Aku Sangat Mencintai Kamu

Aku Sangat Mencintai Kamu
flashback


__ADS_3

Bi titi kini tengah membuat roti coklat di dapur dengan pembantu yang lainya.


"Non nawa kemana bi?" Tanya bi asih yang tengah membantunya menyiapkan loyang.


"Katanya keluar sama den adit"


"Mereka cocok ya bi" bi titi tersenyum karna perkataan bi asih.


"Mereka cuma temen"


"Den adit ganteng non nawa juga cantik kalo mereka nikah pasti anaknya cakep cakep"


"Memperbaiki keturunan ya kan bi hahahaha" canda bi titi.


"Eeehhh jangan salah den jeje gak kalah gantengnya dari den adit" ujar bi sekar.


Bi asih dan bi titi sama sama menoleh ke arah bi sekar yang tengah mencuci buah buahan.


"Jangan sampe non nawa tau kalo kalian jodoh jodohin dia sama den adit bisa marah nanti" bi sekar memindahkan buah buahan itu di keranjang buah "den jeje sama non nawa itukan udah pacaran"


"Oh iya bibi lupa" ujar bi titi sambil menepuk jidatnya.


"Ohh udah jadian sama den jeje kirain belum" sambung bi asih yang baru mengetahuinya.


"bunda!" teriak nawa.


"Non nawa kayaknya udah pulang, saya pergi dulu, bi asih lanjutin buat rotinya"


"Siap komandan"


Bi titi pun menghampiri nawa.


Nawa kini tengah duduk bersandar di sofa ruang tamu sambil memejamkan matanya


"Loh, den aditnya mana, gak jadi makan di sini".


"Adit masih di cafe bun" bi titi yang melihat nawa cemberut langsung menghampiri dan duduk di sebelahnya.


"bun" lirih nawa, ia menoleh ke arah bi titi lalu langsung memeluknya.


"Eehh anak bunda kenapa ini, kok pulang dari cafe kaya gini" Bi titi langsung mengelus punggung nawa.


"Jeje selingkuh"


"APA!" Nawa yang berada di dekapanya langsung melepaskan pelukanya.


"Ihh nawa kaget, teriaknya jangan kenceng kenceng" ujar nawa.


"Kok bisa selingkuh?" Tanya bi titi menghiraukan ucapan nawa.


"Tadi di cafe jeje nembak chindi dia mahasiswa baru dia juga kerja di cafe"


"Terus"


"Nawa seneng karna jeje di tolak chindi tapi...


flashback


"LAIN KALI KALO MAU SELINGKUH BILANG BILANG, BIAR NAWA CARIIN YANG LEBIH CANTIK DARI NAWA"


Jeje yang mendengar teriakan nawa langsung berjalan ke arahnya.


"Jeje jangan selingkuh mending sama nawa aja ya kan do" nawa menyenggol lengan dodo yang duduk di sebelahnya.


Jeje menghembuskan nafasnya, ia melihat sekitar ada banyal yang berbisik bisik tentangnya itu karna nawa.


"Yaampun ternyata dia udah punya pacar"


"Untung si cewek tegar dia malah dukung pacarnya buat selingkuh, gue yakin pasti sakit hati banget tuh ceweknya"

__ADS_1


"Laki laki mah gitu udah dapet satu tapi maunya seribu"


"Kalo gue jadi ceweknya langsung gue labrak tuh"


"Ganteng sih tapii gak setia"


Kuping jeje seketika memerah mendengar orang orang yang berada di sana, tidak pernah dia merasakan ini, untuk menembak chindi pun ia harus berlatih mentalnya beberapa hari.


"Ikut gue" jeje menarik tangan nawa.


"Ih jeje bisa pelan gak sih sakit tau"


Jeje membawa nawa ke area parkir tanpa mendengarkan ocehan nawa.


Nawa cemberut ia mengusap tanganya sendiri yang memerah karena jeje.


"Lo mau mempermaluin gue di depan banyak orang kaya tadi"


"Siapa? ya gak lah ada ada aja, nawa gak berniat kaya gitu"


"Dengan lo ngomong kaya tadi, teriak kaya tadi lo gak nyadar!" bentak jeje.


nawa kini menatap mata jeje, bukan tatapan cinta yang seperti biasanya nawa berikan pada jeje, melainkan tatapan kekecewaan.


"Jeje tau, rasanya hati nawa sakit saat liat jeje genggam tangan chindi, jeje natap chindi tulus, jeje gak pernah kaya gitu kenawa, padahal di sini nawa kan pacar jeje"


"Gue bukan pacar lo, gue ingetin jeje suka sama chindi bukan nawa" tegas jeje.


"Gak boleh, jeje itu udah punya nawa selamanya" nawa menggenggam tangan jeje.


"Gila lo ya, berobat sana, sejak kapan gue jadi pacar lo" jeje menghempaskan tangan nawa.


" sorry na gue dulu tolak lo saat lo nembak gue di kampus, vera yang jadi saksi dia juga liat gue diem aja, waktu itu lo langsung nganggep gue pacar lo, gue gak suka sama lo na".


"jeje itu punya nawa" lirih nawa.


"emang dasar lo udah gila udah jelas jelas gue nolak lo"


"Gue nyesel berteman sama lo, cewek kaya lo yang harus gue jauhi!"


Nawa yang berada di dalam mobil dapat mendengarnya karena jeje sengaja berkata dengan cukup lantang, nawa mengepalkan tanganya.


"Karna chindi jeje bener bener berubah" lirihnya, nawa menundukan kepalanya "gue gak terima" nawa kembali keluar dari mobilnya, ia melewati jeje ia kembali masuk ke dalam cafe.


"Mau apa tuh anak" lirih jeje sambil menyusul nawa.


Nawa mengepalkan tanganya mencari keberadaan chindi, nawa menghampiri meja tadi di mana chindi berada dan hasilnya tidak ada.


rasanya ingin sekali nawa mencakar chindi sekarang.


"Nawa mau apa?" Tanya vera yang melihat nawa kembali masuk ke dalam cafe.


"Gak tau, tapi kaya lagi marah gitu" jawab dodo.


"Kita samperin" adit pun beranjak di ikuti yang lain.


Nawa kini melihat chindi yang tengah berjalan membawa pesanan, nawa berjalan menghampirinya.


"chindi" ujar nawa sambil menghadang jalan nya.


"Ya kenapa mba"


Nawa tersenyum ke arahnya "lo kasih obat apa ke jeje kenapa dia jadi kaya gitu"


"Obat?"


PRANG


" gak usah sok polos" nawa merampas nampan di tangan chindi dan membantingnya begitu saja.

__ADS_1


"karna lo ini semua karna lo!" Bentak nawa sambil menunjuk wajah chindi dengan amarah yang ketara di wajahnya.


Para pengunjung cafe yang tengah fokus pada kegiatan masing masing kini lebih fokus memperhatikan nawa dan chindi.


"Gue ingetin jangan deketin jeje dia pacar gue"


"Apaan sih, maksud lo apa, jeje itu bukan pacar lo dia udah cerita semua, jeje sukanya sama gue" kata chindi.


"Perempuna gila" kata nawa.


"Stop!"


Vera menarik nawa "lo apa apan sih ada banyak orang lo gak malu?"


"Chindi lo dasar cewek sialan, murahan beraninya cuma rebut punya orang!" Teriak nawa menghiraukan perkataan vera.


Jeje berjalan menghampiri mereka


"Lo gak papa?" Tanya jeje lebut pada chindi.


"Jeje gak tanya gitu ke nawa?" Tanya nawa.


"Buat apa?"


"Jeje udah gak peduli sama nawa, padahal kita udah sahabatan sejak kecil"


"Gue nyesel"


Vera, adit dan dodo terkejut karena perkataan jeje, ia mengatakanya seperti tidak merasa bersalah sedikit pun.


Nawa mengeratkan kepalan tanganya "nawa gak papa kalo jeje gak anggep nawa pacar! nawa selama ini gak masalah, nawa terima jeje yang selalu dingin, selalu gak anggep nawa dan gak pernah hargain perjuangan nawa, nawa terima!" Teriak nawa.


" tapi kalo jeje gak anggep nawa sahabat lagi nawa gak bisa, nawa gak nyangka jeje bakal bilang nyesel karena temenan sama nawa, dan ini semua karna dia si cewek murahan" tunjuk nawa pada chindi.


"Stop ngatain chindi!, gue kaya gini karna kelakuan lo sendiri, stop salahin chindi!"


"chindi sialan, brengsek, murahan dan jeje suka cewek kaya dia!"


"Stop nawa! Disini lo yang keliatan murahan"


BUG


Adit sudah tak tahan, ia lelah melihat perdebatan itu.


"Brengsek, maksud lo apa" adit memukul rahang jeje.


"Udah udah udah" vera merelai perkelahian mereka, jeje yang di tarik oleh dodo dan chindi menjuh dan vera yang membawa adit.


Sedangkan nawa ia menunduk.


nawa mendongak menatap kekacauan yang ia lakukan "Nawa lo abis ngapain tadi, seharusnya lo pulang ngapain bikin keributan di sini" lirih nawa.


Nawa menatap sahabatnya "ini semua salah gue" lirihnya, ia melirik adit dan jeje bergantia setelah itu nawa berbalik.


Nawa berjalan meninggalkan cafe, ia ingin pulang.


flashback off


"Non kalo mau nangis gak papa ada bibi kok" ujar bi asih yang entah dari kapan berada di situ.


"Iya ada bi sekar juga"


Nawa menatap bi titi bi asih dan bi sekar bergantian.


"Ngapain nangis gak ada manfaatnya" nawa menyilangkan tanganya " nawa gak lemah, air mata nawa cuma buat keluarga nawa gak ada yang lain, mending sekarang nawa makan" ujar nawa di akhiri senyum manisnya.


"Ayok bibi udah masak banyak"


"Kalian juga makan di meja makan sama nawa, temenin nawa, gak usah malu malu ajak pembantu yang lainya juga, semuanya suruh makan bareng sama nawa, pak satpan juga di aja ya bi"

__ADS_1


"Siap non!"


__ADS_2