Aku Dan Masa Kelam Ku

Aku Dan Masa Kelam Ku
Cemburu ??


__ADS_3

Slesai mandi dan melaksanakan shalat dhuha, Meidinah menghampiri Rey yang sedang sibuk dengan laptopnya.


"Mas udah sarapan ?" tanya Meidinah.


"Belum sayang" jawab Rey sambil melihat Meidinah.


"Kok belum sih mas, ini udah jam berapa".


"Mas kan nunggu kamu, masa iya mas sarapan sendiri, terus istri mas enggak sarapan gitu ?, mas tinggal gitu ?".


Meidinah tersenyum, "iya deh iya, yaudah mas mau di bikinin apa buat sarapan ?".


"Apa pun yang kamu suguhkan pasti mas makan kok sayang" jawab Rey dengan tersenyum.


"Beneran nih ?, entar kalau Mei suguhkan racun dimakan juga enggak ?" tanya Meidinah menggoda Rey.


"Emang kamu tega ngasih mas racun ?, udahh siap jadi janda gitu ?" tanya Rey dengan tampang tengilnya.


"Enggak apa apa kan jadi janda kembang" Meidinah pun terkekeh.


Rey menatap istrinya lekat lekat, "kamu beneran tega kasih mas racun ?, kok jahat banget sih istri mas".


Meidinah terkekeh, "ya enggak lah".


Rey tersenyum sambil mengelus elus pipi istrinya, "kapan kamu mulai kuliah sayang ?" tanya Rey.


"Minggu depan mas, kenapa emangnya ?".


"Enggak apa apa mas cuma tanya, besok mas udah harus masuk kantor, kamu enggak apa apa kan dirumah sendiri ?".


"Enggak apa apa loh mas, lagian Mei sering ditinggal papa keluar kota, dirumah sendirian".


"Tapi kan beda sayang, sekarang kan kamu istri mas".


"Iya mas, Mei enggak apa apa kok" Meidinah pun tersenyum menatap suaminya.


"Yaudah deh, Mei mau masak dulu, entar keburu siang, jadi makan siang namanya bukan sarapan" Dia pun berlalu pergi menuju dapur. Rey pun melanjutkan pekerjaannya dan terhenti ketika istrinya kembali ke kamar.


"Kok balik lagi sayang ?" tanya Rey.


"Kita kan belum belanja mas, mau masak apa ?" tanya Mei.


"Astaghfirullah mas lupa sayang, yaudah kita makan diluar aja ya, sekalian belanja".


"Ya udah deh, Mei siap siap dulu".


Rey pun mematikan laptopnya dan bersiap.


Mereka pun pergi menuju salah satu restoran langganan Rey.


"Ayo sayang".


"Mas disini makanannya halal kan ?".


"In Syaa Allah halal sayang, mas sering kok makan disini, lagian yang punya juga orang indonesia sayang, dan dia muslim".


Meidinah membulatkan mulutnya.


Mereka pun berjalan memasuki restoran dan disambut hangat oleh para pelayan.


Mereka memilih tempat duduk agak disudut, sehingga semua bagian restauran itu dapat terlihat jelas.

__ADS_1


"Orang indo semua pelayan nya ya mas ?".


"Iya sayang, semua staf nya juga orang Indo, managernya juga, mereka punya beberapa cabang sayang, tapi khusus di restauran ini, semua pekerja nya orang Indo" jelas Rey.


"Oh" jawab Meidinah.


"Kamu bukannya sering ke Jerman ya sayang?, masa kamu belum pernah kesini ?".


"Iya mas, karena biasa kan Mei selalu makan di restauran yang ada di hotel papa, enggak pernah makan diluar, karena takut makanannya enggak halal".


"Kalau gitu kamu enggak bakalan nyesel mas ajak kesini, disini makanannya enak enak, dan tentunya hampir semua menunya itu makanan Indonesia".


Meidinah tersenyum.


Tidak lama seorang pelayan menandatangi mereka, mereka pun memesan makanan.


**


Slesai makan mereka menuju ke sebuah pusat perbelanjaan yang cukup besar di kota itu. Rey mendorong troli sementara Meidinah memilih apa saja yang akan mereka beli.


Meidinah terus memilah dan memilih mana yang akan dia beli, semenatara langkah Rey terhenti ketika seorang wanita menyapanya.


"Rey" panggil wanita itu, Rey pun berhenti dan melihat kearah wanita itu.


"Cassandra" ucap Rey.


"Tumben belanja" tanya wanita itu, yang hanya dijawab Rey dengan tersenyum.


"Kapan kamu tiba disini ?".


"Yaa sejak dua hari yang lalu".


"Emm,,, sepertinya kami akan menetap di Jerman".


"Baik lah, kalau gitu selamat berbelanja, aku lagi buru buru soalnya, lain kali aku akan mengajak mu makan siang, dah". Cassandra pun berlalu pergi meninggalkan Rey.


Meidinah sedari tadi memperhatikan mereka, siapa wanita itu, kenapa begitu akrab dengan mas Rey?, gumam Meidinah.


"Apa sudah slesai sayang ?" tanya Rey.


Meidinah hanya mengangguk, tanpa melihat kearah Rey.


Ada apa dengannya, gumam Rey.


Mereka pun mengantri di kasir untuk membayar belanjaan mereka.


Rey terus memperhatikan istrinya yang diam membisu sejak tadi, dia bertanya tanya dalam hati, ada apa dengan istrinya itu.


***


Mereka pun kembali kerumah.


"Sayang" panggil Rey.


Meidinah hanya menoleh, tanpa menjawabnya.


"Sayang".


"Sayang kamu kenapa sih ?, dari tadi mas didiemin aja".


"Enggak ada" jawab Meidinah datar tanpa melihat kearah Rey.

__ADS_1


Rey semakin heran dengan istrinya, Meidinah tidak pernah menjawab tanpa melihat wajah orang yang sedang berbicara dengannya.


Meidinah langsung masuk ke dalam kamar dan membiarkan Rey yang menyusun semua belanjaan ke dalam kulkas.


Meidinah duduk di tepi ranjang, dia terus memikirkan sosok wanita itu, kenapa dia terlihat begitu dekat dengan mas Rey, siapa dia sebenarnya, ada hubungan apa mereka sebelumnya, gumam Meidinah.


Rey sudah slesai menyusun semua belanjaan di kulkas dan juga lemari, dia pun langsung menuju kamar.


Dia melihat istrinya duduk di tepi ranjang dengan melamun, Rey pun langsung mendatangi Meidinah, "sayang kamu kenapa sih ?" tanya Rey.


Meidinah hanya diam, Rey menghembus kan nafasnya dengan kasar, dia benar benar tidak tau apa kesalahan nya.


"Mas ada salah ya sama kamu ?". Lagi lagi Meidinah tidak menjawabnya.


"Sayang....mas lagi ngomong loh sama kamu, masa suami ngomong enggak ditanggepin sih".


Meidinah hanya melirik Rey sekilas, laki laki itu semakin frustasi melihat istrinya tiba tiba seperti itu.


Rey menarik Meidinah keatas pangkuannya, "sayang...kalau mas ada salah dibilang aja, jangan diemin mas kayak gini".


Meidinah menatap Rey sekilas dan beranjak pergi, namun dia ditahan oleh Rey, "aku mau mandi mas" sembari melepaskan pelukan Rey.


Rey terpelongo, aku ?, ada apa sebenarnya dengan istriku, gumam Rey. Dia tak habis pikir karena Meidinah tidak pernah mengucapkan kata aku, namun untuk pertama kalinya Rey mendengarnya, sudah dipastikan bahwa sedang terjadi apa apa dengan nya.


Meidinah sudah keluar dari kamar mandi, di lihatnya Rey sedang berbaring di ranjang, dia tidak menghiraukannya, dia berlalu begitu saja tanpa melihat kearah Rey.


Rey menghela nafasnya, baru saja hubungannya dengan Meidinah mengalami kemajuan.


Meidinah pun melaksanakan shalat ashar tanpa Rey, sejak kembali dari supermarket Meidinah terus mendiamkan suaminya. Rey hanya diam memperhatikan istrinya yang sedang shalat, sambil memikirkan kesalahan apa yang sudah dia perbuat. Rey tampak frustasi dia berulang kali menggaruk kepala nya yang tidak gatal.


Slesai shalat Meidinah tetap dia mau berbicara dengan Rey, dia langsung menuju dapur untuk memasak, walaupun sebenarnya dia sedang tidak mood untuk melakukan apa pun.


Karena tidak di perduli kan oleh istrinya, dengan lemas Rey pun berjalan menuju kamar mandi untuk mengambil wudhu, dan melaksanakan shalat ashar.


**


Meidinah sudah slesai memasak ketika Rey turun dari kamar. Makanan sudah tersaji diatas meja, hari ini Meidinah memasak sup iga sapi, dan juga udang asam manis, masakan kesukaan Rey.


"Wahh,,, istri mas sudah slesai masak, keliatan nya enak nih" ucap Rey.


Meidinah hanya tersenyum menanggapi ucapan suaminya.


Diapun segera duduk di meja makan, Meidinah pun langsung mengambilkan makanan untuk Rey, mereka pun makan tanpa suara. Rey dan Meidinah memiliki kebiasaan makan malam setelah ashar, sebenarnya itu kebiasaan Rey, karena Rey tidak suka makan makanan berat ketika sudah lewat dari pukul enam sore. Jadi mau tidak mau Meidinah pun mengikuti kebiasaan Rey. Walaupun kadang Meidinah suka lapar ditengah malam karena kebiasaannya yang makan malam pukul delapan, Rey pun menyadari itu, akhirnya dia membelikan berbagai merk oatmeal dan juga sereal untuk Meidinah.


Slesai makan Meidinah langsung menuju kamar, masih dengan tanpa berbicara dengan suaminya. Rey pun memilih untuk berjalan jalan dilingkungan sekitar rumahnya.


***


Karena sekarang adalah musim semi, udara nya begitu segar dan sejuk, Rey memang sangat pandai memilih tempat tinggal. Rey begitu menikmati suasana kota yang sekarang ia dan istrinya tinggali, andai saja Meidinah tidak mendiamkan nya pasti akan sangat romantis jika mereka berkeliling berdua, pikirnya.


Ketika dia sibuk menikmati udara sore tiba tiba seseorang memanggil namanya.


"Rey" teriak seorang wanita memanggil nama Rey.


****


Sesungguhnya wanita (sanggup) menyembunyikan cinta selama empat puluh tahun, namun tidak (sanggup) menyembunyikan kecemburuan walau hanya sesaat. - Sayyidina Ali bin Abi Thalib.


Bersambung


Wayo kira kira siapa wanitanya ????

__ADS_1


__ADS_2