
jeje keluar dari kamar mandi sudah mengenakan baju santainya, ia berjalan ke arah tempat tidur untuk mengambil ponselnya.
jeje yang melihat pesan nya sudah di baca oleh nawa namun belum di balas pun memilih menelfonya.
jeje menghela nafasnya karna telfonya tak kunjung nawa angkat, jeje pun berjalan melangkah menuju balkon kamarnya.
jeje kembali menelfon nawa, dan tanpa menunggu lama panggilan itu pun di jawab.
"halo dengan siapa di mana? mau cari adik saya, maaf sepertinya nawa sedang tidak mau di ganggu trimakasih"
jeje menaikan satu alisnya bingung sambil menatap layar ponselnya.
"tadi yang ngangkat siapa?, gak mungkin nawa kan" lirih jeje.
ddrrrt ddrrrt
jeje menatap ponselnya yang bergetar ternyata panggilan dari nawa.
"ta-tadi kakak aku yang ngangkat maaf ya" ujar nawa.
"gak masalah"
"jeje tumben mau telfon nawa, ada apa?"
"eemm na, maaf ya kalo gue ganggu lo, gue cuma mau minta maaf soal di cafe waktu itu, gue salah"
jeje mendongak menatap langit malam yang gelap tanpa sinar bulan maupun bintang.
"nawa udah maafin jeje sebelum minta maaf, kata vera jeje ke rumah nawa tapi nawa udah ke LA"
"iya waktu itu gue ke rumah lo, tadi sore juga ke rumah lo ternyata lo belum pulang"
"nawa sakit jadi gak bisa pulang"
"lo sakit apa?"
"cuma demam"
hening di antara mereka berdua, jeje bingung untuk mengatakan apa lagi.
"je"
"hhmm" jawab jeje dengan gumamnya.
"bunga nawa yang ada di rumah jeje apakabar?"
"baik, seperti biasa"
"jagain bunga nawa ya"
terdengar suara nawa yang memelan dari sebrang sana
"meskipun jeje gak mau jagain nawa, gak mau sayangin nawa, gak mau perhatian sama nawa, nawa minta jeje mau sayangin dan jagain bunga nawa"
"jeje masih inget ucapan nawa kan? kalau bunga itu mati nanti nawa pergi"
"maksud dari perginya nawa, bukan cuma menghindar dari jeje, menjauh dari jeje, bukan cuma berhenti berharap dan berhenti mencintai jeje, tapi...nawa akan ikut sama bunga yang mati"
"jagain bunga nawa ya"
"lo ngomong apa sih na" kata jeje yang sedari tadi hanya mendengarkan nawa.
"nawa serius. Dan jeje tau gak nawa seneng banget hari ini"
"seneng kenapa?"
"jeje mau ngomong banyak lagi sama nawa, setelah beberapa bulan jeje dingin banget sama nawa"
"lo kapan pulang?"
"eemm gak tau, kenapa nanya gitu kangen ya sama nawa"
terdengar kekehan nawa dari sebrang sana.
"gue cuma nanya"
"je"
__ADS_1
"hhmm"
"jeje"
"kenapa?"
"nawa sayang sama jeje"
jeje memutar bola matanya malas.
"udah dulu ya na, gue mau turun ke bawah udah di tungguin mama"
"iya, selamat siang jeje"
"di sini malam na"
"oh iya lupa, selamat malam jeje nanti mimpiin nawa ya"
...****************...
sophia menatap adiknya, ia menggelengkan kepalanya tak habis pikir dengan adik semata wayangnya.
setelah menerima telfon dari jeje nawa tak melunturkan senyumanya.
"kak" panggil nawa sambil menoleh ke arah sophia.
"kenapa?"
"nawa mau ke taman temenin yuk"
"kamu harus pake kursi roda"
"gak usah nawa bisa jalan kok" ujar nawa meyakinkan kakaknya.
"yaudah" nawa tersenyum atas jawaban kakaknya.
"stif" panggil sophia.
tak lama sosok itu masuk ke dalam ruang rawat nawa.
"ada apa nyonya?" tanya stif setelah menghampiri sophia.
"kakak gak ikut?" tanya nawa.
"kakak sibuk sama stif aja gak papa kan?"
"gak papa kok"
stif pun membantu nawa turun dari tempat tidurnya, stif membantu memapah nawa untuk berjalan.
"hati hati" ujar kakaknya.
"lo bawain infusan gue aja" kata nawa.
"baik nyonya"
nawa berjalan ke luar kamarnya "woy ngapain pada berdiri di sini?" tanya nawa pada tiga pria ber jas yang berdiri tegap.
"tom" panggil nawa.
"ada apa nyonya muda?"
"tuh dua orang siapa" tujuk nawa dengan dagunya.
"itu bodyguard nyonya sophia" jawab tom dan nawa hanya mengangguk sebagai jawaban.
nawa kembali melanjutkan jalan nya dan di ikuti stif.
"stif" panggil nawa di sela jalanya.
"ada apa nyonya"
"udah punya pacar belum?" tanya nawa tanpa menoleh ke arah stif.
"belum"
"kenapa belum kan lo ganteng"
__ADS_1
"belum waktunya"
nawa berhenti dari jalanya dan stif yang berada di belakang nawa pun ikut berhenti berjalan.
nawa membalikan tubuhnya "lo tuh udah cukup umur buat pacaran, sedangkan pacaran nikah pun lo udah cocok, anak yang masih jadi piyik aja udah banyak yang pacaran masa lo kalah"
"makanya stif jadi orang jangan datar datar amat, jangan dingin dingin amat nanti beku tau rasa, lo tuh laki masa kalah sama gue yang berusaha dapetin cinta sejati, ayolah stif tujukan kejantanan mu gak laku tau rasa"
stif menghela nafasnya lelah, meladeni nyonya mudanya ini yang terus berbicara tanpa henti.
"udah?" tanya stif.
"apanya?"
"ngomongnya"
"ngeselin lo stif"
stif mengedarkan tatapanya, mereka masih berada di koridor rumah sakit yang cukup ramai.
"jadi ke taman?" tanya stif.
"jadilah" jawab nawa sambil kembali melanjutkan jalanya.
"tapi yang tadi gue bilang ke lo serius loh stif, jadi cowo-
nawa tak melanjutkan jalan nya, saat stif tiba tiba menarik tanganya dan memojokanya di dinding.
stif mencondongkan wajahnya menyisihkan jarak di antara mereka berdua, nawa memejamkan matanya saat merasakan hembusan nafas stif menerpa wajahnya.
nawa membuka matanya saat merasakan hidung mereka yang bersentuhan, nawa menatap manik biru milik stif.
stif kini memperjarak wajahnya dari wajah nawa "banyak berita yang beredar, seorang pengawal berani mencium majikanya sendiri karna seorang majikan terlalu banyak bicara, dan jangan salahkan saya jika berita itu akan di alami oleh anda nyonya muda nawa angelika" stif kembali berdiri dengan tegap membiarkan nawa yang masih mematung di tempat.
nawa mengerjapkan matanya setelah beberapa menit mematung.
"palingan lo stif yang mau cium gue, ngaku lo" nawa kembali melanjutkan jalanya.
stif tersentak karna tiba tiba nawa membalikan badanya menatap stif curiga.
"apa?" tanya stif.
nawa melangkah mendekati stif.
"jangan jangan" stif memundurkan langkahnya saat nawa melangkah mendekatinya.
"lo" tunjuk nawa ke arah wajah stif.
"suka sama gue"
stif membeku di tempat saat tangan nawa menyentuh dadanya.
nawa tersenyum smirk sambil menatap stif "dan banyak berita yang beredar, banyak pengawal yang melupakan tugas awalnya dalam menjaga majikanya, karena terpesona oleh kecantikan majikanya, seperti sekarang seorang stif yang terpesona oleh nyonya nawa angelika"
"hahahhahah" nawa tertawa terbahak bahak melihat wajah stif yang memerah.
"udah fiks lo pasti suka gue hahaha"
"stop" suruh stif karena sekarang banyak yang menatapnya.
" hahahaha" nawa tak henti hentinya tertawa.
stif merasa risih di tatap oleh orang banyak karena tawa nawa yang menggelegar.
"nyonya" panggil stif namun nawa tak menghiraukan.
"nyonya muda"
"hahahaha"
"nyonya!"
"hahaha-
cup
nawa terdiam seketika, benda merah muda yang kenyal nan lembut itu menyentuh pipi nawa yang berisi.
__ADS_1
"kalau masih tertawa saya tidak akan segan segan untuk mencium nyonya muda tepat di bibir anda nyonya" bisil stif.
😍😍😁😊😗😗