
Sidang meja hijau meidinah sedang berlangsung.
Laras, Rey dan Fariz menunggu di luar ruangan.
Ya hanya Rian yang tidak kelihatan batang hidungnya. Entah dimana dia, padahal hari ini kekasihnya akan mendapatkan gelarnya.
" Eh Riz, mana nih temen kamu, kenapa belum nongol juga ?" tanya Laras.
"Aku juga enggak tau dimana dia, aku telpon nomornya enggak aktif" jawab Fariz.
" Wah parah ya temen kamu, pacarnya sidang dia malah entah kemana, bener bener nih si Rian" seru Laras kesal.
Rey yang dari tadi memperhatikan pun angkat bicara, " Yaudah sih Ras, mungkin si Rian ada keperluan mendadak enggak bisa ngasih kabar, kan tau sendiri dia sekarang gantiin papanya di perusahaan"
" Denger tuh kata Rey, kamu jangan suudzon Ras, dosa" sahut Fariz dengan nada meledek pada Laras.
Laras hanya menarik nafas panjang.
**
Meidinah keluar dari ruang sidang dengan wajah bahagia dan mata berbinar binar, yang disambut pelukan oleh Laras, dan ucapan selamat dari semua teman temannya, Meidinah memandang ke sekitar, dia mencari sosok laki laki, ya siapa lagi kalau bukan Rian, tapi dia tidak menemukannya, ada raut kecewa di wajah Meidinah. Laras yang menyadari itu langsung bertanya pada sahabat nya, "Kenapa Mei ?, nyari Rian ?, enggak ada dia, udah enggak usah di cariin, parah banget dia pacar sidang enggak dateng". Meidinah hanya tersenyum simpul, kenapa sih kamu begini sama aku Yan, batin Meidinah.
__ADS_1
Mereka pun berfoto foto ria, tidak lama ada abang abang ojol yang menghampiri mereka membawa seikat bucket mawar merah yang cukup besar kearah mereka.
"Maaf mbak, ini mbak Meidinah kan ?" tanya abang ojol pada Meidinah.
"Iya pak, saya Meidinah, ada apa ya ?"
" ini mbak ada titipan bucket untuk mbak Meidinah, dari mas Rian" ucap abang ojol, sambil menyerahkan sebuah bucket yang terdapat sebuah foto dan bertuliskan congratulation Meidinah Mayangsari, From Andrian Baskoro.
Meidinah tersenyum, sedangkan semua orang yang ada disana bersorak dan merasa iri dengan Meidinah, yang mendapatkan bucket yang besar dan cantik, tanpa mereka tau, hati Meidinah benar benar kecewa dengan Rian, bukan ini yang dia inginkan, dia menginginkan sekarang Rian ada di depannya dan memberinya ucapan selamat.
Tapi sudahalah mungkin dia benar benar sibuk, gumam Meidinah dalam hati.
-------------------------
Keesokan harinya mereka berkumpul di sebuah cafe untuk merayakan gelar baru Meidinah, tentu saja tanpa Rian, ya karena sampai saat ini tidak ada kabar dari Rian.
"Mei, ada yang mau aku omongin sama kamu.." ucapan Fariz terpotong ketika handphone Meidinah berdering.
Meidinah pun pamit untuk mengangkat telpon.
Wajah Meidinah berubah setelah dia mengangkat telpon, mereka pada bertanya tanya ada apa dengan nya, terutama Laras dia heran dengan sahabatnya, apa yang dibicarakan di telpon dan siapa yang menelponnya, kenapa wajah Meidinah langsung berubah, tapi Laras tidak menanyakannya, dia takut membuat Meidinah sedih.
__ADS_1
--------------
Sampai dirumah Meidinah langsung berlari ke kamar, Papanya heran dengan kelakukan putrinya, tidak biasanya putri semata wayangnya itu bersikap seperti itu. Meidinah mengunci diri di kamar dia menangis sejadi jadinya, " kenapa kamu tega Rian, kenapa kamu mutusin aku, salah aku apa, tanpa kamu tanya pendapatku, kamu memutuskan begitu aja hubungan kita, kenapa kamu egois, kenapa kamu seperti ini, kamu ngilang beberapa hari ini, enggak ada ngasih aku kabar, bahkan aku sidang kamu juga enggak dateng, tiba tiba kamu nelpon cuma bilang kalau kita putus, dimana letak salah ku Rian. Ya Rabb apa ini teguran dari Mu, karena aku mencintai nya melebihi cintaku pada diriku sendiri, bahkan melebihi cintaku padaMu, huuuuu" ucap Meidinah ditengah tangisan nya.
Wijaya mendengar tangisan putri nya, dia sedari tadi berdiri didepan pintu putrinya, dia hendak mengetuk pintu, tapi dia mengurungkan niatnya begitu mendengar apa yang putrinya katakan, dada Wijaya serasa sesak, dia begitu kesal, amarahnya sudah tidak bisa di tahan nya lagi, putri yang dibesarkannya dengan penuh kasih sayang dan cinta, bahkan Wijaya rela melakukan apapun untuk putrinya, bahkan jika harus mengorbankan hidupnya sekalipun, tapi hari ini putrinya menangis karena laki laki lain, hati Wijaya sangat hancur dia sangat marah, dia berjalan meninggalkan kamar putrinya dan menghubungi sekretaris nya.
"Bagas, kamu selidiki Andrian Baskoro, semua tentang dia dan keluarganya, juga apa yang dilakukannya diluar sana, kenapa dia berani membuat putriku menangis"
"Baik tuan, saya akan langsung melaporkan nya kepada anda segera" sahut Bagas dari ujung telepon.
Wijaya langsung menutup telponnya.
Kau berani macam macam dengan putri ku, kita lihat saja bagaimana nasibmu setelah ini, gumam Wijaya.
~~
Bersambung
maaf ya gaes kalau banyak typo 😁😁
Janganlah engkau berduka atas apa yang terjadi,ingatlah bahwasanya tidak ada apapun di dunia ini yang abadi. - Imam Syafii
__ADS_1