak berapa lama dia pun mendapatkan taxi, dia pun memberi arahan kepada supir taxi untuk mebgantarkannya ke alamat kantor Rey.
Di perjalannan supir taxi itu terus menatap kearah Meidinah, Meidinah yang ditatap seperti itu pun merasa sangat risih.
"Maaf.. Apa ada masalah ?" tanya Meidinah.
"No, nothing" jawab supir taxi itu.
"So, what are you looking ?" tanya Meidinah.
"Saya baru kali ini mengantarkan seorang wanita berhijab seperti mu, apa kau bekerja disana ?" tanya supir taxi itu.
"Tidak" jawab Meidinah.
"Jadi ada keperluan apa kau kesana ?".
"Saya mau mengantarkan makan siang untuk suami saya" jawab Meidinah.
"Suami anda bekerja disana ?".
"Iya, suami saya bekerja disana, dan pagi ini dia meninggalkan handphone nya dirumah, oleh sebab itu saya mengantarkannya" jawab Meidinah, seakan akan dia tau apalagi yang akan ditanya oleh supir itu.
"Siapa nama suami mu ?".
"Reyandra Gantama" jawab Meidinah
Supir taxi tersebut pun membulatkan kedua matanya, "are you sure madam ?".
"I'm sure, why ?" tanya Meidinah dengan mengerutkan dahinya.
"Tidak ada yang tahu jika ternyata pemilik Gantama's Crop sudah menikah. Pasti akan banyak hati para gadis yang dipatahkan jika mengetahui dia sudah menikah. Kalian pasangan yang serasi, kau beruntung memiliki suami seorang Reyandara Gantama nyonya".
Meidinah heran, kenapa supir taxi ini mengatakan hal itu, "apa anda mengenal suami saya tuan ?" tanya Meidinah.
Supir taxi itu tersenyum "siapa yang tidak mengenal suami anda nyonya, semua orang di kota ini mengenal nya, dia pengusaha muda yang sukses dan juga dermawan".
Meidinah semakin tidak mengerti.
"Suami mu orang yang baik nyonya, dia mendirikan banyak sekali sekolah dan juga panti jompo, dia juga menjadi donatur beberapa yayasan panti asuhan".
Meidinah terkejut mendengarnya, dia tidak pernah tau bahwa Rey orang yang begitu dermawan, "lalu tuan ?" tanya Meidinah, dia semakin penasaran bagaimana orang lain menilai suaminya.
"Semua orang mengenalnya karena siapa yang tidak tahu pemilik dari Gantama's Crop"
Meidinah pun tersenyum, "seperti nya saya benar benar beruntung" ucap Meidinah.
Supit taxi itu pun tersenyum, "dan saya beruntung bisa mengantar istri dari pemilik Gantama's Crop".
Suasana pun hening, tiba tiba taxi itu berhenti didepan sebuah gedung pencakar langit.
"Kita sudah sampai nyonya" ucap supir taxi itu.
"Baiklah, terimakasih tuan" ucap Meidinah sambil memberi beberapa lembar uang.
Supir taxi itu terkejut melihat uang yang diterimanya "Ini terlalu banyak nyonya, aku tidak bisa mengambilnya".
Meidinah tersenyum, "itu untuk putri mu tuan, dia sangat lucu dan menggemaskan belikan lah mainan untuk nya".
Supir taxi itu pun tersenyum dan menerima uang itu "terimakasih nyonya".
Taxi itu pun pergi, Meidinah pun melangkah memasuki area gedung.
****
Bersambung
Maaf ya readers kalau banyak typonya.
Like dan komennya dong jangan lupa 😁😁😁
__ADS_1