
Di kampus Meidinah berpapasan dengan Rey.
Rey yang melihat penampilan Meidinah hari ini sangat terkejut dan juga kagum.
" Assalamualaikum ukhti" ucap Rey dengan nada sedikit meledek.
" Wa'alaikumsalam akhi" jawab Meidinah tak mau kalah.
" Apaan sih kalian, akhi ukhti akhi ukhti " sungut Laras sambil tertawa.
" Apaan sih Ras" sahut Rey, "Mei kamu hari ini bener bener cantik, Maa Sya Allah sekali kamu hari ini, aku sampai terheran heran" ucap Rey dengan tersenyum.
Meidinah tersipu malu, pipinya memerah, " apaan sih Rey, biasa aja kali".
" Tapi kamu hari ini bener bener buat pangling".
" Udah ya mujinya, aku sama Meidinah mau ke perpus, dah" sahut Laras.
Rey hanya tersenyum.
Mereka pun pergi meninggalkan Rey yang masih terus menatap punggung Meidinah, kamu bener bener buat aku makin jatuh cinta sama kamu Mei, ucap Rey dalam hati.
Rey sudah lama menyimpan rasa pada Meidinah, tentu saja Meidinah tidak tau, Rey tidak pernah mengungkapkan isi hatinya, karena dia tidak mau, persahabatan nya dengan Meidinah menjadi rusak, dia hanya bisa memendam rasa, walaupun rasa itu kian bertambah, Rey akan tetap berusaha bersikap biasa saja terhadap Meidinah.
Sama seperti yang lainnya, Rey juga tidak tau latar belakang Meidinah yang ternyata anak konglomerat, karena gadis itu begitu sederhana dan bersahaja, dia juga tidak menaiki mobil mahal, dia hanya menggunakan mobil nissan Juke dalam kesehariannya. Jadi siapa yang menyangka kalau ternyata dia anak konglomerat.
--------------------
Di perpustakaan mereka bertemu dengan Rian yang sedang membaca buku di salah satu meja.
" Mei itu si Rian" bisik Laras sambil menunjuk ke arah Rian.
Meidinah hanya tersenyum.
Rian yang menyadari kedatangan Meidinah langsung beranjak menghampiri Meidinah.
Dia menatap kekasihnya dari atas sampai bawah, cantik sekali dia hari ini, begitu adem liat dia berpenampilan seperti ini, ucap Rian dalam hati.
" Sayang, kamu kemarin kok enggak ngasih kabar kalau udah pulang kerumah ?" tanya Rian pada Meidinah.
" Iya, maaf ya kemarin sampai dirumah aku ketiduran jadi enggak ngasih kabar", jawab Meidinah berbohong, dia kecewa, bukan kah seharusnya Rian menghubungi nya, kenapa harus aku yang memberinya kabar.
__ADS_1
"Yaudah enggak apa apa, kamu ngapain kesini ?, bukannya udah kelar ya ?, tanya Rian.
Laras yang memperhatikan mereka menatap dengan wajah kesal dia langsung menyambar pertanyaan Rian.
" Meidinah mau sidang meja hijau minggu depan, jadi dia cari bahan buat dipelajari" jawab Laras dengan kesal, " udah ayok Mei, cepetan, kan kita habis dari sini mau ketemu sama doping kamu lagi", Laras berjalan sambil menarik tangan sahabat nya.
Rian hanya terdiam, tidak mengatakan apa apa lagi. Kenapa Meidinah tidak memberi tahunya kalau minggu depan dia akan sidang, batin Rian.
Fariz yang tiba tiba nongol langsung mengejutkan Rian.
"Woy... Malah bengong"
" Apaan sih kamu, kalau jantungku tadi copot, kamu mau tanggung jawab hah ?" ucap Rian dengan nada kesal.
" Ya elah, bercanda kali bro, sensi amat, kenapa sih ?"
" Bukan urusan mu" jawab Rian ketus.
" Oke oke, mending kamu ikut aku yuk, aku mau ketemuan sama gebetan ku"
"Ogah, ya kali jadi anti nyamuk"
"Selo selo bro, dia bawa temennya juga, makanya aku ngajakin kamu".
"Udah ayok, lagian cuma ketemuan doang kok, lagian kan nemenin aku aja"
" Kamu lupa atau pura pura lupa, aku punya pacar kali Riz, masa ketemuan sama cewek, bisa salah sangka entar si Meidinah sama aku"
" Yaelah ribet amat sih, cuma ketemuan doang, lagian dia juga enggak bakalan tau, udah ayok" Fariz menarik sebelum sahabatnya itu protes lagi.
Mereka pun bertemu di cafe, tempat mereka janjian akan bertemu.
Rian hanya diam memperhatikan percakapan mereka, pikirannya sibuk dengan handphone nya, dan tidak menghiraukan apa yang mereka bicarakan.
"Yan, kamu diem aja sih, ajakin ngobrol kek nih perempuan" ucap Fariz.
Rian menarik nafas panjang, " yang mau ketemuan kan kamu, aku disini cuma nemenin doang", ucap Rian ketus.
Di perjalanan
"Parah banget ya Yan, apa salahnya sih kamu ngajak ngobrol temennya Risa tadi, aku enggak enak jadinya sama Risa"
__ADS_1
" Udah ya Riz, kamu yang maksa aku buat nemenin, jadi jangan banyak protes"
"Oke oke maaf brother, tapi kamu enggak asik Yan, cantik gitu si Rasya masa kamu diemin aja"
"Maaf ya Riz, kamu lupa Meidinah cantiknya gimana ?"
Fariz terdiam, ya siapa yang tidak mengenal Meidinah, gadis cantik yang berpenampilan sederhana dan bersahaja, membuat setiap yang memandangnya merasa adem, tutur katanya yang lemah lembut, membuat siapa pun akan jatuh hati, tidak terkecuali Fariz, dia diam diam menyimpan rasa pada Meidinah, kekasih sahabatnya, dia sebenarnya merasa iri, kenapa Rian bisa mendapatkan gadis seperti itu, tapi demi menjaga persahabatan nya dengan Rian, dia menutupi rapat rapat perasaannya pada Meidinah.
---------------
Di rumah Rian
"Yan, coba kamu jujur, kemarin aku liat kamu di bandara sama cewek, siapa ?" tanya Fariz dengan tatapan menyelidik.
Rian tersentak mendengar pertanyaan Fariz.
"Yan, kok bengong, siapa ?"
"Bukan siapa siapa, cuma temen" jawab Rian sekenanya.
"Jangan bohong Yan, aku kenal kamu bukan sebulan dua bulan, tapi udah tahunan Yan, aku tau kamu lagi bohong atau enggak" jelas Fariz.
Rian menghela nafas, " Iya, dia bukan sekedar temen doang"
"Wah parah kamu Yan, jadi kamu nyelingkuhin Meidinah ?"
"Enggak gitu Riz, aku cuma..." belum slesai Rian bicara, Fariz langsung menyambarnya.
"Keterlaluan sih kamu Yan, kurang apa emangnya si Meidinah Yan, kurang cantik ?, kurang baik ?, kurang apa ?, wah otak mu enggak beres udahan Yan" sungut Fariz kesal.
Dia kesal mendengar pengakuan Rian, jujur dia memang menginginkan hubungan mereka berakhir, tapi dalam hal ini Meidinah yang akan tersakiti, Fariz tidak akan tega melihat wanita yang di cintainya tersakiti.
Rian masih diam, dia memang salah, tidak seharusnya dia seperti itu, tapi sudah terlanjur.
Fariz pamit pulang pada Rian dengan wajah kesal, sesampainya di mobil, jadi kenapa tadi kamu pura pura cuek sama tuh cewek, aku sengaja bawa kamu tadi Yan, biar aku tau apa yang sebenarnya terjadi, dan aku bener bener enggak nyangka kamu bisa menyembunyikan nya serapat ini, gumam Fariz sambil menteleng geleng kan kepala.
Fariz sudah meninggal kan rumah Rian, sementara Rian masih diam dan memikirkan apa yang di katakan sahabatnya, Fariz benar, apa kurangnya Meidinah, seharusnya dia bersyukur, mendapatkan wanita seperti itu, tapi rasa egois dihatinya lebih besar dibanding kan rasa cinta dan sayang nya kepada Meidinah.
~
Bersambung
__ADS_1