
Setelah mengantar Meidinah, Fariz pamit pulang pada Wijaya. Sementara Meidinah langsung menuju kamarnya, tanpa mengucapkan sepatah kata pun pada Fariz, Wijaya heran melihat putrinya seperti itu, dia berjalan menuju kamar Meidinah, terdengar suara tangisan dari dalam kamarnya, Wijaya pun langsung mengetuk pintu kamar Meidinah yang ternyata tidak dikunci, dia segera masuk untuk melihat putrinya.
Dilihatnya Meidinah menangis dilantai sisi ranjang, Wijaya langsung memeluk putrinya.
"Ada apa sayang ?, kenapa kamu menangis, apakah Fariz menyakiti mu?" tanya Wijaya.
Tangis Meidinah semakin pecah, dia terus menangis tanpa henti.
"Sayang, ada apa denganmu ?, apa ada yang menyakiti mu ?, katakan pada papa sayang"
Meidinah hanya menggeleng kan kepala nya.
"Kamu mau papa panggilkan Laras kesini ?" tanya Wijaya.
"Tidak usah pa, lagian juga udah malam, Laras pasti udah istirahat" jawab Meidinah yang masih terus menangis.
"Coba kamu ceritakan pada papa apa yang membuat mu menangis seperti ini?"
"Kenapa Meidinah selemah ini pa" lirih Meidinah dalam tangisnya.
"Kenapa sayang ?, menangis bukan berarti kamu lemah, kadang kita juga perlu menangis untuk membuat hati kita lega" ucap Wijaya, "kamu enggak lemah sayang, kamu wanita yang kuat, kamu seperti mama, yang selalu mampu tersenyum disaat hatinya tersakiti" lanjut Wijaya.
Seketika Meidinah berhenti menangis, karena dia merasa nafas papa nya semakin berat, Wijaya menangis, ya kelemahan Wijaya adalah saat mengingat istrinya, semua yang berhubungan dengan istrinya membuatnya tak berdaya.
Meidinah melepaskan pelukan papanya, dilihatnya air mata papanya berlinang.
"Maaf pin Meidinah pa, Meidinah udah buat papa sedih" ucap Meidinah sambil menghapus air mata papa nya.
Wijaya tersenyum, "kamu jangan menangis lagi sayang, papa benar benar sedih melihatmu menangis, coba beritahu papa apa yang membuat kamu menangis?" tanya Wijaya.
"Fariz bilang kalau dia sudah lama menyimpan rasa sama Mei pa"
"Lantas apa yang salah sayang ?"
"Fariz yang buat hubungan Rian sama Mei hancur pa, Fariz yang nyuruh perempuan itu buat ngedeketin Rian, Fariz juga yang buat Rian bisa suka ke perempuan itu"
Wijaya menghela nafas," rasa suka nya ke kamu enggak salah sayang, dia hanya salah menunjukkan rasa itu ke kamu" ucap Wijaya.
"Mei tau pa, makanya Mei enggak marah sama Fariz, Mei cuma kecewa sama dia, kenapa dia segera itu, berarti itu bukan cinta kan pa, tapi dia terobsesi sama Mei, iya kan pa?" tanya Wijaya.
Wijaya tersenyum," iya sayang, papa ngerti perasaan kamu, sudah jangan diingat ingat lagi lebih baik kamu tidur, bukannya besok kamu akan mengurus berkas berkas mu".
Meidinah tersenyum, "iya pa, papa juga tidur, papa jangan mikirin Mei, Mei pasti bahagia kok kalau papa juga bahagia".
"Iya sayang, selamat malam" Wijaya mengecup kening putrinya.
"Selamat malam pa"
-----------------------
__ADS_1
Wijaya sudah menunggu Meidinah di meja makan, sambil membaca koran.
"Pagi pa" sapa Meidinah.
"Pagi sayang, ayo sarapan" ucap Wijaya.
Meidinah pun mengangguk dan duduk.
Menu hari ini adalah nasi goreng kampung, kesukaan Meidinah, dia memang terbiasa sarapan nasi, dia tidak bisa sarapan roti atau pun sereal, dia pasti masuk angin nanti.
"Sayang, nanti malam teman papa akan membawa keluarga nya bertamu dirumah kita, kamu mau kan ketemu sama mereka ?" tanya Wijaya.
"Iya pa, Mei mau ketemu mereka" jawab Meidinah.
"Iya sayang, nanti malam papa juga akan mengenalkanmu dengan anak teman papa, yang akan papa jodohkan dengan mu" jelas Wijaya.
Meidinah hanya tersenyum dan mengangguk.
-----------------------
Meidinah sudah slesai dengan berkas berkas nya di kampus, karena dia akan melanjutkan S2 nya di Eropa, banyak sekali berkas yang harus di persiapkan nya, masalah paspor dan visa, Wijaya telah mengurusnya.
Meidinah duduk di bawah pohon jati di halaman depan kampus nya, dia sibuk dengan ponsel nya, karena dia sekarang adalah seorang owner salah satu aplikasi Olshop, maka tidak heran jika dia selalu sibuk mengecek perkembangan penjualannya.
Tidak lama Laras pun datang menghampirinya, sama seperti Meidinah, Laras juga akan melanjutkan S2 nya tetapi di Indonesia, karena Uminya tidak menginginkan, walaupun ayahnya menginginkan, tapi penguasa di rumah adalah uminya, padahal dia sangat ingin melanjutkan S2 dikampus yang sama dengan Meidinah.
"Belum, baru juga 15 menitan lah" jawab Meidinah.
"Udah slesai semua urusan kamu ?"
"Sudah kok, kamu gimana ?"
"Udah nih. Oh iya Mei jadi gimana kelanjutan nya sama si Rey ?" tanya Laras.
Meidinah baru sadar ternyata dia melupakan Rey, karena terlalu banyak masalah dan hal yang harus dia urus, dia sampai lupa janjinya dengan Rey.
"Astaghfirullah Ras, aku sampai lupa, untung kamu ngingetin" ucap Meidinah.
"Ih kamu mah, emang kamu mikirin apa sih, perasaan masih muda, tapi udah pikun aja tuh kepala" ledek Laras.
"Kamu kan tau sendiri kemarin Fariz ngajakin aku keluar" ucap Meidinah.
"Ih iya, aku sampai lupa nanya itu ke kamu, jadi gimana ?" tanya Laras.
Meidinah pun menceritakan semua nya kepada Laras.
Laras yang mendengar nya saja kesal nya minta ampun.
"Wah gila tuh si Fariz, seenak jidat aja dia ngomong begitu, di kira hati taman bermain kali, bisa buat di mainin" ucap Laras.
__ADS_1
"Udah ah, enggak baik begitu Ras, aku sekarang enggak mau mikirin itu, aku mikirin Rey nih" lirih Meidinah.
"Ya Rabb, sampai lupa" ucap Laras.
"Gimana ya Ras, papa juga udah ngejodohin aku, aku jadi bingung, enggak mungkin aku nolak perjodohan itu Ras, aku enggak mau buat papa sedih"
"Dijodohin sama siapa Mei ?"
"Aku juga enggak tau, katanya anak temennya papa ku"
"Berarti kamu belum tau dong siapa dan gimana orang nya ?"
"Ya belum lah, ketemu juga belum, kan baru entar malam ketemunya"
"Yaudah mending kamu bilang aja sama papa kamu, lagian Rey kan juga anak temennya, pasti papa kamu juga mau merestuinya, percaya deh"
"Iya, tapi papa keliatan seneng banget Ras, aku enggak sampai hati kalau harus nolak"
"Yaudah mending gini aja, kamu ketemu dulu sama dia, entar udah ketemu kan kamu punya alesan buat nolak ke papa kamu"
"Iya sih, trus Rey gimana ?"
"Ya itu cuma kamu yang tau kali Mei, kamu mau enggak nerima dia, masih ada enggak tuh sisa sisa cinta buat dia" ucap Laras sambil tertawa.
"Kok becanda sih Ras, seriusan ih"
"Ini serius loh Mei, kamu pikirin gimana perasaan kamu ke Rey, aku sih feeling kalian jodoh" Laras tertawa.
"Ih kamu mah" ucap Meidinah kesal.
Tanpa mereka sadari Rian sedari tadi mendengarkan perkataan mereka.
**
Di sisi lain Rian bergegas menemui Fariz dia benar benar dipenuhi oleh amarah, setelah mengetahui apa yang dilakukan Fariz pada hubungan nya dan Meidinah, dia mencari Fariz kerumah nya, tapi dia tidak berada di rumah, asisten rumah tangganya mengatakan Fariz pergi kerumah Rasya.
Fariz pun bergegas kerumah Rasya, kebetulan sekali mereka berdua bersama jadi aku tidak perlu mencari satu persatu, batin Rian
Bersambung
Maaf ya gaes banyak typo nya
jangan lupa like dan komennya ya
terima kasih
__ADS_1