
Kediaman rumah jeje...
Malam yang cukup berangin padahal jarum jam masih menunjukan jam setengah delapan.
Jeje, pria itu kini menuruni tangga sambul mengenakan jakitnya.
"Mau kemana?" Suara ayahnya yang tak sengaja melihat jeje.
"Keluar bentar, papa mau nitip sesuatu" tawar jeje.
"Martabak telor jangan pake lama" ujar ayahnya dan mendapatkan anggukan jeje "mau kemana sih?" Tanya ayahnya.
"cuma mau ke rumah nawa bentar"
"Ciee kangen, udah pulang emang?"
"Kata vera sore tadi harusnya udah pulang"
"Yaudah sana hati hati, jam sembilan harus udah sampai rumah, pesenan ayah juga jangan lupa"
"iya yah, Yaudah jeje pamit assalamualaikum"
"Waalaikumussalam"
Jeje malam ini ingin membawa motor, ia tidak akan membawa mobilnya itu karen baru tadi sore ia mencucinya.
Namun baru saja jeje menunggangi motornya ponselnya berbunyi.
"Halo" kata jeje setelah mengangkat telfon.
"Halo"
"Ada apa"
"Maaf ganggu ya?"
"Gak kok, chindi gak pernah ganggu"
"Malam ini ada acara?"
"Gak ada, kenapa?"
"Tadi aku udah beli tiket, mau nonton sama temen tapi temen aku gak jadi, jeje mau temenin chindi?"
"Eemm boleh"
"Asik, sekarang ya?"
"Siap, aku langsung jemput"
Karna terlalu bersemangat jeje melupakan niat awalnya untuk ke rumah nawa.
Selang beberapa menit jeje pun sudah berada di depan rumah chindi, tidak menunggu lama chindi langsung keluar dengan pakaian yang sudah rapi.
"Cantik" ujar jeje sambil membantu mengenakan helem kepada chindi.
"Jeje juga ganteng" jawabnya di akhiri senyuman manisnya.
"Yuk naik"
"Jangan ngebut ya"
"Tenang aja"
Mereka benar benar pergi menonton malam ini, mereka terlihat bahagia dari raut wajah masing masing.
"Chindi tadi di cafe gimana?" Tanya jeje.
"Gak gimana gimana, kayak biasa aja"
"Kamu jaga kesehatan ya jangan sampai sakit"
"Iya, kamu juga"
Hening jeje lebih fokus pada jalanan.
"Je" panggil chindi.
"Kenapa"
"Ayah aku udah tau kalau aku sering di jemput atau di anter sama kamu tau"
"Masa sih?" Chindi mengangguk.
"Kata ayah, aku gak boleh pacaran, tapi kalau ada yang bener bener serius harus ketemu sama ayah, jadii kalau kamu bener bener serius temui ayah aku" jeje tak menjawab itu ia hanya diam, sedikit ragu untuk menjawab perkataan chindi.
"Kamu udah makan?" Tanya chindi.
"Udah, kamu udah belum?"
__ADS_1
"Udah"
Tak terasa mereka kini sudah sampai, jeje melepas helem di kepala chindi.
"Yuk masuk" ajak chindi jeje pun menganggukinya.
"Kak jeje" tiba tiba ada yang memanggilnya dari arah belakang.
Jeje dan chindi sama sama menoleh ke sumber suara.
"Vera" lirih jeje.
"ngapain di sini?" Tanya vera.
"Mau nonton, zeval mana?"
"katanya sih tadi mau Kebelakang dulu" vera menoleh ke arah chindi yang tengah menatapnya.
"Gak jadi kerumah nawa?"
Jeje terdiam ia baru menyadari niat awalnya.
"Katanya mau kerumah nawa, gak jadi?" Tanya vera lagi.
"Nanti" jawab jeje.
"Keburu tidur nawa nya, gue masuk dulu dadah" vera meninggalkan jeje dan chindi.
"Yuk masuk" ajak jeje sambil menggandeng tangan chindi.
...****************...
Nawa keluar dari kamar mandi setelah membersihkan tubuhnya.
Nawa berjalan membuka tirai di jendela kamarnya, membiarkan cahaya matahari menembus celah kamarnya.
"Beneran udah sembuh?" Tanya kakaknya sambil membawakan adiknya susu hangat.
"Udah kak, besok nawa mau ikut ke kantor" kata nawa sambil menoleh ke arah kakaknya.
"Beneran mau bantu kakak"
"Hehehe nawa liatin kakak dulu, lagian bosen di rumah"
"Yaudah nih minum dulu"
"Udah, nawa juga kasih tau kebunda tentang mimpi itu"
"Kata bunda apa?"
"Karna belum doa"
"Tuh kan"
"Bunda juga mau dateng ke sini, seneng deh bunda kesini"
"Kakak juga kangen bunda"
"Kakak hari ini kerja di rumah kan?"
"ia, sekalian nemenin kamu dulu"
nawa kembali menaiki tempat tidurnya.
"susunya di minum, kalo masih pusing tidur lagi aja" kata sophia dan mendapat anggukan dari nawa, setelah itu sophia pergi keluar dari kamar nawa.
Setelah menghabiskan susu pemberian kakaknya nawa pun merebahkan dirinya, setelah meminum obat rasanya nawa ingin memejamkan matanya siap menuju alam mimpi, padahal sekarang masih siang.
Nawa memiringkan tubuhnya, menatap foto dirinya dengan ayahnya yang ia pajang di dinding.
"Papa nawa mau tidur, papa mampir kemimpi nawa yaaa"
Sophia yang baru turun dari kamar nawa berjalan menuju ruang tv, ia ingin menyelesaikan pekerjaanya di sana sambil bersantai dari pada di ruangan kerjanya sendiri.
"Nyonya sophia sup nya sudah saya letakan di atas meja" ucap pelayan.
"Makasih" jawab sophia.
"Oke siang hari yang panjang, siang ini kita bekerja cukup sampai jam tujuh malam" monolog sophia sambil mengetikan jari lentiknya di laptop.
Sophia tak pernah mengeluh di setiap pekerjaanya, ia selalu menikmatinya, memang kehidupan dia menjadi berat saat kepergian sang ayah, di tambah ibunya sekarang yang semakin lama semakin berubah, sophia seperti merasakan sebagai kepala keluarga menggantikan mendiang ayahnya.
Meski di saat masa terpuruknya, di masa lelahnya, di saat ia ingin menyerah ia akan berusah tegar untuk adiknya, di saat ia butuh sandaran akan ada hansol yang akan sedia memberikan bahunya, sophia hanya bisa bersyukur sekarang.
'trimakasih Tuhan telah memberikan seseorang sebagai tempat ku singgah, terimakasih telah memberikan ku kehidupan yang cukup sempurna, aku bersyukur atas semuanya'
...****************...
Jeje turun dari motornya saat baru sampai rumahnya, jeje berjalan sambil sesekali tertawa melihat chat yang teman temanya kirimkan di grup.
__ADS_1
"Baru pulang" jeje tersentak kaget saat tiba tiba ayahnya bersuara di ruang tamu.
"Papa" jeje menghampiri ayahnya "belum tidur pa"
"Kalo udah tidur ayah gak akan di sini"
"Hehehehe"
"Pesenan papa mana?" tanya ayahnya sambil menyodorkan tanganya meminta martabak pesananya.
"Yah jeje lupa"
"Lupa nih, kalo udah ketemu pacar lupa nih sama pesenan papanya" ujar ayahnya merajuk.
"Maaf jeje lupa, apa mau jeje beliin sekarang?"
"Gak usah mending kamu tidur udah malem, besok kan kuliah"
"Oke"
"Kabar nawa gimana?"
Jeje hanya menatap ayahnya saat ayahnya bertanya.
"Yaampun nih anak, papa nanya gak mau di jawab?"
"Hehehe sebenernya jeje gak jadi kerumah nawa"
"Lah kok bisa, mampir kemana kamu, kerumah janda kembang yang ada di komplek sebelah, kamu ini udah ada nawa inget, papa aja mau kesana gak jadi karna udah ada mamah"
"Yeee itu sih papa, jeje tadi main, gak jadi kerumah nawa, besok aja pulang kuliah jeje ke sana"
"Terserah kamu deh" lirih ayahnya, jeje beranjak ingin menuju kamarnya saat merasa tak ada pembahasan lagi.
"Je" panggil ayahnya, jeje pun menoleh ke arah ayahnya sambil menaikan sebelah alisnya.
"Janda sebelah cantik kan je"
"MAMA PAPA MAU CARI JANDAA" teriak jeje
"Huss nih anak" jeje langsung lari di ikuti dengan tawanya.
"Kalo ngomong suka bener wahahahaha"
"AYAAAHH" seketika ia terlonjat saat mendengar suara istrinya, ternyata istrinya sudah berkacak pinggang memperhatikan dirinya sedari tadi.
"MALAM INI TIDUR DI TERAS, TITIK!!"
...****************...
Sophia merenggangkan otot tanganya, ia melihat jam sekarang sudah menunjukan jam tiga sore, ia ingin mengistirahatkan tubuhnya sejenak.
"cape juga yaaa"
"BUNDAAAA"
Sophia yang mendengar teriakan dari kamar nawa seketika langsung berdiri dari duduknya.
Karena suasana rumah sepi teriakan nawa dapat terdengar nyaring, ke adaan yang semula senyap kini terdengar langkah kaki, terdapat beberapa pelayan yang menghampiri sophia.
"Nyonya sophia ada apa?" Tanya salah satu pelayan, bahkan stif dan tom ikut menghampiri.
"Saya juga gak tau"
"Bundaa"
Semua mata tertuju pada nawa yang tengah berjalan dengan muka bantalnya.
"Nawa kenapa?" sophia berjalan menghampiri nawa.
"Tadi papa" nawa tak lagi melanjutkan kaliamatnya.
Sophia memeluk adiknya dengan cukup erat.
"Tadii papa-
"Udah" sophia mengelus punggung adiknya, ia merasa khawatir "kamu mimpi buruk lagi?" Nawa menjawab dengan anggukan.
Sophia melepas pelukanya, merapikan rambut adiknya "tubuh kamu kok panas lagi?, kakak coba telfon dokter ya"
"Gak mau" tolak nawa.
"Yaudah kita ke kamar, kakak temenin" nawa pun menganggukinya.
"Kalian lanjutkan pekerjaan masing masing, nawa cuma mimpi buruk" ujar sophia pada pelayan, tom dan stif.
"Nawa udah doa tapi kok masih mimpi buruk?" tanya nawa pada kakaknya.
"Makanya jangan mikir yang aneh aneh kalo mau tidur"
__ADS_1