
Fariz membawa Meidinah ke cafe langganan mereka. Karena selain tempatnya yang bagus makanan di cafe itu juga enak.
Mereka duduk di meja yang dekat dengan dinding kaca yang menghadap langsung ke taman yang berada di sebrang cafe, karena itu tempat duduk favorit Meidinah.
Makanan dan minuman sudah tersaji di atas meja, ternyata Fariz sudah memesan nya terlebih dahulu.
"Kamu kok tau minuman kesukaan ku?" tanya Meidinah.
Fariz tersenyum, aku bahkan tau semua hal yang kau sukai dan tidak kau sukai, gumam Fariz dalam hati. "Kamu lupa kita sering ngumpul bareng, dan kamu selalu memesan strawberry smoothies" jawab Fariz.
Meidinah mengangguk dan tersenyum.
Senyum yang begitu indah di mata Fariz.
Ya Allah, aku benar benar bisa pingsan melihat senyum itu, batin Fariz.
"Ayo di makan Mei, mada di liatin mulu" ucap Fariz. Yang di jawab dengan anggukan oleh Meidinah.
"Emm,,, Mei aku mau ngomong sesuatu sama kamu" ucap Fariz ragu.
"Yaudah ngomong aja Riz, enggak usah sungkan deh, kita kan teman" jawab Meidinah.
Hati Fariz terasa tersayat begitu mendengar kata teman. Wajahnya menampilkan ekspresi kecewa, tapi dia berusaha menutupinya.
"Mei, sebenarnya aku...." ucap Fariz ragu, dia belum yakin apakah dia akan mengatakannya kepada Meidinah atau tidak.
"Aku apa Riz ?" tanya Meidindah, sebenarnya Meidinah tau apa yang akan Fariz katakan, dia pasti akan mengungkapkan isi hatinya, tapi Meidinah tetap bersikap seolah olah dia tidak tau.
"Aku udah lama suka sama kamu Mei" ucap Fariz dengan cepat. Seketika suasana hening.
Padahal Meidinah sudah tau tentang perasaan Fariz tapi mendengar langsung pengakuannya, itu ternyata jauh lebih aneh.
__ADS_1
"Emm,,, kamu enggak harus jawab sekarang Mei" jelas Fariz.
"Sejak kapan ?, sejak kapan kamu menyimpan rasa ke aku ?" tanya Meidinah.
"Sejak kita pertama bertemu Mei" jawab Fariz.
"Waktu OSPEK dong ?" tanya Meidinah.
"Iya, lebih tepatnya slesai OSPEK" jawab Fariz.
Meidinah menghela nafas panjang.
"Jujur aku sama sekali enggak terkejut dengan ungkapan perasaan kamu ke aku Riz, justru aku malah kecewa.." ucap Meidinah.
Fariz bingung, kenapa Meidinah harus kecewa, "kenapa kamu kecewa Mei ?, apa karena aku menyukai kekasih sahabatku ?" tanya Fariz.
"Bukan, aku tidak mempermasalahkan rasa suka mu itu Riz, karena kita tidak bisa mengendalikan hati kita pada siapa kita akan jatuh cinta, Allah lah yang menumbuhkan rasa suka di hati setiap manusia Riz, Meidinah menarik nafas panjang, "Aku kecewa dengan sikap mu" lanjut Meidinah.
"Kenapa dengan sikap ku Mei ?" tanya Fariz heran.
"Coba tanyakan pada dirimu siapa itu Rasya!" ucap Meidinah.
Fariz terkejut mendengarnya, bagaimana Meidinah bisa tau tentang Rasya.
"Kamu pasti bertanya tanya kan dari mana aku tau tentang Rasya, aku melihatnya sendiri Riz, dan aku juga tau ternyata kamu yang membuat hubungan ku dengan Rian hancur, aku bener bener kecewa sama kamu Riz"ucap Meidinah lirih.
Fariz terdiam, dia tidak mampu untuk mengatakan apa apa lagi.
"Aku menganggap kamu itu teman Riz, tapi aku enggak nyangka kalau kamu bisa berbuat setega ini sama aku, terutama sama Rian, dia temen kamu Riz, kenapa kamu sampai hati melakukan semua ini ?"ucap Meidinah dengan penuh penekanan di setiap kata.
"Aku melakukan itu karena...." Fariz belum sempat menyelesaikan ucapannya, Meidinah langsung menyanggahnya," karena cinta ?, iya ?, kamu tau Riz bahkan dengan alasan apapun yang kamu lakukan itu tetap salah, kamu bukan hanya menyakiti Rian, tapi juga aku" air mata Meidinah pun sudah tidak bisa dibendung.
__ADS_1
Fariz benar benar merasa bersalah melihat wanita yang di cintainya menangis, dia menyesal, kenapa dia tidak memikirkan sampai sejauh ini, bahwa bukan hanya Rian yang tersakiti tapi Meidinah juga, dia mengutuki dirinya dalam hati.
"Apa kamu tau Riz, sehancur apa aku setelah Rian mutusin aku ?, apa kamu tau bagaimana usaha ku untuk tetap kuat di depan orang orang ?, apa kamu tau hari hari seperti apa yang udah aku lalui untuk bisa sampai pada hari ini ?" air mata Meidinah semakin membanjiri mata dan membahasi pipinya, dadanya benar benar sesak bila mengingat tantang hal itu lagi.
Fariz hanya terdiam, dia benar benar menyesal telah membuat Meidinah seprti ini, bahkan untuk mengatakan maaf pun dia tidak sanggup, tenggorokannya terasa kering melihat Meidinah seperti ini, hatinya juga sakit.
"Maa aaaaf Mei, aku benar benar minta maaf, aku bodoh tidak memikirkan perasaan mu, maaf kan aku Mei, aku juga sakit melihat mu seperti ini"ucap Fariz lirih dan penuh penyesalan.
"Enggak ada yang perlu di maafkan Riz, semua kehendak Allah, segala sesuatu yang terjadi atas izin Allah, aku menerima semua ini dengan lapang dada Riz, karena aku tau pasti ada hikamh dibalik semua kejadian ini, pasti Allah telah mempersiapkan sesuatu yang indah setelah ini, jadi enggak ada yang salah dan perlu disalahkan dalam hal ini, kalau pun ada yang salah, itu sudah pasti diri ku sendiri Riz, karena aku memberi kesempatan kepada orang lain untuk membuat ku kecewa" jelas Meidinah seraya menyunggingkan senyum.
Fariz merasa sesak melihat senyum itu, senyum yang penuh dengan luka. Fariz terhanyut dalam pikirannya sendiri mendengar ucapan Meidinah, wanita seperti apa dirimu Meidinah, begitu besar hatimu menerima semua ini, terbuat dari apa hati mu itu Mei, kau mampu menutupi semua rasa yang bergejolak dihati mu. Fariz benar benar merasa bersalah, dia menyesal, dia tidak menyangka bahwa Meidinah yang selama ini terlihat baik baik saja, ternyata hatinya sangat rapuh, tapi dia mampu menutupi semuanya dengan senyumnya.
"Mei, aku benar benar menyesal, aku minta maaf Mei, aku enggak berpikir sejauh ini, aku hanya menuruti egoku saja, tanpa memikirkan perasaan mu sedikit pun, maaf Mei, maaf" hanya itu yang bisa Fariz katakan, mau bagaimana lagi, dia yang telah menghancurkan hati Meidinah, dia sangat menyesali perbuatan nya.
Meidinah tersenyum manis,"tidak ada yang perlu dimaafkan, karena pasti akan ada sesuatu yang indah setelah ini" ucap Meidinah.
Hati Fariz terasa tersayat melihat senyum Meidinah, dia merasa sesak di dadanya, tanpa terasa ada air yang lolos dari matanya, Fariz segera menghapusnya, dia tertunduk, dia bahkan sudah tidak sanggup untuk melihat wajah Meidinah.
Meidinah terdiam, dia tersenyum begitu mengingat kata kata sayyidina Ali.Kata kata yang menjadi penyemangat nya ketika dia benar benar berada di posisi terendah dalam hatinya.
" Yakinlah, ada sesuatu yang menantimu setelah banyak kesabaran (yang kau jalani), yang akan membuatmu terpana hingga kau lupa betapa pedihnya rasa sakit."
– Ali bin Abi Thalib
Bersambung
Maaf ya gaes kalau banyak Typo typoan
Jangan lupa like dan komennya.
__ADS_1