
Dikampus
Laras mendapati sahabatnya sedang melamun.
" Meidinah kamu kenapa sih ?, cerita dong ada apa jangan di pendem sendiri Mei" ucap Laras lirih.
Meidinah menghela nafas, " Aku enggak apa apa kok Ras", sambil memberikan senyum manisnya yang di paksa.
" Ceh,,,, kamu nganggap aku temen kamu enggak sih Mei, jangan kayak anak kecil deh, aku tau kamu lagi ada masalah, enggak usah kamu tutup tutupin, aku tau kali Mei" ucap Laras kesal.
" Yaudah ayok kerumah kamu" sambil menarik tangan Laras, yang di tarik hanya diam saja dan mengikuti.
---------------------------
Dikamar Laras
Meidinah menarik nafas panjang, " Rian tiba tiba mutusin aku Ras" air matanya berhasil lolos.
Laras tercengang mendengar nya, " seriusan Mei ?., kapan ?., di cafe kemarin ?" tanya Laras.
Meidinah hanya menggangguk, sementara air matanya tidak berhenti menetes
Laras memeluk sahabatnya, sementara tangis Meidinah semakin menjadi, Laras ingin mengatakan sesuatu kepada sahabatnya tapi dis mengurungkan niatnya, 'nanti setelah Meidinah tenang baru aku akan mengatakan nya' gumam Laras dalam hati.
Setelah beberapa saat, Meidinah mulai tenang, tangisnya reda, " makasih ya Ras, kamu memang sahabat terbaik ku" ucap Meidinah.
Laras tersenyum, " Itu gunanya sahabat kan, selalu ada mau itu susah atau seneng "
Meidinah tersenyum mendengar ucapan sahabatnya
"Nah gitu dong senyum, tadi pas nangis kamu jelek banget tau Mei, ingus nya meler lagi" hahaha gelak tawa Laras terdengar.
" Kamu ini ya, orang lagi sedih juga malah diledekin" sahut Meidinah sambil melempar bantal ke wajah Laras.
Laras mendengus, " sakit tau Mei"
__ADS_1
Meidinah terkekeh melihat ekspresi sahabatnya, " sakitan disini kali Ras" sambil memegang dadanya dengan nada bercanda.
" Beda kali Mei,,, em....... Mei"
"Kenapa ? "
" Ada yang mau aku omongin ke kamu, tapi kamu janji ya jangan sedih lagi, oke ?"
" Apaan sih, iya aku janji"
"Aku pernah liat Rian jalan sama cewek.."
"Jangan suudzon Ras, mungkin sepupunya"
"Dengerin dulu Mei, belum slesai" ujar Laras.
"Iya iya Ras, Yaudah terusin"
"Awalnya aku pikir juga sepupunya, aku penasaran, aku ikutin mereka, mesra banget mereka Mei, kayak orang pacaran, mereka masuk ke bioskop".
"Aku mau bilang sama kamu, tapi aku takut entar kalian malah ribut, aku jadi enggak enak, makanya aku diem aja enggak cerita ke kamu, lagian kamu juga lagi sibuk mau sidang skripsi Mei, aku enggak mau pikiran kamu ke ganggu", ekspresi wajah Meidinah berubah, "Eh udah janji ya, enggak boleh sedih sedih, aku nyeritain ini ke kamu, biar kamu enggak mikirin dia lagi, enggak pantes pengkhianat kayak dia kamu pikirin Mei, dan asal kamu tau ya, tuh cewek ternyata lebih tajir dari Rian, makanya si Rian nya mau".
Meidinah hanya diam.
"Aku bersyukur Mei, yang tau latar belakang kamu cuma aku, jadi kamu tau mana laki laki yang tulus mana enggak, udah keliatan kan sekarang belang nya si Rian" jelas Laras dengan nada kesal.
Meidinah hanya mengangguk, benar juga apa kata Laras, gumam Meidinah dalam hati.
"Mei, kata om Wijaya kamu enggak mau makan dari kemarin, jangan gitu dong Mei, jangan nyiksa diri kamu, untuk laki laki enggak penting kayak dia"
Meidinah tertegun mendengarnya, dari mana papa tau, bukannya papa lagi diluar kota, batin Meidinah.
"Emang papa aku nelpon kamu ?" tanya Meidinah.
"Iya, kemarin om Wijaya nelpon aku, dan aku juga udah tau dari om Wijaya kalau kamu sama Rian putus".
__ADS_1
Flashback on
Kring kring kring
Handphone Laras berdering. Laras meraih handphone nya di atas meja belajar, melihat ID pemanggil Om Wijaya, Laras menaikkan sebelah alisnya, ngapain Om Wijaya nelpon, gumam Laras.
Laras menyentuh tombol hijau.
"Assalamualaikum om" ucap Laras.
"Waalaikumsalam salam Laras, om mau tanya tentang Rian, kamu tau kenapa Rian tiba tiba mutusin Meidinah ?" tanya Om Wijaya dari ujung telepon.
"Emm... Gimana ya Om, tapi ini menurut Laras ya Om, waktu itu Laras pernah liat Rian jalan bareng sama cewek, mereka kayak orang pacaran Om, Laras enggak bilang ini ke Meidinah Om, Laras enggak mau Meidinah sedih, Laras takut entar ganggu Meidinah belajar, karena itu kejadiannya pas Meidinah lagi sibuk sibuk nya mau sidang skripsi Om"
Terdengar Wijaya menghela nafas diujung telepon, "berani sekali dia membuat putri semata wayang Wijaya Chandra menangis, yaudah Laras terimakasih infonya, assalamualaikum"
"Waalaikumsalam Om"
Mampus deh si Rian, Om Wijaya bener bener Marah, gumam Laras sambil tersenyum.
Flashback off
Meidinah bingung, kapan papa balik nya, kok aku enggak ngeliat papa di rumah, batin Meidinah.
"Papa kamu udah balik kemarin Mei, dia diruang tamu, kamu masuk rumah langsung lari ke kamar, enggak ngeliat kalau papa kamu udah balik" ucap Laras.
Meidinah terdiam, aku kemarin emang enggak merhatiin siapa yang lagi dirumah, enggak merhatiin juga mobil papa ada di garasi, karena tadi pagi papa enggak ada, ku pikir papa belum pulang, gumam Meidinah dalam hati.
"Yaudah yuk makan, jangan bengong" ajak Laras sambil menarik Meidinah ke meja makan.
Bersambung
__ADS_1