Aku Sangat Mencintai Kamu

Aku Sangat Mencintai Kamu
maaf


__ADS_3

Keadaan di cafe kini kembali tenang, semua pengunjung kembali ke aktifitas mereka masing masing.


Para pengunjung tidak terganggu dengan apa yang telah terjadi, mereka malah menganggap itu hanya sebuah drama biasa.


"Udah dit jangan sampai persahabatan kita runtuh cuma karna masalah ini" peringat vera "lo tenang oke"


Adit hanya diam ia berusaha meredam emosinya.


"Minggir ver gue mau pulang"


Adit berdiri dari duduknya, sebelum ia pergi adit melirik ke arah jeje, adit memutar bola matanya malas lalu ia pergi meninggalkan cafe.


Saat di parkiran adit mencari mobil milik nawa, karna tak kunjung ia temukan adit pun berfikir mungkin nawa sudah lebih dulu pulang.


Sementara keadaan jeje sekarang...


"Jeje lo gak papa?" Tanya dodo.


"Gak papa" jawab jeje.


"Pasti sakit aku kompres ya lukanya" tawar chindi.


"Gak usah" tolak jeje lembut sambil menggenggam tangan chindi "gue pulang dulu, lo telfon gue kalo ada apa apa" chindi tersenyum karna perkataan jeje.


"Oke"


"Kamu lanjut kerja aja, masalah tadi jangan terlalu di fikirin" peringat jeje pada chindi.


"Iya" kata chindi di akhiri senyum manisnya.


Setelah itu tak ada pembicaraan di antara dodo, vera dan jeje mereka memilih pergi tanpa sepatah kata.


Sedangkan adit sekarang yang tengah mengendarai mobilnya sedikit merasa khawatir karena nawa yang sedari tadi ia telfon tak kunjung nawa angkat.


"Apa gue kerumah dia aja?" lirih adit


"oke, gue kayaknya harus mamper ke rumah dia dulu"


Adit melajukan mobilnya ke arah rumah nawa, selang beberapa menit adit kini sudah memarkirkan mobilnya di halaman rumah nawa.


"Kok rumah sepi, tumben" gumam adit sambil berjalan memasuki rumah nawa.


"Assalamulaikum" ujar adit sambil membuka pintu rumah nawa.


"Nawa, bibi" panggip adit


"sepi, pada kemana nih" adit melangkah masuk ke rumah nawa.


Adit yang tengah berjalan mendengar gelak tawa dari arah meja makan, ia pun berniat menghampirinya.


"Hahahaha bibi ada ada aja" tawa nawa saat mendengar lelucon bi sekar.

__ADS_1


"Non gak percaya?"


"Enggak"


"Jangan percaya non, mana mungkin bi sekar punya mantan bule sepuluh, satu aja kayaknya gak mungkin " timpal pak ris satpam di rumah nawa.


"Wih wihhh makan makan nih, gak ada yang mau ajak aku"


Semua menoleh ke sumber suara.


"Yaampun den adit, sini duduk" pekik bi sulis.


"Wih acara apa nih, rame amat" adit mengambil duduk di sebelah pak ris.


" sunatan lo na" gurau adit sambil ikut bergabung bersama yang lain.


"Sunatan kepala lo" nawa melempar garpu ke arah adit.


Adit hanya tersenyum saat di lempari garpu oleh nawa.


adit merasa lega saat melihat nawa sudah berada di rumahnya


"lega gue karena nawa gak kenapa napa" batin adit


Adit mengedarkan pandanganya, melihat para pembantu yang bekerja di rumah nawa dan dua satpam di rumah nawa, sudah seperti keluarga semuanya tersenyum, tertawa bersama sama, sungguh tak ada jarak di antara mereka, tak ada namanya pelayan maupun tuan, nawa sungguh menganggap mereka keluarga.


tidak banyak pembantu di rumah nawa, cuma sepuluh pembantu dan dua satpam, satu supir, satu pemotong rumput dan satu penjaga kebun


"Den adit mau makan apa, biar bibi ambilin" tawar bi iis yang berada di sebelahnya.


"Apa aja adit makan"


"Oke bibi ambilin"


"Na nanti gue bisa ngomong sama lo" ujar adit pada nawa yang tengah menikmati makananya.


"Gak bisa sekarang aja" jawab nawa di sela mengunyahnya.


"Gak enak ngomong di meja makan"


"Yaudah nanti di balkon kamar gue aja"


"Siap"


...****************...


Angin malam yang dingin, di temani oleh banyaknya bintang di langit alunan musik jazz dan secangkir coklat panas.


Nawa terus tersenyum menatap bintang di langit, ia kini tengah bersama adit di balkon kamarnya.


"Maaf"

__ADS_1


Nawa menoleh ke arah adit yang tengah menunduk setelah mengatakan maaf.


"Lo salah apa sama gue" ujar nawa sambil meminum coklatnya.


"Gue kan nonjok pacar lo"


Nawa tersenyum atas penuturan adit.


"Minta maaf ke jeje ngapain ke gue, lo salah orang"


Adit memperhatikan nawa yang sedari tadi tersenyum menatap langit.


"Lo kenapa?"


"Gue? Gue gak papa"


"Kenapa lo senyum senyum dari tadi"


"Liat deh" nawa menunjuk ke arah langit dan adit mengikuti arah tunjuk nawa.


"Bintangnya banyak gue suka, lo tau gak di salah satu bintang itu ada papa aku di sana, kata papa waktu gue masih kecil kalau ada orang yang kita sayang meninggal dia bakal jadi bintang"


Adit tersenyum atas ucapan nawa.


"Dit liat bintang itu, dia yang paling bersinar, ituuu papa gue"


"Masih percaya gituan?" Tanya adit.


"Eeemmm masih, soalnya pas gue kangen sama papa gue... gue langsung liat bintang dan itu cukup buat ngobatin rasa rindu gue"


"Na gue sahabat lo kan?"


Nawa menoleh ke arah adit sambil menaikan sebelah alisnya.


"Kenapa nanya gitu " nawa mendekat ke arah adit lalu merangkulnya "sampai kapan pun lo tetep sahabat gue, sahabat kecil gue, dan sahabat selama lama lama lamanya gue"


"Na" panggil adit.


"Hhmm"


"Ucapan jeje yang waktu di cafe-


"Gak usah di pikirin dit" potong nawa sebelum jeje menyelesaikan perkataanya.


"Jeje ngomong gitu karna lagi marah aja, jadi dia bilangnya ngawur, gue aja gak ngambil hati ucapan dia, yaaaaaaa meski gue sedikit kecewa gue sadar kok seharusnya gue gak kaya gitu sama chindi, gue bakal minta maaf ke dia"


"Na plis na, kalo lo lagi sedih pengin nangis ada gue, ada dodo sama vera, kita siap jadi sandaran lo, dan misalnya lo mau curhat, curhat ke gue sama yang lain"


"Siap teman" nawa mengambil coklat panasnya "minum dulu dong biar seger"


AJAK YG LAIN BUAT BACA CERITA INI, BANYAK YG BACA, BANYAK YG LIKE, AKU AKAN SERING UP, MOHON BANTUANYA😁😁

__ADS_1


__ADS_2