Aku Sangat Mencintai Kamu

Aku Sangat Mencintai Kamu
lebih lama lagi


__ADS_3

BRAK


"Aww"


Ringis nawa karena jatuh dari tempat tidurnya, nawa mengusap kakinya yang terbentur lantai.


Nawa melirik jam dinding sudah menujukan jam satu malam.


"Gue meninggal" gumam nawa sambil menaiki tempat tidurnya kembali.


Nawa mengusap keringat di jidatnya, nawa tak menyangka akan bermimpi buruk seperti itu.


"Gue takut" lirih nawa sambil berusaha menetralkan nafasnya.


sophia kini keluar dari kamarnya sambil membawa gelas kosong, ia pergi ke dapur untuk mengisinya lagi.


"huuuaaaamm" sophia menguap sambil menggaruk tengkuknya yang gatal.


BRAK


"Ayam" kaget kakaknya saat mendengar pintu yang di buka dengan kasar.


"Nawa" ujar kakaknya sambil menghampiri nawa.


"Kok belum tidur ini udah jam sa-


"Huaaaa" nawa memeluk kakaknya dengan sangat erat.


"Eeh kenapa nih, kenapa nangis" panik kakaknya.


Nawa tak menjawab ia masih ingin memeluk kakaknya, sophia yang tidak tau kenapa adiknya menangis hanya bisa menenangkan adiknya dengan menepuk pundaknya.


Entah kenapa hati nawa sedikit gelisah dan seperti ada sesuatu yang mengganjal setelah ia mengalami mimpi itu.


"Kamu kenapa?" Tanya kakaknya.


"Kak" panggil nawa sambil mendongak menatap kakaknya.


Kakaknya mengerutkan alisnya, melihat wajah nawa yang di penuhi kringat.


"Jangan tinggalin nawa" ujarnya lalu kembali memeluk sophia.


"Nawa takut, nawa gak mau pergi, nawa masih pengin liat kakak, nawa-


"Stop" kakaknya melepaskan pelukanya " kamu kenapa? Cerita sekarang"


Sophia sedikit takut dengan ke adaan adiknya sekarang, belum pernah ia melihat nawa seperti ini.


"Kita ke kamar ya" sophia membawa adiknya menuju kamarnya kembali.


Sophia mendudukan adiknya di pinggiran tempat tidur.


"Kamu kenapa?"


Nawa hanya menjawab kakaknya dengan gelengan "yaudah kalo gak mau cerita, ini udah larut kamu tidur ya" sophia membaringkan tubuh adiknya lalu menyelimutinya sebatar dada.


Sophia menatap adiknya yang sedari tadi hanya menatapnya.


"Kamu tidur kakak juga-


"Gak boleh" nawa memotong perkataan kakaknya sebelum menyelesaikan nya " nawa pengin tidur sama kakak" nawa memegang pergelangan tangan kakaknya.


"Pliss" mohon nawa.


Sophia menghembuskan nafasnya "iya kakak temenin kamu"


Nawa menggeser tubuhnya agar kakaknya bisa tidur di sebelahnya, sophia menaruh gelasnya di atas nakas lalu ia menaiki tempat tidur.


Baru sophia merebahkan tubuhnya nawa langsung memeluknya dengam erat.


Sophia hanya dapat membalas pelukan nawa sambil mengusap punggung adiknya.

__ADS_1


"Biar kakak tebak, kamu mimpi buruk?" Nawa menganggul sebagai jawaban.


"Makanya kalau tidur baca doa"


"Nawa lupa"


"Tuh kan"


"Kak" nawa mendongak menatap kakaknya "nawa mimpi, kalau papa meninggal karena nawa"


Kakaknya terkekeh mendengar perkataan adiknya "papa meninggal bukan salah siapa siapa, papa meninggal udah takdir"


"Papa beneran meninggal di rumah sakit kan? Bukan mau ketemu nawa?"


"Mau berapa kali lagi sih kakak harus cerita, mending kamu tidur"


"Tapi di mimpi nawa, mama marah besar sama nawa, nawa takut" sophia mengusap rambut nawa pelan.


"Dan di mimpi nawa, nawa meninggal"


"Udah lah jangan aneh aneh, mending kamu tidur"


"Tapi nawa beneran takut, di hati nawa kayak ada yang ganjal"


"Baca doa lalu tidur"


"Tapii kak, nawa ngerasa bersalah sama bunda?"


"Bunda?"


"Tadi sebelum nawa ketiduran, nawa sempet berantem sama bunda, nawa belum minta maaf"


"Berantem?"


"Nawa cerita kebunda, kalau kakak ngelarang nawa pulang, bunda malah setuju sama ucapan kakak, nawa kan jadi marah"


"Durhaka kamu, mungkin itu balesan buat kamu jangan ngelawan orang tua"


Sophia terbangun dari tidurnya saat merasa terganggu dengan nawa yang terlihat gelisah dalam tidurnya.


Sophia menatap adiknya yang tertidur di sebelahnya.


"Nawa, kamu kenapa?" Sophia membulatkan matanya panik saat merasakan tubuh nawa yang panas dan berkeringat.


"Dek kamu kenapa" sophia mengguncang tubuh adiknya.


"Kepala nawa pusing" lirih nawa dengan mata terpejam.


"Kakak panggilin dokter" sophia bahkan belum beranjak dari tempat tidur, nawa malah kembali memeluk kakaknya, seperti menyuruh kakaknya untuk tidak pergi.


"Nawa lepasin dulu, kakak mau telfon dokter dulu"


Nawa mengheleng "nawa gak mau, nawa gak suka dokter, nawa mau kakak di sini aja"


"Tapi badan kamu panas banget nawa" nawa tak menghiraukan, ia malah memper erat pelukanya.


Sophia menghela nafasnya, ia meyerah sekarang, sophia akan menuruti adiknya dulu, saat pagi menjelang dan kondisi nawa masih seperti ini ia akan tetap menelfon dokter.


Dan benar saja, pagi kini sudah tiba bahkan cahaya matahari sudah menembus jendela kamar nawa, gadis itu masih saja meringkuk di atas tempat tidur dengan selimut yang menutupi seluruh tubuhnya.


Sophia yang sudah rapi dengan pakian kantornya memasuki kamar nawa dengan membawa nampan berisi makanan.


"Dek" panggil sophia sambil meletakan nampan di atas nakas.


"Makan dulu"


Tak ada respon dari nawa, sophia pun memilih menyibak selimut yang menutupi wajah adiknya.


Punggung tangan sophia menyentuh dahi nawa, dan kondisi tubuh nawa masih sama seperti tadi malam.


"Dek kakak telfon dokter ya?" Nawa menjawab dengan gelengan.

__ADS_1


Sophia menegakan tubuhnya, ia berkacak pinggang sambil menghela nafasnya.


Sophia berjalan keluar kamar nawa untuk menelfon dokter, tanpa memperdulikan persetujuan dari adiknya.


Setelah beberapa menit dokter pun datang ke rumah keluarga nawa, dan memeriksa nawa.


"Selamat pagi" sapa dokter derry pada sophia.


"Pagi dok, ayo ikut saya" ujar sophia pada dokter derry agar mengikutinya.


" adik saya dari tadi malam badanya panas, bisa dokter periksa?"


"Baiklah"


Setelah mereka memasuki kamar nawa dokter derry mulai memeriksa nawa.


"Dok jangan di suntik ya" ujar nawa dokter derry hanya menjawab dengan senyumanya.


"Tenang saja, gak akan saya suntik"


"Gimana dok?" Tanya sophia.


"Cuma demam, tapi demamnya lumayan tinggi" dokter derry menyerahkan selembar kertas "tebus obat ini, ingat ya jaga kesehatan kalian saya permisi"


Dokter derry pergi dengan di antar oleh sophia.


Nawa duduk di atas tempat tidur saat dokter dan kakaknya pergi keluar, nawa sedikit memijat kepalanya yang terasa pusing.


Nawa menyipitkan matanya saat menoleh ke arah jendela karna terkena sinar matahari.


"Dek" panggil kakaknya nawa pun menoleh ke arah sumber suara.


"Makan dulu ya" ujar kakaknya mengambil mangkuk berisi bubur yang berada di atas nakas.


"Kakak suapin, aaaa"


Nawa menghela nafasnya "tapi kak-


"Gak ada tapi tapi, mau sembuh gak" nawa pun akhirnya mau membuka mulutnya.


Sophia tersenyum menatap nawa, ia merasa senang karena ia dapat menyuapi adiknya, setelah di fikir fikir sophia sama sekali belum pernah menyuapi nawa.


Sophia melirik ke sebelah kanan terdapat koper nawa yang sudah rapi.


"Kamu jadi pergi?" Tanya kakaknya sambil menyuapi nawa kembali.


"Nawa gak jadi pulang" jawab nawa di sela mengunyahnya "nawa pengin sama kakak lebih lama lagi"


Kakaknya sedikit kaget dengan perkataan nawa "kakak juga pengin lama lama sama nawa adik kakak satu satunya yang cantiknya melebihi kakaknya sendiri"


Nawa tersenyum mendengar ucapan kakaknya.


"Kakak jangan dulu kekantor ya, temenin nawa"


"Gimana ya"


"Plisss" mohon nawa, kakaknya menatap nawa sedetik kemudian sophia mengangguk.


"Gak ada salahnya temenin adik sendiri yang sedang sakit"


Nawa memeluk kakaknya dengan erat "kak jangan tinggalin nawa ya, misalnya nanti kakak udah punya keluarga kakak sendiri jangan pernah berubah sama nawa, sayangi nawa seperti biasanya, nawa gak mau ngerasain sepi apa lagi ngerasain ke hilangan saat kakak udah nikah nanti"


"Kamu ngomong apa sih, kakak janji kakak gak akan berubah"


Nawa merasa nyaman berada di dekat kakaknya.


"Kakak mau simpen bekas makan kamu dulu, nanti jangan lupa minum obat ya"


"Siap"


"Jangan lupa, minta maaf sama bunda" peringat kakaknya saat di ambang pintu.

__ADS_1


__ADS_2