
..."Cinta si boleh tapi jangan mau di begoin sama pasanganya sendiri!"...
pagi hari yang sangat cerah menyambut nawa yang baru menuruni mobilnya di area kampus.
Sebenarnya nawa cukup lelah untuk mengikuti mata kuliah pagi ini karna tak ia duga toko bunganya itu cukup ramai sampai malam hari.
Nawa berjalan pelan sambil bersenandung menyelusuri koridor yang cukup ramai.
"Nawa" panggil seseorang sambil menepuk pundaknya.
"Hai vera" sapa nawa pada vera yang menghampirinya.
"Berangkat sama siapa?"
"Sama si merah, noh lagi berteduh di parkiran" jawab nawa di akhiri kekehan.
"Gue pulang nebeng lo ya"
"Gak bareng zeval"
"Zeval gak ada jadwal kuliah hari ini, dia kekantor gak bisa jemput juga"
"Oke tuan putri saya nanti akan mengantar tuan putri sampai kekediaman tuan putri" jawab nawa dan membuat vera tertawa.
"Tumben si merah lo bawa, mobil hitam lo kemana?"
"Gue tinggal di bagasi kasian gue pake mulu"
mereka berdua berjalan beriringan menuju kelas mereka.
"Wow sangat mengejutkan" kata vera menutup mulutnya dengan kedua tangan dan ia juga berhenti dari jalanya.
"Kenapa lo ver?" Tanya nawa ia juga ikut berhenti dari jalanya.
"Liat deh, di jalan ke arah taman" tunjuk vera dengan dagunya.
Nawa menoleh, sudah banyak mahasiswa yang tengah berkerumun entah sedang apa.
"Kepo gak lo?" Tanya vera.
"Kuy kesana" nawa dan vera pun berjalan ke arah ke rumunan.
"Terima"
"Terima!"
Mereka berdua dapat mendengar kegaduhan orang orang yang berkerumun itu.
"Awas minggir" nawa menyelinap menerobos pada orang orang di sana.
Nawa kini dapat melihat dengan jelas apa yang tengah membuat heboh itu.
__ADS_1
Sang cewek mengangguk membuat semuanya bersorak kecuali nawa yang hanya menyilangkan tanganya di dada dan vera yang berada di sebelahnya.
"Ck drama picisan" gumam nawa sambil menyunggingkan senyumnya.
"Na" panggil vera.
"Aduh ver kayaknya gue gak becus jagain pacar gue sendiri" ujar nawa yang masih menatap pasangan yang baru meresmikan hubunganya itu.
Kerumunan kini sudah mulai memudar, mereka semua kembali ke aktifitas masing masing.
"Jadi...jeje sama chindi udah resmi" gumam nawa.
Nawa melangkah mendekati dua pasangan itu "wih selamat ya"
Ke dua pasangan itu menoleh ke sumber suara.
"Cie yang udah jadian"
"Kenapa lo di sini?" Tanya jeje dingin sambil menggenggap tangan chindi.
"Aku kan kuliah di sini juga, aku disini ya mau kuliah"
Nawa melirih chindi, nawa dapat melihat dari sorot mata chindi bahwa gadis itu tengah mengejeknya.
"Jeje, kayaknya kamu lupa aku kan pacar jeje, kenapa jeje jadian sama chindi?"
"Gue udah cape sama lo, udah berapa puluh kali gue bilang kita gak pernah jadian" jeje melepas genggamanya pada chindi, jeje kini melangkah mendekatkan dirinya pada nawa.
"Gue udah resmi sama chindi jadi lo gak usah ngaku ngaku jadi pacar gue" lirih jeje dengan sorot matanya yang tajam.
"Asal lo tau itu karna permintaan adit yang mohon mohon sama gue, Jadi gue minta sama lo jauhi gue, jangan anggap gue pacar lo, gue udah punya chindi"
Nawa merasakan hatinya yang memanas dan rasa sakit secara bersamaan.
Jeje berbalik ingin melangkah meninggalkan nawa.
"Ck jadian kok sama simpenan om om, jeje gak tau aja chindi tiap malem ngapain" lirih nawa namun masih di dengar oleh jeje.
Jeje berbalik menatap nawa dengan muka yang merah menahan marahnya.
"Bukanya itu kerjaan lo tiap malem?"
Vera tak bisa membiarkan ini, ia melangkah mendekati nawa.
"Udah udah kalian kok berantem, na kita ke kelas aja yuk" vera berusaha menarik tangan nawa.
"Jeje percaya sama gosip yang tersebar di kampus?"
"Gosip?, keliatanya itu kenyataan " jeje terkekeh melihat wajah nawa yang terkejut karna ucapanya "selama bertahun tahun gue ketipu sama sifat lo, wajar si lo butuh dunia malam, lo kan butuh hiburan butuh kasih sayang yang jarang lo dapatkan"
Entah kenapa nawa merasakan hatinya teramat sakit, hingga membuat rasa sesak di dadanya karna ucapan jeje.
__ADS_1
Seperti tak merasa bersalah jeje menggandeng tangah chindi dan melangkah pergi.
"Na" panggil vera pelan
"Cinta si boleh tapi jangan mau di begoin sama pasanganya sendiri!" Teriak nawa menghiraukan vera.
"Jeje boleh kata katain nawa, terserah jeje tapi jeje juga harus tau sifat chindi yang sebenarnya!, jeje sekarang terlalu bego!"
Chindi berhenti dari jalanya "gak usah di tanggepin kita pergi aja" lirih jeje.
"Gak bisa je" chindi melepas tautan tanganya dari jeje, ia berjalan melangkah ke arah nawa.
"Gue udah muak banget liat muka lo" chindi berhenti tepat di depan nawa.
"kenapa?" Tanya nawa di akhiri senyumanya "udah ngerasa menang lo dapetin jeje, ngomong ngomong malem minggu kemarin enak gak, gue juga ada di hotel itu loh dan gak sengaja liat lo sama om om masuk kamar" nawa mendekatkan wajahnya ke telinga chindi "dan gue denger sesuatu yang mengharuskan anak di bawah umur gak denger" nawa mengambil ponselnya.
"Ups gue punya buktinya" ujar nawa sambil memperlihatkan sebuah video chindi yang tengah di gendong bridal stayle oleh seorang om om masuk kedalam kamar hotel.
"Eemm mau bukti lagi, bentar gue cari"
Plakk
Sebuah tamparan membuat nawa menghentikan aksi mencari sebuah bukti di ponselnya.
Nawa menatap ke arah chindi yang menamparnya cukup keras "lo jangan fitnah gue, gue tau maksud lo apa"
"Tapi ini fakta dan yang mengharuskan semua orang tau kelakuan lo!"
Nawa melirik jeje yang menghampiri mereka, jeje menggenggam tangan chindi erat, sebelum membawa chindi pergi ia melemparkan beberapa lembar uang ke arah nawa.
"Jangan gangguin chindi atau gue, jauhi kita" ujarnya dingin.
Nawa menatap punggung jeje dan chindi menjauh, nawa menunduk menatap uang yang berhamburan.
nawa merasa harga dirinya di jatuhkan oleh orang yang ia cintai.
"Nawa!" Teriak vera memanggil nawa yang berlari, vera juga berlari mengejar nawa meninggalkan keriuhan para mahasiswa yang melihat kejadian tadi.
...****************...
Bug
Jeje menghentikan langkahnya saat merasakan punggungnya di lempar sebuah benda.
"Gue gak butuh uang lo, salah besar kalo lo anggep gue cewek bayaran, lo bikin gue kecewa sama sikap lo je!"
Jeje menoleh ke arah nawa "gue harap lo cepet sadar je" nawa menatap benda yang ia lempar ke arah jeje tadi, sebuah black card miliknya.
" kasih uang yang banyak buat pacar lo biar dia gak main sama om om lagi" nawa melangkah mendekat ke arah jeje.
"Nih nawa tambahin" nawa melempar beberapa uang ke arah dada jeje " kalo kurang hubungi gue, gue padahal udah baik hati mau jadi pacar jeje selama ini, setia sama jeje tapi jeje lebih milih dia, kalo gitu selamat gue gak akan ganggu lo lagi"
__ADS_1
Cukup nawa sudah lelah, ia ingin pulang menenangkan pikiranya.
maaf kalo ada typo