Aku Sangat Mencintai Kamu

Aku Sangat Mencintai Kamu
meski sedikit


__ADS_3

nawa kini berdiri di teras rumah jeje sambil marah marah tidak jelas.


"nyesel gue gak bawa mobil, tau gini gue bawa aja" omelnya, nawa berbalik melihat bangunan megah rumah jeje.


"gue doain nanti malem rumahnya kemalingan!" teriak nawa, setelahnya ia berbalik dan berjalan dengan menghentak hentakan kakinya.


"non nawa mau pulang?" tanya pak seto.


"hmm" jawab nawa hanya dengan gumamnya "pak bukain gerbang" suruh nawa.


"siap" jawab pak seto tegas "non nawa lagi marah ya" tebak pak seto sambil membukakan gerbang untuk nawa.


"gak" jawab nawa sambil melangkah keluar gerbang.


nawa berjalan meninggalkan kediaman keluarga jeje, dengan langkah panjang ia menyusuri trotoar yang cukup sepi.


"Aaw" ia menghentikan langkahnya, ia meringis sambil memegang perutnya yang terasa perih.


"pasti karna belum makan nih" lirihnya.


nawa merogoh sakunya untuk mencari ponsel, ia akan meminta supirnya untuk menjeputnya karna sepertinya ia harus meminum obat maagnya dengan segera.


"ponsel gue di mana sih" gumamnya yang masih sibuk mencari ponselnya.


"jangan jangan ketinggalan di rumah jeje" nawa berbalik menatap trotoar yang tadi ia lewati "gue harus balik kerumah jeje gitu?" nawa menghembuskan nafasnya.


nawa melangkah dengan langkahnya yang berat untuk kembali ke rumah jeje.


namun baru beberapa langkah berjalan ia kembali meringis kesakitan "gue gak bisa jalan lagi kalo gini" lirihnya sambil berjongkok dan memegangi perutnya.


nawa menatap jalanan, nawa berharap ada taxi yang lewat dengan segera.


nawa yang masih berjongkok di kagetkan oleh sebuah tangan yang terulur di hadapanya, ia pun mendongak untuk mengetahui siapa pemilik tangan tersebut, senyumnya terukir saat mengetahui sang pemilik tangan tersebut.


"jeje" ujarnya.


"berdiri" ujar jeje, dengan senang hati nawa meraih uluran tangan jeje dan berdiri berhadapan dengan jeje.


"jeje ngapain di sini?" tanya nawa.


"ponsel lo" jawabnya sambil mengulurkan ponsel nawa.


"waahh, makasih jeje" nawa terlihat senang saat jeje yang keluar mencarinya untuk mengembalikan ponsel miliknya.


"hm" jawab jeje dengan gumamnya, setelah itu jeje berbalik dan meninggalkan nawa.


nawa yang melihat jeje pergi langsung memanggil jeje " jeje mau kemana?"


"pulang" jawab jeje tanpa menoleh ke belakang.


"jeje gak mau anterin nawa, perut nawa lagi sakit loh"


"lo bisa pesen taxi kan"


nawa hanya bisa menatap punggung jeje yang semakin menjauh, nawa memanyunkan bibirnya, nawa menjatuhkan tubuhnya kembali berjongkok.


...****************...


dodo dan adit yang melihat nawa berjalan meninggalkan rumah jeje merasa bersalah.


"do kita seharusnya anterin nawa" ujar adit.


"iya yah, padahal dia mau masakin kita, masa kita gak mau nganterin nawa" kata dodo sambil menatap adit.


"gue punya ide" bisik adit pada dodo.


"apaan?"


"lo liat jeje" suruh adit dan dodo menurutinya "terus, lo liat meja" lagi lagi dodo menurutinya.


"apa hubunganya jeje sama meja?" tanya dodo.


"lo ini gimana sih, liat di meja ada apa"


"ada remot tv sama remot AC"


"terus apa lagi"


"cemilan sama ponsel"


"itu ponsel siapa?" tanya adit di akhiri senyumnya.


"eemm" dodo berfikir untuk mencari tau pemilik ponsel tersebut " gue tau, itu punya nawa" kata dodo sambil menoleh ke arah adit yang berada di sebelahnya.


"udah paham maksud gue" tanpa menjawab dodo langsung beranjak dari duduknya dan menghampiri jeje.


"je fokus amat lo sama tuh ponsel" ujar dodo duduk di sebelah jeje.


"apaan sih ganggu aja"


"eh je, nawa pulang naik apa?"


"taxi"


"jam segini cari taxi, ada sih tapikan lama, kenapa lo gak anterin dia sendirian loh je"


"dia pasti pesen taxi"


"pesen pake apa, ponselnya aja ketinggalan"

__ADS_1


seketika jeje menoleh ke arah dodo.


"tuh di atas meja" tunjuk dodo dengan dagunya.


jeje yang melihat ponsel nawa tergeletak langsung mengambilnya "lo kejar sana" suruh jeje.


"lo kan pacarnya peka dikit dong" celetuk adit.


"sana anterin, lo mau temen lo kenapa napa di jalan, kalo di culik gimana, dia kan kesini mau ketemu lo jadi lo yang harus anterin"


jeje menghembuskan nafasnya setelah itu langsung menyambar jaketnya untuk keluar mencari nawa, ia sengaja tak membawa mobil siapa tau nawa masih di depan gerbang rumahnya.


"punya temen cuma numpang doang, gak ada gunanya" omel jeje sambil berlalu meninggalkan kedua temanya.


...****************...


setelah mengantarkan ponsel jeje langsung berjalan pulang, jeje yang sudah cukup jauh dari nawa kini tengah berjalan di sekitar komplek rumahnya ia mempercepat langkahnya untuk segera sampai rumah, namun tiba tiba berhenti mendadak.


"nawa gue tinggal gak papa kan?" tanya jeje pada dirinya sendiri "gak papa lah, palingan udah pesen taxi " jeje kembali melanjutkan jalanya.


jeje mendongak menatap langit malam, cukup banyak bintang di sana jeje menerbitkan senyumnya.


"iya bu, katanya sih di jambret"


jeje yang mendengar suara ibu ibu dari arah belakang pun langsung menoleh ke arah dua ibu ibu tersebut.


"kasian yah, dia kan cewek sendirian pula"


"semoga dia gak papa, jadi ngeri kalo keluar sendirian"


jeje yang mendengarnya sontak menghentikan dua ibu ibu tersebut.


"maaf mau nanya" ujar jeje.


"eh, iya mau nanya apa?"


"ada yang kena jambret?"


"iya, itu loh tadi katanya ada cewek di jambret di jalan"


perasaan panik kini menghantui jeje, ia takut kalau nawa lah yang di jambret.


"di-dimana?"


"tuh di jalan sebelah"


seketika jeje langsung berlari untuk menyusul nawa.


"gue ini bodoh banget sih, kalo itu beneran nawa gimana" gumamnya merasa bersalah meninggalkan nawa di pinggir jalan.


dengan langkah panjang ia terus berlari, hingga ia kini dapat melihat seorang perempuan yang tengah berjongkok memandang jalan yang cukup ramai sambil memanyunkan bibirnya, rambut kuning panjang yang terurai kini menutupi wajahnya saat terkena angin malam.


"mau sampai kapan lo di sini" ujar jeje.


nawa menoleh ke arah jeje, senyumnya terukir saat mendapati jeje di sana.


"nawa tau, pasti jeje gak tega ninggalin nawa" ujarnya, kemudian ia berdiri dari duduknya.


"pesen taxi cepetan" suruh jeje.


"tapi nawa mau di anterin jeje aja"


"gak, lo pesen taxi sekarang, gue bakal di sini sampe taxi dateng"


"yaudah nawa gak mau pesen taxi kalo bukan jeje yang nganterin"


jeje menghela nafasnya.


jeje kini mengambil ponsel di sakunya.


"jeje mau ngapain?"


"biar gue yang pesen"


"iihh nawa gak mau"


"gue udah pesen" kata jeje sambil menyimpan ponselnya.


"iihh jeje mah, nawa beneran gak mau naik taxi kalo bukan jeje yang nganterin"


"terserah"


nawa kembali memanyunkan bibirnya "yaudah nawa mau di sini aja" nawa kini kembali berjongkok, cukup lama mereka saling diam hingga jeje membuka suaranya.


jeje melirik ke arah nawa "tuh taxi nya udah dateng" ujar jeje saat melihat taxi yang berhenti di hadapan mereka.


"nawa gak mau naik"


"na ini udah malem, cepetan naik"


"gak mau"


"mau gue seret lo kedalem taxi" ancam jeje.


"gak mau, pokoknya nawa gak mau, gak mau!"


rasanya jeje sudah kehilangan kesabaranya, dengan kasar jeje memegang tangan nawa dan menariknya untuk berdiri dan segera masuk kedalam taxi.


"jeje nawa gak mau"

__ADS_1


"cepetan udah malem gak usah drama bisa gak sih lo!" bentak jeje.


nawa yang di bentak oleh jeje kini menatap jeje dengan mata yang berkaca kaca.


"mas" panggil supir taxi tersebut "kalo pacarnya gak mau jangan di paksa, cancel aja saya gak papa kok, masih ada pelanggan yang nungguin saya" ujarnya.


"jadi kok mas, tunggu bentar" ujar jeje.


"na cepetan berdiri, gue beneran seret kalo lo gak mau berdiri" ujar jeje.


"nawa gak mau"


"oke" terpaksa jeje kembali menarik tangan nawa untuk berdiri.


"Aw jeje tangan nawa sakit" ujar nawa yang sudah berdiri dari duduknya.


"masuk" suruh jeje.


"gak mau!"


"na lo mau gue se-"


"pak saya gak jadi naik taxi bapak, kalo mau pergi pergi aja, nih saya tetep bayar kok" ujar nawa sambil berjalan menyerahkan uangnya.


"makasih mba" ujar supir taxi tersebut dan langsung menjalankan taxinya meninggalkan nawa dan jeje.


"lo apaan sih" jeje kini menghampiri nawa.


"lepasin nawa" nawa menepis tangan jeje yang hendak memegang lenganya.


"nawa gak mau pulang sebelum jeje mau nganterin nawa pulang"


jeje menatap nawa sambil menghela nafasnya "ayo" ujar jeje.


"jeje mau nganterin nawa?" tanya nawa sambil tersenyum ke arah jeje.


"hhmm" jeje menjawab dengan gumamnya.


"yeess" nawa sangat senang saat jeje mau mengantarnya "Aaw"


jeje yang melihat nawa kesakitan langsung menghampirinya "lo kenapa?"


"perut nawa sakit"


"kenapa bisa sakit?"


"nawa belum makan"


"kenapa lo belum makan, inikan udah malem" omel jeje.


nawa menatap jeje dengan tatapan tidak sukanya "inikan salah jeje, nawakan udah masak di rumah jeje, nawa tuh awalnya mau makan bareng sama jeje tapi jejenya gak mau makan"


"terus gue gak makan lo ikut gak makan" tebak jeje.


"iya"


lagi lagi jeje menghembuskan nafasnya lelah dengan kelakuan nawa "yaudah, sekarang kerumah gue kita makan " ujar jeje sambil berjalan meninggalkan nawa.


"nawa gak bisa jalan, perut nawa sakit" seketika jeje menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang.


"terus?" tanya jeje.


"gendong" ujar nawa di akhiri senyum manisnya "ayo dong jeje gendong nawa, kalo gak di gendong nawa gak mau pulang" ujar nawa sambil merentangkan kedua tanganya.


'gak papa je, lo ikutin nawa dulu kali ini, cuma malem ini ' batin jeje.


jeje melangkah menghampiri nawa " naik" kata jeje pada nawa untuk naik ke punggungnya, dan dengan senang hati nawa langsung menaikinya.


"gitu dong, sekali kali perhatian sama nawa, meski sedikit"


nawa medongak menatap bintang di langit.


"meski perhatian jeje sedikit nawa tetep seneng"


"lo bisa diem gak sih, gak usah banyak omong" omel jeje sambil berjalan menyusuri trotoar.


"iya, nawa bakal diem!" teriak nawa di telinga jeje.


"na gue turunin lo di sini"


"apa?!" tanya nawa tepat di telinga jeje.


"nawa!" bentak jeje.


"nawa minta maaf" ujar nawa sambil tersenyum "nawa gak bakal kaya gitu lagi"


nawa sangat senang malam ini, bahkan senyumnya terus terukir di wajahnya.


'terima kasih Tuhan, aku sangat senang malam ini, kalau saja waktu bisa di hentikan, saat ini detik ini juga aku mau waktu berhenti sekarang, tapi aku tidak boleh egois, meski perhatian itu cuma sedikit aku sudah sangat bahagia sekarang, sekali lagi terima buat malam ini'


mata nawa kini terfokus pada kuping jeje, entah dorongan dari mana tiba tiba nawa mendekatkan bibirnya pada kuping jeje, bahkan nawa kini sudah meniup kuping jeje pelan.


jeje yang merasa kupingnya di tiup oleh nawa pun langsung menghentikan langkahnya.


"nawa bisa berhenti gak, gue geli" omel jeje.


"kuping jeje kok bagus banget sih" ujar nawa dan kembali meniup kuping jeje.


"nawa!" karena merasa geli jeje langsung menoleh ke arah nawa hingga kini mata mereka saling bertemu dan saling menatap.

__ADS_1


dan... CUKUP SEKIAN EPISODE HARI INI, LIKE PLISS


__ADS_2