Aku Pun Ingin Bahagia

Aku Pun Ingin Bahagia
Episode 31


__ADS_3

...♧ ♧ ♧ ♧ ♧...


"Tadi,bapak tidak sengaja bertemu dengan anak ini saat bapak mau mengunci mesjid.Sepertinya dia sedang ada masalah," ucap bapak itu.


"Kalau boleh tau,Naima tinggal di mana?" tanya nenek itu.


"Aku sebenarnya asli dari T*******a,hanya saja sekarang aku tengah ikut merantau bersama suami ku di sini.Aku ngontrak di kontrakannya pak Jaki,"


"Oh maksud anda ustad Jaki yang suka mengajar mengaji anak-anak itu?" tanya beliau.


"Iya bu......."


"Sudah lah bu,untuk malam ini biarkan Naima istirahat lebih dulu.Dia pasti kelelahan dan butuh istirahat," ucap bapak itu.


"Oh iya,sebelumnya saya sangat berterima kasih atas kebaikan bapak saat ini."


"Kalau boleh tahu,bapak dan ibu namanya siapa yah? Aku lupa dari tadi tidak menanyakannya."


"Nama bapak Gupron dan istri saya namanya Ningsih,bapak sendiri asli dari Banten sedangkan ibu asli orang sini."


"Oh gitu,"


"Bapak tidak akan bertanya banyak sama Naima,soalnya itu bukan urusan bapak juga.Tapi bapak hanya bisa bantu Naima saja," ucap beliau.


"Iya pak,saya malah yang sangat berterima kasih karena bapak sudah menolong ku."


"Oh iya,ini cucu yang bapak ceritakan tadi.Kebetulan dia sedang main ke sini,sebenarnya dia tinggal di Malang sama orang tuanya.Hanya saja,karena sekolahnya sedang libur jadi dia main ke sini."


"Anak bapak banyak,hanya saja sekarang mereka udah berkeluarga dan jauh semua.Paling setahun dua kali kami bisa berkumpul." lanjut beliau.


"Iya itu juga kadang-kadang," timpal Nurma.


"Ya kan karena anak-anak kakek juga udah berkeluarga dan punya urusan masing-masing juga.Yang terpenting mereka selalu meluangkan waktu untuk bertemu kakek sama nenek saat mereka bisa." jelas beliau.


"Iya deh,"


"Ya sudah,karena ini sudah larut.Ajaklah kak Naima tidur di kamar kamu," suruh beliau.


"Iya kek......"


"Ayo kak," ajak Nurma.


Nurma pun mengajak ku ke dalam dan menuju ke kamar yang di maksud.Ternyara rumah kakek besar juga,hanya saja ukuranya yang memanjang ke belakang.

__ADS_1


"Nah di sinilah,kamar aku.Ini sih sebenarnya kamar yang biasa di gunakan oleh orang tua ku kalau ke sini,hanya saja karena kamar yang biasa aku tempati sedang di perbaiki,jadinya aku tidur di sini sekarang." jelas Nurma.


"Iya nggak apa-apa,ini sangat nyaman dan cukup besar juga di bandingkan sama kontrakan kakak."


"Oh gitu yah?"


"Iya paling ukuranya hanya setengah dari ini saja."


Dia pun tersenyum mendengar ucapan ku.Kami berdua pun akhirnya tidur bersama,untungnya kasurnya sendiri itu bisa di tarik bagian bawahnya.Jadinya aku bisa tidur di kasur yang paling bawah.


...♧ ♧ ♧ ♧ ♧...


Tepat pukul jam 3 pagi,aku terbangun karena mendengar suara pintu yang terbuka.Ternyata itu Nurma yang baru saja masuk kembali ke kamar.


"Maaf yah kak,aku malah ganggu tidur kakak." ucap nya melihat aku yang terbangun.


"Tidak apa-apa,"


"Aku habis ambil wudhu barusan,aku mau shalat tahajud.Ini sudah menjadi kebiasaan aku soalnya," ucapnya.


Aku sangat merasa terpukul mendengar perkataannya,anak yang baru berusia sekitar 12 tahun saja sudah sangat rajin menunaikan shalat tahajud.Tapi aku,sangat berbanding terbalik dengannya.


"Kakak mau shalat tahajud juga,kebetulan ada mukena milik ibu ku di lemari kalau mau."


"Iya aku mau......"


Aku merasa sangat tersentuh dan merasa tenang sekarang.Bersyukur karena malam tadi aku di pertemukan dengan keluarga yang baik.Aku banyak belajar dari keluarga ini.


...♧ ♧ ♧ ♧ ♧...


Setelah aku,Nurma dan nenek menunaikan shalat subuh,aku membantu nenek untum menyiapkan makanan untuk sarapan nanti.Begitu pun dengan Nurma yang sangat semangat membuat adonan pisang goreng ke sukaan kakeknya.


Nenek dan Nurma banyak bercerita banyak hal pada ku dan itu cukup buat aku terhibur.Beliau sendiri meminta aku untuk sering-sering mengunjungi beliau nanti kedepannya.


"Naima....." ucap nenek.


"Iya nek,"


"Nenek hanya bisa berpesan sama kamu,"


"Apa itu?" tanya ku.


"Coba kamu ambil beras yang ada di dalam mangkuk itu," ucap nya.

__ADS_1


Aku pun langsung melakukan perintahnya,meskipun sebenarnya aku bingung.


"Coba kamu genggam sekuat yang kamu bisa."


Aku pun mengikuti perintahnya kembali,


"Bagaimana? Apakah tangan kamu merasakan sakit karena menggenggam beras itu?" tanya beliau.


"Sakit nek....."


"Seperti itu lah,"


"Segala sesuatu yang berusaha kamu lindungi atau kamu genggam kalau buat kamu sakit untuk apa.Kamu juga berhak untuk bahagia,"


"Tapi,jangan mengambil keputusan saat keadaan kamu marah atau pun kecewa.Perbanyaklah shalat tahajud dan meminta sama Allah S.W.T untuk mendapatkan petunjuknya." lanjut beliau.


Aku sempat meneteskan air mataku saat beliau mengatakan itu semua,aku merasa apa yang di katakan beliau benar semua.


Selama ini aku terlalu sibuk mengurus urusan dunia ku dan melupakan urusan akhirat ku.Mungkin saat ini Allah S.W.T tengah menguji aku dengan cobaan ini.


"Hayo......"


"Apa yang nenek dan kak Naima bicarakan,aku perhatikan dari kejauhan sepertinya tengah bicara serius." ucap Nurma yang baru saja kembali dari warung.


"Tidak ada kok," balas nenek.


...♧ ♧ ♧ ♧ ♧...


Kami berempat pun,sarapan dengan menu seadanya yang kami buat tadi.Aku sangat bisa merasakan kehangatan dari keluarga ini,jadinya aku sangat merindukan kebersamaan dengan kedua orang tua ku yang jauh di sana.


Tepat pukul jam 9 pagi,aku pun berpamitan kepada mereka semua untuk pulang.Aku mengira pulang pada jam segitu,Dani sudah berangkat kerja dan aku bisa memikirkan apa yang akan aku putuskan kedepannya.


Tapi ternyata aku salah,saat aku membuka pintu kontrakan ku,dia ada di dalam tengah tertunduk lemas.


Setelah melihat kedatangan ku,dia langsung bangkit dan langsung memeluk ku.


"Kamu dari mana saja? Semalaman aku mencari kamu,"


Aku berusaha melepaskan pelukannya,karena bagaimana pun aku masih merasa kesal terhadapnya.


"Kamu semalam tidur di mana? Sampai-sampai aku tidak bisa menghubungi kamu,"


"Lepaskan dulu,aku merasa sesak sekarang." ucap ku.

__ADS_1


Dia pun langsung melepaskan pelukannya dan langsung memegang tangan ku.Aku bisa melihat raut wajahnya yang berantakan dan kusut.Sebenarnya hati aku tidak tega melihatnya,tapi saat aku mengingat kembali apa yang telah dia lakukan rasanya aku ingin memukul dan pergi dari hadapannya.


"Aku ingin mandi," ucap ku melepaskan genggaman tangannya dan langsung masuk ke dalam kamar mandi.


__ADS_2