Aku Sangat Mencintai Kamu

Aku Sangat Mencintai Kamu
bunda


__ADS_3

nawa membaringkan tubuhnya di atas kasur, setelah membersihkan dirinya ia langsung merebahkan dirinya bersiap menuju alam mimpi.


ddrrt ddrrt


ponsel yang nawa letakan di atas nakas bergetar, dengan malas nawa mengambil ponsel tersebut.


DIIIIIIIT


udh tidur?


nawa mengucek matanya saat melihat pesan dari adit.


^^^bru mau tidur^^^


mksih kawan ku sudah


mau membantu kuuu😁


^^^yaa sma sma.^^^


^^^jgn lupain janji lo mau^^^


^^^nurutin apapun yg gue minta^^^


siap boss!


emang lo minta apa?


^^^kita omongin itu besok^^^


oke lah, tpiii klo gue minta


lo jdi pcar pura pura


gue lagi lo mau kan?


^^^gue mah oke oke aja^^^


nawa melempar ponselnya di sebelah tempat tidurnya, ia menguap karena merasakan kantuk, selang beberapa menit matanya benar benar tertutup dan tertidur.


tok tok tok


"non nawa"


"non nawa!"


nawa yang baru memasuki alam mimpi terbangun saat mendengar suara yang memanggilnya.


"non"


"kenapa bi?" tanya nawa sambil terduduk dari tidurnya.


"keluar sebentar non"


dengan malas nawa menyibak selimutnya, ia melirik jam sudah jam sepuluh kenapa para pembantu di rumahnya mengganggu tidur malamnya.


cklek


"huuaaam ada apa?" nawa menguap sebelum bertanya.


"maaf non saya mengganggu tidurnya tap-"


"langsung aja"


"bi titi di sini" ujarnya di akhiri senyumanya.


nawa yang tadinya memejamkan matanya langsung terbuka sempurna.

__ADS_1


"bunda?" lirih nawa.


bi titi sudah di anggap ibu bagi nawa, karena bi titilah yang membesarkan nawa, bi titi mengabdi menjadi pembantu saat baru pertama kali keluarga nawa berada di indonesia, beberapa bulan yang lalu bi titi izin pulang kampung dan sekarang ia sudah kembali.


"bunda" pekik nawa sambil berlari menuruni tangga.


nawa tersenyum, ia senang sangat senang, senyum nawa tambah lebar saat melihat bi titi tengah berdiri di ruang tamu sedang berbincang bincang dengan pembantu yang lebih muda darinya.


"bunda!" seru nawa.


"ya Alloh nyonya muda bunda kangen" bi titi kini berjalan sambil merentangkan tanganya.


"bunda" nawa memeluk tubuh bi titi dengan sangat erat "kangen"


"bunda juga kangen"


"bun" panggil nawa sambil mengurai pelukanya "bun" nawa kini memanyunkan bibirnya.


"kenapa?"


"kangem masakan bunda"


"udah malem, beneran mau makan nanti gendut" bi titi mengelus surai rambut nawa lembut.


"gak papa gendut nanti bisa diet kok"


"rambut kamu kenapa jadi kaya pisang gini, kuning" ujarnya di akhiri kekehan.


"hehehe biar cantik mah"


"jangan terlalu sering di warnain, kamu itu cantik apa adanya, yaudah yuk ikut ke dapur" bi titi menuntun tangan nawa menuju dapur.


"gak ngantuk?" tanya bi titi di sela jalanya.


"tadinya ngantuk tapi pas bunda pulang aku gak ngantuk lagi"


"mau bantu bunda aja, kalo nawa duduk nanti ngantuk"


"yaudah terserah"


...****************...


nawa kini tengah duduk beralaskan rerumputan di belakang rumahnya sore hari ini.


rambut kuning yang ia gerai menutupi wajahnya saat angin menerpa rambutnya.


ia kini tengah fokus pada laptopnya, menyelesaikan tugas kuliah yang besok harus ia kumpulkan.


"di minum dulu"


nawa menoleh ke sumber suara, seketika senyumnya mengembang saat mendapati bi titi yang tengah membawa nampan berisi makanan ringan dan segelas minuman, bi titi kini ikut duduk di rerumputan di sebelah nawa.


nawa merenggangkan otot tanganya.


"makasih bun"


"sama sama"


nawa menutup laptopnya, ia meminum minuman yang bi titi bawa.


"nyonya devia apakabar?" tanya bi titi.


"emm kata kak sophia mama baiik baik aja, tapi kata kak sophia mama sering pergi malem malem pulangnya pagi" raut wajah nawa kini berubah sedih.


bi titi yang melihat raut wajah nawa hanya tersenyum sambil mengelus punggung nawa.


"telfon mamah kamu kalo kangen" nawa hanya menggeleng sebagai jawaban.

__ADS_1


"kamu belum pernah telfon mamah kamu kan, seperti apapun perlakuan mamah kamu sama kamu dia tetap mamah kamu"


nawa menatap bi titi "mamah gak pernah sayang sama aku bun, dia lebih sayang sama kak sophia" nawa tersenyum ke arah bi titi "beda sama bunda, kalo bunda itu sayaaaaaang banget sama aku" nawa memeluk bi titi.


"mamah itu sayang sama kamu, tapi cara menyampaikan sayangnya itu berbeda"


"mamah itu gak sayang sama aku bun, dari dulu aja aku sama mamah jarang bicara walau tinggal satu atap, kita itu kaya orang asing, sekalinya kita bicara pasti akhirnya kita berantem, apalagi pas papa udah pergi, tiap hari aku di omelin karna itu aku memilih tinggal di sini" jawab nawa yang masih memeluk bi titi.


"bunda ingetin sama kamu, seperti apapun sikap mamah kamu, kamu harus tetep sayang sama dia"


nawa melepas pelukanya lalu tersenyum ke arahnya.


"makasih bunda mau jadi bunda aku, nawa bersyukur"


"sekarang telfon mamah kamu"


nawa tampak berfikir dengan perkataan yang bi titi lontarkan "telfon kak sophia aja deh, nawa belum siap kalo mau telfon mamah"


nawa langsung menghubungi sophia dengan panggilam video coll


"kenapa dek?"


nawa tersenyum saat melihat kakaknya di layar ponselnya, nawa sangat merindukan kakaknya itu.


"aku ganggu yah?"


"enggak, kenapa?"


"cuma kangen"


"maafin kakak yah, dari kemarin gak telfon adek kakak lagi sibuk banget"


"sibuk? sibuk apa?"


"masalah perusahaan, semenjak kamu pindah ke indonesia perusahaan kakak semua yang handle"


"hehehe maaf in nawa ya kak, jadi ngrepotin kakak, kakak tenang aja aku bakal urus perusahaan meski aku di indonesia, nanti aku bakal sering sering ke sana, bantu kakak"


"dari pada kamu bolak balik mending kamu menetap aja di sini sama kakak?"


"gak bisa kak, aku masih punya misi di sini, kalo misi aku udah selesai dan kuliah aku juga selesai aku pasri pulang"


"terserah kamu deh kakak bakal tunggu kamu, oh ya kakak lupa" sophia seketika tersenyum saat teringat sesuatu.


"lupa apa kak?"


"kakak beberapa bulan lagi mau nikah"


"APA!" bukan nawa melain kan bi titi yang berseru.


bi titi yang sedari tadi mendengarkan langsung kaget dan langsung merampas ponsel nawa.


"non beneran mau nikah?"


"yaAlloh bi titi!" seru sophia kaget "lama gak ketemu bi titi apa kabar, jadi pengin peluk bi titi"


"non sophia kesini gak kangen emang sama indonesia"


"nanti sophia bakal usahain luangin waktu buat ke sana"


"non sophia beneran mau nikah?"


"iya, nanti bibi kesini sana nawa, harus gak boleh ada alesan"


"eemm bibi usahain"


percakapan mereka terus berlanjut untuk melepas kerinduan satu sama lain.

__ADS_1


Pendek yaa


__ADS_2