
...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...
"Aku yang malah berterima kasih sama mas Hadi,karena sudah memberi tahu aku semua kebenarannya.Mungkin aku juga harus mengambil langkah untuk suami aku ini."
"Ya aku memang mengakui,kalau adik ku itu anaknya sedikit kemayu.Kami sekeluarga tidak sedikit pun menaruh curiga padanya,namun setelah melihat semua bukti ini kami sudah tidak bisa lagi membiarkannya." balas mas Hadi.
"Lihat aja,isi chatan mereka berdua.Mereka saling bertukar foto kepunyaan mereka masing-masing,atau pun vidio mereka yang tengah memegang kepunyaannya sambil memainkannya.Ini sudah di luar batas mba," lanjutnya.
"Kalau boleh,aku mau meminta semua bukti yang mba punya.Aku juga pasti membutuhkan nya untuk aku jadikan bukti nantinya."
"Dengan senang hati mba,"
"Aku penasaran mereka awalnya tahu dari mana yah dan bisa saling kenal.Padahal mas bilang adiknya baru keluar sekolah."
"Ada aplikasi khusus untuk itu,tapi setahu aku mereka saling mengenal lewat aplikasi M*C**t.Di sana mereka akan dengan mudah mencari pasangan sesama jenis,karena memang ada kayak komunitas nya juga." jelas mas Hadi.
"Terus,sekarang di mana adik mas Hadi berada?"
"Keluarga ku membawa dia ke rumah nenek kami yang ada di Jawa Timur.Kami beralasan kalau nenek sedang sakit parah,kalau tidak seperti itu pasti adik aku tidak akan mau ikut."
"Aku sendiri sengaja berangkat belakangan,karena aku ingin menyampaikan ini semua pada mba.Mumpung belum terlambat mba,segeralah bawa suami mba dan obati dia." lanjut nya.
"Iya mas,makasih ya atas apa yang anda sampaikan pada ku.Mungin ini saatnya untuk aku membawa suami aku juga." balas ku.
...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...
"De......"
"Iya teh?"
"Ada yang ingin teteh perlihatkan sama kamu,tapi teteh harap kamu jangan dulu menceritakan ini semua sama siapa pun."
"Emangnya ada apa teh? Apa terjadi sesuatu?"
Tanpa ragu aku mengirimkan semua buktinya sama adik ipar ku dengan tangisan yang menyertai ku.
"Astagfirullah......"
"Ya Allah teh, apakah ini semua benar? Apa aku tidak salah lihat?"
"Ini semua benar de,"
"Aku tidak mungkin menceritakan ini semua sama ibu,beliau pasti akan terluka dan aku takut nantinya beliau jatuh sakit."
"Teteh bingung de,harus bilang sama siapa lagi."
__ADS_1
"Teteh tidak salah kok,"
"Nanti aku akan bicarakan ini sama ayah,aku yakin ayah akan bantu teteh dan aku."
"Iya de......."
Kami pun mengakhiri percakapan kami di wa dan tidak lupa aku menghapusnya.Aku.harus bersabar dan menunggu keputusan dari ayah mertua ku.
...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...
Tepat pukul jam 5 sore Dani pun pulang dari tempat kerjanya.Dengan sekuat tenaga aku menahan amarah ku supaya dia tidak curiga.Aku berusaha bersikap biasa saja padanya.
Dia terlihat sedikit lesu,mungkin karena dia sudah kehilangan pasangan dia akhir-akhir ini.
"Aku tidak masak banyak,soalnya tadi aku pulang dari bank kesiangan."
"Terus gimana? Apa atm nya sudah jadi?"
"Jadi bagaimana,pas aku sampai di sana antriannya sudah di tutup.Katanya hanya sampai jam 8 pagi aja di buka antriannya." aku berusaha membohongi dia.
"Ya sudahlah,mungkin aku bisa mencobanya di lain hari saja."
"Sebaiknya kita makan aja dulu,keburu dingin." ajak ku mengalihkan perhatian Dani.
"Ya sudah,tapi aku mau cuci dulu tangan ku yah."
...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...
Aku pun langsung mencabut colokan setrikaannya dan meraih HP yang aku letakan di atas kasur.
"Iya pak....."
"Bapak sudah mendengar ceritanya dari adik kamu.Sekarang Dani nya kerja apa bagaimana?"
"Iya pak,dia sedang kerja.'"
"Sebelumnya bapak mau minta maaf sama kamu,karena pastinya kamu sudah di buat kecewa oleh anak bapak."
"Sekarang keputusannya ada di tangan kamu,"
"Ya kalau aku sendiri,selagi masih bisa di perbaiki dan di obati aku mau membersamai Dani sampai akhir."
"Bapak berencana untuk membawa dia ke suatu tempat,kata adik ipar kamu.Di kampung ada yang biasa mengobati penyakit seperti itu."
"Tapi sebisa mungkin,Dani jangan di kasih tau kalau mau di obati.Nanti yang ada,bapak takutnya dia malah kabur atau melakukan hal yang tidak di inginkan."
__ADS_1
"Pastinya dia juga nggak akan mau,apalagi kalau dia tahu kelurga nya sendiri sudah mengetahui prilaku menyimpang dia."
"Iya pak...."
"Alasan nya mah,apa saja.Yang penting dia mau untuk di ajak pulang.Kalau tidak segera di obati,takutnya dia semakin berani dan yang ada nantinya berpengaruh sama kerjaan dia.Bapak takut, rekan kerja dia mengetahui kebenarannya dan dia nantinya akan di kucilkan."
"Iya pak,itu juga yang aku takutkan."
"Baiklah,aku akan coba cari alasan untuk mengajak nya pulang secepatnya."
"Nanti kalau kamu berhasil mengajak dia untuk pulang,kasih tau bapak juga yah.Bapak akan langsung menyusul pulang juga."
"Baik pak,"
"Ya sudah,kamu jangan lupa makan.Yang terpenting sekarang adalah kesehatan kamu,"
"Iya pak....."
Beliau pun langsung menutup telponnya,aku pun langsung menghela nafasku yang terasa berat.
Meskipun awalnya aku sempat ragu,untuk mengungkapkan semuanya pada keluarga Dani.
Tapi mungkin,inilah keputusan yang harus aku ambil.Supaya aku tidak terlambat nantinya dan apa yang di katakan mertua ku benar.Bagaimana kalau nanti kedepannya orang-orang di sekitar kami mengetahui kebenarannya,aku takutkan dia di jauhi dan jadi bahan omongan.
...¶ ¶ ¶ ¶ ¶ ¶...
Sorenya aku sudah memutuskan untuk mengajaknya pulang dengan alasan kedua orang tua ku sedang bertengkar hebat dan mereka mengatakan akan berpisah.
"Mas......."
"Ayo kita pulang," ajak ku.
"Lah,kenapa kok tiba-tiba? Ada apa?" tanya nya.
"Tadi siang kakak tiri ku menelpon aku,katanya orang tua ku sedang bertengkar dan mereka mengatakan akan berpisah.Kakak meminta kita supaya pulang dan membujuk mereka supaya tidak jadi berpisah."
"Katanya mungkin kalau sama kita,bapak sama ibu bisa mendengarnya.Ayolah mas,aku tidak mau orang tua ku berpisah," lanjut ku.
Dia pun sempat terdiam,mungkin dia kebingungan karena aku tiba-tiba saja mengajaknya pulang.
"Baiklah,paling nanti saya mau ambil cuti tahunan saja beberapa hari."
"Ya sudah,sekarang kamu siap-siap aja.Jangan terlalu bawa banyak barang bawaan,kita kan hanya pulang sebentar ini."
" Iya......."
__ADS_1
Batinku tersenyum,setelah mendengar persetujuan dia untuk pulang bersama ku.Ya meskipun,aku harus membohongi dia seperti ini.Dan melibatkan kedua orang tua ku,yang sebenarnya baik-baik saja.
"