Aku Dan Masa Kelam Ku

Aku Dan Masa Kelam Ku
Hari Bahagia


__ADS_3

Acara pernikahan pun tiba.


Meiidinah terlihat sangat cantik dengan gaun kebaya putih dan hijab syar'i yang menghiasi tubuhnya, benar benar mencerminkan wanita muslimah sesungguhnya, dia juga hanya memakai make up tipis, semakin membuatnya terlihat anggun dan bersahaja.


Meidinah masih menatap dirinya di cermin, dia masih tidak menyangka bahwa dia akan menikah, rasanya baru kemarin dia masuk kuliah, tapi sekarang dia malah akan menikah.


"Meidinah" panggil Laras sambil menggoyangkan bahu Meidinah yang sontak membuat nya terkejut.


"Astaghfirullah Laras, kamu kebiasaan ngagetin orang ih, ketuk pintu dulu kalau mau masuk" omel Meidinah pada temannya.


Laras terkekeh mendengarnya.


"Aku udah capek ngetuk pintu, tapi enggak ada yang nyaut, yaudah aku masuk aja, eh enggak taunya calon mantennya malah bengong" gerutu Laras.


Medinah tersenyum, benar memang yang di katakan Laras, karena memang sedari tadi dia terus melamun, bukan karena dia tidak bahagia dengan pernikahan ini, tetapi dia masih belum menyangka bahwa dia akan menikah.


"Kamu nanti temenin aku turun ya Ras".


Laras mengangguk, " kamu pasti deg degan ya, iya kan ?" Laras tertawa melihat ekspresi Meidinah. "Cie yang bentar lagi jadi Nyonya Gantama" ledek Laras.


"Ih kamu apaan sih" wajah Meidinah bersemu ketika membayangkan ucapan Laras.


"Udah jangan di pikirin terus dong" terdengar tawa Laras, "nih kado buat kamu, harus di pake entar malem pokoknya".


"Emang apaan sih isinya" Meidinah ingin membuka kado dari Laras namun Laras melarangnya.


"Enggak boleh, nanti aja dibukanya pas enggak ada aku, biar surprise" ucap Laras sambil menarik turunkan alisnya.


"Iya deh terserah kamu aja".


***


Sudah banyak sekali tamu berdatangan, rumah pun dipenuhi dengan gelak tawa dan juga suara senda gurau.


Rey terlihat sangat tampan, dia menggunakan baju koko berwarna putih warna yang sama dengan Meidinah, wajahnya menggambarkan rasa bahagia dan juga deg degan. Padahal dia berada diruangan berAC, tapi sangking gugupnya dia sampai berkeringat.


Acara akan di mulai setengah jam lagi, sesuai dengan jadwal, bahwa akad dilaksanakan pukul sepuluh, sementara resepsi dilangsungkan pukul dua.


Ijab qabul pun akan di mulai.


"Apakah sudah siap?" tanya penghulu kepada Rey.


"In syaa Allah siap pak" jawab Rey.


Bismillahirrahmanirrahim, saya nikah kan Meidinah Mayangsari Chandra Binti Wijaya Chandra dengan Reyandra Gantama Bin Dwi Cahyo Gantama dengan mas kawin 29 gram berlian 24 karat di bayar tunai.


Saya terima nikahnya Meidinah Mayangsari Chandra Binti Wijaya Chandra dengan mas kawin tersebut dibayar tunai.


Sah ??, saaahhh teriak semua tamu undangan, Alhamdulillah.


Kemudian dilanjutkan dengan pembacaan do'a.


Setelah pembacaan ijab dan qabul slesai, Meidinah turun dengan ditemani oleh Laras. Semua mata tertuju padanya, terdengar bisik bisik dan beragam pujian yang di lontar kan kepadanya. Jantung Rey benar benar seperti mau copot karena melihat Meidinah yang begitu cantiknya.


Meidinah mendekat kepada Rey dan duduk disebelahnya, setelah mereka slesai menandatangani buku nikah mereka, Meidinah mencium tangan Rey, dan disambut hangat oleh Rey, dia pun mencium kening istrinya tersebut. Kemudian sungkeman pun dilangsungkan, suasana yang bahagia berubah menjadi haru.


Wijaya langsung memeluk putrinya, dia menangis, "sayang,,, sekarang kamu sudah bukan tanggung jawab papa lagi, berbakti lah kepada suami mu nak, carilah ridho suamimu sayang" ucap Wijaya sambil menangis pilu, para tamu yang datang pun ikut menangis melihat nya.


"Iya pa, makasih papa udah ngerawat Mei selama ini, Mei akan berbakti pada suami Mei sebagaimana Mei berbakti kepada papa" jawab Meidinah dengan menangis.


Selanjutnya Rey yang sungkeman dengan Wijaya, "Nak,,, jagalah putri papa dengan baik, jangan sakiti dia apalagi mengkhianati nya, papa tidak akan pernah ikhlas jika kamu menyakiti nya, dia mutiara papa dan sekarang papa serahkan kepada mu, jaga dan lindungi dia selalu, papa tidak akan pernah bisa melihat dia menangis" ucap Wijaya kepada Rey.


"Iya pa, Rey berjanji dihadapan papa dan juga Allah, Rey tidak akan pernah menyakiti istri Rey, Rey akan selalu melindungi Meidinah" jawab Rey.

__ADS_1


Selanjutnya Meidinah sungkem kepada kedua orang tua Rey.


Ratih langsung memeluk menantunya, "sayang,,, sekarang kamu telah menjadi putri mama, anggap lah mama ini mama kandung mu ya nak" Ratih menangis sambil terus memeluk menantunya, dia pernah berada di posisi Meidinah, menikah tanpa ada seorang ibu di sisi nya, Ratih memahami seperti apa perasaan Meidinah saat ini.


Meidinah terus menangis di pelukan Ratih, rasa bahagia dan haru bercampur jadi satu, Meidinah benar benar beruntung, dia mendapatkan suami sekaligus ibu.


Acara sungkeman pun slesai, sekarang masuk ke acara foto foto dong pastinya.


***


Rey dan Meidinah sedang berada di kamar menunggu waktu pelaksanaan resepsi pernikahan pukul dua nanti.


Mereka berdua terlihat sangat canggung, terutama Meidinah, sangat jelas tergambarkan kegugupan di wajahnya, sedangkan Rey masih bisa menutupi kegugupan nya.


Rey duduk di sofa kamar Meidinah, matanya terus memperhatikan Meidinah yang duduk di depan meja rias, sedangkan Meidinah terlihat kikuk, karena Rey terus memperhatikannya, dia pun sesekali memainkan ponselnya untuk menutupi rasa kikuk nya, Rey yang melihat tingkah Meidinah pun tersenyum, 'manis sekali dia' gumam Rey.


Azan dzuhur pun berkumandang menandakan telah masuk waktu shalat dzuhur.


"Em...." Meidinah tidak melanjutkan ucapannya, dia bingung dengan panggilan apa dia harus memanggil Rey, tidak mungkin dia masih memanggil Rey, karena laki laki itu kini telah menjadi suaminya.


Rey terlihat menanti apa yang akan di katakan Meidinah sambil menaikkan satu alisnya.


"Em... Mas" Meidinah terlihat malu malu dan salah tingkah.


Rey tersenyum, 'mas, sangat manis' batin Rey, " apa ada yang ingin kamu katakan ?" tanya Rey.


"Mas nya mau shalat duluan atau kita berjamaah ?" tanya Meidinah dengan ragu ragu.


Rey semakin melebarkan senyumnya, "kita berjamaah" jawab Rey


Meidinah tersenyum, " Mei ambil wudhu duluan ya" Meidinah pun menuju kamar mandi untuk mengambil wudhu.


Rey terus menatap punggung istrinya sampai tak terlihat.


Mereka pun shalat berjamaah.


***


Baru slesai salam, terdengar suara ketukan pintu.


Tok tok tok


"Mei aku boleh masuk ?" teriak Laras.


"Masuk aja Ras" jawab Meidinah.


Ceklek


'Enggak dikunci ternyata' batin Laras.


"Walah walah, pengantin baru udah shalat berjamaah aja, duh jadi iri" ucap Laras menggoda sepasang suami istri itu.


Rey dan Meidinah tersenyum.


"Yaudah buruan ganti bajunya, kalian enggak mau resepsi emang ?, atau mau langsung malam pertama aja" Laras tertawa.


Rey dan Meidinah jadi salah tingkah karena ucapan Laras.


"Yaudah malah mesem mesem, mau enggak ?, kalau emang mau langsung malam pertama juga enggak apa apa, entar aku bilang sama om Wijaya, kalau mantennya udah enggak sabar buat malam pertama" tawa Laras semakin pecah, apalagi melihat wajah Rey dan Meidinah saat ini sudah seperti kepiting rebus.


"Apaan sih Ras, yaudah iya ini mau ganti" jawab Meidinah dengan malu malu.


"Kok masih diem ?, katanya mau ganti"

__ADS_1


Meidinah melirik ke arah Rey, Laras tau apa maksud Meidinah.


"Rey kamu keluar dulu deh ya, si Meidinah kayaknya malu nih" ucap Laras.


Rey tersenyum dan mengangguk.


Rey pun keluar dari kamar yang disusul Laras untuk menutup pintu, sebelum menutup pintu Laras pun menggoda Rey, "jangan kecewa gitu dong Rey, entar malem juga bisa" Laras tertawa.


Rey hanya bisa menggaruk garuk kepalanya yang tidak gatal, 'gini emang punya temen otaknya enggak beres' gumam Rey.


***


Acara resepsi pun berlangsung, Meidinah terlihat cantik menggunakan gaun kebaya berwarna rose gold, Rey juga terlihat sangat tampan, dia memakai tuxedo berwarna putih.


Para tamu pun memberi ucapan selamat kepada kedua mempelai.


Di tempat lain Rian masih diam, menatap kedua mempelai, tidak tau apa yang tergambar di wajahnya sekarang, mungkinkah sedih, kecewa atau sakit hati, hanya Rian yang tau.


Rian menarik nafas panjang, dia pun berjalan menuju pelaminan untuk memberi ucapan selamat kepada Meidinah dan Rey.


"Selamat ya Rey, semoga jadi keluarga yang sakinah mawaddah dan warahma" ucap Rian.


"Thanks ya Yan, udah mau dateng".


"Enggak mungkin kan aku enggak dateng di hari bahagia kamu".


Mereka pun tertawa, kemudian Rian pun berlanjut memberi selamat kepada Meidinah.


Sebenar nya Rian tidak sanggup melakukan itu, tapi tidak mungkin dia melakukan hal aneh, lagi pula yang menikah dengan Meidinah adalah sahabatnya.


"Selamat ya Mei" ucap Rian.


"Makasih ya Yan, udah mau dateng".


Rian tersenyum dan turun dari pelaminan.


Sesampainya di tempat duduknya, dia dikejutkan dengan Laras.


"Oy, kenapa bengong ?, ce ileh yang dateng ke pernikahan mantan" Laras pun tertawa.


"Resek kamu ya Ras, mending aku punya mantan, lah kamu ?" ucap Rian tak mau kalah.


Laras manyun mendengar ucapan Rian, sedangkan Rian malah terkekeh melihat ekspresi Laras.


Resepsi pernikahan pun slesai.


Meidinah merasa kakinya akan segera lepas dan meninggalkan dia, dia begitu lelah harus menyalami lebih dari sepuluh ribu tamu undangan. Sangat banyak bukan, itu juga tidak semua yang diundang oleh Wijaya. Bisa dibilang hanya sembilan puluh persen yang diundang nya.


***


Bersambung


Maaf kalau banyak typo, karena author nulisnya sambilan hehehehe.


Jangan lupa follow instagram author ya


@emira_naila17 akun resmi author pena bulu


Kalau mau tau akun pribadi author, silahkan like dan komen, entar kalau banyak yang komen bakalan author kasih tau akun pribadi author


Hehehehe kepedean ya, siapa juga yang mau tau akun pribadi author 😂😂


Ikhlas kan cintamu, jika dia memang bukan untuk mu.

__ADS_1


- Pena Bulu


__ADS_2