
Rey terbangun pukul tiga dini hari, dia hendak melaksanakan shalat tahajud.
Dilihatnya istrinya masih terlelap dipelukannya, dia tak tega membangunkan istrinya, Rey pun memperhatikan wajah istrinya dengan seksama, dia mengelus pipi Meidinah, yang membuat Meidinah sesekali bergerak, Rey tersenyum, dia pun mencium kening istrinya, dia kembali mengelus pipi istrinya dengan lembut, Meidinah pun terbangun dari tidur nya, Rey langsung mencium bibir Meidinah, "morning kiss sayang" ucap Rey.
Meidinah terkekeh, dia melihat jam di dinding menunjukkan pukul tiga, "masih dini hari mas" ucap Meidinah.
Rey terkekeh, "ya udah gi ganti jadi, eraly morning kiss sayang".
Meidinah pun kembali terkekeh, "sejak kapan kamu jadi seperti ini mas ?, perasaan dulu waktu temenan kamu enggak begini deh".
"Sejak kapan yaa.............emm.....sejak kamu jadi istriku".
"Dasar tukang gombal".
"Beneran sayang, mas enggak lagi ngerayu".
"Yaudah ayo kita tahajud" ajak Meidinah.
Mereka pun melaksanakan shalat tahajud berjamaah.
***
Pagi harinya Meidinah di sibuk kan dengan mengemas barang barang mereka, karena mulai hari ini mereka akan tinggal dirumah mereka di kota Rothenburg Ob Der Tauber.
Slesai berkemas mereka pun segera berangkat menuju rumah mereka.
Begitu memasuki kota itu, Meidinah benar benar takjub dibuatnya, dia tak henti hentinya memuji asma Allah, kota itu benar benar indah.
Rey tersenyum bahagia, melihat ekspresi Meidinah, tidak salah aku membeli rumah di daerah ini, gumam Rey dalam hati.
Mereka pun berhenti didepan salah satu rumah, yang begitu indah dan menawan.
Meidinah terlihat tampak bahagia. Dia langsung turun tanpa menunggu Rey.
Dia berjalan mengelilingi rumah, dengan raut wajah yang bahagia, Rey hanya menggeleng geleng kan kepala nya melihat tingkah istrinya.
Rey segera membuka pintu rumah itu, dan memanggil Meidinah yang masih sibuk melihat lihat sekeliling rumah.
"Sayang, ayo masuk" panggil Rey.
"Iya mas" Meidinah pun berlari kecil memasuki rumah.
__ADS_1
Rey semakin gemas melihat tingkah istrinya, Meidinah orang yang anggun dan tegas, namun disisi lain dia juga wanita yang manja.
"Mas..makasih ya" ucap Meidinah.
Rey menghampiri istrinya dan memeluknya, "makasih buat apa ?" tanya Rey.
"Makasih untuk semua yang udah kamu kasih ke Mei" ucap Meidinah.
Rey tersenyum dan mencium kening istrinya, "tidak perlu berterima kasih sayang, mas yang terimakasih sama kamu, karena kamu mau menerima mas sebagai suami mu" ucap Rey.
"Kamu memang suami yang luar biasa dan juga suami yang sempurna mas" seketika air mata Meidinah jatuh.
"Kenapa kamu menangis sayang ?" tanya Rey seraya menghapus air mata Meidinah.
"Aku minta maaf mas, karena aku belum memenuhi kewajiban ku sebagai seorang istri" ucap Meidinah.
Rey tersenyum dan mengelus elus kepala istrinya, "tidak apa apa sayang, mas akan selalu sabar menunggu sampai kamu siap" ucap Rey.
"In Syaa Allah Meidinah siap mas" ucap Meidinah.
Rey tersenyum bahagia "apa kamu yakin sayang ?" tanya Rey.
Meidinah menganggukkan kepalanya dengan malu malu.
Rey mendudukkan Meidinah dipangkuannya, dia menyusuri wajah istrinya yang begitu cantik, dia mulai mencium kening Meidinah, "kamu yakin sayang?" tanya Rey lagi.
Meidinah mengangguk dan tersenyum malu, wajah nya sudah merah merona karena malu.
Rey langsung mencium bibir Meidinah dengan lembut, Meidinah masih belum membalas ciuman Rey, Rey pun memperdalam ciuman nya, sampai mereka hampir kehabisan nafas.
"Sayang...boleh kah?" tanya Rey sembari memegangi hijab Meidinah.
Meidinah mengangguk, Rey pun langsung membuka hijab Meidinah, istrinya begitu cantik tanpa hijab, dia membelai rambut Meidinah yang begitu panjang, dia mengira selama ini Meidinah mengenakan sanggup palsu, ternyata rambutnya sendiri.
Dia terus menciumi istrinya sampai percintaan pun terjadi. Jangan ditanya berapa ronde, bisa kalian bayangkan sendiri karena si Rey sudah sangat lama menahannya hehehe...
***
Mereka terbangun ketika azan subuh di handphone Rey berkumandang, seperti nya mereka terlalu lelah sehingga tidak terbangun sampai waktu subuh.
Rey tersenyum melihat istrinya, dia mencium kening Meidinah, "makasih sayang" ucapnya pada Meidinah yang masih tertidur.
__ADS_1
Rey pun beranjak dari tidurnya untuk mandi dan mengerjakan shalat subuh, dia sengaja tidak membangunkan Meidinah, karena pasti dia sangat lelah dengan pertarungan mereka yang berlangsung semalaman.
***
Meidinah terbangun dari tidurnya, dia melihat jam di dinding menunjukkan pukul sembilan pagi. Dia tersentak karena Meidinah tidak pernah bangun sesiang ini.
"Kamu sudah bangun sayang ?" tanya Rey.
"Mas kok enggak bangunin Meidinah".
"Kamu pasti kecapekan sayang, makanya mas enggak bangunin kamu".
Wajah Meidinah pun tiba tiba merona, mengingat apa yang mereka lakukan semalaman, dia menarik selimut menutupi wajahnya.
Rey terkekeh, "mas udah liat semuanya loh" goda Rey.
Wajah Meidinah semakin memerah di balik selimut, "ihh mas Reyyyyyy".
"Bangun sayang, atau kita mau lanjut lagi ?" goda Rey.
"Nooooooooo" ucap Meidinah.
Rey tersenyum, "yaudah mandi sayang, apa perlu mas yang mandiin" ucap Rey dengan menarik turun kan alisnya.
Meidinah pun bangkit dari tidurnya, tiba tiba.
"Uhhhh..." dia pun menduduk tubuhnya di tepi ranjang.
"Kenapa sayang ?" tanya Rey khawatir.
"Enggak apa apa kok mas" jawab Meidinah.
Rey tersenyum, dia tau kenapa Meidinah kesakitan, karena itu ulah nya yang membuat istrinya sampai seperti itu.
Rey pun langsung menggendong Meidinah menuju kamar mandi, Meidinah semakin malu dan menenggelamkan kepalanya di dada Rey.
"Perlu mas mandiin sayang?".
"Mei bisa mandi sendiri mas, udah sana mas keluar gih"
Sebelum keluar Rey mencium bibir istrinya, "morning kiss sayang" dia pun langsung berlari keluar dari kamar mandi.
__ADS_1
Bersambung
Berikan perhatian dan bersikap baiklah kepada istrimu. Dia adalah bunga yang lembut, bukan budak rumah tanggamu. – Ali bin Abi Thalib