Aku Sangat Mencintai Kamu

Aku Sangat Mencintai Kamu
hari bahagia


__ADS_3

hari yang sangat di tunggu tunggu oleh kedua belah pihak keluarga untuk menyatukan anak mereka.


sebuah gedung menjadi saksi, mengikat dua manusia untuk saling melengkapi dan bahagia itulah suasana siang hari ini.


setelah beberapa persiapan kini akhirnya Sophia Angelika dan Hansol Albern resmi menjadi sepasang suami istri.


mereka berdua saling menanamkan sebuah janji di hati masing masing untuk selalu bersama sampai nanti di hadapan sang maha kuasa.


awal perjalanan mereka yang lika liku kini tuntas sudah, kini mereka menjadi sempurna karna saling melengkapi, mereka kini seiman, seamin, satu tuhan dan satu tujuan.


si bontot kini tersenyum menatap kakaknya yang sedari tadi tak henti hentinya melunturkan senyumanya.


nawa sangan cantik dengan dres pink selutut nya, nawa masih duduk manis di kursi tamu, semenjak ia datang ia belum beranjak dari duduknya.


"ikut bunda yuk, kasih selamat buat non sophia" ujar bundanya yang duduk di sebelah nawa.


"nanti aja" jawab nawa.


"yaudah bunda ke sana dulu nanti nyusul ya" bi titi beranjak dari duduknya, ia melangkah meninggalkan nawa.


nawa ingin menghampiri kakaknya dan mengucapkan selamat, namun nawa tak ingin senyum kakaknya luntur, nawa takut meneteskan air matanya dan membuat kakaknya sedih.


nawa menunduk sambil menatap gelas yang sedaritadi ia genggam.


sebuah tangan terulur padanya, nawa pun mendongak untuk melihat siapa pemilik tangan tersebut.


pria dengan rahang yang tegas, mata biru yang entah semenjak kapan menjadi candu, ia stif lelaki yang mengulurkan tanganya pada nawa, jas hitam di padukan dengan kemeja putih yang tak ia kancing di bagian atasnya, membuat stif makin terlihat tampan.


"nyonya gak mungkin duduk aja di sini kan" kata stif.


stif tersenyum ke arah nawa, nawa pun ikut tersenyum lalu membalas uluran tangan stif, stif berjalan sambil menggandeng tangan nawa, menuju ke arah sophia dan hansol.


"nyonya selamat untuk perningkahan nya" kata stif setelah melepaskan genggamanya pada nawa.


"terimakasih stif"


"sama sama nyonya"


sophia menoleh ke arah adiknya yang berada di sebelah stif.


"kakak" rengek nawa dengan mata yang berkaca kaca.


"ululululu adik kakak" sophia memeluk tubuh adiknya.


nawa pun menangis dalam pelukan kakaknya.


"eehh kenapa nangis" sophia menepuk punggung adiknya.


"tetep sayang sama nawa ya meski kakak udah punya keluarga sendiri" kata nawa sambil mendongak menatap kakaknya.


"sayang kakak ke nawa gak bakal luntur" sophia menghapus jejak air mata adiknya.


"jangan lupain nawa"


"kakak gak bakal lupain adek" nawa melepas peluknya.


nawa menatap hansol yang tengah berbicara pada stif, hansol yang merasa di tatap oleh nawa pun menoleh.


"hai adik ipar" sapa hansol dengan senyum nya.


"kak hansol harus jaga kak sophia jangan sakiti kak sophia"


"itukan udah tugas kak hansol" hansol mengelus surai adiknya "jangan nangis"


"kak hansol juga harus sayang sama nawa, kak hansolkan udah jadi kakak nawa sekarang"


"sebelum jadi kakak kamu, kakak udah sayang sama kamu"


nawa tersenyum ke arah hansol "nanti kalau nawa mau main ke apart kak hansol sama kak sophia boleh ya"


"pintu terbuka lebar buat kamu"


" selamat untuk pernikahan kalian" ujar nawa di akhiri senyum manisnya.


...****************...

__ADS_1


malam pun tiba kini acara masih berlanjut, tamu undangan dan pasangan baru itu kini tengah berdansa di iringi oleh alunan musik.


berbeda dengan nawa yang kini tengah bermain ponsel dengan bersender di bahu bundanya.


"bunda kapan pulang?" tanya nawa tanpa kengalihkan fokus pada ponselnya.


"lusa bunda pulang"


"nawa ikut"


"kamu gak jadi pindah ke sini"


"nawa kangen sama jeje"


bundanya menghela nafasnya, belum lelah ternyata nawa untuk mengejar jeje fikir bi titi.


"nawa juga kasian sama bunda, nanti bunda ngomelin siapa kalo bukan nawa yang suka telat bangun pagi buat solat subuh"


bundanya terkekeh atas perkataan nawa.


"mau berdansa?" tawar seseorang pada nawa.


nawa mendongak menatap seseorang yang bertanya padanya.


"maaf siapa ya?" tanya nawa, nawa kini menegakan duduknya


"saya teman sophia, kamu adiknya kan"


"iya" jawab nawa.


"mau berdansa dengan saya, kita bisa berdansa dan saling berkenalan" tawar lelaki tersebut dengan mengulurkan tanganya.


nawa menoleh ke arah bundanya "gimana bun?"


"terserah kamu"


"nanti kalau nawa dansa bunda sendirian"


"kata siapa, di sini banyak orang, kalau kamu mau dansa silahkan"


dengan tatapan dinginya ia berjalan menghampiri nawa.


nawa yang hendak menerima uluran tangan lelaki itu ia urungkan saat seseorang langsung memegang tanganya.


"stif" lirih nawa.


"nyonya sudah siap, bukan kah nyonya sudah janji mau berdansa dengan saya?" tanya stif sambil di akhiri senyumanya.


" a-apa?"


stif menatap nawa datar.


"oh ya lupa, gu-gue udah janji mau dansa sama lo" nawa beralih menatap lelaki tadi "maaf saya udah ada janji"


"yasudah tidak masalah" lelaki itu pun berjalan meninggalkan nawa, stif dan bi titi.


"lo apaan sih stif"


"saya cuma jagain nyonya muda, siapa tau dia berniat jahat pada nyonya"


"lo cemburu kan?" tunjuk nawa ke arah wajah stif.


"saya gak suka sama nyonya buat apa cemburu"


nawa berdiri dari duduknya, ia berjinjit untuk berbisik pada stif.


"siapa yang main cium gue kalau bukan suka namanya"


tanpa sepatah kata stif menarik tangan nawa.


"eh eh lo mau bawa gue kemana"


stif menghentikan langkahnya di sebelah devia ibu kandung dari nawa yang tengah berdansa dengan pacarnya siapa lagi kalau bukan jeson.


nawa memutar bola matanya malas kenapa juga stif harus berhenti tepat di sebelah ibunya yang sepertinya sama sekali tak menyadari keberadaanya saat ini.

__ADS_1


nawa yang tengah menatap ibunya tajam mengalihkan tatapanya saat jeje memegang kedua bahunya.


"mau berdansa" tawar stif.


"dengan senang hati" jawab nawa di akhiri senyumanya.


stif meletakan tangan kananya di pinggang nawa dan tangan satunya lagi menggenggam tangan kiri nawa.


nawa meletakan tangan kananya di pundak stif.


stif sedikit mengikis jarak di antara mereka, mereka hanya berjarak 30 cm.


mereka molai berdansa, bergerak sesuai alunan musik yang di putar.


"stif kenapa kita harus di sebelah mamah gue" lirih nawa.


"emang kenapa?"


nawa menghela nafasnya "gak papa"


sepanjang mereka berdansa, mereka hanya diam, mereka berdua menikmati dansanya.


"stif" panggil nawa sambil mendongak menatapnya.


stif yang di panggil pun menunduk menatap ke arah nawa.


"lo jujur sama gue, lo suka sama gue kan" kata nawa.


" kenapa nyonya muda bertanya seperti itu"


"gue mau tau"


"iya" jawab stif tanpa berfikir dua kali.


nawa mengerjapkan matanya berkali kali.


"serius" kata nawa tak percaya.


"saya suka nyonya dari pertama kali saya bertemu nyonya"


nawa kini menatap lurus ke arah dada bidang stif.


'gue heran deh, stif aja bisa suka sama gue, bisa di bilang pandangan pertama, sedangkan jeje yang udah bertahun tahun sama gue kayak gak ada rasa suka sedikit pun sama gue'


'wah jangan jangan pelet gue salah sasaran'


nawa kembali mendongak menatap stif "maaf" lirih stif.


"kenapa minta maaf?" tanya nawa.


"karna saya suka sama nyonya muda, seharusnya saya tidak boleh memiliki perasaan khusus pada majikan saya sendiri"


nawa tersenyum, tangan kanan nawa menyentuh dada stif "masalah hati gak ada yang tau, ngapain juga lo minta maaf semuanya terjadi bukan atas kehendak lo"


"dan nyonya, saya juga minta maaf karena sudah berani mencium nyonya"


nawa terkekeh mendengar perkataan stif "gak masalah asalkan bukan bibir gue yang lo cium"


"dan stif lo mau tau gak, lo itu pria kedua yang berani cium gue setelah papa gue"


"beneran?" tanya stif.


"iya, papa gue dulu sering banget cium pipi gue" nawa berhenti dari dansanya "gue cape" kata nawa.


"mau duduk" tawar stif dan nawa menganggukinya.


"lo tadi cemburu" kata nawa sambil duduk di kursi tamu dan di ikuti stif yang ikut duduk di sebelahnya.


"gak"


"jujur sama gue"


"saya gak tau"


nawa memutar bola matanya "ngaku aja kali gak usah malu malu"

__ADS_1


😥😣😋😍😘


__ADS_2