Aku Dan Masa Kelam Ku

Aku Dan Masa Kelam Ku
19. Kenangan


__ADS_3

Setiba dirumah Meidinah tidak langsung masuk ke dalam rumah, dia memilih menenangkan diri di taman depan rumah nya, dia duduk di ayunan gantung berwarna pink dan putih, warna kesukaannya.


Ingatan nya kembali mengingat tentang Rian, dan semua kenangan yang pernah mereka cipta, tanpa sadar Meidinah tersenyum, senyum yang begitu manis, dia mengingat kebersamaannya dengan Rian, hal hal bodoh yang pernah lakukan bersama, kekonyolan seperti apa yang pernah Rian buat untuk menghibur Meidinah, siapa pun tidak akan menyangka bahwa Rian bisa berkhianat, karena semua orang beranggapan bahwa mereka tidak akan mungkin putus, siapa mereka bisa beranggapan seperti itu, suami istri saja bisa bercerai, apalagi hanya sepasang kekasih.


Meidinah bergumam, "mungkin ini jalannya, ternyata Allah begitu mencintai ku, dia menegur ku dengan cara seperti ini, dia mengingatkan ku, bahwa hubungan seperti pacaran hanya akan membawa kemudharatan, Allah benar benar menyadarkan ku, bahwa berharap kepada manusia itu sakit, seharusnya sejak awal aku tidak pernah pacaran, Allah mengingatkan ku bahwa tidak seharusnya aku terjebak dalam hubungan yang di nama kan pacaran, aku benar benar sudah masuk kedalam perangkap syeitan, beruntungnya aku, Allah menegur ku, walaupun dengan cara seperti ini. Tapi aku percaya semua yang terjadi pasti ada hikmahnya, aku yakin Allah akan gantikan dengan yang lebih baik lagi. Tapi terasa sulit melupakan semua kenangan ini, karena memang kenangan tidak akan pernah bisa terlupakan.


Beberapa jam berlalu dan Meidinah masih berada di taman depan rumahnya, sampai azan zhuhur berkumandang, Meidinah pun bergegas masuk ke rumah untuk menunaikan shalat, dia berjalan melewati ruang tamu, dia papanya disana.


"Assalamualaikum pa" Meidinah mencium tangan papa nya.


"Waalaikumsalam sayang" jawab Wijaya.


"Papa enggak ke kantor hari ini ?"


"Enggak sayang" Wijaya menyadari mata putrinya sembab karena menangis tetapi dia tidak menanyakannya. "Oh iya sayang, papa dan orang tua Rey sudah menetapkan tanggal pernikahan kalian, mulai besok akan ada EO(Event Organizer) yang datang untuk mempersiapkan semuanya, pernikahan kalian akan dilaksanakan bulan depan sayang"


Meidinah tersenyum, "iya pa".


"Oh iya sayang, kenapa belakangan ini Laras tidak pernah main kesini" tanya Wijaya.


"Astaghfirullah pa, Mei sampai lupa", Wijaya menatap putrinya dengan heran, "tadi Mei janji mau ketemu Laras, tapi tadi Mei pergi gitu aja, enggak ngasih kabar ke Laras, dia pasti nungguin Mei" ucap Meidinah panik.


Wijaya tersenyum melihat kepanikan putrinya,"ya sudah sayang, sekarang kamu telpon dia, kamu bilang kalau kamu lupa ada janji sama dia".


"Iya pa, Mei ke kamar dulu ya pa" Meidinah langsung berlari ke kamarnya.


Dis mengeluarkan handphone nya dari dalam tas, dan benar saja, ada sepuluh panggilan tak terjawab dan dua puluh lima pesan chat dari Laras, Meidinah menepok jidat nya, dia tak henti hentinya mengucap istighfar. Dia langsung menelpon Laras.


Tuttt tuttttt tuttttt


"Assalamualaikum Mei, kamu dimana sih ?, aku udah nungguin kamu dari tadi disini. Kamunya malah enggak muncul muncul, jamuran aku nungguin kamu Mei, lebih parah dari nungguin jodoh ini mah" cerocos Laras.


Meidinah terkekeh mendengar omelan sahabat nya.


"Waalaikumsalam Laras, maaf ya aku lupa kalau ada janji sama kamu, yaudah mending kamu sekarang kerumah aku aja deh".


"Kamu ini ya, enak aja main suruh suruh kesana, aku capek tau nungguin kamu, aku marah nih sama kamu" ucap Laras yang nada suaranya di buat buat.


"Kamu ini ya, udah sini kerumah ku ya, papa juga tadi nanyakin kamu, udah lama katanya kamu enggak main kerumah"


"Ah itu mah bisanya kamu aja, pake bawa bawa papa kamu, biar aku enggak marah lagi sama kamu kan"


"Enggak loh sayang, beneran papa tadi nanyain kamu"


"Emang nya om Wijaya enggak ke kantor Mei ?"

__ADS_1


"Enggak, udah deh sini buruan, ada yang mau aku ceritain sama kamu"


"Enak aja, aku masih marah nih sama kamu, masa..." Meidinah langsung memotong ucapan Laras, "Entar kita shoping deh ya " rayu Meidinah pada sahabatnya. Karena dia juga butuh refreshing setelah semua yang terjadi hari ini.


Laras tertawa mendengar kata shoping "ok, aku gerak kerumah kamu, assalamualaikum bye cintah, mmmmmuah"


"Waalaikumsalam"


Meidinah hanya terkekeh melihat tingkah temannya, Laras memang paling tidak bisa mendengar kata shoping. Makanya itu selalu jadi jurus andalan Meidinah ketika sahabatnya itu sedang marah.


Slesai menelpon Meidinah pun ke kamar mandi mengambil wudhu untuk mengerjakan shalat zhuhur.


Slesai melaksanakan shalat, Meidinah turun dan menemui papa nya diruang tamu.


"Pa nanti Mei mau ke mall sama Laras ya, Mei mau beli baju baju gamis lagi"


"Iya sayang, oh iya sayang kemarin waktu papa ke luar kota, papa ada lihat butik pakaian muslimah, gamis nya bagus bagus, warnanya juga cantik, kamu pasti suka, papa belikan sepuluh pasang buat kamu" ucap Wijaya.


Mediinah tersenyum mendengarnya, " kalau gitu nanti baju gamis Mei yang enggak pernah Mei pakai, Mei sedekahin ke yang lebih membutuhkan aja ya pa".


Wijaya tersenyum, "iya sayang", begitu lah putrinya, dia selalu berbagi kepada orang lain. "Gimana bisnis online shop kamu sayang ?" tanya Wijaya.


"Alhamdulillah lancar pa, konsumen nya juga makin hari makin meningkat".


"Rencananya mau didaerah kita dulu pa, nanti kalau sudah memungkinkan baru ke luar daerah, karena Reseller Mei juga udah banyak di luar daerah, jadi pasti nanti lebih gampang buat cari cari informasi.


"Syukur lah sayang, papa senang mendengarnya".


Tujuan utama Meidinah membangun bisnis online bukanlah untuk keuntungan pribadinya, tetapi keuntungannya akan dia gunakan untuk membangun sekolah, untuk beasiswa, merenopasi Masih masjid, atau membangun mushallah dan juga untuk orang orang yang membutuhkan, dia sedikit pun tidak ada mengambil hasil keuntungannya tersebut, bahkan untuk menggaji karyawannya sendiri pun itu adalah uang pribadi nya. Wijaya juga tidak keberatan dengan hal itu, justru dia bangga dengan putrinya, bahkan Wijaya menanam modal lebih banyak lagi pada bisnis online shop Meidinah.


Karena Meidinah selalu memegang prinsip "tidak akan habis uang yang dibelanjakan di jalan Allah".


**


Tidak lama terdengar suara klakson mobil, sudah pasti itu mobil Laras, karena hanya dia yang mempunyai kebiasaan memencet klakson apabila datang kerumah Meidinah.


Meidinah pun segera membukakan pintu, atau Laras akan semakin kencang menekan klakson nya.


"Berisik Laras, Astaghfirullah Laras kebiasaan kamu itu perlu diubah, malu sama tetangga"


Laras hanya nyengir.


Maidinah mengajak Laras masuk ke dalam rumah, sesampainya di ruang tamu Laras menyapa Wijaya.


"Assalamualaikum om" ucap Laras sambil mencium tangan Wijaya.

__ADS_1


"Waalaikumsalam salam, kok jarang main kesini sekarang ?, udah sombong ya, atau udah enggak mau ketemu sama om" ucap Wijaya.


"Hehehe,,, enggak gitu om, emang belakangan lagi sibuk, kan Laras juga nyiapin berkas berkas untuk lanjut S2 om" .


"Belum lanjut S2 aja kamu udah jarang main kesini, gimana entar kalau udah lanjut S2, bisa bisa kamu enggak bakalan main lagi kesini, nanti Meidinah lanjut S2 ke Eropa, kamu pasti enggak bakalan main kesini lagi".


"Kan Meidinah bakalan sering balik ke indo sih om".


"Ya itu juga kalau suaminya ngizinin kalau enggak gimana ?".


Laras terkejut mendengar ucapan Wijaya.


Laras menatap kearah Meidinah menuntut penjelasan.


Meidinah tersenyum, " nanti aku jelasin" jawab Meidinah seolah mengerti dengan tatapan Laras.


"Yaudah deh om entar Laras sering sering main kesini, biar om ada temennya" ucap Laras sambil menarik turunkan alisnya.


Wijaya tertawa, "kamu tu ya selalu aja buat rame, pasti nanti om bakalan kesepian enggak ada kalian" ucap Wijaya.


"Kan nanti Mei sering balik ke indo pa, suami Mei pasti ngizinin kok" ucap Meidinah.


"Iya om, entar Laras juga bakalan sering main deh, suer" ucap Laras sambil menaikkan dua jari tangannya membentuk huruf V.


Mereka pun pamit ke kamar.


Laras memang sudah dianggap seperti anak sendiri oleh Wijaya, begitu juga orang tua Laras yang menganggap Meidinah seperti anak sendiri apalagi uminya Laras begitu menyayangi Meidinah seperti anaknya sendiri. Maka tak heran jika Laras tak pernah merasa sungkan terhadap Wijaya.


***


Maaf kalau masih banyak typo , mohon di maklumi..


Vote nya dong akak akak syantik


terimakasih


 


Bersambung


Kenangan tidak akan pernah hilang, dia hanya akan memudar seiring berjalannya waktu.


- Pena Bulu


 

__ADS_1


__ADS_2